NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Melawan

Alena tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa. “Mungkin ada rapat di luar. Aku hanya… penasaran.”

Mira mengangguk, meski tampak tidak sepenuhnya percaya. Sepanjang hari, Alena bekerja dengan setengah hati. Setiap kali telepon di meja Raka berbunyi dari jauh, atau ada karyawan yang keluar-masuk dekat ruang itu, dia selalu menoleh. Selalu berharap.

Tapi ruang itu tetap gelap dan sepi. Siang berlalu. Istirahat makan siang dilalui dengan cepat. Sore mulai turun. Karyawan satu per satu mulai merapikan meja. Alena masih duduk di kursinya, sesekali menatap pintu ruang Raka yang tidak pernah terbuka sejak pagi. Hingga bel pulang berbunyi.

Rekan-rekan kerja mulai berdiri, mengambil tas, saling menyapa sebelum pergi. Mira menepuk bahu Alena pelan. “Ayo pulang. Jangan menunggu terus. Kalau dia hari ini ada urusan, pasti kembali besok.”

Alena mengangguk pelan. Ia mematikan komputer, merapikan sedikit berkas, lalu memakai tasnya. Sebelum keluar dari ruangan, ia berhenti sejenak di depan pintu ruang Raka.

Dia menatap gagang pintu itu lama. Alena menghela napas panjang, lalu berbalik dan berjalan menuju lift bersama yang lain. Wajahnya tenang, tapi di dalam dadanya ada rasa kosong yang terus menganga. Raka belum kembali. Pertama kalinya sejak pria itu masuk ke dalam hidupnya… Alena merasa betapa sunyinya hari tanpa kehadirannya.

Jalan menuju rumah Raka cukup sepi di sore itu. Alena berjalan dengan langkah cepat, tas digenggam di sisi tubuhnya. Pikiran Alena masih penuh dengan kepergian Raka dan pesan singkat yang ditinggalkannya. Dia tidak menyadari bahwa sejak keluar dari gedung kantor, ada dua pria berpakaian preman yang mengikutinya dari jarak agak jauh.

Di tikungan menuju area yang lebih sepi, tiba-tiba mereka mempercepat langkahnya.

“Hai, cantik,” salah satu pria memanggil sambil menyeringai. “Lagi sendiri, ya?”

Alena menoleh, langsung waspada. Dia mempercepat langkah, tapi pria kedua sudah memotong jalan di depannya.

“Jangan takut,” kata pria itu dengan nada mengejek. “Kami cuma mau ngobrol sebentar.”

Alena mencoba berbalik dan berlari, tapi salah satu preman sudah meraih tasnya dengan kasar. “Lepaskan!” teriak Alena, menarik tasnya sekuat tenaga.

Tarik-menarikan terjadi, tenaga preman itu lebih kuat. Dengan satu gerakan, tas Alena terlepas dan langsung digenggam pria itu. Isi di dalamnya berhamburan sedikit—ponsel, dompet, dan beberapa dokumen. Alena langsung berteriak minta tolong, tapi para preman kembali mengancamnya.

“Jangan berisik,” bentak preman kedua. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik jaket—sebilah pisau lipat yang terbuka, bilahnya berkilau di bawah cahaya sore.

Alena membelalak, mundur beberapa langkah. Jantungnya berdegup kencang.

“Hanya menakut-nakuti, kata orang yang bayar,” gumam preman yang memegang pisau, senyumnya melebar. “Tapi kami rasa… boleh sedikit lebih jauh. Biar jera.”

Dia melangkah mendekat, mengayunkan pisau ke arah Alena dengan gerakan mengancam. Bukan menusuk langsung, tapi cukup dekat untuk membuat Alena terpaksa menghindar ke belakang hingga punggungnya menyentuh tembok bangunan kosong.

“Tolong… lepaskan tas saya. Saya tidak punya urusan dengan kalian,” kata Alena, suaranya bergetar tapi mencoba tetap tegas.

Preman yang memegang tas tertawa. “Urusan sudah dibayar di muka. Sekarang diam, atau wajahmu kami coret.”

Pisau diayunkan lagi, lebih dekat. Ujungnya hampir menyentuh lengan baju Alena. Gadis itu memiringkan tubuh, napasnya tersengal. Dia mencari celah untuk melarikan diri, tapi kedua preman sudah mengurungnya.

Tepat saat bilah pisau bergerak lagi ke arahnya. Sebuah bayangan hitam muncul dari sisi gang dengan kecepatan tinggi.

Pengawal pribadi Raka muncul tanpa suara. Dalam hitungan detik, dia sudah berada di antara Alena dan kedua preman. Tangannya bergerak cepat—satu tangan mencekik pergelangan preman yang memegang pisau hingga senjata itu jatuh berdenting ke aspal, sementara kaki kanannya menyapu kaki preman kedua hingga pria itu tersungkur.

Kedua preman sempat mengumpat, mencoba melawan, tapi pengawal itu bergerak terlalu cepat dan terlalu terlatih. Dalam waktu singkat, keduanya sudah terkapar di tanah, mengerang kesakitan, tidak mampu berdiri lagi.

Alena terhuyung, napasnya masih tersengal. Ia menatap sosok berpakaian hitam di depannya dengan mata melebar. “Siapa… kau?”

Pengawal itu tidak menjawab. Dia hanya menunduk singkat ke arah Alena, seolah memberi hormat, lalu mengambil tas yang sempat dirampas dan mengembalikannya dengan gerakan hati-hati. Setelah memastikan Alena berdiri tegak dan tidak terluka, pria itu menatap kedua preman yang masih tergeletak.

“Jangan pernah dekati dia lagi,” suaranya rendah dan dingin. “Atau kalian tidak hanya terluka.”

Tanpa menunggu jawaban, pengawal itu melangkah mundur. Bayangannya seolah menyatu dengan kegelapan di ujung gang. Dalam sekejap, ia sudah menghilang tanpa jejak, seolah tidak pernah muncul.

Alena berdiri kaku di tempat, masih memegang tasnya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap ke arah gang yang kosong, lalu ke kedua preman yang mulai merangkak menjauh dengan wajah ketakutan.

Siapa pria tadi? Dan kenapa dia melindungi dirinya?

Dengan tangan gemetar, Alena segera meninggalkan tempat itu, mempercepat langkah menuju rumah Raka.

Sementara itu, di dimensi lain… Kabut abadi menyelimuti dataran di luar tembok Istana Bulan Emas. Langit berwarna keunguan gelap, dihiasi retakan cahaya perak yang terus melebar. Suara benturan senjata dan teriakan perang memenuhi udara.

Raka berdiri di tengah medan, jubah gelapnya berkibar ditiup angin kencang. Di tangannya, sebilah pedang panjang dengan bilah keemasan yang menyala redup. Di sekelilingnya, para prajurit setia bertarung melawan pasukan yang memberontak—prajurit-prajurit yang dulu bersumpah setia pada istana, kini berbalik karena retaknya dewan kerajaan.

“Tahan garis pertahanan!” teriak Raka, suaranya menggelegar di tengah kekacauan. “Jangan biarkan mereka mendekati gerbang utama!”

Seorang pemberontak melompat ke arahnya sambil mengayunkan kapak besar. Raka menghindar cepat, lalu membalas dengan satu ayunan pedang yang akurat. Pria itu terjatuh.

Darah berceceran di tanah keabadian. Kabut semakin tebal. Di kejauhan, tembok istana yang biasanya bersinar keemasan kini terlihat retak di beberapa bagian, memancarkan cahaya tidak stabil.

Seorang prajurit setia berlari mendekati Raka, napasnya tersengal. “Yang Mulia! Faksi kiri sudah mulai merebut menara pengawas. Jika mereka berhasil mengaktifkan segel terbalik… retakan di dunia manusia akan semakin besar!”

Raka menghapus darah di pipinya dengan punggung tangan. Matanya menatap ke arah menara yang dimaksud, tajam dan penuh tekad.

“Kumpulkan sisa pasukan yang masih setia. Kita serang balik sekarang. Jangan biarkan istana jatuh… atau semuanya berakhir.”

Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya keemasan di bilahnya semakin terang.

“Untuk Istana Bulan Emas!”

Para prajurit setia yang tersisa mengangkat senjata mereka, berteriak mengikuti. Raka memimpin di depan, menerjang masuk ke tengah barisan pemberontak dengan kecepatan dan kekuatan yang hanya dimiliki oleh mereka yang berasal dari darah kerajaan.

Di tengah pertarungan yang semakin sengit, pikiran Raka sempat melayang sejenak… pada gadis yang sedang tertidur di dunia lain, yang bahkan tidak tahu bahwa malam ini ia sedang bertarung demi menjaga segel yang melindungi hidupnya. "Tunggu aku, Alena."

Pedangnya kembali beradu dengan senjata musuh, menghasilkan percikan cahaya di tengah kabut abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!