Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nathaniel Alister18+
Matahari kini tak malu lagi menampakkan dirinya. Langit kembali menunjukkan bahwa dunia sudah siap disibukkan oleh manusia yang sedang mencari jati diri. Jalanan sudah siap di injak oleh kaki yang dipenuhi kekuatan untuk berjalan mencari kebahagiaan. Dan alam semesta mendukung mereka yang dipenuhi banyak keinginan.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan. Terdengar suara-suara manusia yang mengejar waktu. Mereka mulai disibukkan dengan lembaran kertas takdir.
Lalu, disebuah perusahaan Alister Property Group. Ruang rapat utama dipenuhi delapan orang petinggi perusahaan. Nathaniel Alister, duduk di kursi paling ujung, sementara Attar Niel— selaku Asisten pribadi memaparkan perkembangan proyek melalui layar presentasi.
"Dana yang kita butuhkan mencapai Rp3,2 triliun," ujar Angelica sambil membuka laporan keuangan. Wanita yang menjabat sebagai Chief Financial Officer menyampaikan laporan yang berada di dalam buku.
Nathaniel tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan jemarinya pelan di atas meja sebelum mengalihkan pandangan kepada Jolina.
"Bagaimana respons dari Evandra Capital?"
Jolina membuka tablet di tangannya.
"Proposal sudah diterima oleh Nona Aurelia Evandra, Tuan."
Nathaniel mengangguk tipis.
"Aku ingin bertemu langsung dengan Investment Director mereka."
Sekretaris menjawab, "Nona Aurelia Evandra?"
Nathaniel hanya mengangguk. Ia belum tahu, perempuan yang akan ditemuinya baru saja mengalami malam terburuk dalam hidupnya.
"Akan saya atur, tuan." Jolina mengangguk sopan. Ruangan ini terasa dingin dan penuh intimidasi. Bagi siapapun yang melihatnya, mereka akan langsung mengetahui siapa pemimpin perusahaan ini. Dari cara duduk, bergerak, dan berbicara. Nathaniel mampu membuat lawannya merasa kecil.
Attar melanjutkan tugasnya. Ia mulai menggeser layar yang dipenuhi sebuah Architecture Rendering. Gambar yang menunjukkan sebuah bangunan yang akan mereka kerjakan.
"Kita sudah sepakat menentukan lokasi di tengah-tengah kota." Attar menunjuk layar proyektor.
"Hotel bintang lima dengan nuansa elegant dan keamanan ketat." Asisten pribadi Nathaniel itu mempresentasikan dengan serius, pria itu menatap satu persatu anggota rapat.
"Mengenai investor sudah kita dapatkan."
Angelica mengacungkan tangannya. "Bukankah kita bisa berdiri tanpa investor? Anggaran kita tidak selemah itu hanya untuk membangun satu hotel." Wanita itu berbicara dengan berani. Menatap anggota rapat kemudian berhenti pada Nathaniel.
Rahang Nathaniel mengeras seketika. Ia membalas tatapan berani dari seorang direktur keuangan perusahaannya. Ia tersenyum miring, matanya terus menatapnya tajam.
"Apa saya pernah bilang, perusahaan tidak mampu?" Suaranya terdengar rendah, namun nada itu justru menunjukkan bahwa Nathaniel sedang menahan amarah.
Angelica yang mendengar itu hanya bisa menelan salivanya susah payah. Ia melirik sekitar dan menghela napas panjang.
"Tidak tuan. Tapi alangkah baiknya kita menggunakan anggaran yang ada tanpa bergantung pada siapapun."
Nathaniel berdehem kecil. Tangannya membenarkan letak jasnya, matanya menyapu tajam anggota rapat, terutama pada Angelica yang sedang berbicara di ruangan. Dan itu mampu membuat anggota rapat menjadi tegang. Atmosfer sekitar semakin memanas.
"Apa saya sedang membutuhkan pendapat?" Nathaniel menautkan kedua jarinya. Dia mendengus, stretching dan mengetukkan jari telunjuknya dua kali.
Dengan berani Angelica membalas tatapan Nathaniel.
"Tidak. Saya hanya sedang menyuarakan apa yang ada dalam pikiran saya."
Nathaniel terkekeh kecil. Tangannya menggebrak meja satu kali. Itu mampu membuat semua orang menahan napas.
"Tinggalkan ruangan ini." Nathaniel bersuara dingin. Rahangnya masih terlihat mengeras.
"Kecuali dia..." Nathaniel menunjuk Angelica dengan dagu. Semua orang beranjak berdiri, mereka mengambil laptop masing-masing dan membungkukkan badannya sebelum meninggalkan ruangan.
Angelica duduk dalam posisi hanya terhalang satu kursi dari Nathaniel, ia masih disana dan masih mempertahankan keberaniannya.
Setelah semua orang pergi. Nathaniel beranjak berdiri, pria itu menumpukkan kedua tangannya diatas meja. Tatapan matanya semakin tajam, memicing kearah Angelica seperti melihat sampah.
"Punya apa kamu sampai seberani itu?" Senyum miring itu kembali hadir.
Angelica tersenyum lebar. Wanita itu menghembuskan napas panjang dan beranjak berdiri. Ia berjalan perlahan menghampiri Nathaniel.
"Saya tidak punya apapun tuan Alister. Saya hanya punya diri sendiri." Itu terdengar seperti bisikan. Angelica semakin mempertipis jarak diantara mereka. Ia memiringkan kepalanya, menatap Nathaniel intens dengan bibir bawah yang ia gigit.
Nathaniel menatap wanita yang bekerja dikantornya baru menginjak satu bulan. Jika sebelumnya Nathaniel tahu bahwa pelamar pekerjaan waktu itu adalah Angelica. Ia tidak akan menerimanya.
Nathaniel mengumpat kasar dalam hati. Amarahnya semakin memuncak ketika Angelica mulai bersikap tidak sopan. Wanita itu semakin mendekat hingga aroma parfumnya memenuhi ruangan.
Darah Nathaniel mendidih. Tangannya bergerak dan mencengkeram kuat dagu Angelica. Ia menatapnya tajam seakan pisau yang siap menusuknya kapan saja.
Mulutnya seakan ingin meludahi wajah murahan itu.
"Jangan bersikap menjijikkan." Cengkeraman itu semakin kencang. Angelica terlihat kesakitan, namun wanita itu masih berusaha santai dan tetap tersenyum.
"Bukankah Anda juga pernah menikmati perhatian saya, Tuan?"
Nathaniel mendorong Angelica hingga tersungkur dilantai. Punggung wanita itu sempat menabrak meja cukup keras.
"Jangan mencoba memancing amarah saya."
"Keluar!" Nathaniel menggeram. Pria itu membenarkan letak jasnya kemudian melangkah meninggalkan Angelica. Ia berhenti di ambang pintu yang sudah terbuka. Disana, sudah ada Attar yang menunggu.
"Bereskan jalang sialan itu." Nathaniel melanjut langkah lebarnya.
"Perlu saya panggilku petugas keamanan, tuan."
"Tidak. Kamu yang akan mengurusnya."
Attar mengangguk cepat dan bergegas pergi kedalam ruangan. Disana, terdengar Angelica yang berteriak mengumpati Nathaniel.
Kejadian malam itu adalah sebuah kesalahan. Nathaniel bahkan menyumpahinya. Ia tidak mau lagi berada dalam situasi yang menjijikkan seperti itu.
Kesalahan manusia adalah hal wajar, tapi dengan catatan... Manusia itu mau belajar dari kesalahannya. Kita tidak bisa mengendalikan takdir, tapi kita masih bisa mengendalikan nafsu dan pikiran kita sendiri.
Langkah Nathaniel semakin cepat. Pagi ini mampu membuat energinya terkuras.
Ia menyisir rambutnya kebelakang yang terlihat sama sekali tidak berantakan. masih terlihat rapih tersisir kebelakang, dengan satu helaian rambut yang jatuh di pelipis.
Semua orang yang melihatnya menundukkan kepala. Mereka yang sedang berkumpul seketika terbelah dan menunjukkan rasa hormat.
Nathaniel masuk kedalam lift. Tapi sebelum itu, kakinya berhenti melangkah. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap pada orang-orang yang masih menunduk.
"Panggil HRD keruangan saya." Perintah itu bukan ditujukan kepada satu orang, melainkan pada semua orang yang mendengarnya.
"Baik, tuan." Timpal mereka kompak dengan nada rendah.
Nathaniel mengangguk pelan kemudian mulai masuk kedalam lift. Ia akan menemui HRD untuk membahas perihal penerimaan karyawan baru. Setelah sampai dilantai tigapuluh lima, kaki Nathaniel melangkah keluar.
Ia baru saja memasuki ruangan kerjanya. Ia duduk di kursi dan akan menunggu HRD.
Tak sampai satu menit. Pintu terbuka dan HRD tersebut muncul diambang pintu. Ia menghampiri Nathaniel setelah dipersilahkan, dan duduk dihadapannya.
"Mulai sekarang, penerimaan karyawan baru harus melalui saya." Ucap Nathaniel dingin.
HRD bernama Ethan mengangguk patuh. "Baik tuan. Tapi... Apakah ada kesalahan?" Ia bertanya dengan nada sopan.
"Kamu tidak menyeleksi dengan teliti." Nathaniel menyenderkan punggungnya di kursi, tangannya bergerak memainkan pulpen.
Ethan terlihat menahan napas, "maaf tuan, tapi siapa?" Pria itu menatap dengan raut cemas.
Nathaniel mengetukkan pulpen beberapa kali. Ia baru akan berusaha tapi suara notifikasi mengalihkan perhatiannya.
Tangannya melepaskan pulpen dan bergerak mengambil ponsel. Ia membaca notifikasi dari seseorang.
"Maaf saya mengabaikan panggilan anda karena semalam bukan waktunya untuk bekerja. Anda bisa mengatur jadwal pertemuan untuk membahas itu."
Sudut bibir Nathaniel terangkat tipis. Ia membaca pesan dari Aurelia Evandra. Rapat pagi ini gagal, tapi proyek ini tidak boleh sampai gagal. Ia akan bertemu dengan Investment Director Evandra Capital secara langsung.
Nathaniel tidak tahu...
Pertemuan itu bukan hanya akan menentukan kerja sama bernilai triliunan rupiah.
Pertemuan itu akan mengubah hidup mereka berdua.