NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR

Dua hari setelah malam ulang tahun Naya yang berkesan, suasana di SMA Garuda Bangsa terasa jauh lebih dinamis. Senyum kecil yang sempat terukir di kamar malam itu menyisakan kecanggungan manis yang aneh di antara Naya dan Arka. Namun, berada di lingkungan sekolah berarti mereka harus kembali memakai topeng masing-masing: Naya sebagai siswi pembuat masalah dan Arka sebagai Ketua OSIS yang sempurna.

Jumat pagi, gerimis tipis menyiram kawasan jalan dua blok di luar area sekolah. Seperti biasa, mobil hitam milik keluarga Pradipta berhenti di balik deretan pohon mahoni yang sepi untuk menurunkan Naya secara sembunyi-sembunyi.

"Ingat, jam empat sore nanti ada kumpul panitia Classmeeting," ujar Arka datar dari balik kemudi, matanya mengawasi spion luar untuk memastikan situasi aman. "Jangan sampai terlambat lagi atau saya berikan hukuman piket ganda."

Naya yang sedang memakai tas punggungnya memutar mata, tetapi ada sunggingan bibir tipis yang tak bisa disembunyikannya. "Iya, Pak Ketua yang bawel. Makasih tumpangannya."

Naya mendorong pintu mobil penumpang lalu melangkah keluar. Ia merapikan kerah seragamnya dan baru saja berjalan tiga langkah menuju trotoar ketika sebuah suara yang teramat ia kenal memanggilnya dari arah belakang dengan nada tinggi yang sarat syok.

"NAYA?!"

Naya membeku seketika. Seluruh darah di tubuhnya rasanya seperti berhenti mengalir.

Ia memutar tubuhnya perlahan bagaikan engsel kaku yang kehabisan oli. Di bawah naungan pohon mahoni, Saskia berdiri terpaku memegang payung kuningnya. Mata cewek itu membelalak lebar, memandang Naya dan mobil hitam keluarga Pradipta secara bergantian dengan mulut yang sedikit terbuka.

Di dalam mobil, Arka yang belum sempat menekan pedal gas ikut membeku. Pandangan matanya bertabrakan dengan Saskia melalui kaca jendela yang setengah terbuka.

"S—Saskia?!" bisik Naya gelagapan, tangannya mencengkeram tali tasnya kuat-kuat hingga kukunya memutih. "Lo... lo ngapain di sini?!"

Saskia tidak menjawab pertanyaan Naya. Ia melangkah maju dengan cepat, matanya menatap tajam ke arah sosok Arka di dalam mobil, lalu kembali menatap Naya dengan pandangan penuh selidik yang teramat pekat.

"Naya Aurelia..." suara Saskia bergetar antara bingung dan penuh rasa ingin tahu yang membumbung tinggi. "Lo... lo baru aja turun dari mobilnya Arka Pradipta?!"

"Nggak! Maksud gue—ini nggak kayak yang lo lihat, Sas!" jawab Naya panik luar biasa. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya despite udara pagi yang dingin.

Arka yang menyadari bahwa situasi ini bisa menjadi bencana besar jika tidak segera dikendalikan, secara tenang mematikan mesin mobilnya. Laki-laki itu membuka pintu dan melangkah keluar. Penampilannya yang sangat rapi dan raut wajahnya yang kembali sedingin es langsung memancarkan aura wibawa yang biasa ia tampilkan di depan para siswa.

Arka menatap Saskia dengan tenang, tanpa ada binar kepanikan sedikit pun—sebuah topeng pertahanan diri yang teramat sempurna dari seorang Ketua OSIS.

"Selamat pagi, Saskia," sapa Arka datar, suaranya sangat teratur.

Saskia mundur satu langkah, memiringkan kepalanya curiga. "Arka... kenapa Naya bisa ada di mobil kamu pagi-pagi gini? Kalian... berangkat sekolah barengan?!"

Naya sudah siap mengarang cerita konyol soal angkot mogok atau kecelakaan jalan raya, namun Arka memotongnya lebih dulu dengan suara yang mantap dan tegas.

"Orang tua kami sahabat lama," potong Arka tanpa keraguan sedikit pun di nadanya. "Kemarin malam keluarga Naya ada acara makan malam di rumah saya bersama Papa. Karena rumah kita searah dan Naya tidak ada yang mengantar pagi ini, Tante Maya—ibu Naya—meminta saya sekalian membawanya ke sekolah."

Saskia menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Sahabat lama? Keluarga kalian?"

"Iya," tambah Arka tenang, merapikan posisi jas OSIS yang tersampir di lengannya. "Papa saya dan Ayah Naya sudah berteman sejak zaman kuliah. Kamu bisa konfirmasi langsung ke orang tua Naya kalau tidak percaya."

Naya buru-buru menyambar alasan Arka bagaikan pelampung di tengah samudera. "I—iya, Sas! Beneran! Bokap gue sama bokapnya Arka tuh sobat kental dari dulu! Tadi pagi Ibu gue yang maksa gue nebeng Arka daripada keterlambatan lagi. Gue juga terpaksa tahu!"

Saskia menatap Arka lurus-lurus, lalu berpindah menatap Naya yang sedang tersenyum kaku dengan wajah yang agak pucat.

"Tapi kok... kalian nggak pernah cerita kalau keluarga kalian saling kenal?" cecar Saskia belum sepenuhnya puas. "Selama ini di sekolah kalian berantem terus kayak kucing sama anjing. Masa tiba-tiba sekeluarga?"

"Karena tidak ada gunanya mempamerkan urusan keluarga di sekolah," sahut Arka cepat, matanya menatap Saskia dingin. "Di sekolah, saya Ketua OSIS dan Naya siswi biasa. Hubungan orang tua kami tidak mengubah aturan kedisiplinan apa pun. Naya tetap bakal saya hukum kalau melanggar."

Arka melirik jam tangannya, lalu menatap Naya datar. "Gerbang sekolah tutup tujuh menit lagi. Kalian sebaiknya cepat masuk jika tidak mau poin pelanggaran kalian bertambah."

Arka memutar tubuhnya, kembali masuk ke dalam mobil untuk memarkirnya di tempat resmi di dalam sekolah, meninggalkan Naya dan Saskia yang berdiri di bawah gerimis.

Naya bernapas lega, mengelus dadanya yang berdegup kencang bagaikan maraton. Gila... alibi si robot ini rapi banget!

Namun saat Naya menoleh ke samping, Saskia masih menatapnya dengan pandangan yang sama sekali tidak santai. Saskia merangkul lengan Naya dengan erat, menarik sahabatnya itu berjalan menuju pintu gerbang.

"Oke, alasan Arka emang masuk akal," bisik Saskia dengan nada penuh intrik. "Tapi gue tetap merasa ada yang aneh, Nay."

"Aneh apanya sih, Sas? Kan udah dijelasin tadi!" protes Naya pura-pura kesal.

"Insting cewek gue nggak pernah salah," tegur Saskia tajam sambil menyipitkan mata. "Cara Arka ngeliat lo pas turun dari mobil tadi tuh beda. Terus... pulpen mahal berinisial A.P. yang waktu itu ada di tempat pensil lo... itu pasti punya Arka Pradipta kan?"

Jantung Naya seperti dijatuhkan kembali ke dasar jurang. Langkah kakinya sempat tersendapat.

"P—pulpen apaan?! Kan udah gue bilang itu kenang-kenangan sepupu gue!" tangkis Naya gelagapan, wajahnya kembali merona merah gara-gara panik.

"Halah! Alasan lo basi!" cibir Saskia sambil tertawa kecil, walau matanya menyiratkan keseriusan. "Pokoknya mulai hari ini, gue bakal awasi lo sama Arka. Gue bakal cari tahu rahasia apa yang sebenarnya kalian sembunyiin dari gue!"

Naya hanya bisa meringis kaku, membiarkan dirinya ditarik Saskia menuju koridor kelas.

Di sudut lain dekat pos satpam, Arka yang baru saja memarkirkan mobilnya berdiri memperhatikan Naya dari kejauhan. Laki-laki itu menghembuskan napas panjang yang teramat berat, meremas tali tasnya.

Bencana pagi ini memang berhasil dilewati berkat alibi persahabatan orang tua mereka, namun Arka tahu... benih-benih kecurigaan kini telah tumbuh makin membesar. Rahasia pernikahan mereka kian rapuh, dan mempertahankan benteng ini hingga hari kelulusan akan menjadi perjuangan yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!