NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 — Dua Pandangan yang Berbenturan

"Suto! Kamu tidak apa-apa?" panggil Paman Bimo begitu melihat Paman Suto berjalan pincang memasuki gerbang pemukiman suku bersama Yana, Bibi Nora, dan Ayla.

Beberapa pemburu yang sedang mengikat kayu bakar juga langsung berlari mendekat.

"Tebing barat runtuh!" Kata Paman Suto dengan napas yang masih tersengal. "Kalau Yana tidak ada di sana dan menarik mantelku tepat waktu, aku pasti sudah tertimbun batu di dasar jurang!"

Paman Bimo menepuk bahu Suto kuat-kuat, lalu menatap Yana dengan mata berbinar. "Kerja bagus, Yana! Kamu menyelamatkan satu nyawa pemburu terbaik kita hari ini!"

"Yana memang anak yang sangat tanggap," sela Bibi Nora penuh semangat. "Kami menyaksikan sendiri bagaimana cepatnya Yana bertindak di celah tebing tadi."

Yana hanya mengangguk tipis merespons pujian itu. "Itu cuma kebetulan. Paman Suto yang memang masih dilindungi oleh dewa binatang. Sebaiknya obati dulu lecet di kakinya."

"Iya, ayo ke kediaman tetua!" ajak Paman Bimo seraya merangkul Suto.

Kerumunan warga perlahan membubarkan diri mengantar Paman Suto. Namun saat Yana hendak melangkah menuju rumahnya untuk membersihkan sisa tanah di pakaian, suara langkah kaki cepat memotong jalurnya.

"Yana, bisakah kita bicara sebentar?" panggil Ayla.

Yana menghentikan langkahnya. Ia menoleh pelan, menatap Ayla yang berdiri tiga langkah di depannya dengan tenang. Tetapi, matanya menatap Yana dengan sangat lekat.

"Ada apa?" tanyanya datar.

Ayla melirik ke sekeliling, memastikan para warga sudah cukup jauh dan fokus pada Paman Suto. "Di dekat sumur tua bagian barat. Tempatnya sepi, tidak ada yang akan mengganggu kita."

"Bicara di sini saja," balas Yana singkat.

Ayla menghela napas tipis, ia lalu menyunggingkan senyum yang terasa dipaksakan. "Ini soal cara pandang kita tentang suku ini, Yana. Cuma sebentar."

Tanpa menunggu jawaban Yana, Ayla berbalik dan berjalan lebih dulu ke arah area sumur tua yang berada di batas luar pemukiman.

Yana diam sejenak, menimbang situasi, sebelum akhirnya melangkah mengikuti gadis itu dari belakang.

Udara sore di sekitar sumur tua terasa semakin dingin.

Angin utara membuat dedaunan kering bergesekan bising.

Ayla berhenti di samping struktur batu di dekat sumur, membalikkan badan menghadap Yana.

"Penjelasanmu soal kejadian di tebing tadi belum selesai," ujar Ayla membuka percakapan. Suaranya tidak lagi selembut saat berbicara di depan para tetua.

"Soal Paman Suto?" tanya Yana tenang.

"Soal ketepatan waktumu," sahut Ayla cepat. "Dan soal usulan pembukaan lahan baru yang kamu patahkan kemarin."

Yana menyilangkan tangan di dada. "Aku mematahkan usulanmu karena musim dingin bukan waktu yang tepat untuk menguras tenaga pemburu. Itu keputusan yang rasional."

"Rasional menurut sudut pandang yang sempit, Yana," potong Ayla, melangkah satu pijakan lebih dekat. "Kamu terlalu takut pada alam. Kamu memperlakukan Hutan Hitam dan musim dingin seolah-olah mereka adalah penguasa yang tidak bisa ditaklukkan. Padahal, alam ini bisa diatur jika kita menggunakan akal dan teknologi!"

Yana menatap Ayla tanpa berkedip. "Diatur?"

"Ya, ditaklukkan!" tegas Ayla dengan mata berbinar penuh ambisi. "Manusia tidak seharusnya pasrah hidup dari sisa-sisa apa yang disediakan hutan. Kita bisa menebang pohonnya, membuka tanahnya, membangun saluran air, dan menguasai wilayah ini. Kalau suku ini terus mengikuti caramu yang serba lambat dan ketakutan, kalian akan selamanya menjadi suku terbelakang yang kelaparan setiap kali turun salju!"

Yana mendengarkan seluruh luapan kalimat itu tanpa memotong. Wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

"Kamu menyebutnya menaklukkan," kata Yana dengan suara tenang namun menohok. "Tapi warga di sini menyebutnya keserakahan yang tidak terukur."

Ayla mengerutkan dahi. "Apa katamu?"

"Dunia ini tidak bekerja sesuai kemauan kepalamu, Ayla," lanjut Yana lugas. "Hutan Hitam bukan sekadar kumpulan kayu dan batu yang bisa kamu potong sesukamu. Ada keseimbangan di sini. Ketika kamu memaksa membuka tanah yang membeku tanpa memperhitungkan badai dan binatang yang terdesak, kamu bukan sedang memajukan suku. Kamu sedang memancing bencana."

Ayla tertawa kecil, nada ejekan terdengar jelas dari mulutnya. "Bencana? Itu cuma alasan orang-orang yang enggan maju! Pengetahuan yang kubawa bisa membuat suku ini hidup sepuluh kali lebih layak daripada sekarang. Tapi kamu terus-menerus menghambat ku!"

"Pengetahuanmu berguna untuk hal-hal kecil seperti tali dan saringan air," balas Yana dingin. "Tapi memaksakan perubahan besar di tempat yang sama sekali tidak kamu pahami adalah kebodohan. Alam tidak menunduk pada pengetahuanmu hanya karena kamu merasa paling pintar."

"Aku tidak bodoh, Yana!" pangkas Ayla dengan suara yang meninggi, topeng ramahnya terkelupas sepenuhnya di hadapan Yana. "Aku tahu persis apa yang kulakukan! Dan aku tahu kamu sengaja menjatuhkanku karena kamu merasa terancam dengan kehendakku!"

"Aku tidak peduli dengan posisimu," sahut Yana lurus. "Aku hanya peduli pada keselamatan suku ini. Jika ide-idemu membahayakan nyawa warga, aku akan selalu berdiri memotongnya."

Keduanya berdiri berhadapan dalam jarak dekat. Tidak ada yang mau mengalah. Tatapan Yana yang tajam dan tajam berbenturan langsung dengan mata Ayla yang dipenuhi kejengkelan berat.

"Kita lihat saja nanti," bisik Ayla dengan raut wajah kaku dan nada dingin yang membekukan. "Warga mulai melihat siapa yang benar-benar membawa manfaat untuk mereka. Kamu tidak bisa menahan mereka selamanya dalam kegelapan."

Ayla membalikkan badan dengan gerak tubuh penuh kejengkelan, ia menyenggol bahu Yana saat melintas dan melangkah pergi kembali ke tengah desa.

"B*doh." gumam Yana pelan. Ia tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Ayla yang makin menjauh. Yana tahu, perang dingin ini baru saja dimulai secara terbuka.

Namun, saat Yana hendak melangkah kembali ke desa, matanya menangkap sosok lain yang berdiri di balik semak-semak tak jauh dari sumur tua.

Luka berdiri di sana.

Pemuda itu memegang busurnya erat-erat, menatap Yana dengan raut wajah penuh kekecewaan dan amarah yang tertahan.

Ia telah mendengar sebagian besar perdebatan itu, dan dari tatapannya, Luka jelas-jelas berdiri di pihak Ayla.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!