Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Konfrontasi di Alun-Alun
Elena tidak sempat berpikir panjang. Naluri yang sama yang mendorongnya menghadapi Rourke di gerbang ranch-nya kini kembali membakar dadanya. Sebelum Whitlock sempat menahannya, ia telah melompat keluar dari balik tumpukan peti kayu.
"Grimes!" teriaknya lantang, suaranya menggema di alun-alun yang mendadak hening. "Turunkan tanganmu!"
Semua mata—penjaga, tawanan, dan Grimes sendiri—beralih ke arahnya. Sosok mewah di balkon itu menyipitkan mata, kekuatan gelap di telapaknya masih berdenyut namun tertahan, seolah rasa penasaran mengalahkan sesaat niatnya untuk menghukum.
"Siapa kau?" serunya, nada suaranya campuran hina dan waspada. Matanya menangkap kilau samar dari kotak cahaya di sudut penglihatan Elena, dan sesuatu berubah di wajahnya—pengenalan yang dingin. "Ah. Kau pasti wanita dari utara yang mereka bicarakan. Nyonya Cross, bukan? Penjaga Rocking Spur."
"Bebaskan orang-orang itu," kata Elena tegas, melangkah maju meski Whitlock dan Cassius kini keluar dari persembunyian di sisinya, senjata siaga namun belum terangkat penuh. "Apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak pantas dihukum dengan kekuatan seperti itu."
Grimes tertawa pendek, suara yang dingin dan tanpa kehangatan sama sekali. "Kekuatan seperti apa, Nyonya Cross? Kau pikir aku tidak tahu kau punya kekuatan yang sama persis denganku? Bedanya, aku tahu cara menggunakannya untuk benar-benar membangun sesuatu—tatanan, ketertiban, sebuah kerajaan yang bertahan di tengah dunia yang runtuh. Sementara kau apa? Bermain-main jadi ibu baik hati untuk gerombolan pengungsi yang tidak berguna?"
"Aku membangun rumah," balas Elena, suaranya bergetar menahan amarah namun tetap terkendali. "Bukan penjara."
Grimes melangkah maju ke tepi balkon, matanya kini penuh perhitungan dingin. "Kau tahu, aku penasaran sejak mendengar tentangmu. Fragmen macam apa yang kau punya, sampai bisa mengalahkan pasukan Rourke, bahkan katanya menyelamatkan seluruh pasukan Fase Tiga di utara. Mungkin, kalau aku menggabungkan fragmenmu dengan milikku..."
Kotak cahaya Elena berdenyut cepat, seolah merasakan ancaman yang tersirat dalam kata-kata itu. Di saat yang sama, salah satu tawanan—seorang wanita muda dengan anak kecil menempel di roknya—memberanikan diri berbisik pada penjaga terdekat, memohon belas kasihan.
Penjaga itu, alih-alih merespons dengan kekerasan, justru tampak ragu, matanya melirik gelisah ke arah Grimes seolah menunggu perintah lebih lanjut.
"Grimes," Elena mencoba lagi, mengingat kata-kata kesadaran Prometheus tentang niat yang bisa terkorupsi namun mungkin juga disadarkan. "Aku tahu dunia ini kejam. Aku tahu betapa mudahnya rasa takut membuat kita ingin mengendalikan segalanya demi merasa aman. Tapi kekuatan yang kita punya ini bukan untuk itu. Ia meresonansi dengan niat melindungi—bukan menguasai. Kalau kau terus memaksanya untuk hal yang salah, cepat atau lambat itu akan menghancurkanmu sendiri."
Untuk sesaat, sesuatu berkelebat di mata Grimes—keraguan, mungkin, atau ingatan samar tentang siapa dirinya sebelum dunia berubah. Namun ekspresi itu cepat tergantikan oleh senyum sinis yang dingin.
"Nasihat yang manis, Nyonya Cross," katanya, "dari seseorang yang jelas tidak mengerti apa yang dibutuhkan untuk benar-benar bertahan hidup di dunia baru ini. Penjaga!" serunya tiba-tiba, suaranya berubah tajam memerintah. "Tangkap mereka. Fragmen milik wanita ini akan jadi tambahan yang berharga untuk perbendaharaanku."
Alun-alun yang tadinya tegang kini pecah menjadi kekacauan. Penjaga-penjaga bersenjata canggih mulai bergerak maju, namun sebelum konfrontasi penuh meletus, Sarah—yang sejak tadi bersembunyi memantau situasi—muncul dari balik peti kayu lain, berteriak pada para tawanan.
"Sekarang! Lari ke arah gang timur, sekarang!"
Kekacauan yang tercipta dari teriakan itu memberi kesempatan bagi sebagian tawanan untuk melarikan diri, memecah perhatian penjaga yang bingung antara mengejar tawanan atau menangkap tim Elena. Whitlock, dengan gerakan cepat seorang mantan Marshal, menembak tepat ke kaki dua penjaga terdekat, melumpuhkan mereka tanpa membunuh.
"Elena, kita harus mundur!" seru Cassius, menangkis serangan seorang penjaga yang mendekat dengan pisau bayonet. "Terlalu banyak dari mereka!"
Namun Elena menatap ke arah Grimes yang masih berdiri di balkon, tangannya kini terangkat penuh, kekuatan gelap di telapaknya mulai membesar mengancam. Kotak cahaya Elena sendiri bereaksi liar, seolah merasakan konfrontasi langsung antara dua fragmen yang tak terhindarkan lagi.
"Pergi duluan, bawa yang lain keluar dari sini," kata Elena cepat pada Whitlock dan Sarah. "Aku akan hadapi Grimes. Ini harus diselesaikan sekarang, sebelum lebih banyak orang terluka."
"Elena, jangan gila—" mulai Whitlock, namun terlambat. Elena telah melangkah maju, berdiri tegak di tengah alun-alun yang kini setengah kosong, menatap lurus ke arah Grimes yang menyeringai dari balkonnya, kekuatan gelap di tangannya siap dilepaskan.
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!