Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 6
Hanan mengambil tempat duduk di seberang Rosa. Alarm di kepalanya otomatis memperingati agar menjauh dan menghindar hingga berdiri dia berdiri dengan cepat.
“Ke mana kamu pergi? Duduk dulu, Mel.” Rosa menahan lengan adiknya.
Langkah Amelia tertahan. Sejujurnya dia bisa saja menarik tangannya, tapi menyadari betapa rapuhnya kakaknya saat ini membuat gadis itu berpikir ulang. Perlahan Amelia menurunkan tangan kakaknya, tapi Rosa dengan cepat menambah tangan yang satunya untuk menahan adiknya itu.
“Aku hanya keluar sebentar, Mbak.”
“Tunggu dulu. Kita bertiga harus bicara.” Rosa memasang tatapan memohon, tapi itu tak cukup menggerakkan hati Amelia. “Sebentar saja. Aku janji.”
Amelia memilih mengalah dan kembali duduk di kursinya.
Rosa menurunkan tangannya dan menjadi lebih rileks, berbanding terbalik dengan Amelia yang mulai kehilangan ketenangannya. Apalagi sedari tadi Hanan terus diam membuat gadis itu kesulitan menebak apa yang sedang dipikirkannya. Namun, yang dia tahu pasti bukan sebuah perasaan menyenangkan.
“Mas, kamu sudah berjanji padaku untuk menerima Amelia sebagai istrimu nanti. Jangan mengingkarinya.”
Hanan tak langsung menjawab. Tangannya mendarat lembut di kepala istrinya itu tak lupa memberikan usapan lembut yang mengantarkan kenyamanan pada Rosa.
“Kamu benar-benar menginginkan ini?” Suara pria itu melembut seperti biasa. Tak seperti terakhir kali saat dia menolak permintaan istrinya dengan tegas.
Hanan tampak begitu tenang—tenang yang justru mengusik pikiran Amelia karena tak ada lagi emosi yang meledak-ledak untuknya. Tak ada lagi kata-kata kasar yang menyakitkan. Justru inilah yang membuat gadis itu gelisah sebab dia tak bisa mengira-ngira sejauh mana emosi Hanan dapat merugikannya.
Rosa mengangguk cepat dengan wajah serius. “Aku serius ingin Mas menikah dengan Amelia.”
Hanan menarik napas pelan lalu seulas senyum tipis terukir di bibir tebalnya. Hanya tertuju pada Rosa yang menjadi pusat dunianya saat ini.
“Baiklah, aku setuju. Jadi, berjanjilah untuk menjalani pengobatan dengan baik dan sembuh agar kita bisa mewujudkan semua impian besarmu.”
Amelia menyaksikan semuanya dengan pandangan kosong. Inilah yang akan menjadi pemandangan hariannya di masa depan. Posisinya adalah pajangan yang menjadi saksi cinta keduanya.
Tangannya terkepal erat di atas lutut. Mulutnya membisu—tak mampu mengucap satu kata pun. Walau perasaan itu menjengkelkan, tapi matanya tetap mengikuti gerak tangan Hanan yang begitu telaten memberi kenyamanan pada Rosa, mulai dari mengelus kepalanya, merapikan rambut, menaikkan selimut, hingga mencium puncak kepala Rosa dengan tenang. Semua gerakannya halus dan terukur, tak membiarkan sedikit pun ketidaknyamanan menyinggahi tubuh dan perasaan Rosa.
Amelia mengira-ngira kapan dia mati rasa hingga tak akan merasa perih setiap kali melihat interaksi keduanya. Atau setidaknya ... kapan Tuhan mencabut perasaan cintanya untuk orang yang tak akan bisa dia gapai.
“Keluar.”
Amelia tersentak oleh satu kalimat Hanan yang seperti dibaluri bunga es hingga membuat gadis itu menggigil. Dia tidak ada waktu untuk membantah karena kakinya sudah lebih dulu bereaksi dan berjalan meninggalkan ruangan Rosa. Dia masih berusaha menjaga langkahnya tanpa suara karena saat ini wanita itu tengah tidur.
Amelia duduk termenung di luar ruangan, cukup lama hingga Hanan keluar dan melempar berkas padanya.
“Apa—“
“Baca dan tanda tangani. Jika kau merasa tidak puas, kau bisa mengatakannya dan asistenku akan mengurusnya.” Hanan tak memberi waktu pada Amelia bertanya lebih jauh.
Amelia tak berani menatap wajah Hanan dalam waktu lama. Dia menurut dan membaca berkas yang diberikan padanya. Isinya benar-benar tak terduga.
PERJANJIAN NIKAH KONTRAK.
Amelia membaca kalimat paling atas dengan mata membulat sepenuhnya. Lalu berusaha membaca bagian di bawahnya dengan raut tenang.
Keheningan menyelimuti keduanya hingga Amelia selesai membalik halaman terakhir.
“Ini benar-benar bisa dilakukan?” Suara Amelia terdengar gugup.
“Kenapa tidak? Kau tidak berpikir aku benar-benar suka rela melakukan pernikahan ini, ‘kan? Semua demi Rosa, tapi bahkan meski begitu aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini begitu lama. Aku akan mencari cara mengakhirinya. Maka dari itu perjanjian ini harus kita berlakukan. Apa kau mengerti?”
Amelia gugup untuk sesaat. Sebenarnya, rencana ini tidak terlalu buruk. Justru terdengar sangat bagus. Dia tidak akan terikat sepenuhnya dalam pernikahan ini. Lagi pula kontrak itu hanya berlangsung selama enam bulan. Cukup singkat dan setelah itu Amelia akan terbebas.
“A-aku setuju.” Amelia mengambil pulpen yang terselip di halaman depan berkas itu dan membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
Senyum miring tercetak di bibir Hanan seolah menyiratkan sesuatu. Dia mengambil kasar berkas di tangan Amelia dan menatap puas tanda tangan kecil di atasnya.
Ukiran nama ‘A’ yang divariasikan dengan bentuk kupu-kupu kecil di akhir tanda tangan itu membuat Hanan mengernyit untuk beberapa saat. Dia seolah merasa dejavu, tapi tak bisa mengingat dengan jelas apa yang ada di kepalanya.
Hanan enggan memikirkannya lebih jauh dan kembali ke dalam ruangan Rosa tanpa mengucapkan apa pun lagi.
Amelia menatap kepergian Hanan dengan tatapan sendu.
“Dia bahkan tak mengingatnya sama sekali. Semuanya memang sudah seharusnya berakhir. Mas Hanan dan Mbak Rosa adalah pasangan yang sempurna.”
Amelia menyandarkan kepalanya ke dinding dengan senyum hang dipaksakan seolah berusaha merelakan apa yang tak akan bisa dia miliki, meski di dalam lubuk hatinya masih benar-benar berharap memiliki kesempatan untuk merasakan cinta yang bersambut.
“Amelia.”
Belum selesai dengan pikirannya, sang ibu muncul bersama ayahnya secara tiba-tiba.
“Iya, Bu?” Amelia menjawab pelan dengan punggung yang kembali tegak.
“Pernikahanmu dan Hanan sudah diatur bulan depan. Pastikan tidak membuat kekacauan yang berdampak pada kesehatan Rosa. Aku akan mengawasimu.”
Wanita itu melewati Amelia begitu saja setelah merasa urusannya selesai. Sang ayah juga tak mengatakan apa pun, hanya menyapa sekilas anak bungsunya itu sebelum menyusul istrinya ke dalam ruangan Rosa.
***
“Kak Hanan, lihat tanda tanganku. Bagus, ‘kan?” Gadis kecil berusia sembilan tahun itu menunjukkan hasil coretannya di kertas yang dia klaim sebagai tanda tangannya.
“Panggil Mas. Lupa?” Hanan mendekati gadis kecil itu yang tersenyum malu-malu.
“Oh, iya, El lupa. Maaf, yah, Mas Hanan.”
Hanan tersenyum tipis mendengar panggilan manis dari gadis kecil di depannya.
“Biar Mas lihat tanda tangannya.”
Remaja yang usianya berbeda enam tahun dengan gadis kecil itu meneliti bentuk tanda tangan yang dimaksud oleh sosok mungil di depannya.
“Apa ini huruf A dan kupu-kupu?” Hanan menunjuk satu-satu bagian yang dimaksud.
Gadis kecil itu mengangguk antusias, tak lupa senyum lebar di wajahnya yang mempermanis penampilannya.
“Bagus. Ini cantik dan sesuai kepribadianmu.”
Hanan mengapresiasi hasil karya gadis kecil itu, meski pada dasarnya tanda tangan yang dimaksud itu tampak tak stabil dan sulit dikenali ke mana arah tulisannya, tapi anehnya, Hanan dapat menebak dengan benar sesuai niat gadis kecil itu.
Malam itu, seorang gadis dengan kepribadian tertutup kembali memimpikan salah satu momen masa kecilnya yang begitu dia rindukan sebelum kembali ditampar oleh realitas.