Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sera perlahan mengangguk. "Iya, ingat kok, Kak."
Mereka pun kembali berbincang dengan hangat, sampai akhirnya Sarah berpamitan sebentar.
"Dek, Kakak ke toilet dulu ya."
"Ya, Kak... Pergilah."
Sarah berjalan menuju toilet, sementara Sera masih menunggu dengan sabar di tempatnya.
__
Di kantor, terlihat Sean melangkah turun menuju lobi.
"Tuan, kita mau ke mana?" tanya Max.
"Ayo kita keluar dulu. Aku ingin mencari tempat untuk makan siang," jawab Sean.
"Baik, Tuan."
Kedua pria itu pun berjalan menuju mobil dan segera meluncur mencari rumah makan.
Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah tempat makan. Sean turun dari mobil dan melangkah masuk, disusul oleh Max.
Dari kejauhan, Sean tiba-tiba mengerutkan keningnya.
Ia melihat sesosok gadis yang sedang duduk sendirian sambil memainkan ponsel. Wajah wanita ini terasa sangat familiar, batin Sean.
Perlahan ia mendekat, dan benar saja—wanita itu adalah Sera.
"Sarah..." panggil Sean.
Sera tersentak kaget, ponselnya hampir terlepas dari genggamannya.
Sigap, Sean langsung menangkapnya sebelum jatuh. Sera menelan ludah saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"P-Paman..." ucap Sera terbata-bata.
Sean mengedarkan pandangannya sekilas. "Kau sendiri?"
Sera hendak menjawab 'iya', namun matanya menangkap gelas beserta piring bekas minum dan makan kakaknya yang masih ada di atas meja. Akhirnya ia urung.
"A-Aku... tadi sama teman, Paman."
"Teman? Di mana temanmu sekarang?"
"Dia sudah pulang duluan."
"Lantas kenapa kau tidak ikut pulang?"
"Aku... ingin duduk sebentar lagi," jawab Sera berusaha tenang. "Kalau Paman mau duduk, silakan duduk saja." Lanjutnya karena kebetulan ada yang ingin dia bahas dengan pria itu.
Sean pun memilih duduk berhadapan dengannya. Sementara Max duduk di meja terpisah yang berada dua meja dari mereka berdua.
"Oh ya, Paman pesan dulu ya. Aku mau ke toilet sebentar."
Sean mengangguk.
Sera segera berdiri dan berjalan menjauh.
Sean memperhatikan punggung gadis itu menghilang.
Ada sesuatu yang terasa berbeda... Dia tidak seperti Sarah yang kukenal, batin Sean mulai merasa curiga.
Sean ingat, Sarah itu sering berpenampilan faminim. Sementara wanita itu berbanding terbalik dengan penampilan Sarah selama ini.
Sera bergegas menghampiri kakaknya yang baru saja keluar dari toilet.
"Kak..." panggil Sera berbisik.
"Kenapa, Dek?"
"Tuan Sean ada di depan!"
"Apa? Paman Sean ada di sana? Terus bagaimana caraku pergi?"
"Sudah, Kakak lewat pintu belakang saja. Ingat ya, langsung pulang ke tempat aman, jangan berhenti di mana-mana!"
"Iya, Dek. Baiklah. Kakak pergi dulu ya. Jaga diri,"
"Baik, Kak."
Sera mengusap dadanya untuk menenangkan diri, lalu kembali ke meja.
"Kau sudah makan, Sarah?" tanya Sean melihat piring yang masih ada di sana.
"Sudah, Paman."
Sean hanya mengangguk. Tak lama kemudian pesanan Sean datang—hanya secangkir kopi.
"Paman tidak makan?"
"Tadinya mau, tapi nanti saja."
"Makan saja sekarang, Paman. Paman pasti lapar, kan?"
"Tidak,"
"Sudah, makan saja sekarang," ucap Sera memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Tak lama makanan pun datang.
"Nah, ayo dimakan, Paman."
"Sudah kubilang tidak usah..."
"Kalau Paman tidak mau makan sendiri, jangan salahkan aku kalau aku yang menyuapi," ancam Sera setengah bercanda tapi tegas.
Sean menatapnya sejenak. "Terserah kau saja."
Ia pun menarik piring itu dan mulai menyantap makan siangnya.
Sera mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan singkat pada kakaknya.
Sambil makan perlahan, Sean diam-diam memperhatikan wajah gadis di hadapannya.
Wajahnya memang Sarah... Tapi ada perbedaan yang sangat ketara. Dan sulit aku jelaskan.
"Paman... Boleh aku bicara sesuatu?"
"Boleh. Katakan saja," jawab Sean tenang.
Apa dia akan marah ya? Kalau aku kembali membahasnya? Batin Sera ragu.