NovelToon NovelToon
Takdir Kaisar Bintang

Takdir Kaisar Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Bintang Kedua dan Penindasan di Ruang Tempa

​Gelapnya malam di Puncak Pandai Besi menjadi saksi bisu sebuah proses yang menentang nalar. Lin Chen duduk membatu di tengah lautan ampas tempaan. Di tangan kanannya, tumpukan bongkahan bijih besi spiritual cacat terus hancur menjadi debu halus dengan kecepatan yang mengerikan.

​Setiap kali sebuah bijih hancur, seutas aliran energi merah menyala yang liar melesat masuk ke pori-pori tangannya. Energi elemen Logam dan Api Bumi itu mengamuk, mencoba membakar urat nadinya. Namun, begitu energi itu mendekati dada, seberkas cahaya perak kebiruan dari Titik Bintang pertamanya menyambar dan menelannya bulat-bulat, memurnikannya menjadi energi.

​Energi murni itu kemudian diarahkan paksa menuju meridian Quchi di lipatan siku kanan Lin Chen.

​"Terus hancurkan! Cangkang fisikmu membutuhkan lebih banyak beban!" teriak Lin Tian dari dalam lautan kesadarannya.

​Napas Lin Chen tersengal. Keringat yang bercampur dengan abu hitam menetes dari dagunya. Ia meraup sepuluh bongkahan bijih sekaligus.

​KRAAAK!

​Gelombang energi yang lebih besar masuk. Rasa sakitnya seakan lengan kanannya sedang diremukkan oleh rahang naga. Namun, di balik rasa sakit itu, sebuah penyumbat gaib di meridian Quchi mulai retak.

​KRETAK... BUM!

​Suara letupan kecil terdengar dari dalam tubuh Lin Chen, namun dampaknya terasa bagai gempa bumi di alam kesadarannya. Titik Bintang kedua akhirnya menyala terang! Cahaya perak kebiruan kini berdenyut harmonis antara dada dan lengan kanannya, menciptakan jalur sirkulasi kosmis mini yang memancarkan aura purba.

​Sensasi hangat dan menenangkan langsung menyapu seluruh rasa sakit. Lin Chen membuka matanya, menatap lengan kanannya dengan rasa takjub. Kulit di lengannya tampak normal, kotor oleh debu, tetapi di balik kulit itu tersembunyi kekuatan ledakan yang luar biasa. Jika sebelumnya satu Titik Bintang memberinya kekuatan seribu jin, kini dengan dua titik yang saling terhubung, kekuatan lengan kanannya berlipat ganda secara eksponensial.

​"Dua titik dalam satu malam. Tidak buruk," puji Lin Tian pelan. "Sisa-sisa elemen di ampas ini sangat murni meskipun wujud fisiknya hancur. Mulai sekarang, setiap malam kau harus menguras tempat ini."

​Lin Chen tersenyum tipis. "Mari kita lihat seberapa jauh tumpukan sampah ini bisa membawaku."

​Tiga Bulan Kemudian.

​Musim dingin mulai menyelimuti Sekte Pedang Awan. Puncak-puncak gunung ditutupi salju putih, namun Puncak Pandai Besi tetap panas membara seolah kebal terhadap pergantian musim.

​Bagi para pelayan, tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk membuat tubuh mereka hancur, atau sebaliknya, menjadi sekeras baja. Lin Chen termasuk yang kedua. Di mata para pelayan lain, Lin Chen adalah sosok pendiam yang gila kerja. Ia mengangkut bijih tanpa banyak bicara, memakan jatah makanannya yang tawar, dan tidur nyenyak di sudut gubuk.

​Mereka tidak tahu bahwa setiap malam, Lin Chen menyelinap keluar bak hantu.

​Dalam tiga bulan ini, ia telah menyerap puluhan ribu bongkahan ampas tempaan. Titik Bintang di tubuhnya telah bertambah. Tiga, empat, lima... hingga tepat pada malam sebelumnya, ia berhasil menyalakan Titik Bintang kesembilan. Sembilan titik yang membentuk rasi bintang kecil yang melingkupi seluruh bahu, dada, dan lengan kanannya.

​"Lin Chen! Bawa keranjangmu ke Ruang Tempa Utama sekarang!" teriakan Pengawas Xiong memecah lamunan Lin Chen yang sedang mengangkut bijih. "Seorang Murid Luar datang meminta perbaikan senjata gaib, mereka butuh tenaga tambahan untuk memompa Bellow Api Bumi!"

​"Baik, Pengawas!" balas Lin Chen dengan nada datar.

​Ia meletakkan keranjang seberat tiga ratus jin itu seolah meletakkan keranjang kosong, lalu bergegas menuju bangunan batu raksasa di pusat puncak.

​Saat melangkah masuk, gelombang panas ekstrem menyapu wajahnya. Di tengah ruangan, sebuah tungku tempa raksasa menyala merah. Tiga pelayan bertelanjang dada sedang menarik tuas besi raksasa secara bersamaan. Itu adalah Bellow Api Bumi, alat peniup udara bermekanisme berat yang dirancang untuk menarik api dari perut bumi agar suhunya cukup panas untuk melelehkan logam spiritual.

​Di sudut ruangan, seorang pemuda berpakaian sutra hijau berdiri dengan tangan terlipat, memancarkan aura angkuh. Dia adalah Zhao Ming, seorang Murid Luar tahap Pengumpulan Qi lapisan kedelapan. Di atas meja tempa tergeletak sebilah pedang panjang yang retak.

​"Lebih keras! Apakah kalian belum makan?!" bentak Zhao Ming. Matanya memancarkan ketidaksabaran. "Jika kalian tidak bisa membuat suhu apinya mencapai tingkat Api Putih, Master Pandai Besi tidak akan bisa menyatukan kembali Pedang Awan Hujan milikku! Tarik tuasnya, dasar sampah!"

​Ketiga pelayan itu mengerang kesakitan. Otot mereka menonjol hingga batasnya, telapak tangan mereka melepuh karena panasnya tuas besi, namun mekanismenya sangat berat. Salah satu dari mereka akhirnya memuntahkan darah, pingsan, dan melepaskan cengkeramannya.

​TRANG!

​Tuas itu tersentak mundur karena hilangnya keseimbangan, membuat dua pelayan lainnya terlempar jatuh. Suhu api di tungku perlahan mulai meredup dari kuning kembali ke jingga.

​Wajah Zhao Ming memerah karena marah. Ia melangkah maju, mengangkat kakinya bersiap menendang pelayan yang pingsan itu. "Pelayan tak berguna! Kau hampir merusak timing peleburan pedangku!"

​"Tahan kakimu."

​Sebuah suara tenang namun tegas memotong udara yang panas.

​Zhao Ming menoleh, melihat seorang pemuda berpakaian lusuh dengan wajah kotor melangkah maju melewati ambang pintu. Itu adalah Lin Chen.

​"Siapa kau berani memerintahku?" mata Zhao Ming menyipit, aura Qi yang tajam mulai memancar dari tubuhnya, mencoba menekan Lin Chen.

​Namun, tekanan Qi yang biasanya membuat manusia fana berlutut itu terasa seperti hembusan angin sepoi-sepoi bagi Lin Chen. Sembilan Titik Bintang di tubuhnya secara pasif menstabilkan tulang-tulangnya. Tanpa mempedulikan Zhao Ming, Lin Chen berjalan lurus menuju tuas besi raksasa itu.

​Pengawas Xiong yang baru tiba di belakang Lin Chen memucat. "Lin Chen! Cepat berlutut dan minta maaf pada Tuan Muda Zhao! Kau hanya seorang pelayan pengangkut bijih, kau tidak kuat menarik tuas itu sendirian!"

​Lin Chen mengabaikan peringatan itu. Ia mencengkeram pegangan tuas yang masih memanas dengan kedua tangannya.

​"Jangan gunakan energi bintangmu secara terang-terangan," bisik Lin Tian memperingatkan. "Gunakan tekanan dari sembilan titik itu hanya untuk memperkuat ototmu."

​Lin Chen menarik napas panjang. Kakinya kuda-kuda, mengunci tubuhnya ke lantai batu. Kemudian, ia menarik.

​GGGRRRKKKKK!

​Suara gesekan logam yang memekakkan telinga bergema di ruangan itu. Tuas raksasa yang seharusnya ditarik oleh lima pelayan berbadan kekar itu perlahan bergerak mundur ditarik oleh Lin Chen seorang diri. Urat-urat di lengannya menonjol seperti akar pohon tua.

​WUUUSSSHHHH!

​Angin dalam jumlah masif tersedot ke dalam tungku. Nyala api yang tadinya meredup tiba-tiba meledak dengan hebat, mengubah warnanya dari jingga, menjadi kuning terang, dan akhirnya berpusar menjadi kobaran Api Putih yang menyilaukan.

​Suhu ruangan melonjak drastis. Master Pandai Besi sekte yang sejak tadi diam di balik panggung tempa tiba-tiba matanya berbinar. "Sekarang! Api Putih telah tercapai!" serunya seraya memukul pedang retak itu dengan palu spiritualnya.

​Zhao Ming dan Pengawas Xiong ternganga, menatap punggung Lin Chen yang masih menahan tuas itu dengan stabil. Bagaimana mungkin seorang pemuda dengan tubuh yang terlihat kurus dan tanpa aliran Qi memiliki kekuatan fisik sebuas ini?

​Lin Chen menahan tuas itu selama setengah dupa terbakar, wajahnya basah oleh keringat, berpura-pura berada di batas kemampuannya. Padahal, di dalam hatinya, ia tertawa dingin. Beban ini bahkan tidak sampai memakan setengah dari kekuatan fisik yang ia miliki sekarang.

1
nanonano
kapan gelutnya nih
Arinto Ario Triharyanto
joss gandozzz 💪
Gege
mantabb...💪👍
Gege
hancurkan lawan, sita harta rampasan, pergi...💪🤣
Gege
biar nambah kosakatanya "dan tak lupa cincin ruang penyimpanan segera diamankan" lumayan buat genapin 10k kata Thor...🤣
Arinto Ario Triharyanto
mantaappp... ga usah malu-malu, yg pamer sok kuat sok keras, tenggelam kan saja, ga pake lama 😎
Arinto Ario Triharyanto
Yoi joss gandozzz💪
Arinto Ario Triharyanto
joosss Thor 💪👍
Arinto Ario Triharyanto
bagus 👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
lanjut ya Thor, jangan berhenti di tengah jalan 😎
Arinto Ario Triharyanto
bagus bagus, sekalian biji nya di cabut 🤭
Arinto Ario Triharyanto
cabut aje, ambil lagi
Arinto Ario Triharyanto
bantai... kagak usah basa-basi
Gege
mantap Thor... gass teroos 10k kata tiap update
Nanik S
Keren sekali Tor👍👍👍
Nanik S
Bijih Api Surgawi
Nanik S
Akhirnya naik menjadi penunggu Api
Nanik S
Lin Chen.... menarik sekali dengan kekuatan Fisiknya
Nanik S
Shiiiiiip
Nanik S
Masuk Sekte pedang awan walau sebagai murid Luar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!