Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan aku...
Sore harinya, usai menyelesaikan jam kuliah, Adrian melangkah masuk ke halaman rumah mewahnya dengan helaan napas lega.
Rumah megah itu tampak tenang seperti biasa. Namun, di dekat area garasi, ia melihat Pak Heru, bawahan terpercaya ayahnya yang bertugas menangani berbagai urusan khusus, sedang berdiri di samping sedan hitam milik Adrian.
Kaca depan mobil itu sudah tertutup kain pelindung. Adrian melangkah menghampirinya dengan santai, menyelipkan kedua tangan di saku celana.
Rasa yakin akan kekuasaan ayahnya membuat ia melangkah tanpa ada beban sedikit pun di dada.
"Gimana, Pak Heru? Mobil udah dibereskan, kan?" tanya Adrian langsung, nada suaranya terkesan menuntut namun santai.
"Soal korban di jalan semalam... udah diselesaikan?"
Pak Heru memutar tubuhnya perlahan. Pria paruh baya berstelan rapi itu tidak menatap Adrian dengan raut cemas atau tegang.
Wajahnya justru memperlihatkan kebingungan yang sangat dalam, bercampur dengan kerutan tebal di dahinya.
"Mas Adrian..." Pak Heru berdehem pelan, suaranya terdengar ragu.
"Soal yang Mas ceritakan tadi pagi, Bapak langsung suruh saya cek lokasi kejadian dan urus semuanya secara diam-diam."
"Bagus dong. Trus gimana? Aman, kan?" potong Adrian cepat, menyunggingkan senyum tipis.
"Pasti udah diurus ke rumah sakit atau keluarganya disumpal pakai uang?"
Pak Heru menggelengkan kepala perlahan.
"Itu dia masalahnya, Mas. Saya dan tim sudah menyisir seluruh ruas jalanan yang Mas sebutkan. Tidak ada jejak kecelakaan sama sekali di sana."
Adrian tertawa kecil, mengira Pak Heru sedang bercanda.
"Ah, masa sih? Orang gue nabrak kencang banget semalam! Korban langsung terpental ke kap mobil sampai kacanya retak begini!"
"Saya serius, Mas Adrian," tegas Pak Heru dengan suara memberat.
"Saya sudah menyuruh orang untuk mengecek seluruh rumah sakit, klinik, dan puskesmas di sekitar wilayah itu. Tidak ada satu pun pasien masuk akibat kecelakaan lalu lintas semalam. Tidak ada laporan tabrak lari di kepolisian, dan tidak ada jenazah yang ditemukan."
Senyum di wajah Adrian perlahan luntur. Rasa dingin yang aneh mendadak merayap naik dari ujung kakinya menuju tengkuk.
"Maksud Pak Heru apa?" bisik Adrian, suaranya mulai bergetar.
"Mobil gue retak dan penyok begini! Gue jelas-jelas ngerasain benturannya! Gue ngeliat tubuh orang itu terpental di depan mata gue!"
Pak Heru menatap Adrian dengan tatapan prihatin dan penuh tanda tanya.
"Bumper depan memang penyok dan kaca retak, Mas. Tapi dari pemeriksaan tadi, tidak ada bercak darah."
Adrian terpaku mematung di tempatnya berdiri. Angin sore yang berembus pelan terasa membekukan seluruh persendiannya.
Jika tidak ada korban di jalanan, tidak ada laporan di rumah sakit, dan tidak ada darah di mobilnya, lantas, siapa atau apa sebenarnya yang ia tabrak semalam?
Adrian memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. Pikiran-pikiran liar langsung berseliweran di otaknya, mencoba mencari penjelasan paling rasional untuk masuk ke dalam akalnya yang mulai kacau.
Kayu? Pohon? Pembatas jalan?! batin Adrian berteriak, berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri.
Iya... pasti gitu! Semalam gue mabuk berat! Bisa aja kan, pandangan gue buram dan kabur?
Adrian langsung mencengkeram kepala dan mengusap wajahnya kasar. Ia menolak untuk tenggelam lebih jauh dalam ketakutan gila.
Otaknya yang lelah menolak untuk pusing memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Semuanya harus selesai, detik ini juga. Kalau tidak ada korban, dan tidak ada laporan polisi, berarti memang tidak pernah ada kejadian apa-apa. Selesai.
Dengan langkah cepat dan hembusan napas gusar.
"Pak Heru."
menatap anak majikannya itu.
"Iya, Mas Adrian?"
"kondisi mobil gue. Sudah bagus belum?"
"Sudah aman, Mas," jawab Pak Heru dengan nada tenang dan profesional.
"Bumper depan yang penyok, kap mesin, sampai kaca depan yang retak diganti total."
Mendengar kepastian itu, helaan napas lega yang sangat panjang akhirnya keluar dari mulut Adrian. Kerut tegang di dahinya perlahan mengendur sepenuhnya. Rasa cemas yang tadi sempat mencengkeram dadanya hilang tak berbekas.
Tidak peduli kayu atau pembatas jalan apa yang sudah ia tabrak semalam, selama bentuk fisik dari kerusakan itu menghilang dan mobilnya kembali mulus tanpa cacat, maka baginya insiden gila itu tidak pernah benar-benar terjadi.
"Bagus," ucap Adrian dengan senyum tipis yang kembali dipenuhi keangkuhan.
"Pastikan nggak ada cacat sedikit pun yang tersisa, Pak. Besok pagi gue mau pakai mobil itu lagi."
Pak Heru mengangguk penuh hormat. "Siap, Mas."
Di tempat lain, suara pintu kayu berukir yang terutup pelan mengakhiri langkah gontai Julian. Ia baru saja kembali dari kampus, namun rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya sama sekali bukan berasal dari tugas perkuliahan.
Julian melangkah melintasi kamarnya yang luas dan elegan, sebuah kamar mewah di dalam mansion megah milik keluarganya.
Sebagai putra tunggal dari seorang konglomerat papan atas pemilik imperium bisnis raksasa, Julian hidup dalam gelimang harta yang tak terbatas. J
ika keluarga Adrian memegang kendali lewat kekuasaan politik dan birokrasi, maka keluarga Julian memegang kunci kekuatan finansial yang sanggup membeli atau menghancurkan tatanan apa pun.
Namun, di dalam kamar yang dingin ini, semua kemewahan itu tak ada artinya.
Julian melempar tas ranselnya sembarangan ke sofa kulit. Ia berjalan layu mendekati pinggir tempat tidur king-size miliknya, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Kamar itu begitu hening, hanya dihiasi hembusan napasnya yang berat.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Julian merogoh saku jaket dan mengeluarkan ponselnya.
Pendar cahaya layar menyinari raut wajahnya yang muram dan dingin. Jarinya menyentuh ikon galeri, menelusuri deretan folder hingga berhenti di satu album tersembunyi.
Sebuah foto terbuka di layar.
Di sana, terpatri senyum manis seorang gadis berambut panjang dengan binar mata yang hangat, Sabrina. Foto itu diambil beberapa bulan lalu, sebelum segalanya hancur.
Julian menatap foto itu tanpa berkedip. Ibu jarinya perlahan mengusap layar kaca tepat di bagian pipi Sabrina, seolah-olah ia bisa meresapi kembali kehangatan yang telah merenggut separuh jiwanya.
Rasa bersalah menggerogoti perasaannya. dia tahu, kesalahannya sangat besar.
"Maafin aku, Sab..." bisik Julian parau, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan.