Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Akan Kulewati Hari Pertamaku Kerja Ini!
"Biarkan aku mendandanimuuu!" seru seorang maid yang tiba-tiba berdiri. Pupil matanya membentuk hati merah muda yang berdenyut samar.
"Waaa! Bikin kaget aja!" teriak Moiro spontan.
Kau kagetan apa gimana dah? Awas jantungan, ntar ceritanya cepet tamat.
...***...
Moiro duduk di depan meja rias. Tubuhnya menjadi kaku sebab dirinya didandani oleh beberapa maid yang berada di belakangnya.
Di ruangan itu, ada lima orang maid yang sedang beristirahat. Dua sedang duduk di sofa panjang yang di depannya ada meja persegi panjang rendah, dan tiga lainnya berada di salah satu meja rias bersama Moiro.
Salah satu maid yang menyisir rambut Moiro mulai berkata. Gerakan lembut sisirannya selaras dengan nada suaranya yang juga terdengar lembut, "Akhirnya kamu udah mulai kerja~ Jadi gak sabar liat ekspresi para pelanggan~"
Salah satunya menyahut dengan antusias, sambil tersenyum lebar, "Benar juga!"
Dia menoleh pada Moiro, lalu tersenyum girang sambil merapikan pakaian Moiro, "Kamu pasti ngerasa gitu juga kan, Asahi?"
Moiro hanya diam, mengangguk pelan sambil tersenyum kaku.
Ia berseru dalam hati sedikit sebal, sambil terus berekspresi kaku, "Gak sabar banget, sih! Ekspresi kalian aja kek gitu, apalagi para pelanggan ntar!"
Justru itu yang ditunggu.
Moiro menghela napas pendek, sedikit menunduk, lalu berharap dalam hati, "Moga gak bikin aku repot nantinya..."
"A-Asahi... B-bisa angkat kepalamu se... sedikit...?" ucap maid yang sedang meriasnya, dia tampak seperti seorang yang pemalu. Bahkan terlalu pemalu.
Dia melanjutkan, pipinya tampak memerah, "S-Saya... sedikit kesusahan jika kamu menunduk begitu..."
Moiro tersadar, lalu membalas cepat sambil sedikit mengangkat kepalanya, "B-Baiklah, maafkan aku."
Moiro merasa tak enak dan sedikit bersalah. Dihadapkan dengan seniornya yang terlihat menggemaskan ini membuatnya merasa gelisah.
Ia melirik senior yang meriasnya dan menganggap dia benar-benar imut, terlihat seperti anak kecil baginya.
"Sadarlah! Dia bukan anak kecil!" seru Moiro dalam hatinya. Ia menyadarkan dirinya sendiri agar tak memandang rendah seniornya, "Gimanapun juga, dia itu seniorku, harus dihormati!"
Moiro menutup rapat matanya, sambil terus beradu dalam pikirannya, "Meski tubuhnya jauh lebih pendek dariku, dia tetap seniorku! Dia juga lebih tua dariku! Gak jauh, sih..."
Moiro membuka matanya, menatap cermin besar di depannya, datar, "Aku gak inget kalau dia bekerja di sini..."
Moiro sedikit tersenyum kaku, merasa lucu pada dirinya sendiri, "Gak sih, aku gak inget hampir semua orang—kecuali bos, tentu saja."
Parah bet kau ini.
.........
"Selesai!" seru salah satu maid dengan antusias, "Sekarang kamu terlihat imut, Asahi!"
Salah satu maid yang lain juga ikut memujinya, suaranya terdengar selembut sutra, "Lihat betapa indahnya penampilanmu ini? Sungguh menggemaskan~"
"Ma-Manisnya... S-Saya tak menyangka akan semanis ini..." ucap maid pemalu yang menatap Moiro dengan mata berbinar, begitu kagum dengan penampilannya.
Saye nak tengok juge.
Moiro merasa canggung. Ia tak berani menatap mereka yang membantu mendandaninya.
Ia melirik ke arah cermin di depannya, dan menemukan dirinya yang benar-benar terlihat seperti seorang perempuan. Dan itu justru membuatnya takut, jijik, dan sedikit malu.
Meski begitu, ia ingin berterima kasih atas bantuan yang mereka berikan.
Moiro menjadi diam, memalingkan pandangannya dari cermin. Dengan wajah yang sedikit memerah, ia menggaruk pipinya dengan telunjuk lalu berucap pelan karena malu, "Te... Terimakasih, Senior..."
Bahu Moiro ditepuk pelan oleh maid yang bersemangat sambil tersenyum, "Tidak masalah!"
Moiro akhirnya mengangkat pandangannya, menatap seniornya sambil tersenyum tipis sebagai bentuk bahwa ia menghargai itu.
Terdiam. Ekspresinya mendatar.
Ia terpaku melihat hidung seniornya yang sudah mengucurkan sirup merah.
"Langsung mimisan?!" teriak Moiro dalam hati sambil membelalak.
Harusnya aku yang ngomong gitu, woi!
Suara lembut kembali terdengar, pelan, dari senior yang menatapnya lembut sambil memegangi sebelah pipi, "Jangan panggil kami 'senior'. Kamu boleh kok manggil dengan nama depan."
Moiro melirik kaku, terbata, telah menduga sesuatu.
Tatapannya mendatar, dugaannya benar seratus persen. Maid yang lain juga mimisan.
Tapi yang tak ia duga adalah ucapannya barusan. Ia boleh memanggil para senior dengan nama depan? Yang bener aja? Moiro aja lupa!
Kasian, masih muda udah pikun, wokawok.
"Itu benar! Kamu harus manggil kami pake nama ya, supaya kita bisa lebih akrab!" sahut senior yang memegang pundaknya dengan gembira. Sirup merahnya mulai mengalir melingkari bibirnya.
Dalam waktu singkat, Moiro mencoba berpikir keras—berusaha mengingat nama mereka.
Selang beberapa detik, Moiro mengingat ketiga nama orang yang mendandaninya sebelumnya.
Pertama, seorang perempuan yang ucapannya selembut sutra, namanya adalah Sarasara Nakamura. Dia memiliki rambut lembut yang panjang melebihi punggungnya, lurus, tapi menggelombang lebar di bagian ujung, senyumannya juga lembut. Semuanya lembut. Dia orang terlembut yang pernah ditemui oleh Moiro. Perannya dalam maid adalah seorang ibu penuh kasih.
^^^Ilustrasi (Sarasara Nakamura) dari AI.^^^
M-MAMIH?! LOPYU MAMIIIH!
Kedua, seorang perempuan yang terlihat aktif dan bersemangat akan kegembiraan—orang yang memegang pundaknya saat ini—namanya adalah Genki Takahashi. Rambutnya berwarna coklat gelap yang pendek seperti seorang tomboy menunjukkan kebebasan serta semangat dirinya dalam beraktivitas. Perannya dalam maid adalah sebagai gadis tomboy yang ceria dan enerjik.
^^^Ilustrasi (Genki Takahashi) dari AI.^^^
LUCUNYA GENKIIII!
Ketiga, perempuan pemalu bertubuh pendek, namanya adalah Shizuka Tomoda. Orang yang pendiam dan ramah dengan rambut panjang menggelombang sampai pinggang. Suaranya yang pelan dan ringan membuat yang mendengar merasa ingin melindunginya. Perannya dalam maid adalah sebagai gadis yang pemalu, seperti sifatnya.
^^^Ilustrasi (Shizuka Tomoda) dari AI.^^^
IMUTNYA SHIZUKAAA!
Setidaknya, itulah nama yang diingat oleh Moiro. Tapi bagaimanapun juga, ia masih sulit untuk memanggil ara seniornya dengan nama depan. Itu terlalu lancang baginya.
Tanpa membalas, Moiro hanya mengangguk canggung, mengiyakan kalau dirinya akan memanggil mereka dengan nama, meski sebenarnya masih kurang nyaman melakukannya.
Melihat anggukannya, Genki tiba-tiba memeluknya erat sambil tersenyum riang, "Bagaimanapun juga, kamu sangatlah imut, Moiro!"
"Langsung manggil nama depan?! Aku belum terbiasa...!" keluh Moiro dalam hatinya, sekaligus terkejut karena tiba-tiba dipeluk.
Genki terus memeluknya erat sambil mendorong-dorong ringan.
Bukannya malu atau semacamnya, Moiro justru takut dan panik.
"Eh, awas! Nanti sirupnya jatuh ke bajuku...!" teriak Moiro dalam hati, sedikit panik.
Sini, gantian sama aku!
Sarasara memegang lembut pipinya sendiri, lalu berucap lembut bercampur iri, "Genki~ kamu curang meluk dia duluan..."
Shizuka di sampingnya mengangguk halus dan cepat.
"Ehehehe... maaf, maaf!" balas Genki sambil tersenyum.
Dia melepaskan pelukannya, lalu mengangkat satu tangannya yang dikepal tinggi-tinggi penuh semangat, "Bagus! Sekarang saatnya kita bekerja!"
"Heeehh~? Saya belum meluk Dik Moiro loh padahal..." sahut Sarasara dengan nada memelas.
"Kita harus kerja dulu, nanti bos marah," Genki menurunkan tangannya, lalu menatap dua maid yang duduk di sofa sambil tersenyum ceria, "Begitu kan, Hikari? Sora?"
Hikari menjawab santai, "Tentu. Aku siap untuk kembali bekerja."
Di sampingnya, Sora—sedang membersihkan hidungnya yang mimisan dengan tisu—menjawab dengan nada datar dan tenang, "Kamu selalu bersemangat ya, Genki?"
"Sudah pasti!" balas Genki dengan antusias. Satu tangannya dikepal erat.
Sarasara ikut berkata, lembut, sedikit mengeluh, "Eeehh~? Saya gak didukung, nih...?"
Aku mendukungmu kok Mamih-ku!
Moiro menatap kedua maid yang disapa oleh senior Genki sebelumnya. Ia merenung sejenak, mencoba mengingat nama lengkap mereka dari bocoran yang ada.
"Hikari... Orang yang panik mencariku kemarin sampai ke ruang Bos, ya...?" pikir Moiro, mengingat-ingat kembali.
Hikari Suzuki, seorang perempuan dengan rambut diikat di belakang seperti ekor kuda. Dia berperan sebagai gadis yang malu-malu kucing (mau tapi malu). Meski terlihat tenang, sebenarnya dia orang yang cukup panikan.
^^^Ilustrasi (Hikari Suzuki) dari AI.^^^
HIKARII?! AKU MAUUU!
"Benar, kalau gak salah namanya Hikari Suzuki," pikir Moiro sambil menatapnya sekilas.
Matanya menoleh ke perempuan di sampingnya yang sudah selesai membersihkan hidung—Sora.
"Kalau dia... Aku cuma melihatnya sekilas sebelumnya, dan hanya ingat namanya," ucap Moiro dalam hati, sembari masih menatapnya dengan heran, "Tapi jika dilihat, sepertinya dia orang yang dingin. Mungkin bakal sulit akrab dengannya..."
Kilatan halus menyambar kepalanya, menyadarkannya sesuatu, "Bentar, siapa juga yang mau akrab dengan para senior?"
Sok-sokan kau! Kalo gak mau, biar aku aja.
Sora Shirogane, seorang perempuan dengan rambut lurus dan bersih berwarna putih salju yang panjang sampai bawah pinggang. Perannya dalam maid adalah sebagai gadis yang dingin dan datar tapi perhatian.
^^^Ilustrasi (Sora Shirogane) dari AI.^^^
CA-CANTIKNYAA...!
Di antara para senior, hanya dia dan senior Genki yang memiliki rambut berwarna selain hitam, sisanya berwarna hitam pekat.
Soal masalah tinggi badan, bisa dibilang Moiro dan Sora itu sebelas dua belas—mirip-mirip. Tapi jika dilihat lebih teliti, Sora sebenarnya lebih tinggi walau sangat sedikit.
[Jika disusun berurutan mulai dari yang tertinggi sampai terendah, kira-kira seperti ini: Sarasara, Sora, Moiro, Genki, Hikari, Shizuka.]
"Sudah, sudah. Waktu istirahat sudah habis. Ayo kita mulai kerja!" seru Genki dengan semangat. Tangannya yang dikepal kembali diangkat tinggi, sambil melipat satu kaki ke belakang.
Dia kembali menghampiri Moiro, memegang pundaknya lalu bertanya girang padanya, "Benar kan, Moiro?"
Moiro tersenyum kaku, lalu berucap pelan, "Sebelum itu... Mungkin lebih baik bersihkan hidung kalian dulu?"
"Oh, benar juga!" ucap Genki yang tersadar, lalu kembali tersenyum, "Maaf, maaf!"
Genki melepaskan pegangan tangannya dari pundak Moiro, lalu segera pergi ke arah Hikari dan Sora untuk meminta tisu.
"Hari pertamaku bekerja..." bisik Moiro sambil menatap pintu keluar, lalu mengepalkan tangannya, "Aku akan melewatinya!"
Mantap! Dari tadi dah mulai ngantuk karna cuma pengenalan, akhirnya kini balik semangat! Saatnya kalian kerja!