Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Pelarian Pertama
Dua hari setelah Sen tersenyum tanpa sampai ke mata, Momo berhenti menunggu orang lain menyelamatkannya.
Harapan dari Sen terlalu kecil dan terlalu licin. Ia bisa membuka sistem Renard, tetapi ia juga bisa membuka semua rahasia Momo tanpa izin. Renard mengurungnya dengan pintu dan pengawal. Sen mengurungnya dengan informasi. Keduanya berbahaya. Maka jika Momo ingin keluar hidup-hidup, ia harus memakai kakinya sendiri.
Selama tiga hari terakhir, ia menghitung.
Pukul dua lewat sepuluh, pengawal di koridor timur berganti. Pukul dua lewat dua puluh, kamera di dekat ruang musik berputar ke arah jendela taman selama tujuh belas detik sebelum kembali ke koridor. Pukul dua lewat tiga puluh, pelayan malam turun ke dapur servis. Pintu kecil dekat tangga belakang tidak berbunyi jika dibuka pelan.
Momo mencatat semuanya di kepala.
Malam itu ia menunggu sampai Pulau Raja tenggelam dalam sunyi. Dari kamar sebelah, tidak ada suara Renard. Tidak ada musik klasik. Tidak ada pecahan kaca. Hanya keheningan yang membuat pintu penghubung terasa seperti sesuatu yang bernapas di gelap.
Momo duduk di tepi ranjang, menggenggam jepit rambut.
Jepit itu ia curi dari meja rias sejak hari kedua. Ujungnya sudah ia bengkokkan dengan kuku sampai hampir patah. Ama pernah mengajarinya membuka pintu toko yang macet dengan jepit rambut, sambil tertawa dan berkata, "Cucu Ama harus bisa pulang walau pintu ngambek."
Kali ini bukan pintu yang ngambek.
Ini penjara.
Momo menyelipkan jepit ke lubang kunci pintu kamar. Tangannya berkeringat. Ia menahan napas, menggerakkan ujung logam pelan-pelan. Sekali. Dua kali. Bunyi kecil terdengar.
Klik.
Jantungnya hampir keluar dari dada.
Ia menunggu tiga detik. Tidak ada alarm. Tidak ada langkah. Momo membuka pintu selebar tubuhnya lalu menyelinap keluar.
Koridor lantai tiga gelap, hanya lampu dinding yang menyala kuning redup. Kakinya telanjang supaya tidak berbunyi. Gelang Sakura di pergelangan tangannya terasa dingin. Ia sempat ingin menutupinya, tetapi untuk apa? Jika benda itu pelacak, Renard sudah tahu ia bergerak.
Tidak. Jangan berpikir begitu.
Ia turun lewat tangga belakang.
Pos jaga pertama kosong seperti dugaannya. Pos kedua hampir membuatnya tertangkap. Seorang pengawal berdiri lebih lama dari biasanya, menunduk memeriksa ponsel. Momo menempel di balik tirai panjang dekat ruang musik, menahan napas sampai paru-parunya sakit. Pengawal itu lewat begitu dekat hingga aroma rokok mint dari seragamnya menyentuh hidung Momo.
Ketika langkahnya menjauh, Momo berlari.
Udara luar menampar wajahnya dengan bau garam. Langit malam gelap tanpa bulan. Pulau Raja, yang siang hari tampak seperti lukisan mahal, malam itu berubah menjadi tubuh raksasa yang penuh bayangan. Momo melewati taman, menunduk di balik pagar tanaman, lalu bergerak ke arah dermaga timur.
Speedboat putih itu ada di sana.
Dua pengawal di dekat dermaga tidak terlihat.
Momo hampir menangis karena lega.
Ia berlari ke boat, naik dengan kaki gemetar, lalu mencari kunci. Di dashboard tidak ada. Di kotak penyimpanan tidak ada. Ia membuka laci kecil, hanya menemukan pelampung lipat dan senter. Mesin speedboat membutuhkan kartu kunci elektronik.
"Sial," bisiknya.
Waktu menipis.
Ia menatap laut.
Gelap. Dingin. Luas. Tetapi di balik laut ada daratan. Ada Semarang. Ada Ama. Ada kehidupan di mana tubuhnya bukan milik pria bermata amber. Momo menggigit bibir sampai sakit.
Ia mengambil pelampung lipat.
Lalu melompat.
Air laut menelan tubuhnya dengan dingin yang brutal. Napasnya terputus. Gaun tidur tipis yang ia pakai untuk malam itu langsung berat, menarik pahanya. Momo menendang, memeluk pelampung ke dada, dan mulai berenang menjauh dari dermaga.
Satu tarikan.
Dua tarikan.
Jangan lihat belakang.
Ombak memukul wajahnya. Garam masuk ke mulut. Ia batuk, hampir menelan air, lalu memaksa tubuhnya bergerak lagi. Punggungnya terasa terbuka, seolah seluruh pulau menatapnya.
Setelah sekitar dua ratus meter, alarm meraung.
Suara itu membelah malam.
Lampu sorot menyala satu per satu dari arah pulau, putih dan kejam. Momo menunduk di balik gelombang, tetapi cahaya bergerak seperti mata lapar di atas permukaan air.
"Di sana!"
Teriakan pengawal terdengar samar.
Momo berenang lebih keras. Lengannya mulai kaku. Kakinya terasa ditarik arus. Pelampung tidak cukup. Laut malam bukan kolam. Ia baru sadar betapa bodohnya ini, tetapi terlambat.
Lampu sorot menyapu wajahnya.
Momo membeku sepersekian detik.
Lalu suara Renard terdengar dari interkom seluruh pulau.
Datar. Rendah. Namun ada getaran kecil yang tidak pernah Momo dengar sebelumnya.
"Bawa dia kembali. Hidup-hidup."
Kata hidup-hidup menghantam dada Momo lebih keras daripada ombak.
Ia seharusnya merasa lega.
Namun yang muncul justru putus asa. Bahkan di laut gelap pun, bahkan setelah ia membuka kunci sendiri, melewati pengawal sendiri, menantang arus sendiri, suara pria itu masih bisa menjangkaunya.
Momo menendang air dengan sisa tenaga.
"Aku tidak akan kembali," bisiknya, tetapi laut menelan suaranya.
Lampu sorot makin dekat.
Di belakangnya, suara mesin boat menyala.
Air menutup telinganya.
Dalam satu detik, dunia menjadi hijau hitam. Momo menendang panik, tetapi gaun tidurnya menempel di paha seperti tangan basah. Garam masuk ke mulut. Ia menelan air, tersedak, lalu memaksa diri naik lagi.
Di atas, lampu dermaga bergetar. Alarm masih meraung. Suara pria berteriak saling tumpang tindih, tetapi semuanya terdengar jauh, seperti datang dari balik dinding kaca.
Momo melihat pelampung di kiri. Dekat. Terlalu dekat untuk menyerah.
Ia mengulurkan tangan.
Arus menariknya mundur.
"Tidak," gumamnya, tetapi laut menelan kata itu.
Dalam gelap, ia teringat Ama mengajarinya berenang di sungai kecil saat masih anak-anak. Jangan lawan arus dengan kepala panas. Miring. Ikuti sedikit, lalu potong pelan. Momo tidak pernah menyangka pelajaran murah dari masa kecil bisa menjadi satu-satunya benda yang ia bawa keluar dari istana Renard.
Ia memiringkan tubuh, menahan napas, lalu menendang lagi.
Di kejauhan, suara interkom Renard kembali hidup. "Matikan sisi timur. Tutup semua perahu."
Momo membeku sesaat.
Suaranya tidak berteriak. Justru itu yang membuatnya lebih mengerikan. Ia terdengar seperti pria yang sudah melihat semua peta di kepalanya, sudah tahu jalur mana yang akan dipilih Momo, dan hanya perlu menggerakkan satu jari untuk membuat laut menjadi pagar.
"Bawa dia kembali," kata Renard. "Jangan ada yang menyakitinya."
Momo ingin tertawa. Bahkan sekarang, di air dingin dengan paru-paru terbakar, ia masih bisa mendengar kata milikku di balik perintah itu. Jangan sakiti barangku. Jangan sentuh milikku. Jangan biarkan dia mati sebelum aku selesai memilikinya.
Namun ada bagian tubuhnya yang bereaksi pada nada itu.
Bukan patuh.
Bukan rela.
Sesuatu yang lebih memalukan: kesadaran bahwa di seluruh kekacauan ini, Renard sedang mencarinya dengan panik yang disamarkan sebagai kontrol.
Momo menggigit bibir sampai asin darah bercampur asin laut.
"Aku bukan milikmu," bisiknya kepada air.
Lalu lampu sorot menyapu permukaan.
Cahaya putih menghantam wajahnya. Momo menutup mata, tetapi terlambat. Dari dermaga, seseorang berteriak, "Di sana!"
Ia menyelam lagi. Gelang Sakura terasa berat di pergelangan, seperti pengingat bahwa bahkan ketika tubuhnya masuk laut, satu bagian dirinya masih terikat pada pria di pulau itu.
Tangannya menyentuh sesuatu.
Tali.
Momo menggenggamnya. Tali itu licin dan kasar, mungkin pengikat pelampung kecil yang terseret arus. Ia menarik diri, satu genggaman demi satu genggaman. Kuku-kukunya sakit. Bahunya seperti ditusuk. Tetapi pelampung itu akhirnya terlihat di depan mata, bundar dan kuning, bergoyang seperti janji yang hampir palsu.
Ia hampir mencapainya.
Di dermaga, langkah-langkah berlari makin dekat.
Momo mendengar Albert memberi perintah, suaranya tajam menembus alarm. "Tim barat ke bawah. Tim selatan tahan posisi. Jangan tembak ke air."
Jangan tembak.
Bahkan dalam pelarian, hidupnya masih diatur oleh kalimat orang lain.
Ia menoleh ke belakang dan melihat bayangan Renard di ujung dermaga atas. Mustahil jelas dari jarak sejauh itu, tetapi Momo tahu itu dia. Postur yang diam di tengah kekacauan, seperti pusat badai. Mantelnya berkibar. Lampu sorot memotong wajahnya sebentar, dan Momo melihat sesuatu yang membuat perutnya terbalik.
Takut.
Bukan takut kehilangan barang. Bukan hanya amarah pria yang hartanya dicuri. Ada retak kecil di sana, cepat sekali, tetapi Momo melihatnya karena seluruh tubuhnya sedang mencari celah untuk hidup.
Renard mengangkat radio. "Momo."
Namanya keluar dari pengeras suara kecil di dermaga, terdistorsi oleh angin.
"Pegang pelampung. Sekarang."
Ia hampir menurut.
Kemarahan menyelamatkannya.
Momo memaksa tangan kembali bergerak. "Jangan beri aku perintah bahkan dari jauh."
Air menghantam wajahnya. Arus memutar tubuhnya. Pelampung menjauh sedikit, lalu mendekat lagi, menggoda seperti pilihan yang tidak benar-benar bebas.
Di atas, Renard berkata, lebih rendah, "Kau boleh membenciku setelah naik."
Kalimat itu membuat dada Momo sakit dengan cara yang tidak pantas. Ia ingin naik karena ia ingin hidup, bukan karena pria itu memintanya. Ia ingin selamat tanpa berutang satu napas lagi kepada Renard.
Maka ia menendang lebih keras, bukan menuju suara Renard, tetapi menuju pelampung.
Pada saat terakhir sebelum arus memutarnya, Momo melihat Renard menuruni tangga dermaga dua anak tangga sekaligus.
Ia datang sendiri.
Kesadaran itu menusuk lebih tajam daripada dingin.
Lalu laut mengambilnya lagi.
Dan arus tiba-tiba menarik tubuh Momo ke samping, menjauh dari pelampung, menuju gelap yang lebih dalam.