Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2: Bayang-Bayang Masa Lalu
...HALO SAHABAT SEMUA KALAU BACA NOVEL AKU INI JANGAN LUPA LIKE YA GUYS, COMENT JUGA GUYS,BANTU AKU YA GUYS SUPAYA NOVEL INI BISA TERPILIH DALAM 80 BAB TERBAIK,CARANYA DENGAN LIKE DAN JANGAN LUPA VOTE. TERIMAKASIH ...
...SELAMAT MEMBACA ...
Pagi harinya di kantor, Aldi duduk di ruang kerjanya yang bernuansa minimalis. Sebagai Manajer Keuangan di PT Nusantara Mandiri—salah satu anak perusahaan dari konglomerasi raksasa Pratama Group—Aldi selalu dikenal sebagai atasan yang berdedikasi dan ramah. Jam kerja baru saja dimulai ketika pintu ruangannya diketuk pelan.
"Mas Aldi," panggil Kirana yang melangkah masuk membawa beberapa berkas. Kirana bekerja di divisi administrasi di perusahaan yang sama, tempat di mana mereka pertama kali bertemu dan saling jatuh cinta sebelum akhirnya memutuskan menikah.
Aldi mendongak dan tersenyum hangat. "Hei, sayang. Ada berkas yang harus ditandatangani?"
Kirana berjalan mendekat, meletakkan dokumen tersebut di meja Aldi, namun wajahnya tampak cemas. Dia duduk di kursi di hadapan suaminya. "Mas... soal yang semalam di meja makan, aku bener-bener minta maaf ya. Mama dan Riko keterlaluan banget. Aku ngerasa gak enak sama kamu."
Aldi terkekeh pelan, meraih tangan Kirana dan mengusap
punggung tangannya dengan ibu jari. "Kirana, berapa kali Mas harus bilang? Aku menikahi kamu karena aku mencintai kamu. Keluarga kamu sekarang adalah keluarga aku juga. Selama aku masih mampu membiayai arisan Mama dan kuliah Riko, aku gak keberatan. Kamu jangan terlalu dipikirkan, ya? Nanti malah sakit."
"Tapi tetap saja, Mas. Gaji kamu sebagai manajer pasti terkuras habis untuk mereka. Kamu bahkan jarang banget beli baju baru atau barang untuk kesenangan kamu sendiri," kata Kirana dengan nada penuh penyesalan. Dia menatap suaminya dengan rasa bersalah yang mendalam.
Aldi hanya tersenyum misterius dalam hati. Jika saja Kirana tahu bahwa pakaian sederhana yang dia kenakan sehari-hari adalah pilihan pribadinya agar tidak mencolok, dan bahwa di akun bank khususnya tersemat angka sembilan digit dalam mata uang dolar yang siap dicairkan kapan saja, Kirana pasti tidak akan secemas ini. Namun, Aldi ingin dicintai karena dirinya sendiri, bukan karena takhta keluarganya.
"Mas gak butuh barang mewah, Kirana. Punya istri yang pengertian dan cantik kayak kamu aja sudah lebih dari cukup buat Mas," goda Aldi, membuat pipi Kirana merona merah.
Tiba-tiba, suasana hangat itu terganggu oleh ketukan keras di pintu. Soni, salah satu staf senior di divisi keuangan, melongokkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang tegang dan penuh kepanikan.
"Pak Aldi! Maaf mengganggu, tapi Anda harus segera ke aula utama sekarang juga," kata Soni setengah terengah-engah.
Aldi mengernyitkan dahi. "Ada apa, Son? Bukankah rapat mingguan baru dijadwalkan besok?"
"Bukan rapat mingguan, Pak. Ini mendadak sekali. Komisaris pusat baru saja mengirimkan memo. CEO lama kita yang sudah menjabat sepuluh tahun resmi pensiun dini per hari ini karena alasan kesehatan. Dan yang lebih mengejutkan, perusahaan kita telah diakuisisi secara penuh oleh investor baru, dan CEO penggantinya sudah tiba di lobi utama!" jelas Soni dengan nada bicara berondongan.
Kabar itu tentu saja mengejutkan. Struktur manajemen tingkat atas yang berubah secara mendadak biasanya membawa perubahan besar bagi iklim kerja perusahaan. Aldi melirik Kirana yang juga tampak terkejut.
"Baik, Soni. Saya dan Kirana akan segera ke sana," jawab Aldi tenang. Dia merapikan jas kerjanya, berdiri, dan berjalan berdampingan dengan Kirana menuju aula utama lantai tiga di mana seluruh karyawan sudah berkumpul membentuk barisan rapi.
Aula besar itu dipenuhi bisik-bisik tegang dari ratusan karyawan. Di barisan depan, para kepala divisi dan jajaran direksi sudah berdiri tegap menanti kedatangan sang pemimpin baru. Aldi mengambil posisi di barisan para manajer, sementara Kirana berdiri sedikit di belakangnya bersama staf administrasi lainnya.
Tak lama kemudian, pintu ganda aula terbuka lebar. Beberapa pengawal berbadan tegap membuka jalan, diikuti oleh jajaran komisaris pusat yang tampak membungkuk hormat pada seorang pria muda yang berjalan di tengah-tengah mereka.
Pria itu mengenakan setelan jas custom-made berwarna
abu-abu gelap yang sangat mahal, jam tangan mewah bermerek internasional berkilau di pergelangan tangannya, dan rambutnya tertata klimis rapi. Wajahnya tampan, namun memancarkan aura arogansi yang kental saat dia menatap rendah ke sekeliling ruangan.
Begitu pria itu melangkah lebih dekat ke podium, Aldi merasakan tubuh Kirana yang berdiri di dekatnya mendadak menegang. Aldi menoleh dan mendapati wajah istrinya seketika berubah pucat pasi, matanya membelalak tidak percaya dengan bibir yang sedikit bergetar.
"Kirana? Kamu kenapa?" bisik Aldi heran, menyentuh pundak istrinya yang mendadak dingin.
Kirana tidak menjawab. Pandangannya terkunci rapat pada pria di podium tersebut.
Pria di atas podium itu mengambil mikrofon, tersenyum penuh kemenangan yang terasa dingin, lalu mulai berbicara dengan nada suara yang berwibawa namun kentara menyombongkan diri.
"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Rendy Wijaya. Mulai hari ini, saya adalah CEO baru kalian di PT Nusantara Mandiri. Saya berharap kalian semua bisa bekerja mengikuti standar tinggi yang saya tetapkan. Jika tidak, pintu keluar perusahaan ini selalu terbuka lebar untuk siapa saja."
Mendengar nama itu diucapkan, Aldi langsung memahami segalanya. Rendy Wijaya. Nama yang pernah beberapa kali didengarnya dari cerita masa lalu Kirana. Pria yang dulu meninggalkan Kirana demi mengejar karier dan kekayaan di luar negeri, cinta pertama istrinya yang kini kembali bukan lagi sebagai pria biasa, melainkan sebagai penguasa baru di tempat mereka bekerja.
Aldi melirik kembali ke arah Rendy di podium. Tepat pada saat itu, mata Rendy menyapu seluruh ruangan dan pandangannya berhenti tepat pada posisi Kirana berdiri.
Senyum di wajah Rendy semakin melebar—senyum penuh arti yang seolah mengumumkan bahwa dia kembali untuk mengambil apa yang pernah menjadi miliknya.