"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Suara dari Kegelapan
— Bang, kasus lama aja sok tahu.
— Detektif gagal mode serius.
— Anak panti kalau lapar memang halu, ya?
— Mending cari kerja beneran, Bro. Jangan jual mimpi.
Angka penonton di pojok layar turun dari tiga puluh dua menjadi dua puluh tujuh.
Raka Laksana membaca semuanya. Satu per satu.
Lampu ring light murah di depannya berkedip. Di belakangnya, kertas besar bertuliskan DETEKTIF 100 PERSEN miring sedikit, seolah ikut mengejek.
Ia memaksa suaranya tetap stabil.
"Kalau kita lihat dari pola laporan warga, pelaku kemungkinan orang dekat. Dalam kasus anak hilang, akses menjadi alasan pertama untuk diperiksa, bukan tuduhan awal."
Chat bukannya tenang, malah makin liar.
— Teori Google.
— Sok ahli.
— Kalau pintar, kenapa masih ngekos sempit?
Tangan kiri Raka mengepal di bawah meja.
Di kasur lipat sebelah kanan, Kribo menjulurkan kepala dari balik laptop rusaknya. Rambut keritingnya berantakan seperti kabel charger yang sudah terlalu lama dipakai.
KBro,K bisiknya, tidak cukup pelan untuk tidak tertangkap mikrofon, Klo yakin mau lanjut? Kolom komentar hari ini lebih kejam daripada ibu kos.K
Komentar langsung meledak.
— Wkwk bahkan temannya kasihan.
— Ibu kos incoming!
— Bayar kos dulu, detektif!
Raka menggeser mikrofon sedikit menjauh. KDiam, Krib.K
KGue cuma bantu rKalita masuk ruangan.K Kribo mengangkat dua tangan. KBu Santi tadi nanya lagi. Kalau akhir minggu ini belum bayar, kita disuruh keluar. Gue bisa tidur di kantor warnet, tapi lo? Lo kalau tidur di jalan nanti bikin konten baru, 'Detektif 100 Persen Menyelidiki Nyamuk'.K
Beberapa penonton tertawa lewat emoji.
Raka ingin ikut tertawa, setidaknya supaya terlihat santai. Tapi dompetnya di laci tinggal berisi dua lembar uang kecil, dan dashboard novel Penghakiman Iblis Manusia di tab sebelah menunjukkan angka pembaca yang bahkan lebih menyedihkan daripada penonton live-nya.
Di kepalanya, suara Bu Yanti dari Panti Asuhan Bunga Harapan melintas singkat.
Selalu berdiri di sisi yang benar.
Raka menarik napas dan menatap kamera lagi.
KKalian boleh mengejek. Tapi statistik tetap statistik. Delapan puluh persen kasus anak hilang yang cepat terpecahkan selalu dimulai dari lingkaran terdekat. Keluarga, tetangga, pengasuh, orang yang terakhir melihat korban.K
Seorang penonton mengirim stiker koin receh.
Nilainya kecil. Sangat kecil. Tapi notifikasi donasi itu tetap berbunyi.
TING!
Pesan donasi muncul:
— Buat beli martabak imajinasi.
Kribo memukul bantal untuk menahan tawa. Raka menatap layar tanpa berkedip.
KTerima kasih donasinya,K katanya datar. KSemoga imajinasimu juga bisa dipakai untuk hal yang lebih berguna.K
Komentar mendadak lebih ramai.
— Oho, tersinggung.
— Detektif miskin marah.
— Anak panti sok punya harga diri.
Kali ini, sesSatu di dada Raka terasa panas.
Ia pernah dihina karena miskin. Sering. Pernah ditolak kerja karena latar panti. Pernah dianggap tidak pantas masuk komunitas penulis karena tidak punya koneksi. Pernah melihat orang-orang berbicara tentang keadilan seolah itu barang mahal yang hanya boleh disentuh orang berjas.
Tapi setiap kali ia hampir berhenti, ia selalu ingat wajah anak-anak kecil di panti yang menunggu kabar baik dari dunia luar.
Kalau orang seperti dia juga menyerah, siapa yang akan berdiri untuk orang yang lebih lemah?
Raka hendak menjawab komentar berikutnya ketika sebuah akun baru masuk ke live.
Namanya Ratih_Sari.
Tidak ada foto profil. Tidak ada lencana. Tidak ada riwayat donasi.
Pesan pertamanya muncul di tengah arus ejekan.
— Tolong...
Raka berhenti bicara.
Komentar lain terus bergerak, menertawakan, menyuruhnya membaca chat mereka. Tapi pesan dari akun itu muncul lagi.
— Bayi saya hilang.
Jari Raka berhenti di atas mouse.
Kribo, yang tadinya santai, ikut menegakkan badan.
Pesan ketiga datang lebih panjang, terputus-putus.
— Polisi bilang mungkin dibawa ayah kandungnya. Orang-orang bilang saya terlalu panik. Tapi saya tahu ada yang salah. Anak saya belum bisa berjalan jauh. Dewi baru delapan bulan. Tolong, Bang. Tolong bantu saya.
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Raka membaca nama itu dalam hati.
Dewi.
Bayi delapan bulan.
Komentar yang tadi ramai mulai bercampur.
— Settingan nih.
— Kalau bener lapor polisi, Bu.
— Kasihan juga.
— Detektif gagal dapat klien pertama?
Raka mencondongkan tubuh ke depan. KBu Ratih, kalau Anda benar-benar membutuhkan bantuan, kirim kronologi singkat. Kapan terakhir Dewi terlihat? Siapa saja yang berada di rumah? Apakah ada rekaman CCTV di sekitar lokasi?K
Kribo menatapnya. KRaka...K
KAku tahu.K Raka tidak menoleh. KTapi kalau ini benar, kita dengar dulu.K
Pesan Ratih muncul lagi.
— Saya tidak punya uang banyak. Saya hanya punya foto Dewi dan rekaman suara terakhirnya. Saya sudah ke Polsek. Mereka bilang masih penyelidikan. Tapi suami saya... ibu mertua saya... semua orang menyuruh saya diam.
Raka merasakan sesSatu yang dingin merayap di tengkuknya.
KSuami Anda?K tanyanya.
Belum sempat Ratih menjawab, layar laptopnya berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu seluruh live freeze.
Komentar berhenti bergerak. Angka penonton membeku di empat puluh satu. Wajah Raka sendiri di layar tertahan dengan ekspresi setengah bicara, seperti foto yang rusak.
KEh?K Kribo mengetuk keyboard. KInternet mati?K
Bukan.
Raka tahu itu sebelum alasan masuk akal muncul di kepalanya. Udara di kamar kos berubah berat. Bunyi kipas angin menghilang. Derit motor dari jalan bawah lenyap. Bahkan napas Kribo terdengar jauh.
Lalu rasa sakit menghantam kepalanya.
Raka mencengkeram tepi meja. Pandangannya memutih. Seolah ada palu tak terlihat memukul tengkoraknya dari dalam.
KRaka!K Kribo melompat dari kasur.
Raka tidak bisa menjawab.
Di layar yang membeku, kotak chat Ratih tiba-tiba berubah merah.
Huruf-huruf asing muncul di atas pesan perempuan itu. Bukan ketikan manusia. Bukan font platform streaming.
【DOSA TERDETEKSI DI SEKITAR SUBJEK】
【INDEKS DOSA: 92/100】
【JENIS KASUS: PEMBUNUHAN】
【TINGKAT KEPARAHAN: KRITIS】
Darah Raka seperti berhenti mengalir.
Pembunuhan.
Kata itu berdiri sendirian di kepalanya, dingin dan tajam.
Suara mekanis terdengar.
Bukan dari speaker.
Dari dalam pikirannya.
【Sistem Penghakiman diaktifkan.】
【Tuan Rumah terdeteksi: Raka Laksana.】
【Kesesuaian jiwa: 100 persen.】
【Kasus pertama terdeteksi: Kasus Pembunuhan Bayi Dewi.】
Raka menggertakkan gigi. KSiapa...?K
Kribo membeku. KLo ngomong sama siapa?K
Raka tidak mendengar jelas. Di hadapannya, kamar kos murah itu seperti terbelah oleh lapisan cahaya hitam. Di tengah cahaya itu muncul sepasang mata merah samar, lalu sebuah buku hitam terbuka tanpa tangan. Sampulnya bergambar pedang lurus yang ujungnya mengarah ke bawah.
Halaman kosong terbuka.
Tinta hitam bergerak sendiri.
【Skill Awal Terbuka】
Nama: Mata Dosa
Efek: Melihat indeks dosa dan jejak kejahatan berat di sekitar subjek terkait.
【Skill Awal Terbuka】
Nama: Buku Penghakiman
Efek: Merekam dosa, menyusun bukti, dan membuka jalur penghakiman setelah kebenaran terverifikasi.
Raka menatap buku itu.
Takut? Ya.
Gila? Mungkin.
Tapi di balik rasa sakit yang masih menusuk kepalanya, ada sesSatu yang lain bangkit. SesSatu yang selama ini ia tekan setiap kali dihina, setiap kali ditertawakan, setiap kali melihat berita kejahatan berakhir dengan kata Kmasih diselidikiK.
Kalau ini nyata, maka untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak hanya bisa menebak.
Ia bisa membuktikan.
Ia bisa mengejar.
Ia bisa menghakimi.
Layar laptop menyala merah sepenuhnya.
Komentar penonton tetap beku, tetapi pesan Ratih bergerak sendiri ke tengah layar.
Dewi tidak hilang, Raka.
Tulisan itu bukan dari Ratih.
Suara mekanis kembali berbicara, lebih dingin dari sebelumnya.
【Misi Penghakiman Pertama】
Nama Misi: Selesaikan Kasus Pembunuhan Bayi Dewi.
Target: Temukan pelaku utama, ungkap bukti, dan pastikan kebenaran tercatat.
Batas Waktu: 15 hari.
Hadiah: 10.000 Poin Penghakiman + Skill Tambahan.
Poin Saat Ini: 0.
Gagal: Tuan Rumah kehilangan seluruh ingatan.
Raka mengangkat kepala.
Di layar, chat Ratih akhirnya bergerak lagi.
— Bang Raka... Anda masih di sana?
Raka menatap kamera yang kembali menyala. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak gemetar.
KSaya di sini, Bu Ratih.K
Ia menatap panel merah yang hanya bisa ia lihat.
KDan saya akan menemukan siapa yang mengambil Dewi.K