Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Jamuan Beracun
Waktu makan malam pun tiba. Danu memimpin rombongannya melangkah menuju kediaman Rio yang tampak megah di tengah kompleks. Begitu mereka tiba, Rio sudah menunggu di depan pintu dengan senyum yang begitu ramah, seolah ia adalah tuan rumah yang paling tulus menyambut tamunya.
"Terima kasih kalian sudi datang ke rumah saya," ucapnya hangat sambil memberi isyarat tangan. "Silakan masuk, dan nikmati jamuan malam ini. Kita akan berbincang hal lain setelah perut kalian terisi."
Di dalam, meja panjang sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan yang sungguh tak mereka sangka bisa ditemukan di masa kiamat seperti ini. Ada nasi hangat, lauk pauk yang lengkap, hingga buah-buahan segar. Gelas-gelas berisi minuman bening pun tersedia di setiap sisi tempat duduk. Semuanya terlihat begitu istimewa, seolah dunia masih berjalan seperti sedia kala.
Beberapa dari mereka menatap hidangan itu dengan mata berbinar, perut yang sudah lama kosong seakan berteriak minta segera diisi. Namun Natalia tetap duduk dengan hati-hati, matanya tak lepas mengamati setiap gerak-gerik Rio dan wanita yang berdiri tak jauh dari bahu pria itu. Ada sesuatu yang tak beres di balik senyum manis itu.
Danu mengangguk sopan, meski kewaspadaannya tak pernah luntur. "Terima kasih atas sambutan yang luar biasa ini, Rio. Kami sudah lama tidak melihat hidangan sebaik ini."
"Semuanya hasil kerja keras kami di sini," jawab Rio sambil menuangkan minuman ke gelas terdekat. "Mari kita angkat gelas ini... untuk persahabatan baru, dan harapan agar kita semua bisa selamat bersama-sama."
Satu per satu orang mengangkat gelas, namun tangan Natalia terhenti di udara. Ia menatap cairan bening itu dengan perasaan yang semakin mencekam—ia tahu, di balik kebaikan yang ditampakkan, ada rahang tajam yang siap menjerat mereka kapan saja.
"Ada apa Natalia? Kenapa belum kau minum?" tanya Rio dengan nada lembut, namun tatapan matanya tajam menembus, seakan mencoba membaca apa yang tersembunyi di pikiran gadis itu.
Natalia tersenyum tipis, berusaha menutupi kegelisahannya. "Maaf... aku tidak suka minuman ini , aku tidak terbiasa meminum wiski,"Perlahan ia menurunkan kembali gelasnya ke meja, tanpa menyentuhnya sedikit pun.
Rio mengerutkan kening sekilas, namun senyumnya tak luntur. "Tak apa-apa. Silakan nikmati makanannya dulu. Jangan sungkan."
Beberapa orang mulai menyendok makanan, namun Danu menyadari sikap Natalia yang tak biasa. Ia ikut menurunkan gelasnya kembali, menyentuh lengan gadis itu perlahan seolah memberi isyarat agar tetap tenang. Rafli yang duduk di ujung meja pun mulai curiga, matanya mengamati sekeliling ruangan, mencari celah atau jalan keluar jika sesuatu terjadi.
Tiba-tiba wanita yang berdiri di samping Rio berdeham pelan, suaranya terdengar dingin. "Kalian sepertinya takut kami meracuni kalian? Apa kami terlihat begitu kejam?"
"Kami tidak bermaksud begitu," jawab Danu cepat. "Hanya saja kami sudah terbiasa sangat berhati-hati selama berada di luar sana. Tidak ada maksud menuduh."
Rio tertawa kecil, namun tawanya tak terdengar tulus. "Sangat bijak... tapi sayang sekali, rasa hati-hati kalian itu tak akan berguna lagi."
Seketika suasana berubah. Pintu-pintu ruangan tertutup rapat, dan beberapa orang bersenjata muncul dari balik tirai serta pintu samping, mengarahkan senjata tepat ke arah rombongan Danu.
"Kalian pikir kami membangun benteng ini hanya untuk menampung orang lemah seperti kalian?" desis Rio, senyum ramahnya kini hilang berganti raut wajah kejam. "Kami membutuhkan sesuatu yaitu darah segar, darah untuk kelangsungan hidup kami. Dan kalian... adalah persembahan yang sempurna."
Jantung semua orang berdegup kencang. Makanan yang tadi terlihat menggugah selera kini terasa seperti maut yang terhidang di atas meja. Natalia menarik napas panjang—dugaan buruknya ternyata benar. Bahaya terbesar bukanlah mayat hidup di luar sana, melainkan manusia yang menyambut mereka dengan senyum palsu.
"Aku sudah menduga akan hal ini..." sahut Natalia tenang, meski tangannya masih mencengkeram pisau dapur erat.
Rio tersenyum miring, kagum sekaligus kesal. "Kau sangat pintar sekali, Natalia. Kau bisa mencium bau bahaya sebelum semuanya terbuka."
"Saat pertama kali melangkah masuk ke dalam benteng ini, ada yang tak beres," tegas Natalia menatap tajam ke arah Rio. "Kalian mengambil semua senjata kami tanpa alasan yang masuk akal. Dan yang paling mencurigakan... jumlah orang yang ada di sini sangat sedikit. Seolah-olah yang kami temui hanyalah orang-orang kepercayaanmu saja, bukan warga yang benar-benar berlindung dan saling membantu."
Rio terdiam sejenak, senyum liciknya perlahan memudar. Gadis itu benar-benar telah membuka tabir tipu dayanya satu per satu.
"Kau benar..." desis Rio pelan. "Benteng ini bukan tempat persembunyian bagi semua orang. Ini wilayahku, dan semua yang ada di sini adalah milikku—termasuk nyawa kalian."
Belum sempat Rio melanjutkan ancamannya, suara teriakan kian melantun kencang dari luar, disusul geraman lapar yang semakin mendekat. Kekacauan di luar benteng ternyata sudah mencapai ambang pintu.
Bersambung