Asyifa adalah seorang gadis yatim piatu yang hidup bertiga dengan kedua adiknya. Sebagai anak sulung, dia bertanggung jawab membesarkan kedua adiknya, setelah ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan hebat saat pulang dari berjualan.
Suatu hari dia terlibat skandal dengan teman satu kelasnya, teman yang juga dia kagumi dalam diam.
Sebab skandal tersebut, dia harus kehilangan beasiswa dan menuntutnya untuk keluar dari sekolah favorit tersebut.
5 tahun kemudian, dia dipertemukan dengan teman sekelasnya dengan kondisi yang berbeda.
Tetapi cinta yang dulu pernah singgah... ternyata masih tetap menetap tanpa bisa terungkap.
Bagaimana kisah selanjutnya...
selamat membaca guys... semoga kalian terhibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN PENUH LUKA
"Aku tertawa agar dunia percaya... Bahwa aku baik baik saja... Meskipun sesungguhnya hidupku penuh luka..." sepenggal kalimat terucap dari bibir Asyifa.
Mencintai dalam diam bukanlah pilihan... melainkan... Keadaan.
Terlahir dari orang tua sederhana, membuatnya enggan mengejar cinta. Tatapan dari seorang Arka membuatnya mundur dari cinta yang penuh luka... Bahkan saat cinta itu belum sempat mekar.
Kesalahan di masa lalu... Menambah peliknya hati dalam mengungkap rasa...
Hari ini perusahaan ulang tahun, semua karyawan di minta berkumpul di halaman untuk makan bersama.
Berbagai menu prasmanan tersaji untuk di nikmati...
Ratusan karyawan bahkan telah berkumpul untuk menikmati jamuan.
Terdapat lima deretan meja dengan berbagai menu yang sama. Terlihat.... Menggiurkan.
" Fa... MasyaAllah Fa.... Itu makanan enak semua. Jarang jarang kita makan makanan seperti itu Fa" ucap Ima sengan wajah antusias.
" Ayo Fa.... Ini memang di hidangkan untuk kita." lanjut Ima.
Asyifa hanya tersenyum sekilas, tetapi tidak satu pun makanan yang dia ambil.
Sejak peristiwa masa SMA itu... Asyifa memang menjadi pribadi yang tertutup.
Sesungguhnya Asyifa adalah gadis yang ceria, bahkan saat kehilangan orang tua, kesedihannya tidak bertahan lama.
Asyifa adalah perempuan cerdas yang selalu positif dalam berpikir, melangkah dengan logika.
Tetapi.... Semua itu hilang oleh rasa bersalah dan penyesalan... Juga... Ketakutan. Rasa yang ada sejak melakukan kesalahan dan di bully teman satu sekolah.
" Fa, kenapa diam saja?" Ima menepuk bahu Asyifa.
Asyifa tersentak dan tersadar dari lamunan, lalu tersenyum pada Ima.
" Kamu duluan saja Ma, aku masih kenyang." jawab Ima.
" Loooh kok gitu..." jawab Ima.
Lalu tanpa menambahkan kalimat untuk Asyifa, Ima melangkah sendiri mengambil makanan yang sudah tersedia.
" Nih buat kamu" kata Ima memberikan sepiring makanan untuk temannya.
" Loooh aku tadikan sudah bilang, aku masih kenyang." jawab Asyifa.
" Halah, aku tahu kamu belum makan dari rumah tadi. Aku ketemu sama Bayu yang membeli makanan. Berarti kamu belum masak." jawab Ima.
Mereka berjalan mencari tempat yang masih kosong, lalu duduk dan bersiap untuk makan.
Ima membagi minumannya pada Asyifa, lalu dia duduk di samping temannya itu.
" Kamu yakin tidak memiliki rasa apapun pada Asyifa Ar?" Sebuah suara terdengar dari samping Asyifa.
" Tidak. Sudah ku katakan, dia hanya teman satu kelas di SMA, dan perempuan yang pernah memfitnahku. Untuk apa aku jatuh cinta pada perempuan berlidah ular seperti itu?" Jawab Arka, tanpa tahu di belakangnya ada Asyifa.
Asyifa terdiam telinganya mendengar percakapan yang menyangkut dirinya.
" Tetapi dia terlihat menyukaimu Ar, cara dia menatapmu berbeda. " kata
" Karena aku di sini memiliki jabatan. Sama saat SMA, dia berniat menjebakku, lalu menolongku, dan kesempatan mendekatiku karena aku berprestasi saat itu. Wanita seperti Asyifa tidak memiliki ketulusan." sarkas Arka.
Sakit!!! Hanya itu yang di rasakan Asyifa. Ima yang ada di sebelahnya ikut mendengar, tetapi dia tidak mengerti Asyifa siapa yang di maksud petinggi perusahaan itu.
" Aku tidak akan mencintai perempuan jahat yang bertopeng ketulusan. Dia hanya menyukai orang orang yang memiliki prestasi dan jabatan. Dia adalah perempuan yang tidak memiliki hati" lanjut Arka.
" Kalau kemarin aku menolongnya, itu hanya rasa kemanusiaan. Tidak lebih. Aku tidak akan menghabiskan sisa hidup dengan perempuan macam dia. Perempuan berlidah cabang tidak layak di cintai olehku " Arka melanjutkan ucapannya.
Setiap kata yang keluar dari mulut Arka, bagai jarum yang menusuk jantung Asyifa. Begitu perih mengoyak hatinya.
Dia menggenggam erat sendoknya.
" Makan Ima" kata Asyifa singkat.
Asyifa makan dengan lelehan air mata, setiap nasi yang masuk ke mulutnya. Seolah semua tersangkut di tenggorokan.
Asyifa... Makan dengan menangis pilu. Dia sudah menyesali perbuatannya, meminta maaf. Bahkan menuai... Karma.
Tetapi seolah semua tidak berhenti, rasa cinta yang bertahta di hatinya.... Tidak terbalas.
Bahkan Arka melihatnya hanya dari keburukan, dari kesalahan yang bahkan sudah bertahun tahun yang lalu.
Asyifa ingin berdiri, namun belum sempat... Tiba tiba Byurrr... Air dari gelas seseorang menyiram kepalanya.
Semua mata langsung tertuju padanya... Lalu... Tertawa.
" ups... Maaf aku tidak sengaja ya." ucap seorang wanita yang Asyifa ingat adalah peserta meeting beberapa minggu lalu.
Semua orang di sana menertawakannya. Tawa yang lebih terlihat sebagai... Ejekan.
Arka yang kebetulan di dekatnya. langsung berdiri dan menoleh kebelakang.
Betapa kagetnya dia ternyata di belakangnya ada Asyifa. Bahkan dengan kondisi basah kuyub.
" Sejak kapan kami di sini?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Arka.
Asyifa tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan penuh... Luka.
Tanpa sepatah katapun, Asyifa melangkah pergi dari tempat acara.
Ima berlari mengikuti Asyifa yang lebih dulu menjauh.
Arka menatap kepergian Asyifa dengan membeku. Ada sisi hatinya yang ikut terluka.
" Apakah dia mendengar semua ucapanku?" gumam Arka.
" apa peduliku... Apa yang ku ucapkan adalah kenyataan. Aku tidak mengada ada atau memfitnahnya." Arka bergumam sendiri... meskipun sedikit rasa kasihan membayangi hatinya.
" Asyifa tunggu." Ima berhasil mengejar dan meraih lengan temannya itu.
" Sebenarnya ada apa? , kamu kenal pak Arka sebelumnya?, ceritakan Syifa... Aku ingin jadi temanmu... Aku bukan perempuan yang suka bicara sana sini...." Ima mendesak Asyifa.
" Apakah aku tidak pentas menerima kepercayaan dari mu Fa....apakah aku tidak pantas berteman denganmu yang cantik ini?" Ima berkata begitu sendu.
Ima adalah gadis berkulit hitam, kedua orang tuanya berasal dari daerah timur. Dia datang ke pulau ini untuk bekerja.
Asyifa menggelengkan kepala..
" Tidak Ima, akulah yang tidak pantas berteman denganmu. Aku adalah perempuan jahat dan rendahan. " jawab Asyifa dengan air mata.
Ima memeluk temannya dengan erat. Menguatkan meskipun tidak paham, masalah apa yang menimpa temannya itu.
" Berbulan bulan kita berteman Fa, di kota ini hanya kamu yang mau berteman denganku, semenjak aku merantau di sini, aku selalu sendiri... Bahkan sebelum bekerja di sini pun... Aku sempat kelaparan sendirian tanpa ada yang menolong. Sekarang... Ijinkan aku berteman denganmu Fa..." kalimat Ima membuat Asyifa kembali menangis.
" Bahkan... Kamu akan menjauhi aku jika kamu tahu betapa buruknya masa laluku" jawab Asyifa.
"Tidak. Tidak akan pernah..." tegas Asyifa.
Lalu mereka berjalan dan duduk di bawah pohon rimbun, keduanya menatap hamparan langit yang bersih tanpa awan.
Lalu Asyifa menceritakan siapa Arka dan bagaimana masa lalunya.
Sementara itu... Di dalam gudang yang sudah di sulap menjadi tempat perayaan, Arka terlihat berbicara empat mata dengan seorang wanita.
" Aku tahu kamu sengaja mempermalukan cs itu, bahkan kejadian di ruang meeting adalah ulahmu" kata Arka.
perempuan itu tersentak. Dia kaget Arka mengetahui semua.
"Ya, aku membenci cs itu, yang pandai menarik perhatian." jawannya.
" Bukan salahnya... Sebab... dia memang menarik. cctv kamu dan Andre akan aku serahkan ke Direktur jika kamu masih berusaha mengusik Asyifa." setelah berkata seperti itu, Arka melangkah meninggalkan wanita yang wajahnya di penuhi aura kemarahan.
Arka meninggalkan acara perusahaan, pikirannya di penuhi tatapan Asyifa yang penuh kecewa dan luka...
Langkah Asyifa terlihat penuh kesakitan, bibirnya yang terkunci seolah menambah deretan sakit akibat ucapannya.
syifa sdh mngatakn ber kali".... untuk mnyudahi prnikahan kalian... agr kalian tak saling mnyakiti....
up bnyak"
capek mncintai sendirian... wloupun arka sbg suami sangt bertanggung jawab.....
untuk arka.... yakin km bneran g ada cinta untuk syifa.... yakin cinta sdh g pnting.....
ms iya km bisa mnjalani prnikahan dgn syifa smpe saat ini tnpa km merasakn cintamu untuk syifa🤔🤔🤔