Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab²⁵
Ruangan kerja Kakek Guntur mendadak terasa sunyi. Naura membuka map berwarna cokelat itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Alaska tetap berdiri di sampingnya, sementara Kakek Guntur duduk dengan wajah serius.
Beberapa lembar dokumen memenuhi isi map tersebut. Ada salinan hasil tes DNA bertahun-tahun lalu, laporan laboratorium, hingga hasil investigasi dari tim internal keluarga Ardynata.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kek?" tanya Naura pelan.
Kakek Guntur mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. "Semula Kakek juga mengira semua itu murni kesalahan administrasi. Namun setelah tim kita menyelidikinya kembali, ada terlalu banyak kejanggalan."
"Janggal bagaimana?" Alaska ikut bertanya.
"Petugas laboratorium yang menangani sampel saat itu mendadak mengundurkan diri dua hari setelah hasil keluar. Anehnya, seluruh data digital pemeriksaan juga ikut terhapus. Bahkan arsip cadangannya pun hilang."
Naura mengernyit.
"Itu bukan kebetulan."
Kakek Guntur mengangguk pelan.
"Tim kita akhirnya berhasil menemukan salah satu mantan teknisi laboratorium yang dulu bekerja di sana. Dia mengaku pernah melihat seseorang memberikan amplop kepada petugas yang menangani pemeriksaan."
Jantung Naura berdetak lebih cepat.
"Siapa orang itu?"
"Kami belum mengetahui identitasnya. CCTV sudah tidak ada karena kejadian itu berlangsung lebih dari delapan tahun lalu."
Naura menundukkan kepala. Perasaan marah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Berarti... selama ini memang ada orang yang sengaja memisahkanku dari keluarga."
"Tidak bisa dipastikan seratus persen," ujar Alaska dengan tenang. "Tapi semua petunjuk mengarah ke sana."
Kakek Guntur menatap cucunya penuh penyesalan. "Kalau saja Kakek lebih teliti waktu itu... kamu tidak perlu menjalani hidup yang begitu berat."
Naura menggeleng pelan.
"Kakek jangan menyalahkan diri sendiri. Orang yang paling bersalah adalah siapa pun yang merencanakan semua ini."
Tatapan wanita itu perlahan berubah tajam. "Aku ingin tahu siapa pelakunya."
Alaska menatap dokumen di tangan Naura beberapa saat sebelum kembali berbicara. "Kalau seseorang berani memalsukan hasil DNA keluarga sebesar Ardynata, berarti motifnya bukan sekadar iseng. Ada kepentingan besar di balik semua ini."
Kakek Guntur mengangguk setuju. "Itulah sebabnya... penyelidikan ini akan kita lanjutkan secara diam-diam. Kakek tidak ingin pelakunya menyadari kalau kita sudah mulai menemukan jejaknya."
"Kalau memang ada orang yang mencuri delapan tahun hidupku... aku tidak akan membiarkannya lolos." Naura mengepalkan tangan.
Malam harinya, mansion keluarga Ardynata kembali dipenuhi suasana hangat.
Laura dan Lionel sedang bermain permainan papan bersama Bik Ela di ruang keluarga. Gelak tawa keduanya sesekali terdengar hingga ke taman belakang.
Naura duduk di teras sambil menikmati secangkir teh hangat. Angin malam berembus lembut, sedikit meredakan kepenatan setelah seharian bekerja.
Tak lama kemudian, Alaska datang membawa dua cangkir. "Kupikir kamu masih belum ada minuman."
"Kamu membawa dua minuman?" Naura menatap pria itu heran.
"Kali ini cokelat panas." Alaska meletakkan cangkir lain di atas meja. "Aku sudah belajar, kalau membawa minuman sehat terus... nanti ada pasien yang protes lagi padaku."
Naura langsung tertawa. "Nah, begini lebih masuk akal."
"Aku berkembang."
"Lumayan, sedikit." Naura terkekeh.
Alaska ikut tersenyum tipis. "Kemajuan sekecil apa pun, tetap lah kemajuan."
Naura mengangguk sambil menyesap cokelat hangat itu. "Terima kasih."
"Yang ini bukan hadiah."
"Syukurlah."
"Karena hadiahku selalu ditolak."
Naura terkekeh pelan. "Bukan ditolak, aku cuma trauma."
"Trauma oatmeal?"
"Dan granola."
Alaska akhirnya tertawa.
Suasana kembali hening beberapa saat. Namun kali ini bukan keheningan yang canggung, melainkan nyaman.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Alaska.
Naura memandang langit malam. "Aku hanya sedang membayangkan... bagaimana hidupku kalau dulu hasil DNA itu tidak pernah dipalsukan."
"Mungkin akan berbeda, tapi belum tentu lebih bahagia. Kalau semua itu nggak terjadi, mungkin kamu memang tumbuh bersama keluarga Ardynata. Tapi Laura dan Lionel juga belum tentu lahir ke dunia."
Naura terdiam tersenyum. "Kau benar juga."
“Kadang hidup memang mengambil sesuatu, lalu menggantinya dengan yang lain. Dan menurutku... Laura dan Lionel adalah hadiah terbaik yang kamu dapatkan."
"Terima kasih." Tatapan Naura perlahan melembut.
“Jangan selalu bersikap formal denganku dan berterima kasih. Aku tak berusaha menghiburmu, karena itu memang kenyataannya."
Naura tersenyum kecil, ia tak ingin lagi sibuk meratapi masa lalu. Kini, yang ingin ia lakukan hanyalah menjaga orang-orang yang begitu berharga dalam hidupnya.
____
Di tempat lain, Tania menatap layar ponselnya dengan sorot mata tajam. Sebuah pesan baru saja masuk dari seseorang yang selama ini menjadi mata dan telinganya.
>Keluarga Ardynata mulai membuka kembali kasus DNA lama, hati-hati.
"Jadi... mereka akhirnya mulai menyelidikinya." Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar.
Tania menghapus pesan itu tanpa ragu, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Untuk sesaat, tatapannya menerawang ke depan.
"Enggak... aku nggak boleh panik. Selama bertahun-tahun, Ibu dan aku sudah bersusah payah mempertahankan semua ini. Kami mengorbankan terlalu banyak hal agar Naura tidak pernah kembali ke keluarga Ardynata. Aku gak akan biarkan semua usaha kami sia-sia hanya karena mereka mulai menemukan beberapa petunjuk." Ia mengepalkan ponselnya erat hingga buku-buku jarinya memutih, nada suaranya berubah semakin dingin.
Senyumnya kembali terukir, tetapi kali ini dipenuhi ambisi. "Naura... kau boleh mendapatkan kembali keluargamu untuk sementara. Tapi aku akan memastikan semuanya kembali menjadi milikku. Kalau penyelidikan itu semakin dekat pada kebenaran... berarti aku harus bergerak lebih dulu."
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂