"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6.Pelayan sekarang keluarga.
Sinar matahari pagi yang keemasan perlahan menyelinap masuk lewat celah tirai jendela kamar Raisa, menyentuh lembut wajahnya yang masih terlelap namun alisnya sesekali berkerut tak tenang seolah sedang bermimpi tentang sesuatu yang membuatnya gelisah. Udara pagi yang segar berhembus pelan membawa aroma tanah basah dan wangi melati liar yang tumbuh subur di pinggir hutan, tapi entah kenapa keheningan pagi itu terasa begitu berat, seolah ribuan pasang mata tak kasat mata sedang mengawasi setiap tarikan napasnya dari balik bayang-bayang dinding kayu tua.
Keheningan itu tak berlangsung lama. Terdengar ketukan pelan namun berirama di pintu kamarnya—bukan ketukan tangan yang biasa dilakukan orang, melainkan bunyi yang teratur, seolah mengikuti detak jantung yang berdebar kencang. Disusul suara wanita yang lembut namun entah mengapa terdengar menggema pelan di setiap sudut ruangan.
“Nona Raisa... bangunlah, matahari sudah tinggi. Sarapan sudah lama menanti di meja.”
Panggilan itu terdengar begitu sopan, namun membuat bulu kuduk Raisa merinding seketika tanpa alasan yang jelas. Ia tersentak bangun dengan napas tercekat, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Dengan cepat ia menarik selimut erat-erat hingga menutupi dada, matanya melotot menatap pintu tertutup itu seolah di baliknya sedang menunggu sesuatu yang mengerikan.
“Ya ampun... jangan bilang hantu yang bangunin aku pagi-pagi begini?” bisiknya gemetar, tangannya meremas ujung selimut dengan kuat. “Semalam saja aku sudah kaget setengah mati lihat bayangan hitam lewat lorong, sekarang malah dipanggil-panggil... kalau dia masuk sini, aku harus... ah, entahlah, lari atau diam saja?”
Ketukan itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih dekat. “Nona? Saya pelayan pribadi keluarga Margono,yang diperintahkan langsung melayani nona saat tinggal disini.”
“Ka...mu itu hantu apa orang, jika hantu aku tidak perlu dilayani. ”ucap Raisa dengan lantang.
“Nona jangan takut, saya adalah pelayan setia keluarga Margono, dan saya masih hidup. ”
Raisa menarik napas panjang bergetar ada keraguan dihatinya, tapi dia mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang ada. Pelan-pelan ia turun dari ranjang, kakinya terasa sedikit lemas saat menginjak lantai dingin. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada beban tak terlihat yang menekan pundaknya. Ia mendekati pintu perlahan, tangannya terulur gemetar memegang gagang pintu yang sedingin es batu.
“Ulurkan tanganmu biar aku menyentuhnya,”ucapnya sambil membuka sedikit pintu kamarnya.
Sekar mengikuti permintaan Raisa, dia mengulurkan tangannya. Raisa melihat tangan Sekar, warna kulitnya tidak pucat, lalu Raisa memegangnya untuk memeriksa suhu di tangan Sekar.
“Dia manusia, ”gumamnya pelan.
Di balik pintu Sekar pun tersenyum. “Nona jangan takut, saya manusia asli. Sebaiknya nona sarapan pagi dulu. ”
Setelah memastikan rasa keraguan nya, Raisa dengan gerakan sangat hati-hati, Raisa memutar gagang pintu dan mendorongnya sedikit terbuka—hanya cukup untuk menampakkan separuh wajahnya, matanya menyipit tajam mencoba memastikan apa yang ada di hadapannya.
“Kamu...benar pelayan disini? Bukan salah satu makhluk... halus disini...” ucapnya terbata-bata, menelan ludah dengan susah payah.
“Saya orang, bukan makhluk penunggu disini. ”
Setelah keraguan hatinya hilang, Raisa membuka pintu kamarnya lebar-lebar karena dia juga penasaran dengan pelayan rumah disini.
Kr...eek.
Di depan pintu berdiri seorang wanita muda yang tampak sederhana namun sangat rapi, mengenakan kebaya berwarna biru muda yang bersih dan sopan, rambutnya disanggul rapi tanpa hiasan berlebihan. Wanita itu tersenyum ramah, senyum yang terasa tulus namun menyimpan ketenangan yang tak biasa.
“Selamat pagi, Nona Raisa. Nama saya Sekar,” jawabnya lembut sambil menundukkan kepala sedikit. “Saya yang akan menemani, merawat, dan melayani Nona di sini mulai hari ini.”
Raisa menatapnya lekat-lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki, matanya tak berkedip sedikit pun. Ia memperhatikan telapak kaki Sekar yang menapak kuat di lantai kayu, tidak melayang, tidak tembus pandang, tapi tetap saja ada perasaan ragu yang mengganjal di hati.
“Kamu... benar-benar manusia biasa kan?” tanyanya polos namun penuh kekhawatiran.
Sekar tertawa kecil, suara tawanya renyah dan menenangkan. “Benar sekali, Nona. Coba saja Nona raba tangan saya kalau masih ragu.” Ia mengulurkan tangan kanannya yang hangat. “Saya cucu dari pelayan yang paling setia mendampingi almarhum Tuan Raden Margono, kakek Nona dulu. Keluarga kami sudah berjanji akan selalu menjaga keturunan beliau sampai kapan pun.”
Raisa menyentuh punggung tangan Sekar perlahan—hangat, nyata, dan berdenyut. Napasnya terbuang panjang dengan perasaan lega yang luar biasa. “Maaf ya... jangan marah. Rumah ini rasanya lain dari yang lain. Semalam aku dengar suara benda bergerak sendiri, lihat bayangan tinggi lewat lorong... jadi aku jadi agak parno begini.”
“Wajar sekali kok Nona. Semua orang yang baru pertama kali datang ke sini pasti merasakan hal yang sama,” ucap Sekar lembut sambil tersenyum pengertian. “Saya sudah berangkat ke pasar desa sebelum matahari terbit, belanja sayuran segar, ikan baru ditangkap, dan ayam kampung. Semuanya saya masak sendiri di dapur rumah ini dengan cara yang higienis.”
“Terima kasih banyak ya, Se...Kar. Tunggu sebentar saja ya, aku segera bersiap turun,” jawab Raisa dengan senyum malu-malu.
Ia segera menutup pintu kembali, membersihkan diri secepat mungkin, menyisir rambutnya rapi, dan mengenakan pakaian santai yang nyaman namun tetap sopan. Setelah merasa siap, ia melangkah menuruni anak tangga perlahan menuju ruang makan yang luas dan megah.
Begitu masuk ke ruang makan, matanya terbelalak melihat hidangan yang begitu lengkap dan tertata rapi di atas meja panjang yang berkilau bersih. Ada nasi hangat yang masih mengepulkan uap, sayur bening bayam jagung, ayam goreng lengkuas yang harum semerbak, ikan mas bakar kecap, telur dadar tipis gurih, hingga piring berisi potongan pepaya dan mangga yang terlihat sangat segar. Namun bukannya langsung duduk dan menyantapnya, Raisa hanya berdiri terpaku menatap meja itu sambil mengerjap-ngerjap berkali-kali.
“Jangan-jangan ini cuma bayangan mata saja? Kalau aku ambil sendoknya nanti hilang semua?” gumamnya pelan sambil menggelengkan kepala sedikit. “Katanya makanan hantu kelihatan enak tapi kalau dimakan rasanya tanah atau abu...”
Belum sempat tangannya menyentuh ujung meja, Sekar datang menghampiri sambil membawa segelas susu hangat yang diletakkannya perlahan di samping piring kosong yang sudah disiapkan.
“Nona jangan khawatir, ini semua benar-benar makanan manusia biasa,” ucap Sekar sambil tersenyum. “Coba Nona cium aromanya... pasti Nona bisa bedakan kan?”
Raisa menunduk malu. “Maaf ya Sekar, aku bukan bermaksud curiga padamu tapi setelah kejadian semalam. Jadi perasaanku saja yang belum tenang.”
“Tidak apa-apa Nona, saya mengerti sekali perasaan Nona.”
Tiba-tiba terdengar suara panggilan lantang namun sopan dari arah halaman depan rumah. “Nona Sekar! Permisi sebentar Nona Sekar!”
“Saya minta izin keluar sebentar ya, Nona.”
“Silakan saja, Sekar. Jangan sungkan.”
Sekar menghampiri orang yang memanggilnya.
Raisa pun penasaran, ia berjalan pelan mengikuti dari belakang menuju beranda depan. Di sana berdiri seorang pria paruh baya yang tampak sederhana namun rapi, mengenakan baju kerja bersih dan sepatu bot karet. Wajahnya tampak ramah dan penuh kesetiaan.
“Selamat pagi, Pak Budi,” sapa Sekar sopan.
“Selamat pagi juga, Sekar. Tuan menyuruh saya datang lebih awal untuk mulai merawat kebun dan pagar sekeliling rumah mulai hari ini,” jawab pria itu dengan nada hormat.
Saat melihat Raisa muncul dari balik pilar beranda, Pak Budi segera menundukkan kepalanya sangat dalam. “Selamat pagi, Nona Raisa. Semoga Nona sehat selalu.”
“Bapak kenal saya?” tanya Raisa heran sambil melangkah mendekat.
“Tentu saja Nona. Almarhum Tuan Raden Margono sering sekali menunjukkan foto cucu kesayangannya kepada saya dan berpesan berkali-kali supaya kami selalu menjaga dan melindungi Nona jika suatu saat Nona datang ke rumah ini.”
“Wah, kalau begitu tolong jangan begitu hormatnya Pak,” ucap Raisa cepat sambil mengangkat tangan Pak Budi pelan agar berdiri tegak kembali. “Bapak jauh lebih tua dari saya, tidak pantas sekali saya diperlakukan seperti ini. Mulai sekarang anggap saja saya anak atau cucu sendiri.”
“Terima kasih atas kebaikan hati Nona, tapi aturan di rumah ini sudah seperti ini sejak dulu,” jawab Pak Budi terharu.
“Aturan boleh diubah kalau tujuannya untuk saling menghargai kan? Ngomong-ngomong, kalian sudah sarapan?”
“Belum Nona, kami akan makan setelah Nona selesai makan,” jawab Sekar.
“Kalau begitu ayo masuk dan makan bersama saya sekarang juga,” ajak Raisa mantap sambil mengulurkan tangan menggandeng lengan Sekar. “Masakan Sekar ini banyak sekali, sayang sekali kalau terbuang. Mulai hari ini tidak ada istilah majikan dan pelayan di sini. Kita ini keluarga yang tersisa, jadi harus saling melengkapi dan berbagi segalanya.”
Melihat ketulusan yang begitu nyata terpancar dari mata Raisa, Sekar dan Pak Budi akhirnya tak sampai hati menolak. Dengan perasaan yang campur aduk antara terharu dan senang, keduanya pun ikut melangkah masuk kembali ke ruang makan dan duduk bersama Raisa di meja yang sama.
Sementara itu, di balik tirai jendela kamar di lantai dua yang tertutup rapat namun tetap memberikan pandangan sempurna ke segala arah, Arya berdiri diam mematung. Di sampingnya berdiri Jatmika yang ikut memperhatikan adegan di bawah sana dengan penuh kekaguman.
“Walaupun masih muda nona gadis yang tidak sombong dan berhati baik, Tuan,” ucap Jatmika pelan namun penuh rasa hormat. “Sangat berbeda dengan sifat keturunan lain yang pernah saya temui selama ratusan tahun ini.”
Arya hanya diam sejenak, namun senyum tipis perlahan merekah di bibirnya yang biasanya selalu kaku dan dingin. Tiba-tiba bayangan wajah seorang wanita yang pernah ia temui ribuan tahun silam melintas sangat jelas di benaknya—wajah, sorot mata, dan kelembutan bicaranya persis sama persis dengan Raisa. Rasa hangat yang sudah lama hilang kembali menyelimuti hatinya yang dingin.
“Ya... persis sama seperti dia dulu,” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Arya segera mengusir kenangan itu kembali ke sudut paling dalam ingatannya, lalu menatap Jatmika dengan wajah yang kembali serius namun tegas.
“Jatmika,” panggilnya pelan namun berwibawa.
“Siap, Tuan. Ada perintah apa?” jawab Jatmika seketika berdiri tegak.
“Buatlah penghalang pelindung yang paling kuat yang pernah kau buat, mengelilingi seluruh wilayah Desa Suka makmur, hutan, dan jalan setapak yang menuju ke sini,” perintah Arya dengan nada berat. “Jangan biarkan satu pun makhluk—baik manusia maupun jin—yang memiliki niat jahat bisa menembus masuk ke wilayah ini. Aku tidak mau ada satu hal pun yang mengganggu ketenangan dan keselamatan Raisa sedetik pun mulai saat ini.”
“Baik Tuan, segera akan saya laksanakan sekarang juga tanpa menunda sedetik pun.”
Perlahan wujud manusia Jatmika mulai memudar, berubah kembali menjadi wujud aslinya seekor ular putih raksasa yang sisiknya berkilau indah seperti butiran mutiara murni terkena cahaya pagi. Dengan gerakan lincah namun anggun, ia meluncur menuju celah jendela yang sedikit terbuka, lalu melesat keluar dengan kecepatan yang tak bisa ditangkap mata manusia biasa. Begitu tubuhnya melewati ambang jendela, jendela itu seketika tertutup rapat dan terkunci sendiri seolah tak pernah terbuka sama sekali.
Tak lama kemudian, kabut tipis namun pekat mulai turun perlahan melingkari batas-batas desa dan hutan. Itu bukan kabut biasa yang terbawa angin, melainkan benteng tak kasat mata yang tak akan bisa ditembus oleh siapa pun yang memiliki niat buruk, sekalipun mereka memiliki kekuatan sihir yang besar. Semua itu dilakukan hanya demi satu tujuan yaitu menjaga Raisa agar tetap aman di tempat yang kini menjadi rumah barunya.