"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Pukul tujuh pagi, kata Saga Nusantara sudah muncul di komentar akun yang tidak pernah mengikuti Arunika.
Video Farhan mengalahkan Reza beredar lebih cepat daripada kemampuan tim membuat kopi. Potongannya justru itu yang membuat orang percaya bahwa videonya bukan iklan.
Dimas berdiri di depan layar dengan wajah antara bangga dan ketakutan. "Ini organik."
"Ini kebakaran organik," kata Naya.
Reza sudah membuka halaman pre-order kosong. "Kita ambil momentumnya. Tidak perlu kirim sekarang. Kumpulkan pembayaran kecil, kunci niat."
"Tidak," kata Raka.
Reza menoleh. "Kita baru mendapat perhatian tanpa membayar iklan."
"Dan belum punya izin cetak, kontrak pabrik, final rules, atau hak cipta selesai."
Nadia masuk ke ruang rapat lewat panggilan video sebelum perdebatan naik. Ia meminta semua orang membuka folder proyek.
"Pertama, hak."
Ia memeriksa NDA peserta uji, foto kartu dengan timestamp, file desain, catatan perubahan v0.1 ke v2, dan daftar siapa saja yang menyentuh prototipe. Hak rantai penciptaan bisa dibuktikan, tetapi pendaftaran tetap harus dilakukan.
"Kalian boleh mengatakan ini karya internal yang sedang didaftarkan. Jangan mengatakan semua konsep kepulauan milik kalian."
Yusuf menyusul dengan kalimat yang lebih pendek. "Pabrik cetak belum tanda tangan. Harga belum final. Kalau terima uang sekarang, itu utang."
Reza mengetuk meja. "Kalau kita hanya buka daftar tunggu, orang pergi."
Bima, yang biasanya tidak ikut debat kreatif, mengangkat layar dashboard kasur. "Waktu Lentera, orang tidak pergi karena kita tidak mengambil uang sebelum mampu kirim. Pola yang sama."
Raka membuat keputusan.
"Buka waiting list tanpa bayar."
Naya menatapnya.
Raka menghela napas. "Buka waiting list tanpa bayar. Data minimal: nama, email atau nomor, usia di atas tiga belas atau pendamping orang tua. Jelaskan ini bukan hak membeli."
Nadia mengangguk. "Dan kebijakan data. Jangan kumpulkan alamat rumah."
Dalam satu jam, halaman waiting list Saga Nusantara tayang. Tidak ada tombol bayar. Tidak ada paket langka. Hanya pernyataan: proyek uji, aturan belum final, tidak untuk perjudian, dan pendaftaran bukan jaminan pembelian.
Yusuf meminta satu kalimat tambahan yang membuat Reza mengeluh: data pendaftar hanya dipakai untuk undangan uji dan pemberitahuan rilis, dapat dihapus atas permintaan. Reza bilang kalimat itu membunuh suasana. Nadia bilang kalimat itu menyelamatkan mereka dari masalah yang lebih mahal daripada suasana.
Angkanya tetap naik.
Seratus.
Lima ratus.
Seribu dua ratus.
Di angka dua ribu, Bima meminta halaman diberi antrean waktu otomatis agar orang tidak mengira siapa cepat bayar dia menang. Rasa tidak adil bisa muncul bahkan dari daftar gratis.
Reza diam melihatnya. Untuk seseorang yang ingin memonetisasi cepat, ia tampak seperti orang yang baru dipaksa mengakui bahwa menahan diri juga bisa menghasilkan angka.
Raka tidak membiarkan angka itu menjadi mabuk baru. Ia meminta Bima menempelkan status besar di dashboard: nol rupiah diterima. Semua orang harus melihat bahwa popularitas belum berubah menjadi kewajiban kirim. Dimas memotret tulisan itu untuk arsip internal, bukan untuk konten.
"Ini bukan kas," kata Yusuf.
"Tapi ini sinyal," jawab Reza.
"Sinyal yang belum boleh dijadikan utang."
Dimas kemudian berdiri. Wajahnya tidak nyaman. "Aku perlu bilang sesuatu."
Semua orang menoleh.
"Aku pernah kirim potongan gameplay ke teman. Dua hari lalu. Bukan video Farhan. Cuma klip kartu kapal dan pasar. Aku minta pendapat, tapi tetap salah."
Naya tidak langsung memarahinya. Itu lebih menakutkan.
"Siapa?"
Dimas memberi nama. Nadia mencatat, meminta waktu kirim, platform, dan apakah file bisa diteruskan. Dimas menjawab semuanya. Ia tidak membela diri.
"Aku bukan sumber video tadi malam," katanya pelan. "Tapi aku membuat celah."
Raka menatapnya cukup lama. "Kita catat sebagai pelanggaran proses, bukan pengkhianatan. Akses file kamu dibatasi sampai audit selesai."
Dimas mengangguk. Ia terlihat lebih terpukul oleh kata proses daripada jika dimarahi.
Naya mengambil alih publikasi. Ia merilis video pendek resmi: hanya aturan dasar, kartu yang sudah aman ditampilkan, dan potongan reaksi pemain tanpa membuka ekspansi. Tidak ada klaim bahwa mereka sudah siap jual.
Video itu sengaja tidak memakai adegan Reza kalah paling memalukan. Naya memilih potongan ketika Farhan menjelaskan urutan efek dengan pelan. "Kita jual rasa ingin main, bukan menghina pembuat sendiri," katanya.
Reza meliriknya. "Saya tidak selemah itu."
"Bagus. Berarti Anda tidak butuh dipermalukan untuk membuat orang tertarik."
Komentar justru makin ramai.
Kapan cetak?
Saya mau masuk test berikutnya.
Farhan pakai deck sampah lagi dong.
Nama Farhan mulai ikut naik. Ia mengirim pesan ke Dimas: Bang, kalau ini bikin masalah, saya bisa bilang saya cuma ikut main.
Dimas membalas setelah melihat Raka.
Tidak. Kamu menang sesuai aturan. Masalahnya di proses kami.
Sore hari, masalah baru muncul.
Titan Playworks merilis teaser: permainan kartu bertema jalur kepulauan, dengan kapal, pasar, dan badai. Gambarnya jauh lebih rapi daripada kartu Reza. Caption-nya pendek, tetapi tajam.
Proyek matang tidak lahir dari video bocor.
Nama Titan membuat ruang rapat berubah. Ini bukan akun kecil yang mencari perhatian. Titan Playworks punya toko, turnamen, dan jaringan komunitas game yang belum pernah disentuh AKN. Jika mereka berkata lebih matang, banyak orang akan percaya hanya karena logonya sudah dikenal.
Reza membaca caption itu dua kali. Pada bacaan kedua, wajahnya tidak lagi marah saja. Ada hitungan di sana. Titan tidak hanya meniru tema. Mereka sedang mencoba mengambil posisi dewasa, lalu mendorong Saga menjadi proyek bocor yang tidak siap.
Komentar langsung membelah. Sebagian menuduh Saga meniru Titan. Sebagian menuduh Titan bergerak terlalu cepat untuk disebut kebetulan. Media kecil mulai menaruh dua gambar berdampingan.
Reza berdiri begitu cepat kursinya mundur.
"Kita buka semua file. Semua timestamp. Semua sketsa."
"Tidak," kata Nadia.
"Mereka menyiratkan kita meniru."
"Dan kalau Anda membuka semua file mentah sebelum pendaftaran selesai, Anda membantu orang meniru bagian yang belum mereka punya."
Reza memukul meja sekali. Cukup untuk membuat ruangan diam.
Raka menatapnya. "Besok kita jelaskan hak cipta dan timeline. Hari ini kita simpan bukti."
"Momentum hilang."
"Kalau kita panik, bukti hilang."
Reza tidak suka jawaban itu. Namun kali ini ia tidak mengambil laptopnya sendiri.
Malam itu, Naya menyimpan semua tangkapan layar. Nadia menyiapkan bahan pendaftaran dan pernyataan publik. Yusuf menutup akses folder menjadi hanya baca. Dimas duduk paling lama di ruang rapat, melihat angka waiting list terus naik tanpa satu rupiah pun masuk.
Di layar media, dua gambar konsep berdampingan.
Saga Nusantara.
Titan Playworks.
Naya menutup laptop setelah memastikan timestamp tersimpan. Besok, opini publik boleh berisik; malam ini, urutan file harus tetap rapi.
Besok, publik akan bertanya siapa mencuri dari siapa.