Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Aku akan Merawat Mama
"Nanti aku yang rawat Mama."
Ning menatap Kian, tidak langsung menjawab.
Lampu kamar VIP memantul di mata anak itu. Merah, keras kepala, dan takut. Sangat takut sampai ia memilih terdengar marah.
"Kian."
"Dia tidak bisa melindungi Mama." Kian menunduk, menggenggam tepi selimut makin kuat. "Untuk apa Mama sama dia kalau akhirnya tetap terluka begini?"
"Kevin menyelamatkan Mama."
"Setelah Mama terluka!"
Suara Kian naik, lalu langsung turun lagi karena ia takut membuat Ning kesakitan.
Ia mengusap wajahnya kasar.
"Kalau Remo tidak kasih tahu, kalau Jia tidak telepon polisi, kalau Pak Kevin telat sedikit saja..."
Kalimatnya berhenti.
Karena akhir dari kalimat itu terlalu menakutkan untuk diucapkan.
Ning mengulurkan tangan. "Dekat sini."
Kian ragu, tetapi tetap mendekat.
Ning memegang punggung tangannya. Jari Kian dingin.
"Dengar Mama. Yang salah bukan Kevin."
Kian membuka mulut.
"Dengar dulu," suara Ning lembut, tetapi kali ini tegas. "Orang yang salah adalah orang yang membawa pisau. Orang yang salah adalah orang yang memukul. Orang yang salah adalah orang yang mengambil keputusan jahat. Bukan orang yang datang menyelamatkan meski sedikit terlambat."
Kian memalingkan wajah.
"Tapi kalau dia lebih cepat..."
"Kalau kita hidup dengan kalimat 'kalau', semua orang yang mencintai kita akan ikut dihukum."
Kian diam.
Ning mengusap buku jarinya dengan ibu jari. "Kian, pisau itu harus diarahkan pada orang yang berniat buruk. Jangan arahkan pada orang yang mencintai kamu."
Bahunya bergerak kecil.
"Aku gak mau kehilangan Mama lagi."
Kalimat itu sangat pelan.
Ning merasa dadanya seperti diremas.
"Mama tahu."
"Mama gak tahu." Kian tertawa pendek, tetapi matanya basah. "Mama baru dengar aku manggil Mama beberapa hari. Aku sudah hidup enam belas tahun tanpa bisa manggil siapa-siapa begitu."
Ning tidak bisa berkata-kata.
"Aku tidak benar-benar mau Mama cerai," lanjut Kian, suara remajanya pecah di tengah. "Aku cuma... kalau Mama sama dia, berarti aku harus percaya dia bisa menjaga Mama. Tapi aku takut."
Ning menarik tangan Kian ke pipinya.
"Takut itu boleh. Tapi jangan biarkan takut membuat kamu menusuk orang yang juga takut kehilangan Mama."
Pintu kamar terbuka pelan.
Kevin masuk dengan ponsel di tangan. Ia berhenti saat melihat wajah Kian.
Kian segera menarik tangannya dari Ning.
Ruangan kembali tegang.
Kevin memasukkan ponsel ke saku. "Dokter akan datang lagi dua jam lagi. Kamu perlu istirahat."
"Pak Kevin."
Kevin menoleh.
Kian berdiri. Tingginya hampir menyamai Kevin, tetapi di bawah lampu rumah sakit, ia masih terlihat seperti anak yang terlalu cepat dipaksa dewasa.
"Keluar sebentar."
Ning menahan napas.
Kevin menatap Kian beberapa detik, lalu mengangguk.
"Aku di depan," katanya pada Ning.
Ning ingin menahan mereka, tetapi ia tahu ada pintu yang harus dibuka tanpa dirinya berdiri di tengah.
Di depan ruang rawat inap VIP, lorong rumah sakit lebih sepi. Hanya ada suara roda troli jauh di ujung lorong dan aroma kopi dari mesin otomatis dekat nurse station.
Kian berdiri menghadap jendela kaca.
Kevin menunggu.
Lama sekali, Kian tidak bicara.
Saat akhirnya suaranya keluar, suaranya rendah.
"Aku dulu cuma bisa lihat Mama dari video lama."
Kevin tidak bergerak.
"Bi Ruan kadang mutar waktu aku kecil. Ci Yenni juga punya beberapa. Tapi kalau ada orang lain, aku pura-pura gak peduli. Kalau Felix datang dan tanya kenapa aku nonton video yang sama, aku bilang cuma iseng."
Kian menelan ludah.
"Padahal aku hafal semua. Cara Mama ketawa. Cara Mama pegang perut waktu hamil. Cara Mama bilang namaku sebelum aku lahir."
Kevin menundukkan mata.
Di dadanya, sesuatu yang sudah lama retak terasa dipukul lagi.
"Setiap tanggal 31 Desember, semua orang bilang selamat ulang tahun." Kian tertawa tanpa suara. "Lucu, ya? Hari aku lahir itu hari Mama pergi. Jadi kalau orang nyanyi, aku gak tahu harus senang atau marah."
Kevin mengangkat wajah.
Kian masih menatap kaca, tetapi pantulan matanya terlihat basah.
"Aku dulu sering kunci pintu kamar. Bukan karena mau bandel. Aku cuma mau lihat foto Mama tanpa ada yang tahu. Aku takut kalau nangis, orang bakal kasihan. Aku benci dikasihani."
Kevin mengingat pintu itu.
Pintu kamar yang tertutup setiap malam 31 Desember. Ia pernah berdiri di depannya lebih dari sekali, tangan terangkat, lalu turun lagi. Di dalam ada suara kecil dari video lama Ning. Di luar ada seorang ayah yang tidak tahu bagaimana masuk tanpa membuat luka anaknya makin terbuka.
"Aku pernah berdiri di depan kamarmu," kata Kevin pelan.
Kian menoleh sedikit.
"Aku tahu."
Dua kata itu membuat Kevin seperti ditampar.
"Aku dengar langkah Pak Kevin berhenti," lanjut Kian. "Tapi Pak Kevin selalu pergi lagi."
Kevin menutup rahangnya.
"Maaf."
Kian tidak menjawab. Namun kali ini ia juga tidak mengejek permintaan maaf itu.
"Kian..."
"Jangan potong."
Kevin berhenti.
Kian menarik napas kasar. "Aku tahu Pak Kevin juga sakit. Aku tahu sekarang. Tapi waktu kecil aku cuma tahu satu hal: semua orang punya ibu yang bisa datang ke acara sekolah, bisa marah kalau nilai jelek, bisa cerewet soal makan. Aku cuma punya foto."
Lorong itu terasa makin sempit.
"Sekarang Mama balik." Suara Kian makin pelan. "Aku baru berani manggil dia Mama. Baru beberapa hari. Terus hari ini aku lihat kakinya digips, lehernya diperban."
Ia akhirnya berbalik.
Air matanya belum jatuh, tetapi wajahnya hancur.
"Jangan hilangkan dia lagi."
Kevin berdiri diam.
Kalimat itu tidak panjang. Tidak memakai tuduhan. Justru karena itu, beratnya seperti batu yang langsung jatuh ke dada.
Ia melangkah mendekat dan meletakkan tangan di bahu Kian.
Kian kaku, tetapi tidak mundur.
Genggaman Kevin kuat.
"Tidak akan."
"Kalau Pak Kevin janji, jangan cuma janji ke Mama."
"Aku janji ke kamu."
Mata Kian berkedip cepat.
"Aku belum maafin semuanya."
"Aku tahu."
"Aku juga belum mau panggil..."
Ia berhenti sebelum kata itu keluar.
Kevin tidak memaksanya.
"Tidak apa-apa."
Kian menunduk, lalu untuk pertama kalinya malam itu, tidak menyingkirkan tangan Kevin dari bahunya.
Saat mereka kembali ke kamar, Ning sudah berbaring miring sedikit, mata tertutup. Napasnya teratur. Kian mengira ia tidur, jadi ia hanya menarik selimut sampai menutupi ujung jari Ning.
"Aku di sofa," gumam Kian.
"Tidur di kamar sebelah," kata Kevin. "Ada bed."
"Aku di sini."
Kevin tidak berdebat.
Setelah Kian masuk ke ruang kecil pendamping, Kevin duduk di kursi samping ranjang Ning. Ia menatap wajah istrinya yang pucat, lalu menyentuh ujung jarinya.
"Tadi aku hampir salah bicara," bisiknya sangat pelan.
Bulu mata Ning bergerak sedikit, tetapi Kevin tidak melihat.
"Kata mewarisi itu hampir keluar."
Jantung Ning menghentak.
Mewarisi?
Mewarisi apa?
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya