NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Kehidupan terkadang memiliki cara yang kejam untuk menguji sebuah kebahagiaan. Di saat Kinanti sedang menikmati trimester pertama kehamilannya dengan penuh rasa syukur, sebuah kerikil tajam tanpa diduga terlempar ke dalam rumah tangga mereka, meretakkan ketenangan yang selama ini terjaga.

Siang itu, cuaca kota terasa cukup terik. Baskara baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis dengan seorang investor asing di sebuah restoran bergaya klasik Eropa di pusat kota. Setelah sang investor pamit, Baskara memilih untuk tetap duduk sebentar di mejanya, menikmati sisa kopi hitamnya sembari memeriksa beberapa laporan perkembangan pabrik beras melalui ponselnya.

Namun, ketenangannya terusik saat indra pendengarannya menangkap suara tawa yang teramat familier dari arah meja di sudut ruangan. Suara tawa yang renyah, bernada tinggi, dan pernah menjadi bagian dari masa mudanya belasan tahun yang lalu.

Baskara perlahan mendongak. Mata elangnya menatap lurus ke arah pintu masuk restoran. Di sana, seorang wanita dengan terusan gaun merah marun yang pas di tubuh, berambut gelombang sebahu, sedang melangkah masuk dengan anggun.

Valerie.

Jantung Baskara berdesir aneh. Nama itu seketika memanggil kembali memori masa kuliahnya dulu di ibu kota. Valerie adalah cinta pertamanya, wanita yang pernah ia puja dengan begitu gila sebelum ia mengenal pahitnya dikhianati oleh Chynthia. Perpisahan mereka dulu menyisakan luka yang menggantung,Valerie meninggalkannya begitu saja tanpa alasan, pergi ke luar negeri demi mengejar karier dan kehidupan yang lebih mewah, menyisakan Baskara yang patah hati dan berubah menjadi pria yang dingin.

Baskara mencoba mengabaikan pemandangan itu. Pria matang itu segera memalingkan wajahnya kembali ke layar ponsel, mencoba bersikap abai dan tidak peduli. Namun, ego seorang pria dan rasa penasaran yang terpendam selama belasan tahun tidak bisa berbohong. Sepasang mata elangnya sesekali tetap melirik secara halus, memperhatikan gerak-gerik wanita itu.

Valerie, yang memiliki intuisi tajam sebagai wanita kota, menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi. Ketika dia menoleh dan mendapati sosok tegap Baskara Dirgantara yang kini tampak jauh lebih matang, berwibawa, dan memancarkan aura kekayaan yang luar biasa, sepasang mata Valerie seketika berbinar licik. Dia tahu betul siapa Baskara sekarang seorang taipan pertanian yang sukses besar.

Valerie menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan taktik. Dia tahu dari tatapan Baskara bahwa pria itu belum sepenuhnya menghapus sisa-sisa rasa dari masa lalu. Valerie tidak peduli jika Baskara sudah menikah lagi baginya, moral bisa dikesampingkan jika taruhannya adalah pria sekelas Baskara. Jika bisa, dia akan merebut pria itu kembali ke pelukannya.

Dengan langkah yang disengaja agar tampak anggun, Valerie berjalan mendekati meja Baskara. "Baskara? Benar ini kamu?" ucapnya dengan nada suara yang dibuat terkejut dan bergetar lembut.

Baskara mendongak, menatap wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Valerie," jawab Baskara, suaranya terdengar datar namun ada nada berat yang tak bisa ia sembunyikan.

Pertemuan pertama di restoran itu ternyata menjadi pembuka pintu gerbang kesalahan yang fatal. Sejak hari itu, tanpa sepengetahuan keluarga ataupun pengacaranya, Baskara mulai diam-diam menemui Valerie di luar jam kantor.

Valerie adalah manipulatif yang cerdas. Dia tidak langsung bersikap agresif. Sebaliknya, setiap kali mereka bertemu di kafe-kafe tersembunyi, Valerie selalu memainkan peran sebagai wanita yang malang. Dia menjual kesedihan, menceritakan betapa menderitanya hidupnya di luar negeri, kegagalan hubungannya, dan bagaimana dia selalu menyesali keputusannya meninggalkan Baskara dulu.

"Dulu aku bodoh, Bas... aku terlalu muda dan egois," ucap Valerie suatu sore di sebuah kafe remang-remang, matanya berkaca-kaca buatan sembari menyentuh pelan punggung tangan Baskara. "Setiap hari aku dihantui rasa bersalah padamu. Melihatmu sudah sesukses ini, aku sadar betapa besarnya kehilangan yang harus kutanggung."

Umpan kesedihan dan sentuhan fisik itu perlahan tapi pasti mulai meracuni pikiran Baskara. Rasa kasihan dan sisa rasa penasaran masa lalu membuat benteng pertahanan pria dingin itu goyah. Tanpa ia sadari, fokusnya mulai terbagi.

Perubahan atmosfer itu pun perlahan mulai merembes masuk ke dalam kediaman Dirgantara.

Malam telah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Suasana di luar rumah utama sudah sangat sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dari arah taman samping. Kinanti duduk sendirian di tepi ranjang kamar utama. Sebuah buku tebal panduan nutrisi dan kesehatan ibu hamil terletak pasrah di atas pangkuannya, namun matanya sama sekali tidak terfokus pada deretan huruf di sana. Jam dinding terus berdetak konstan, memotong sunyinya malam, namun sisi kasur di sebelahnya masih kosong melompong dan terasa dingin.

Ini sudah malam ketiga dalam minggu ini Baskara pulang larut malam, melanggar janjinya sendiri yang dulu selalu ingin berada di rumah sebelum jam makan malam dimulai.

Suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di lobi bawah, memecah keheningan. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang berat menaiki anak tangga kayu. Pintu kamar utama terbuka perlahan, menampilkan sosok Baskara yang tampak lelah dengan kemeja yang kusut dan dasi yang sudah dilonggarkan separuh. Namun, ada sesuatu yang hilang malam ini. Tidak ada lagi langkah terburu-buru yang penuh kepanikan posesif seperti biasanya. Tidak ada lagi pelukan erat yang langsung mendarat di pinggang Kinanti, dan tidak ada lagi kecupan dalam di perutnya untuk menyapa calon bayi mereka.

"Mas... baru pulang? Mau aku ambilkan air hangat untuk mandi?" tanya Kinanti dengan nada suara yang teramat lembut, mencoba menyembunyikan rasa perih dan cemas yang mulai menggerogoti dadanya. Dia meletakkan bukunya di atas nakas, bersiap untuk berdiri dari tempat tidur.

"Tidur saja, Kinanti. Tidak usah bangun," sahut Baskara singkat, nadanya terdengar datar, lelah, dan dingin. Sangat kontras dengan kehangatan membara yang dia berikan beberapa minggu yang lalu saat pertama kali mendengar kabar kehamilan istrinya. Pria itu bahkan tidak menatap langsung ke dalam mata jernih Kinanti,dia langsung melangkah lurus menuju kamar mandi dan menutup pintunya, meninggalkan keheningan yang mencekik di dalam kamar.

Kinanti tertegun di tepi ranjang, tubuhnya mendadak terasa kaku. Air mata perlahan menggenang di sudut matanya namun sekuat tenaga dia tahan agar tidak luruh. Perhatian Baskara tidak seintens dulu lagi. Beberapa hari terakhir ini, Baskara mulai jarang berada di rumah dengan alasan klasik yang selalu sama,sibuk mengurus sengketa pembebasan lahan baru untuk perluasan gudang beras di kota sebelah yang rumit.

Bahkan saat sarapan pagi, atmosfer hangat yang dulu selalu dipenuhi godaan manja Baskara kini telah lenyap. Mata elang pria itu sekarang lebih sering tertuju pada layar ponselnya yang diletakkan tertelungkup, mengetik pesan dengan cepat, ketimbang mengusap perut Kinanti yang kini mulai sedikit membuncit menunjukkan tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Baskara menjadi sosok yang jauh, seolah ada dinding kaca tebal tak kasat mata yang sengaja dia bentangkan di antara dirinya dan Kinanti.

Kinanti perlahan menurunkan tangan kecilnya, menyentuh lembut perutnya sendiri yang terasa hangat dengan perasaan waswas dan ketakutan yang mendalam. Insting seorang istri dan seorang ibu tidak pernah berbohong, ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan oleh Baskara di luar sana. Sinar matahari kebahagiaan yang kemarin menyinari rumah besar itu dengan penuh suka cita, kini mulai perlahan tertutup oleh awan mendung pekat yang dibawa oleh kedatangan kembali bayang-bayang masa lalu sang tuan. Badai baru yang jauh lebih tak kasat mata namun merusak dari dalam, telah resmi dimulai di kehidupan mereka.

Aroma minyak kayu putih dan teh chamomile yang biasanya menenangkan di dalam kamar utama, kini terasa hambar bagi Kinanti. Usia kehamilannya kini telah menginjak bulan keempat, dan perutnya sudah terlihat membuncit dengan jelas di balik daster katun longgar yang ia kenakan. Secara fisik, bayinya tumbuh dengan sehat, namun secara batin, Kinanti merasa seperti sedang perlahan-lahan mati kesepian di dalam rumah mewah yang megah ini.

Pagi itu, Baskara sudah berangkat terburu-buru sejak pukul enam subuh dengan alasan ada rapat mendadak dengan jajaran direksi dari ibu kota. Pria itu bahkan tidak sempat mengecap kopi buatan Kinanti, hanya memberikan kecupan kilat di kening istrinya tanpa sepatah kata pun, lalu melangkah pergi dengan aura dingin yang kian hari kian pekat.

Saat sedang merapikan jas cadangan Baskara di dalam lemari besar, Kinanti tidak sengaja menjatuhkan selembar kertas kecil dari saku celana kerja Baskara yang hendak dicuci. Kinanti membungkuk, mengambil kertas tersebut. Itu adalah sebuah nota pembayaran dari sebuah butik perhiasan mewah di pusat kota, tertanggal dua hari yang lalu.

Jantung Kinanti seketika berdegup kencang saat melihat rincian barang yang dibeli,Satu buah gelang emas putih dengan mata berlian.

Kinanti tertegun. Ujung jemarinya gemetar memegangi kertas kecil itu. Dua hari yang lalu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang tertunda, dan Baskara pulang jam satu malam tanpa membawa apa pun, bahkan lupa mengucapkan selamat. Kinanti melihat ke arah pergelangan tangannya sendiri yang polos. Gelang itu jelas bukan untuknya. Lalu, untuk siapa perhiasan mewah seharga puluhan juta itu dibeli?

"Tante Kinan?"

Suara panggilan pelan dari arah pintu kamar mengejutkan Kinanti. Dia buru-buru melipat nota tersebut dan menyembunyikannya di dalam saku dasternya, lalu berbalik sembari memaksakan sebuah senyuman.

Natasha berdiri di ambang pintu dengan seragam sekolahnya, memegang segelas susu hamil hangat. Wajah remaja itu tidak lagi ketus seperti dulu,tatapannya kini dipenuhi oleh rasa cemas yang teramat nyata. Natasha melangkah masuk, menyerahkan gelas susu itu kepada Kinanti.

"Tante... minumlah dulu. Tante belum makan apa-apa sejak pagi," ucap Natasha lembut, lalu duduk di tepi ranjang. Dia menatap wajah Kinanti yang tampak lebih tirus dan matanya yang sembap. "Tante... aku tahu aku masih remaja dan mungkin tidak paham urusan orang dewasa. Tapi... apakah Tante sedang bertengkar dengan Papi?"

Kinanti menghela napas pendek, mencoba tersenyum tegar demi menenangkan anak tirinya. Dia mengusap kepala Natasha dengan penuh kasih sayang. "Tidak kok, Natasha. Papi hanya sedang sangat sibuk akhir-akhir ini karena proyek perluasan lahan di luar kota. Tante tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan karena bawaan bayi."

Natasha mendengus pelan, sepasang mata remajanya berkilat marah. "Papi keterlaluan! Sibuk apa sampai hampir setiap hari pulang jam satu malam? Bahkan kemarin hari Minggu pun Papi pergi seharian. Dulu, waktu mami Chynthia masih ada, Papi memang dingin, tapi tidak pernah se-abai ini pada rumah. Sekarang, saat Tante sedang hamil adiku, Papi malah seperti orang asing yang menumpang tidur saja!"

Kata-kata jujur dari Natasha bak sembilu yang menyayat hati Kinanti. Jika anak remaja seperti Natasha saja bisa melihat perubahan drastis itu, artinya situasi ini sudah tidak bisa lagi ditutupi dengan alasan 'sibuk kerja'. Namun, demi keutuhan keluarga dan janin di dalam perutnya, Kinanti memilih untuk tetap diam dan menelan kepahitannya sendiri.

Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah apartemen mewah bertarif sewa fantastis yang seluruh biayanya diam-diam ditanggung oleh rekening pribadi Baskara, atmosfernya teramat kontras.

Valerie sedang duduk di atas sofa beludru mewah, mengenakan jubah tidur sutra tipis. Di pergelangan tangan kirinya, melingkar dengan indah gelang emas putih bermata berlian hadiah yang dibeli Baskara dua hari lalu. Di sampingnya, Baskara duduk bersandar dengan kemeja yang kancing atasnya terbuka, wajahnya tampak dipenuhi beban pikiran yang berat.

"Bas... terima kasih ya untuk gelangnya. Ini indah sekali," bisik Valerie dengan nada suara yang teramat manja, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Baskara. Jemari lentiknya yang mengenakan cat kuku merah mulai mengusap dada pria itu dengan gerakan perlahan yang merangsang. "Tapi... aku merasa bersalah, Bas. Aku tahu kamu punya istri di rumah. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tanggamu. Lebih baik aku pergi saja lagi ke luar negeri, menghilang dari hidupmu, daripada aku terus merepotkanmu dan menjadi beban seperti ini..."

Umpan manipulasi 'ingin pergi' dan 'menjual kesedihan' itu dikeluarkan Valerie dengan akting yang teramat sempurna. Dia tahu betul psikologi Baskara,pria seperti Baskara memiliki hero complex yang tinggi, dia tidak akan membiarkan wanita yang pernah dicintainya telantar di jalanan, apalagi setelah Valerie menceritakan semua kebohongan tentang bagaimana mantan suaminya dulu menyiksanya.

Mendengar kata 'pergi', cengkeraman rahang Baskara seketika mengeras. Rasa bersalah masa lalu dan ego pria dewasanya kembali terpicu. Baskara meraih pundak Valerie, menatap wanita itu dengan tatapan posesifnya yang khas. "Sudah kubilang, jangan pernah bicara tentang pergi lagi, Val. Kamu tidak merepotkanku. Tinggallah di apartemen ini dengan tenang, seluruh kebutuhanmu sudah kuurus. Jangan pikirkan hal lain."

Valerie tersenyum penuh kemenangan di dalam pelukan Baskara yang menyembunyikan wajahnya. Umpannya termakan total. Baskara Dirgantara yang ditakuti di dunia bisnis, kini berada di dalam genggaman tangannya, perlahan-lahan mulai melupakan jalan pulang ke rumah utamanya.

Malam kembali merayap, membawa hawa dingin dan kegelapan yang kian mencekam. Jam dinding di kamar utama kediaman Dirgantara telah menunjukkan pukul dua dini hari.

Kinanti terbangun karena rasa kram yang tiba-tiba menyerang kaki dan perut bagian bawahnya. Dia melenguh rendah, meraba sisi kasur di sebelahnya. Masih kosong. Baskara belum pulang.

Dengan bersusah payah dan menahan rasa sakit di perutnya, Kinanti turun dari ranjang, berniat ke dapur bawah untuk mengambil air hangat. Namun, saat dia baru saja melangkah keluar dari kamar dan sampai di balkon lantai dua yang menghadap ke arah lobi utama, pintu depan rumah terbuka.

Baskara melangkah masuk. Langkah kakinya tampak agak gontai karena kelelahan, jas kerjanya disampirkan di lengan.

Kinanti menatap suaminya dari atas balkon dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas..." panggil Kinanti pelan, suaranya memecah keheningan malam yang sunyi.

Baskara mendongak. Mata elangnya menatap Kinanti yang berdiri di atas sana dengan wajah pucat dan tangan yang memegangi perutnya yang membuncit. Sesaat, ada kilat rasa bersalah dan kepanikan yang melintas di mata pria itu saat melihat kondisi istrinya. Baskara dengan cepat melangkah menaiki anak tangga, mendekati Kinanti.

"Kenapa belum tidur ? Ini sudah jam dua malam. Kondisimu sedang hamil, jangan bertingkah bodoh dengan berdiri di udara dingin seperti ini," tegur Baskara. Niat awalnya ingin memperingatkan karena khawatir, namun karena pikirannya yang sedang kacau akibat manipulasi Valerie, nada suaranya terdengar ketus dan membentak.

Air mata yang sejak pagi ditahan Kinanti akhirnya luruh juga membasahi pipinya. Rasa sakit di perutnya berpadu sempurna dengan rasa sakit di hatinya. Kinanti melangkah mundur satu langkah, menghindari tangan Baskara yang hendak menyentuh pundaknya.

"Mas dari mana?" tanya Kinanti, suaranya bergetar hebat namun ada nada ketegasan yang jarang dia tunjukkan. "Dua hari lalu Mas beli gelang berlian mewah di butik pusat kota. Hari ini pulang jam dua malam dengan aroma parfum wanita yang sangat menyengat di kerah kemejamu. Tolong jujur padaku, Mas... Siapa wanita di luar sana yang sedang Mas temui dibelakangku dan anak kita?"

Baskara seketika terpaku di tempatnya berdiri. Rahangnya mengeras, dan tatapan mata elangnya menggelap sempurna. Rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat, kini telah robek di hadapan istri kecilnya, menyisakan ketegangan yang teramat pekat di antara mereka di atas anak tangga rumah yang mulai retak keharmonisannya. Badai konflik telah resmi pecah, dan ketenangan keluarga Dirgantara telah hancur tak bersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!