Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Tujuh tahun berlalu begitu cepat. Kehidupan Desa Sukamakmur yang dulunya tenang kini kian berkembang pesat. Daerah di lereng gunung yang indah itu menjelma menjadi destinasi wisata favorit dengan pemandangan menakjubkan bagai negeri di atas awan. Banyak wisatawan hingga warga asing memilih menetap di sana, memicu hadirnya berbagai resort mewah di sekitarnya.
Melihat peluang emas tersebut, Aruni yang kini dikenal sepenuhnya sebagai Seruni tak mau menyia-nyiakannya. Setelah sukses besar membangun toko kue bolen pisangnya, kini ia melebarkan sayapnya dengan membuka usaha jasa laundry kiloan dan ekspres tepat di area strategis tak jauh dari resort. Meski bidang ini masih terbilang baru bagi warga lokal, Aruni sangat percaya diri usahanya akan berkembang pesat.
Sementara Aruni sibuk mengurus usahanya, di lapangan rumput desa yang berlatar kabut tipis, dua putra kembarnya sedang asyik bertanding sepak bola bersama anak-anak desa lainnya. Rayyan dan Zayyan tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat dan tampan. Namun, sifat keduanya bertolak belakang.
"Zay, ayo oper bolanya!" teriak Rayyan geram memanggil adiknya.
Namun Zayyan, yang memang hobi menggiring bola sendiri hingga ke gawang lawan tanpa mau berbagi pasokan, mengabaikan seruan sang kakak. Naas, bola berhasil direbut oleh bek tim lawan dan berbuah serangan balik hingga tim mereka kebobolan. Peluit panjang berbunyi, menandakan kekalahan tim mereka dengan skor 0-1.
"Ish... Zayyan! Kau itu selalu saja seperti ini, egois!" omel Rayyan meluapkan emosinya. Pria kecil itu menghentakkan kakinya ke tanah lalu bergegas pergi meninggalkan lapangan dengan wajah memerah.
Fikri dan Fajar, dua teman sekelompok mereka, hanya bisa menghela napas pasrah meratapi kekalahan akibat ulah Zayyan.
Tak lama kemudian, suara deru mesin motor matic terdengar mendekat. Aruni memperlambat laju motornya di pinggir lapangan lalu menghentikan kendaraannya.
"Zayyan! Kakakmu ke mana?" tanya Aruni setengah berteriak dari balik helmnya.
Zayyan menghampiri ibunya sambil berlari kecil dengan napas terengah-engah.
"Itu, Bun... Kak Rayyan marah-marah lagi sama aku!" sungut Zayyan memasang raut wajah kesal.
Aruni memicingkan mata. "Pasti kamu melakukan kesalahan lagi saat main bola, kan?"
"Yaelah, Bunda... Kalau sekiranya ada kesempatan mencetak gol, kenapa tidak aku ambil sendiri kesempatan itu?" ujar Zayyan membela diri tak mau kalah.
Aruni menghela napas panjang. Sifat Zayyan ini memang sangat kental dengan watak keras kepala dan mau menang sendiri, sangat berbeda dengan Rayyan yang selalu bersikap dewasa, tenang, dan mau mengalah.
"Ya sudah, ayo cepat ikut Bunda pulang. Lihat bajumu itu, sudah kotor penuh lumpur!" perintah Aruni.
Zayyan akhirnya naik ke boncengan motor matic ibunya, dan mereka pun melaju menyusuri jalanan desa menuju ke rumah.
Pov Rayyan dan Zayyan beserta kedua temannya Fajar dan Fikri
*
*
Di sebuah toko mainan besar di Jakarta, Rama tampak sibuk memilah-milah robot dan mobil remote control yang bagus untuk si kembar. Senyumnya terus mengembang di wajah perwira polisi itu. Rena yang berdiri di sampingnya memperhatikan gerak-gerik sang kakak sejenak.
"Kak!" panggil Rena.
"Hemmmm... apa, Ren?" jawab Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari rak mainan.
"Kakak suka ya sama Aruni?"
Deg!
Rama mendadak terdiam. Jemarinya yang sedang memegang kotak mainan terhenti seketika. Wajahnya menunjukkan rona gugup sebelum ia berusaha bersikap biasa saja.
"Kamu jangan ngaco! Aruni itu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri!" sergah Rama cepat.
Rena menyipitkan matanya, menatap sang kakak dengan pandangan menyelidik. "Yakin cuma dianggap adik? Padahal kalau lebih dari itu juga gak apa-apa kali, Kak. Selama ini Kakak sudah banyak membantu Aruni."
Rama menghela napas panjang, meletakkan mainan yang dipilihnya ke dalam keranjang. "Sudahlah, Rena. Jangan kau bahas ini lagi. Di mata Aruni, aku adalah kakaknya dan tidak lebih dari itu."
"Tapi bagaimana dengan perasaan Kakak sendiri?" cecar Rena tak mau kalah. "Aku bisa melihat dari cara Kak Rama menatap Aruni itu beda. Bukan tatapan seorang kakak terhadap adiknya, tapi tatapan seorang pria terhadap wanita!"
Rama memilih tidak membalas perkataan adiknya. Ia membisu, namun hatinya bergejolak hebat.
‘Entahlah, perasaan seperti apa yang saat ini aku rasakan terhadap Aruni...’ batin Rama lirih. ‘Selama tujuh tahun ini aku memang merasa sangat nyaman di dekatnya. Namun sepertinya di dalam hatinya sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa. Peristiwa kelam yang menghancurkan masa depannya dulu telah membuatnya mati rasa...’
Tanpa melanjutkan perdebatan itu, Rama bergegas melangkah menuju kasir untuk membayar semua mainan yang dibelinya untuk Rayyan dan Zayyan.
*
*
Sementara itu di lereng Gunung Sumbing, Rayyan masih merasa kesal atas kekalahan tim bolanya tadi sore. Ia memilih mengurung diri di dalam kamar dengan raut wajah murung. Di luar kamar, Zayyan malah tampak santai dan asyik menonton televisi bersama Laras.
Sekitar pukul delapan malam, pintu rumah Bik Sumi diketuk. Rama dan Rena muncul membawa kantong berisi makanan dan berbagai mainan dari kota.
Melihat paman dan tantenya datang, Zayyan langsung melompat dari sofa dan menghambur ke arah mereka. Di dalam kamar, Rayyan yang mendengar suara Paman Rama dan Tante Rena tersayang bergegas keluar dan ikut berlari menghampiri.
"Horeee! Ada Paman Rama dan Tante Rena!" teriak Rayyan girang. Rasa murung yang menyelimutinya sejak sore mendadak sirna begitu saja.
Rama tersenyum bahagia seraya merengkuh dan memeluk erat kedua anak kembar itu. Aruni yang baru keluar dari dapur melayangkan senyum hangat ke arah Rama dan Rena. Kedatangan dua bersaudara itu selalu disambut meriah oleh Bik Sumi dan Larasati.
"Malam semuanya," sapa Rama ramah pada seisi rumah.
Pandangan mata Rama kemudian tertambat pada Aruni. Pria itu menatap Aruni cukup lama. Malam ini, Aruni terlihat sangat cantik dan segar dengan rambut yang dijepit seadanya ke atas, menyisakan beberapa helai rambut halus yang jatuh membingkai wajahnya.
Rena yang berdiri di samping Rama sempat menangkap momen menatap tersebut. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
‘Yaelah... Kak Rama, Kak Rama... Kalau suka tuh bilang! Nanti Aruni keburu disambar orang baru tahu rasa!’ celoteh Rena dalam hati.
*
*
Ratusan kilometer dari sana, di ruang kerja megahnya di gedung Ganendra Group Jakarta, Edgar tak pernah sedikit pun menyerah mencari keberadaan Aruni selama tujuh tahun terakhir.
Sambil duduk di kursi kebesarannya, Edgar kembali memandangi pasfoto berukuran kecil milik Aruni yang mengenakan seragam SMA, satu-satunya kenangan fisik yang ia miliki.
"Sayang... bagaimana kabarmu sekarang?" gumam Edgar pelan, mengusap lembut gambar wajah Aruni di foto itu. "Pasti saat ini kau sedang tersenyum bahagia bersama anak kita... Semoga aku bisa menemukanmu, Aruni. Aku tidak akan menyerah sedikit pun..."
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu memecah lamunan Edgar. Hery, asisten pribadinya, masuk sambil membawa setumpuk berkas penting. Edgar dengan tenang meletakkan pasfoto Aruni di atas meja kerjanya, foto yang tak pernah absen menemani setiap harinya di ruangan tersebut.
"Maaf, Tuan. Dokumen untuk anggaran pembangunan resort di Desa Sukomakmur sudah saya rincikan di dalam berkas ini. Mengenai para investor yang akan bekerja sama juga sudah saya lampirkan di halaman berikutnya," terang Hery seraya menyerahkan dokumen itu.
Edgar meraih dokumen tersebut lalu mengamatinya dengan serius. Jemarinya menelusuri lembar demi lembar laporan perencanaan resort di lereng Gunung Sumbing tersebut.
"Kenapa aku begitu berminat sekali membuat resort di tempat ini, ya?" gumam Edgar spontan sambil menatap gambar lanskap Desa Sukamakmur di dokumen tersebut. "Tempatnya sangat bagus untuk menenangkan diri, suasananya juga masih asri... Papah pasti suka kalau dianjurkan beristirahat di tempat ini."
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..