Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Petak Umpet
Pada hari libur pertamanya, Senja menolak pesan Rayhan.
Maaf, saya tidak bisa bawa makan lagi. Sisa uangmu saya kembalikan setelah dihitung.
Rayhan membalas dengan tiga emoji menangis. Senja mematikan layar karena Bintang sudah menarik tangannya ke taman.
"Main petak umpet!"
"Cuma berdua?"
"Bik Inah enggak mau lari."
Bintang membawa dasi biru tua. "Ini punya Papa. Papa enggak pakai. Buat tutup mata Mama."
Senja membiarkan anak itu mengikatkannya. Setelah menghitung sampai sepuluh, ia berjalan dengan kedua tangan meraba udara.
"Bintang?"
Tawa kecil terdengar di dekat pintu. Senja mengikuti suara itu.
Damar baru pulang. Ia berhenti ketika melihat Senja dengan mata tertutup dan Bintang bersembunyi di belakang kakinya.
Ia hendak memutar jalan, tetapi Bintang sengaja menggoyangkan ujung dasinya.
"Di sini, Mama!"
Senja menerjang sumber suara. Kedua tangannya memeluk pinggang keras yang jelas bukan tubuh anak lima tahun.
Ia membeku.
Damar juga tidak bergerak. Napas Senja menyentuh kemejanya. Kehangatan tubuh perempuan itu menembus kain, membuat darah naik ke telinganya.
Senja membuka penutup mata dan langsung mundur. "Maaf! Saya kira Bintang."
Bintang tergelak sambil berguling di rumput.
Damar mengambil dasinya dari tangan Senja. "Main saja kalian."
Ia masuk dengan langkah tetap tenang. Baru setelah pintu kamar tertutup, ia menarik napas panjang dan masuk ke kamar mandi. Air dingin mengguyur tengkuk, tetapi panas di tubuhnya tidak segera hilang.
Apa ini hanya karena ia terlalu lama hidup sendiri?
Tidak. Senja menikahinya demi uang. Ia tak akan menjadi pria yang membeli tubuh perempuan karena merasa berhak. Kalau suatu hari terjadi sesuatu, Senja harus menginginkannya sendiri.
Di taman, Senja masih berdiri dengan dasi di tangan. Telapak tangannya mengingat pinggang keras yang dipeluknya. Ia menekan kedua tangan ke pipi, malu pada reaksinya sendiri.
"Papa marah?" Bintang bertanya.
"Enggak tahu."
"Papa kalau marah alisnya begini." Anak itu menyatukan alis sekuat tenaga. "Tadi enggak begitu. Tadi kuping Papa merah."
"Kena panas, mungkin."
"Papa di kantor ada AC."
Senja menutup mulut Bintang dengan lembut. "Anak kecil jangan menganalisis Papa. Kita lanjut main."
Mereka bermain dua putaran lagi, tetapi Senja salah menghitung dan menabrak pot bunga karena pikirannya terus kembali ke pelukan tadi. Bintang tertawa sampai cegukan.
Setelah berganti pakaian, Damar menemukan dasi biru itu terlipat di depan pintu bersama catatan kecil.
Maaf dipakai tanpa izin. Sudah saya cuci, tetapi belum kering sepenuhnya.
Damar mengangkat kain lembap tersebut. Senja benar-benar mencucinya hanya karena sempat menyentuh wajahnya. Perempuan yang ia anggap ingin mengambil uangnya justru berhati-hati bahkan terhadap dasi lama yang sudah tidak dipakai.
Ia menaruh dasi di kursi, lalu memanggil Bik Inah.
"Jangan biarkan Bintang masuk lemari saya lagi."
"Baik, Pak. Bu Senja sudah menegurnya juga."
"Dia bilang apa?"
"Katanya barang orang harus izin. Non Bintang sampai minta maaf."
Damar tidak menjawab. Ada terlalu banyak hal kecil tentang Senja yang tidak cocok dengan kesimpulan besarnya.
Saat makan malam, Senja mengetuk pintu kamar utama.
"Pak Damar, makan malam sudah siap."
Pintu terbuka. Damar memandangnya satu detik lebih lama, lalu menggeser tubuh. "Jalan duluan."
Senja berjalan di depan, merasa tatapan pria itu berada di punggungnya. Ketika ia menoleh, Damar sudah memasang wajah dingin.
"Apa?"
"Telinga Bapak merah. Demam?"
Refleks perawat membuat Senja mengangkat tangan hendak menyentuh dahinya. Damar mundur sebelum jemarinya sampai. Senja langsung menurunkan tangan.
"Maaf."
Damar melihat kekecewaan kecil di wajahnya dan hampir menjelaskan. Ia tidak jadi. Penjelasan akan membuka percakapan yang belum siap ia hadapi.
"Aku tidak apa-apa." Suaranya lebih dingin dari biasa. "Urus diri kamu sendiri."
Senja mengangguk dan turun lebih dulu. Di ruang makan, Bintang sudah memindahkan kursinya agar berada di antara mereka. Anak itu meminta Senja menyuapi sayur dan Damar memotong ayam, memaksa kedua orang dewasa bekerja sama tanpa berani saling pandang.
Ketika ujung jari mereka bertemu di atas piring Bintang, Damar menarik tangannya terlalu cepat. Gelas di dekatnya hampir jatuh. Senja menangkapnya dan meletakkan kembali tanpa komentar.
"Papa aneh," kata Bintang.
"Makan sayurnya," jawab Damar.
Senja menahan senyum. Untuk beberapa menit, lelaki dingin itu tidak tampak seperti pemilik konglomerasi. Ia hanya seorang ayah yang kalah oleh pertanyaan anak lima tahun dan kebingungan terhadap tubuhnya sendiri.
Setelah makan, Senja mengembalikan dasi yang sudah dicuci. Damar memeriksa simpul lipatannya.
"Tidak perlu dicuci."
"Saya pakai tanpa izin."
"Itu cuma dasi lama."
"Tetap barang orang."
Damar ingin mengatakan rumah itu juga rumah Senja sekarang, tetapi kalimat tersebut berhenti. Ia menerima dasi dan masuk kamar. Di balik pintu, ia mencium sisa aroma sabun murah pada kain, lalu segera meletakkannya jauh-jauh seolah benda itu dapat membongkar sesuatu.
Senja turun tanpa menoleh lagi. Di kamar Bintang, ia membantu anak itu mengganti pakaian sambil berulang kali menyangkal bahwa Papa sedang marah.
"Kalau enggak marah, kenapa Papa mandi lama?" tanya Bintang.
"Orang dewasa kadang butuh waktu sendiri."
"Mama juga?"
Senja menatap telapak tangannya. Bekas rasa hangat dari pinggang Damar seolah masih ada. "Mama juga."
Di kamar utama, Damar membuka lemari untuk menyimpan dasi itu, lalu mengurungkan niat. Ia menggantungkannya pada pegangan kursi, tempat kain biru tersebut tetap terlihat dari ranjang. Benda lama yang sebelumnya tak berarti kini mengingatkannya pada satu batas yang telah ia tetapkan sendiri: kalau suatu hari ia menyentuh Senja, perempuan itu harus menginginkannya juga.
Untuk pertama kalinya, batas itu tidak hanya terasa seperti prinsip. Batas itu terasa seperti harapan yang berbahaya.