Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 8
Argono tertawa sumbang, berjalan tenang menyibak kerumunan. “Bagaimana mungkin Anda malah mau melimpahkan tanggung jawab kepada saya wahai Bu Ketua? Saya ini hanya pemuda desa, mana paham perihal ilmu pengetahuan pertanian.”
“Jika kau menyadari dirimu tak tau apa-apa, kenapa begitu lantang menyampaikan kritikan? Apa bicaramu itu layaknya tong kosong yang nyaring sebab tak ada isinya?” sindir Anne.
“Saya hanya mewakili suara para orang tua, jelas mereka sudah kehabisan tenaga untuk melayangkan aspirasinya, terlebih yang dihadapi kaum muda yang tentu lebih kritis dan modern pemikirannya,” balas Argono.
“Apa hubungannya? Mereka bukan tak bisa bicara, dan akupun bukan tak mau mendengar. Kenapa bicaramu seolah aku ini seorang diktator yang menutup telinga dari suara orang kecil?” Anne menatap datar pemuda tersenyum tipis dihadapannya, jemari memainkan batang padi yang tadi sempat dicabutnya.
“Kau mengatakan aku hanya mencari kambing hitam, lantas yang kalian lakukan padaku apa? Aku sudah memberikan semua sarana, kalian yang tak becus memanfaatkannya, saat gagal, kalian membebankan semua pada pundakku. Bukankah akulah kambing hitam yang sebenarnya?” Pertanyaannya lebih ke sebuah pernyataan, sorot mata tajam menyapu orang-orang yang seketika menunduk, suara tudingan teredam.
“Aku hanya meminta kalian menunggu. Mantri tani juga sudah menyampaikan hasil analisisnya, secepatnya kami akan mencari jawaban atas kekacauan ini, tapi kalian dengan ringan mencemooh, menuntut semua selesai dalam sekejap, apa kalian pikir kami utusan Dewi Sri?” lanjut Anne.
“Jika memang padi-padi ini tak mampu lagi diselamatkan, bukankah sebaiknya kita lekas menggantinya dengan palawija demi mengejar hasil musim ini?” sambar Argono yang disambut suara kasak-kusuk petani.
“Kau pikir mudah mengganti tanaman di saat musim sedang tak menentu seperti ini? Palawija memanglah alternatif terbaik untuk mengejar hasil, namun kita juga perlu memperhatikan curah hujan, kondisi tanah akibat kerusakan, dan serangan hama pada pertanian sekitar. Kalau hujan masih turun setiap hari, kondisi tanah belum pulih, benih yang kalian tanam akan membusuk sebelum sempat tumbuh dan kalian akan merugi dua kali, bukankah begitu ibu Mantri?” Begitu tegas Anne memberi penjelasan, tatapan tak beralih dari pemuda hitam manis berdiri di depannya.
“Ibu ketua benar, untuk saat ini tak ada yang bisa kita lakukan selain daripada menunggu hasil laboratorium. Jika memang ditemukan bahan kimia berlebih, maka dengan terpaksa kita harus menunggu hasil yang tersisa baru memulai perawatan untuk tanam awal,” sahut Maria.
“Itu artinya kami harus bersiap jika kelaparan menimpa desa kita?!” Seorang wanita paruh baya turut menyela, kepalanya tertutup kerudung panjang yang dilingkarkan hingga setengah muka.
“Gagal panen bukan berarti kelaparan. Desa kita memiliki stok pangan melimpah bukan hanya dari padi, banyak komoditas lain yang bisa menjadi penopang kebutuhan penduduk. Kami dari dinas bersama ketua kelompok tani akan berusaha menjaga persediaan pangan untuk desa agar tetap tercukupi sampai musim tanam berikutnya tiba,” tutur Maria.
“Apakah sudah benar-benar tak ada jalan keluar untuk mengatasi ini semua, Bu Mantri. Bagi kalian mungkin ini bukan sebuah kekhawatiran, tapi bagi kami rakyat kecil, ini adalah momok paling menakutkan. Membayangkan anak-anak kami menahan lapar … belum lagi, heh ….” Keluhan seorang petani terputus oleh isak tangis tak tertahankan.
Kasak-kusuk kembali menggema di tengah hamparan sawah, para petani saling lempar pandang, beberapa terduduk lemas, seraya mengelap keringat bercampur air mata.
“Bu Mantri, tolong lakukan apapun untuk menyelamatkan sawah kami.”
“Betul. Bantu kami Bu Mantri.”
“Tenang-tenang. Saya akan memberi solusi, tolong dengarkan baik-baik. Untuk sementara waktu, kita bisa menggunakan metode yang dilakukan ibu ketua kemarin, yaitu mengairi sawah dengan air baru untuk menekan kerusakan jika ternyata ada bahan kimia. Jangan lakukan penyemprotan apapun, sampai kita menemukan penyebab pasti masalah ini,” terang Maria, suaranya terdengar lugas, tegas.
“Lantas bagaimana dengan sawah kami yang terlanjur menguning dan mati, bu mantri?” tanya petani tua dengan air mata menggenang di pelupuk mata.
“Tak ada cara untuk memulihkan tanaman yang sudah rusak, selain membajak ulang untuk menguraikan tanah kemali,” jawab Maria, suaranya memelan pandangan menunduk pada tanah lumpur yang di pijaknya.
“Duh Gusti … seumur urip mencangkul di sawah, baru kali tak menikmati hasilnya barang satu bulir padi. Harus bagaimana hari esok Gusti Rabbi … makan apa anak cucuku?” Raungan seorang petani tua menyayat hati, badan sedikit bungkuk duduk berselonjor di pematang, tangan penuh keriput mengusap kaki hingga batas lutut.
“Lihat Pak tua ini, Bu Ketua. Apa Anda tak punya hati nurani dengan tetap duduk angkuh di kursi kekuasaan Anda?!” seru Argono, tak lagi ragu membalas tatapan tajam Anne.
Anne mengalihkan pandang ke arah hamparan sawah seluas puluhan hektar, sudut bibirnya terangkat tipis. “Lantas aku harus apa, membawa nya ke rumahku dan menanggung kehidupannya?”
Tawa Argono membahana, langkahnya kian mendekat pada gadis berdiri santai dengan tangan bertaut di belakang badan. “Apa seperti ini seharusnya seorang pemimpin menanggapi keluhan warganya? Anda—”
“Anda sebagai pendatang terlalu ikut campur urusan desa,” sergah Anne, tatapannya berpindah pada Argono, mengunci ruang gerak pemuda menatap nyalang ke arahnya.
Kasmuri—lurah desa maju kedepan, lelaki paruh baya sedari tadi berdiri kaku di belakang, berbisik pelan pada gadis masih menatap tajam lawan bicaranya.
“Nduk ketua, biar penduduk bapak yang mengatasi, kau pergilah memeriksa batang padi bersama Mantri Tani.”
“Benar, Anne. Kita tak punya banyak waktu, kondisi padi sudah semakin layu, jika terlambat penanganan desa Lereng Bukit akan benar-benar mengalami gagal panen tahun ini,” timpal Maria.
“Lakukan tugasmu di kota, Maria. Aku akan melakukan bagianku di desa. Terlalu banyak konspirasi akhir-akhir ini, jika tak dicari tau akarnya maka bukan hanya panenan, tapi juga perjuangan memajukan desa yang mengalami kegagalan,” sahut Anne.
Kasmuri menoleh ke arah dua wanita memasang ekspresi berbeda, suara nya terdengar tak setegas badannya. “B-bagaimana ini, Noni … Nduk ketua?”
“Suruh penduduk pulang ke rumah masing-masing, kami akan segera mencari tau apa yang terjadi,” jawab Maria.
Kasmuri mengangguk, lalu berteriak, memberi perintah serta pemberitahuan kepada penduduk desa. “Saudara sekalian, silahkan kembali ke rumah, secepatnya mantri tani dan ibu ketua akan memberitahukan apa yang terjadi dan bagaimana solusinya.”
Seruan penduduk desa terdengar sumbang di telinga Anne, hatinya mencelos, harga diri terinjak.
“Ngunu kok dipilih jadi ketua, bikin keputusan saja ndak bisa, malah sibuk mencari kesalahan warganya.”
“Betul. Harusnya dulu yang kita pilih Noni Maria, yang asli turunane wong pinter, londo, bukan yang ngaku-ngaku londo.”
“Panggah-panggah oo lak bibite asli, bedo. Yang satu omong berdasarkan kepinteran, yang satu … katanya pengalaman tapi kopong isi ne.”
“Bener. Angkuh, sombong, padahal kalo nggak karna tuan londo, hidupnya juga podo sama kita, kere.”
Sementara itu di pinggir jalan tak jauh dari area kegaduhan, Hans duduk tenang dalam mobil Volvo seri lama, sudut bibirnya terangkat tipis, tatapan menjurus pada gadis pribumi berdiri mematung di bawah sinar matahari.
“Pertunjukan yang bagus. Kita lihat, sampai mana kau bertahan dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Anne.”
Senyumnya semakin melebar saat tatapannya beralih pada setumpuk batang padi tergeletak di jok sebelahnya, sebelum ia menekan pedal gas, meninggalkan jalanan desa.
Bersambung
(Note : Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam penggambaran masalah pertanian, pupuk dan pestisida. Author hanya mengandalkan riset google dan beberapa bacaan. 🙏)
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria