NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Jarum jam di dinding koridor rumah sakit menunjukkan pukul tiga sore.

Setelah tujuh jam berlalu dalam ketegangan yang mencekam, pintu ruang operasi akhirnya terbuka lebar.

Suara roda brankar yang beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat.

Dokter Han keluar dengan langkah yang terlihat letih namun mantap.

Masker bedahnya telah diturunkan, memperlihatkan garis wajah yang kelelahan namun puas.

Alena, yang sejak tadi duduk gelisah di kursi tunggu, langsung berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia menghampiri Dokter Han dengan langkah terburu-buru.

"Dok... bagaimana? Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Alena dengan suara serak,

tangannya tak henti-hentinya mengusap perutnya sebagai bentuk perlindungan bagi janinnya.

Dokter Han menarik napas panjang sebelum memberikan penjelasan, membiarkan tim perawat memindahkan Baskara ke ruang pemulihan intensif (ICU) di dekat mereka.

"Alena, dengarkan saya," ujar Dokter Han dengan nada tenang namun serius.

"Operasi hari ini adalah langkah paling krusial. Luka bakar di punggung Baskara memang sangat dalam, bahkan mencapai area yang menyentuh fasia otot. Sesuai dugaan awal, hantaman balok kayu tersebut tidak hanya menyebabkan luka bakar termal, tetapi juga trauma tumpul yang membuat jaringan di bawahnya mengalami memar hebat dan peradangan otot yang serius."

Dokter Han menjeda kalimatnya, memastikan Alena menangkap setiap kata.

"Proses debridement yang kami lakukan berjalan lancar. Kami berhasil membersihkan seluruh jaringan nekrotik—yakni jaringan yang sudah mati dan berisiko membusuk—serta membuang sisa-sisa kontaminasi dari material kebakaran yang tertanam di kulitnya. Kami juga telah melakukan penutupan luka sementara dengan synthetic skin dressing berkualitas tinggi untuk melindungi area tersebut dari risiko infeksi yang bisa berakibat fatal bagi kondisi sistemik tubuhnya."

Ia menatap Alena dalam-dalam. "Operasi hari ini

sukses sesuai rencana, tetapi ini baru tahap pertama. Baskara masih harus menghadapi fase pemulihan yang sangat berat. Tubuhnya akan mengalami demam pasca-operasi sebagai respon alami terhadap trauma jaringan yang besar. Dia akan berada di bawah pengaruh obat pereda nyeri dosis tinggi selama beberapa hari ke depan agar punggungnya bisa beradaptasi. Dia harus tetap dalam posisi tengkurap atau miring untuk waktu yang cukup lama agar tidak ada tekanan pada area yang baru saja direkonstruksi."

"Apakah dia... akan sembuh total, Dok?" tanya Alena lirih.

Dokter Han tersenyum tipis. "Baskara memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Jika dia disiplin dengan pengobatan dan prosedur rehabilitasi nanti, dia akan pulih. Namun, Alena, ingatlah bahwa dia butuh ketenangan. Stres psikologis dapat menghambat regenerasi jaringan kulitnya. Kamu harus menjadi pendukung terkuatnya selama masa-masa sulit ini."

Dokter Han menepuk bahu Alena pelan. "Sekarang, kamu bisa melihatnya sebentar di ruang pemulihan. Tapi ingat, jangan terlalu lama, karena dia masih sangat membutuhkan istirahat total untuk memulihkan kekuatannya."

Dengan langkah yang terasa berat dan hati yang berdebar kencang, Alena mengenakan pakaian pelindung steril (gown) dan masker yang disodorkan perawat.

Rasa dingin dari AC ruang ICU langsung menusuk kulit begitu ia melintasi pintu otomatis yang kedap suara.

Suasana di dalam ruangan itu begitu sunyi, hanya dipecahkan oleh ritme konstan dari monitor jantung yang berbunyi titt... titt... titt... dengan stabil.

Bau khas cairan antiseptik dan obat-obatan memenuhi udara, menyadarkan Alena betapa seriusnya kondisi sang suami.

Begitu sampai di samping ranjang, napas Alena seakan tertahan.

Baskara terbaring di sana dengan posisi tengkurap yang diatur sedemikian rupa agar tidak menekan punggungnya yang baru saja dioperasi.

Selang-selang infus terhubung ke lengannya, dan sebuah alat bantu pernapasan tipis terpasang di hidungnya.

Wajahnya yang biasanya terlihat tegas dan berwibawa, kini tampak sangat pucat dan tidak berdaya, tertutup sebagian oleh perban besar yang menutup rapat area punggungnya hingga ke bahu.

Alena berhenti tepat di samping kepala Baskara. Ia tidak berani menyentuh punggung itu, takut akan menyakiti pria yang sangat ia cintai.

Dengan perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Baskara, suaranya nyaris tak terdengar di antara deru mesin penunjang kehidupan.

"Bas..." bisiknya lirih, air mata hangat mulai mengalir membasahi maskernya.

Ia memandangi bulu mata suaminya yang terpejam rapat, diam tak bergerak.

Tidak ada respons, tidak ada tatapan tajam yang biasanya menatapnya dengan penuh rasa protektif, tidak ada candaan "berondong" yang membuat Alena tersipu. Hanya keheningan yang menyiksa.

Alena perlahan meraih tangan Baskara yang bebas dari selang, menggenggamnya dengan sangat hati-hati, seolah takut pria itu akan hancur jika ia memegangnya terlalu erat.

"Cepat bangun ya, Sayang," lanjut Alena dengan suara bergetar hebat.

"Aku di sini. Si kecil juga di sini, menunggu papanya kembali. Kamu sudah berjanji akan membalas semuanya, bukan? Jangan biarkan aku berjuang sendirian di sini."

Tangan Alena yang satunya lagi kembali bergerak ke perutnya, mengusapnya dengan lembut, seolah ingin memberikan kekuatan pada janin di dalamnya bahwa ayah mereka sedang berjuang untuk mereka.

Di tengah bunyi monitor yang terus berdetak, Alena berjanji dalam hati bahwa ia akan menjadi benteng pertahanan Baskara selama masa pemulihan ini, sekecil apa pun kemajuan yang ditunjukkan suaminya.

Alena tidak membiarkan tangisnya pecah lebih keras.

Ia tahu, di balik dinding-dinding ICU yang dingin ini, ketenangannya adalah dukungan terbaik bagi Baskara.

Setelah beberapa menit menatap wajah suaminya yang terlelap di bawah pengaruh anestesi, ia menarik napas panjang, menelan rasa sesak di dadanya, dan memberikan satu kecupan ringan di punggung tangan Baskara.

"Aku akan kembali nanti, Bas," bisiknya sebelum berbalik mengikuti perawat keluar dari ruangan.

Begitu pintu ICU tertutup di belakangnya, Tanti yang sedari tadi menunggu di koridor langsung berdiri dan menghampiri Alena. Wajah asisten itu tampak cemas.

"Bagaimana kondisi Bapak, Bu?"

Alena tersenyum getir, berusaha terlihat tegar.

"Dia sedang berjuang, Tanti. Dokter bilang operasinya sukses, tapi dia butuh istirahat total. Kita harus pastikan dia tidak diganggu oleh siapa pun."

Tanti mengangguk mantap. "Saya sudah memerintahkan dua karyawan kita untuk berjaga secara bergantian di depan akses masuk ruangan ini. Tidak ada satu pun orang asing yang bisa mendekat."

Tiba-tiba, ponsel di saku jas Alena bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Kenan.

Alena membukanya, dan raut wajahnya yang tadinya sendu mendadak berubah menjadi dingin.

Pesan dari Kenan:

[Ibu, Billy dan Yanuar mulai mencurigai sesuatu. Mereka mencoba memaksa masuk ke kantor untuk melihat dokumen warisan, tapi saya sudah mengunci aksesnya. Mereka juga mulai menelepon pihak rumah sakit di Jakarta untuk mencari data medis kita. Sebaiknya kita segera memperketat keamanan di Seoul agar lokasi kita tidak terendus.]

Alena mengepalkan tangannya di balik saku. Ia memandang ke arah pintu ICU tempat Baskara berbaring.

"Tanti, hubungi Dokter Han. Minta dia untuk memastikan bahwa data medis Baskara di sini sepenuhnya terlindungi dan tidak bisa diakses oleh siapa pun dari luar negeri. Aku tidak ingin satu pun orang di Indonesia tahu bahwa kita berada di rumah sakit ini."

"Baik, Bu. Akan segera saya urus," jawab Tanti.

"Dan satu lagi," tambah Alena dengan sorot mata yang mulai berubah tajam, persis seperti tatapan Baskara saat sedang marah.

"Pastikan Kenan memberi umpan yang lebih manis lagi pada mereka. Biarkan mereka terus merasa bahwa mereka sedang berada di ambang kemenangan. Semakin mereka serakah, semakin cepat mereka akan jatuh ke dalam perangkap yang kita buat."

Alena berjalan menjauh dari ruang ICU, langkah kakinya kini lebih mantap.

Ia tidak lagi merasa sebagai wanita yang ketakutan oleh kebakaran.

Kini, ia adalah istri dari seorang pejuang yang sedang memulihkan diri, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, terutama Billy dan Yanuar, merampas masa depan yang sedang ia bangun bersama Baskara dan buah hati mereka.

Pembalasan telah dimulai, dan mereka baru saja memasuki babak yang paling mematikan.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!