NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006

Rahasia

Malam itu, setelah Darren akhirnya tertidur dengan buku matematika terbuka di dadanya, Seline keluar dari kamar tanpa menyalakan lampu.

Ia tidak pergi jauh. Hanya melewati pintu kaca kecil yang mengarah ke taman samping, lalu berhenti di bawah pohon kamboja yang bunganya jatuh satu-satu ke rumput basah. Udara Jakarta setelah hujan terasa lebih dingin daripada sore, membawa bau tanah dan daun. Dari kejauhan, rumah utama masih menyala, tetapi bagian belakang jauh lebih sunyi.

Seline tahu Bi Zheng sudah mengingatkan agar tidak keluar malam-malam. Namun kamar itu terlalu sempit untuk pikirannya.

Darren akan mengikuti tes dalam dua hari. Om Richard sudah membantu. Jason juga menawarkan diri mengantar. Seharusnya Seline merasa lebih lega.

Tetapi semakin banyak orang baik muncul di rumah ini, semakin jelas pula satu kenyataan yang menekan dadanya. Semua kebaikan itu bisa ditarik kapan saja karena ia tidak punya akar di sini.

Ia mengeluarkan liontin giok dari balik bajunya.

Benda itu tidak sebesar gelang pemberian Oma. Bentuknya lebih sederhana, permukaannya sudah tidak mulus, talinya pernah putus dan disambung sendiri dengan benang hitam. Di bawah cahaya lampu taman, ukiran kecil di bagian belakang terlihat samar.

Seline mengusapnya dengan ibu jari.

Ia sudah membawa liontin itu sejak kecil. Ibu angkatnya pernah berkata benda itu ditemukan bersama Seline saat ia pertama kali dibawa pulang. Namun cerita tentang bagaimana ia sampai di rumah kecil mereka di Surabaya selalu berubah-ubah.

Kadang ibu bilang Seline anak kerabat jauh yang orang tuanya meninggal. Kadang ayah angkatnya, ketika masih hidup dan belum terlalu sering batuk darah, hanya berkata, "Yang penting kamu anak kami sekarang."

Seline percaya. Anak kecil memang mudah percaya pada orang yang memberinya makan, memandikan, dan memeluk saat demam.

Sampai malam itu, ketika ia berusia delapan tahun.

Rumah kontrakan mereka di Surabaya waktu itu berdinding tipis. Dari ruang tengah, suara orang dewasa mudah merembes ke kamar. Seline kecil seharusnya tidur, tetapi ia terbangun karena haus. Saat hendak membuka pintu, ia mendengar suara ibu angkatnya menangis tertahan.

"Kita tidak bisa terus menyembunyikan ini," kata ibu.

Suara ayah angkatnya terdengar lebih kasar karena sakit dan rokok. "Mau bagaimana lagi? Orang yang menjual anak itu sudah tidak bisa dicari. Kalau kita lapor, kita juga kena."

Menjual anak.

Seline kecil berdiri membeku di balik pintu.

"Dia bukan barang," bisik ibu, suaranya pecah.

"Aku tahu." Ayah batuk panjang. "Tapi kita membelinya. Itu kenyataannya."

Kata itu tidak pernah meninggalkan Seline.

Membeli.

Selama bertahun-tahun setelahnya, setiap kali ibu angkatnya menyisir rambutnya, setiap kali ayah memanggilnya anakku, setiap kali tetangga berkata wajahnya tidak mirip siapa pun di rumah itu, kata yang sama selalu muncul dari sudut gelap ingatan.

Kalau aku dibeli, berarti ada orang yang dulu menjualku.

Kalau ada yang menjualku, apakah ada juga orang yang kehilangan aku?

Pertanyaan itu terlalu besar untuk anak delapan tahun. Maka Seline menguburnya. Ia belajar memasak nasi, membantu ibu mencuci, menjaga Darren saat bayi itu menangis sepanjang malam, dan menjadi anak yang tidak banyak meminta.

Darren bukan saudara darahnya. Ia tahu itu sejak awal. Darren anak kandung orang tua angkatnya, lahir ketika Seline sudah hampir sembilan tahun. Tetapi justru karena itulah Seline memegangnya erat. Kalau ia tidak punya asal, setidaknya ia punya seseorang yang memanggilnya Kakak tanpa ragu.

Ketika ayah angkatnya meninggal, rumah kecil itu kehilangan suara kasar yang tetap melindungi. Ketika ibu angkatnya jatuh sakit bertahun-tahun kemudian, Seline menjual hampir semua barang yang masih layak dijual. Ia menggambar sampai mata perih untuk membayar obat. Darren belajar di lantai rumah sakit sambil menunggu.

Pada malam terakhir, ibu angkatnya menggenggam tangan Seline dengan tenaga yang hampir habis.

"Maafkan Ibu," bisiknya.

Seline menggeleng cepat, air mata jatuh ke seprai. "Jangan bicara begitu."

"Ibu egois. Ibu takut kehilangan kamu, jadi Ibu diam."

"Ibu tetap ibu Seline."

Wanita itu menangis tanpa suara. Tangannya yang kurus meraba dada Seline, mencari liontin giok yang tergantung di sana.

"Kalau suatu hari Ibu sudah tidak ada, bawa Darren pergi ke Jakarta."

"Ke Jakarta?"

"Cari Felicia Chen. Dia pernah kenal seseorang yang bisa membantu." Napas ibu tersengal. "Tapi keluarga aslimu... mungkin juga di sana."

Seline tidak mengerti. Ia mencondongkan tubuh, berharap masih ada kalimat lain.

Ibu angkatnya menatapnya lama, seperti ingin menghafal wajah yang selama ini ia pinjam dari nasib.

"Rumahmu di Jakarta, Nak."

Itu kalimat terakhir yang jelas.

Beberapa hari setelah pemakaman, Seline menemukan nomor lama Tante Chen di buku catatan ibu. Ia menelepon berkali-kali sampai akhirnya tersambung. Tante Chen terdengar terkejut, lalu mengatakan hal yang membuat Seline mengemasi hidupnya dalam dua koper.

Datang saja ke Jakarta. Kita bicarakan di sini.

Sekarang ia benar-benar di Jakarta. Di taman rumah Hartono. Mengenakan gelang pemberian Oma Mei di satu tangan dan memegang liontin masa lalu di tangan lain.

"Kak?"

Seline menoleh cepat.

Darren berdiri di ambang pintu kaca, rambutnya berantakan, wajahnya masih setengah mengantuk.

"Kenapa bangun?"

"Kakak nggak ada." Ia melangkah mendekat, lalu melihat liontin di tangan Seline. "Kakak mikirin Ibu lagi?"

Seline menutup liontin itu dengan telapak tangan. "Sedikit."

Darren diam sebentar, lalu berdiri di sebelahnya. Bahunya masih kecil, tapi ia berusaha terlihat kuat.

"Kalau aku lulus tes, Kakak nggak perlu khawatir soal aku lagi."

Seline menatapnya. "Kakak akan selalu khawatir soal kamu. Itu tugas Kakak."

"Kalau begitu nanti aku harus cepat besar, biar bisa khawatir soal Kakak juga."

Kalimat polos itu menekan dada Seline lebih dalam daripada semua hinaan Vivian. Ia mengusap kepala Darren, lalu mendorongnya pelan ke arah kamar.

"Masuk. Besok kamu harus belajar."

"Kakak ikut?"

"Sebentar lagi."

Darren menatapnya ragu, tetapi akhirnya masuk lebih dulu.

Setelah pintu kaca tertutup, Seline kembali menunduk pada liontin. Ia menggosok bagian belakangnya dengan ujung kuku, mencoba membaca ukiran yang hampir hilang dimakan waktu. Selama ini ia mengira itu hanya garis rusak. Tetapi di bawah lampu taman, tiga bagian huruf tampak lebih jelas daripada biasanya.

Wi.

Ja.

Ya.

Nama itu bukan bunyi asing. Seline pernah melihatnya di koran bekas yang dipakai ibu angkatnya untuk membungkus sayur, pernah mendengarnya sekilas di televisi saat berita bisnis Jakarta menayangkan keluarga besar dengan rumah, kantor, dan acara amal yang tidak pernah bersentuhan dengan hidupnya. Dulu ia tidak peduli. Nama orang kaya di layar kaca tidak ada hubungannya dengan anak perempuan yang menghitung uang obat di Surabaya.

Namun sekarang nama itu berada di kulit giok yang sejak kecil menempel di dadanya.

Tangan Seline gemetar. Ia cepat menutup liontin itu ketika suara langkah satpam terdengar jauh di jalur taman, lalu menunggu sampai suara itu hilang. Jantungnya memukul terlalu keras untuk malam yang seharusnya sunyi.

Seline menahan napas.

Ukiran itu sudah kabur, tapi ia ingat bunyi tiga suku kata yang pernah dibisikkan ibu angkatnya ketika demam.

Wijaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!