NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 Tubuh yang Mengunci Diri Sendiri

Tidak ada yang berani mendekati altar itu lebih dulu.

Rombongan berdiri di ambang lorong alami, menatap batu gelap berukir spiral itu dengan kewaspadaan yang sama, seolah struktur diam itu sendiri bisa berubah menjadi ancaman kapan saja. Angin yang tidak pernah benar-benar terasa seperti angin sungguhan berhenti sepenuhnya, membuat keheningan di sekitar mereka terasa lebih berat dari sebelumnya.

"Aku tidak suka ini," gumam Petra, tangannya sudah berpindah ke gagang pedangnya, meski belum mencabutnya.

"Kau tidak perlu menyukainya," kata Halden, berdiri tenang di sisinya, "kau hanya perlu waspada."

Arden melangkah maju, satu langkah demi satu langkah, matanya menyapu seluruh area sekitar altar, mencari tanda apa pun yang bisa menjelaskan kenapa struktur ini berdiri sendirian di tengah lorong yang seharusnya kosong. Ilena mengikuti tak jauh di belakangnya, prisma kecilnya sudah aktif penuh, cahaya redupnya berkedip lebih cepat dari biasanya.

"Ada residu Anima di sekitar altar," katanya, suaranya rendah. "Lebih pekat dari yang kudeteksi sebelumnya. Ini bukan sekadar sisa lama. Ini terasa... aktif."

"Aktif bagaimana?" tanya Corym, sudah berdiri siaga dengan perisainya terangkat sebagian.

"Seperti sesuatu masih terhubung dengannya," jawab Ilena. "Aku tidak bisa memastikan lebih dari itu tanpa mendekat."

Arden berhenti sekitar sepuluh langkah dari altar, mempertimbangkan. Di belakangnya, Wick berdiri agak jauh bersama Brann, matanya masih penuh rasa penasaran meski tubuhnya sedikit condong menjauh, insting dasarnya mengenali bahaya meski pikirannya belum sepenuhnya memahaminya.

"Kita periksa dari jarak aman dulu," kata Arden akhirnya. "Tomas, apa kau bisa melihat sesuatu dari sini?"

Tomas sudah mengambil posisi di sisi lorong, matanya menyipit menatap ukiran spiral pada permukaan altar. "Ukirannya asing. Bukan gaya Guild, bukan pula gaya kuno benua yang pernah kupelajari. Tapi cekungan di tengahnya terlihat seperti dirancang untuk sesuatu yang spesifik. Sebuah wadah, atau sebuah kunci."

"Berbahaya untuk didekati?" tanya Corym.

"Aku tidak tahu," jawab Tomas, jujur. "Itu masalahnya."

Brann, yang sejak tadi menahan diri di belakang, akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama. Ia melangkah maju melewati Wick, mendekat ke sisi Ilena, mencoba melihat lebih jelas ukiran itu dari jarak yang masih dianggapnya aman.

"Kalau ini memang kunci," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri, "mungkin ada mekanisme jebakan yang menyertainya. Beberapa reruntuhan kuno dirancang untuk bereaksi terhadap kehadiran, bukan sentuhan."

Kata-kata itu baru saja selesai diucapkan ketika tanah di sekitar altar bergetar pelan, cukup halus hingga hampir tidak terasa, tapi cukup untuk membuat seluruh rombongan menegang serentak.

"Mundur," kata Arden cepat, sudah melangkah kembali, tangannya terangkat memberi isyarat pada yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Terlambat.

Dari balik formasi batu besar di sekeliling lorong, sesuatu yang jauh lebih besar dari serigala kristal sebelumnya mulai bergerak, permukaannya berkilau gelap alih-alih biru pucat, tubuhnya menyerupai gabungan antara batu dan kristal yang jauh lebih padat, berdiri dengan empat kaki yang masing-masing sebesar batang pohon dewasa. Matanya, kalau bisa disebut mata, hanya berupa dua celah bercahaya merah redup di kepalanya yang menyerupai batu berukir kasar.

"Itu bukan serigala kristal," kata Halden, suaranya masih tenang meski sudah mencabut pedangnya sepenuhnya.

"Kupikir memang bukan," kata Doran, sudah memberi isyarat pada Ashe untuk naik ke udara, familiarnya melesat dengan cepat menjauh dari jangkauan makhluk besar itu.

Makhluk itu mengaum, suaranya bergema dalam seperti batu yang bergesekan jauh di bawah tanah, dan menghantamkan salah satu kakinya ke tanah, membuat retakan kecil menjalar di rerumputan biru pucat sekitarnya.

"Formasi!" seru Arden, suaranya tegas memotong kepanikan yang mulai muncul di antara mereka. "Corym, tahan di depan. Tomas, cari titik lemah dari jarak jauh. Ilena, bersiap. Petra, Halden, lindungi sisi kanan!"

Semua bergerak sesuai perintah, kecuali Wick dan Brann, yang berdiri paling belakang, jauh dari jangkauan langsung makhluk itu, atau setidaknya begitulah yang seharusnya terjadi.

Makhluk besar itu, alih-alih menyerang formasi utama yang sudah bersiap di depannya, justru berbelok tiba-tiba, salah satu kakinya terayun cepat ke arah samping, mengincar sosok yang paling tidak siap menghadapinya: Wick, yang masih berdiri terpaku di tempatnya, matanya lebar ketakutan, tubuhnya seolah lupa cara bergerak.

"Wick!" jerit Ilena, suaranya pecah oleh kepanikan yang jarang terdengar darinya.

Arden bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri.

Ia melompat melintasi jarak yang seharusnya mustahil ditempuh secepat itu, tubuhnya bergerak dengan insting murni yang sudah terlatih bertahun-tahun, mendorong Wick keluar dari lintasan kaki raksasa itu tepat sepersekian detik sebelum benturan terjadi. Namun dorongan itu membuatnya sendiri terjebak di posisi yang seharusnya dihindari, tepat di bawah bayangan kaki yang sedang turun.

Ia mengangkat pedangnya, mencoba menahan, mencoba mengumpulkan lebih banyak Anima dari yang biasa ia gunakan untuk pertahanan sekadarnya, sesuatu yang cukup kuat untuk menahan hantaman sebesar itu tanpa remuk.

Dan di sanalah semuanya berubah.

...----------------...

Untuk sesaat, Arden bisa merasakannya, aliran Anima di dalam dirinya mulai naik, seperti biasa, seperti yang selalu terjadi setiap kali ia membutuhkan lebih dari yang biasa ia gunakan. Ia merasakan kekuatan itu mengalir menuju pedangnya, menuju lengannya, bersiap untuk menopang benturan yang akan datang.

Lalu, tanpa peringatan, tanpa alasan yang bisa ia pahami, aliran itu berhenti.

Bukan melambat. Berhenti sepenuhnya, seolah sebuah pintu tiba-tiba tertutup rapat tepat di tengah aliran air deras, memutus semuanya dalam sepersekian detik. Arden merasakan dadanya tercekat, kekuatan yang seharusnya mengalir ke lengannya justru tertahan di suatu tempat yang tidak bisa ia jangkau, seolah tubuhnya sendiri menolak perintah yang baru saja diberikan pikirannya.

Kepanikan menyergap sesaat, sesuatu yang jarang sekali dirasakan Arden dalam pertarungan mana pun sebelumnya. Ia tidak punya waktu untuk memahami apa yang terjadi. Kaki raksasa itu sudah turun, dan pedangnya, tanpa dukungan Anima tambahan yang seharusnya ia miliki, hanya sekuat pedang biasa di tangan seseorang yang tidak lebih dari petarung terlatih tanpa kekuatan istimewa.

"Arden!"

Suara Halden memecah kepanikan itu tepat pada waktunya.

Sang veteran sudah bergerak, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang mengejutkan untuk usianya, pedangnya terayun dalam gerakan yang sudah ia hafal luar kepala setelah puluhan tahun bertarung, menghantam sisi kaki raksasa itu tepat sebelum benturan penuh terjadi, mengalihkan sebagian besar kekuatannya, cukup untuk membuat Arden bisa bergulir keluar dari jalur hantaman dengan hanya luka gores di lengan alih-alih remuk sepenuhnya.

Arden bergulir di tanah, bangkit dengan napas terengah, tubuhnya masih terasa aneh, seperti ada bagian dari dirinya yang baru saja terkunci tanpa izin. Ia menatap tangannya sendiri sejenak, tidak percaya, sebelum kembali fokus pada pertarungan yang masih berlangsung di sekitarnya.

"Petra, sekarang!" seru Corym, yang sudah menahan sisi lain makhluk itu dengan perisainya, tubuhnya bergetar karena kekuatan benturan yang harus ia serap.

Petra bergerak cepat, memanfaatkan celah yang diberikan Corym untuk menyerang bagian kaki yang sudah dilemahkan oleh serangan Halden sebelumnya. Tebasannya, meski belum sekuat petarung berpengalaman, cukup presisi untuk membuat retakan yang lebih dalam menjalar di permukaan kristal-batu kaki itu.

Tomas melepaskan panah demi panah dari jarak aman, mengincar celah bercahaya merah di kepala makhluk itu, sementara Ilena, dengan tangan yang sedikit gemetar karena kepanikan yang masih tersisa dari melihat Wick nyaris terluka, mengumpulkan kembali konsentrasinya untuk melepaskan mantra anginnya, mengarahkan angin dingin yang tajam untuk memperlambat gerakan makhluk itu.

Arden kembali bergabung dalam pertarungan, kali ini dengan lebih hati-hati, mengandalkan teknik dasar dan pengalaman bertahun-tahun alih-alih mencoba mengumpulkan kekuatan tambahan yang tadi menghilang tanpa penjelasan. Ia bergerak di sekitar kaki-kaki makhluk itu, memanfaatkan celah yang diciptakan Corym dan Halden, menebas titik-titik yang sudah melemah dengan presisi yang lebih mengandalkan kecerdasan taktis daripada kekuatan mentah.

Perlahan, dengan koordinasi yang sudah terbentuk dari bertahun-tahun bekerja sama, mereka berhasil melumpuhkan makhluk besar itu, hantaman terakhir dari Halden dan tebasan Arden yang menyusul di celah bercahaya merah pada kepalanya akhirnya membuat seluruh tubuh raksasa itu retak sepenuhnya, pecah menjadi serpihan-serpihan besar yang perlahan menghilang menjadi debu, sama seperti serigala-serigala kristal sebelumnya, hanya dalam skala yang jauh lebih besar.

...----------------...

Keheningan yang menyusul terasa berbeda dari keheningan sebelumnya, lebih berat, dipenuhi napas terengah dari hampir semua orang.

"Wick," kata Arden segera, berbalik mencarinya, "kau baik-baik saja?"

Wick masih duduk di tanah tempat ia terdorong, tubuhnya gemetar tapi tidak terluka, matanya menatap Arden dengan campuran syok dan rasa terima kasih yang belum bisa ia ucapkan sepenuhnya. "Aku... ya. Aku baik-baik saja. Kau menyelamatkanku."

"Itu tugasku," kata Arden, meski suaranya sendiri terdengar sedikit lebih tegang dari biasanya, mencoba menyembunyikan apa yang baru saja ia rasakan.

Ilena berlutut di dekat Wick, memeriksanya dengan cepat, memastikan tidak ada luka tersembunyi, sebelum akhirnya menghela napas lega dan memeluknya sejenak, sesuatu yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain.

"Kau membuatku takut setengah mati," gumamnya, suaranya bergetar sedikit.

"Maaf," kata Wick, masih gemetar, tapi mulai tersenyum kecil. "Aku hanya... membeku. Aku tidak tahu harus bagaimana."

"Itu wajar," kata Halden, sudah mendekat, menyarungkan pedangnya. "Bahkan petarung berpengalaman bisa membeku menghadapi sesuatu sebesar itu untuk pertama kali. Yang penting kau selamat."

Corym memeriksa perisainya, ada retakan kecil di permukaannya akibat benturan tadi, tapi masih layak dipakai. Ia menoleh ke arah Arden, matanya menyapu lengan sahabatnya yang tergores, meski lukanya tidak dalam.

"Kau terluka," katanya, mendekat.

"Hanya gores," kata Arden, cepat, terlalu cepat.

Corym menatapnya lebih lama, mengenali sesuatu yang tidak biasa dari cara Arden berbicara, tapi memilih untuk tidak mendesak di depan yang lain. "Biar Sister Yuna yang memeriksanya nanti kalau kita kembali. Untuk sekarang, biar aku balut sementara."

Arden mengangguk, membiarkan Corym membalut lengannya dengan kain sederhana dari perlengkapan medis darurat yang selalu dibawa tim, pikirannya sendiri masih terus berputar pada satu hal yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.

Apa yang baru saja terjadi pada tubuhnya.

Ia sudah pernah mengeluarkan kekuatan lebih dari biasanya sebelumnya, jarang, tapi pernah, dan tidak pernah ada masalah seperti ini. Aliran Anima-nya selalu ada di sana, siap dipanggil kapan pun ia membutuhkannya, meski dengan biaya kelelahan yang wajar setelahnya. Tapi kali ini, tepat di saat ia paling membutuhkannya, sesuatu di dalam dirinya seolah menutup pintu itu sendiri, tanpa peringatan, tanpa alasan yang bisa ia mengerti.

Ia menatap tangannya sendiri sekali lagi, mengepalkannya perlahan, mencoba merasakan apakah masih ada sisa dari perasaan aneh itu. Tidak ada. Semuanya terasa normal sekarang, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah kejadian sesaat yang sudah berlalu.

Tapi ia tahu itu bukan sekadar bayangan. Ia merasakannya, sejelas ia merasakan pedang di tangannya.

...----------------...

Dari kejauhan beberapa langkah, Ilena berdiri diam, prisma kecilnya masih menyala di tangannya, meski ia tidak lagi memandanginya. Matanya, sebaliknya, tertuju langsung pada Arden, mengamati setiap gerakannya dengan ketelitian yang biasanya ia gunakan untuk membaca data, bukan untuk mengamati orang.

Ia telah melihatnya. Bukan dari layar prismanya kali ini, tapi dengan matanya sendiri, dari jarak yang cukup dekat untuk tidak bisa disangkal sebagai kesalahan pandang atau bayangan sesaat.

Ia melihat momen ketika Arden mengangkat pedangnya, siap menahan hantaman kaki raksasa itu dengan kekuatan penuh, dan ia melihat momen berikutnya, ketika sesuatu di dalam dirinya tampak berhenti begitu saja, seolah ada tangan tak terlihat yang menutup kran yang sedang mengalir deras.

Ia melihat ekspresi Arden sesaat sebelum Halden datang menyelamatkannya, sepersekian detik kepanikan murni yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di wajah pemimpinnya, seseorang yang selama ini selalu terlihat tenang bahkan dalam situasi paling genting sekalipun.

Ilena tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berdiri di sana, ekspresinya berubah serius, jauh lebih serius dari sekadar keheranan seorang analis yang menemukan anomali data.

Ini bukan lagi sekadar angka aneh di prismanya.

Ia baru saja menyaksikannya sendiri, dengan mata kepalanya, dan sesuatu di dalam dirinya tahu bahwa apa pun yang baru saja terjadi pada Arden, itu bukan kebetulan, bukan pula sekadar kelelahan biasa.

Itu adalah sesuatu yang nyata, sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam diri pemimpinnya sendiri, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia bergabung dengan Jangkar Kelabu bertahun-tahun lalu, Ilena merasa benar-benar takut, bukan pada makhluk yang baru saja mereka kalahkan, tapi pada pertanyaan yang kini mengambang di kepalanya, menolak untuk pergi.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!