"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Rasa Asing yang Terasa
"Tuan ... Anda benar-benar datang hari ini!" bisik Anna, menahan napas saat membuka pintu depan rumahnya.
Malam mulai datang, dan area di sekitar distrik pinggiran itu telah disterilkan secara senyap oleh pasukan khusus militer sebelum kedatangan sang Panglima. Tak akan ada satu pun mata-mata Guild Borjuis yang bisa mengendus pergerakan ini.
Namun, jantung Anna mencelos ketika menyadari satu hal yaitu ia baru saja selesai makan malam dengan santai bersama Paul dan Marry, dan ia benar-benar lupa mengenakan penutup kepala linen kelabunya. Rambut merah anggurnya terurai bebas, membingkai wajah cantiknya yang menawan di bawah temaram lampu minyak.
Aethan yang berdiri di ambang pintu seketika terpaku. Sepasang mata perak sang Panglima melebar, terkunci pada kecantikan alami yang selama ini tersembunyi di balik lilitan kain penutup kepala. Di dalam dada bidangnya, jantung Aethan mendadak berhantam keras, menciptakan desiran kuat yang asing dan bergemuruh hebat. Sebagai pria militer yang menghabiskan seluruh hidupnya di medan perang, ia tidak pernah mengenal cinta, dan kebingungan mendefinisikan gejolak aneh ini membuatnya sempat kehilangan kata-kata.
"Kau ... tidak memakai penutup kepalamu, Nona Ruby," ucap Aethan, suaranya terdengar lebih berat dan serak dari biasanya.
Anna refleks menyentuh kepalanya dan membelalak panik. "Ah! Maaf, saya lupa—"
"Tidak usah ditutup. Biarkan begitu, toh aku sudah pernah melihatnya bukan sebelum ini," potong Aethan cepat, melangkah masuk tanpa permisi. Bau harum sup ayam buatan Marry yang tersisa di ruang makan mendadak mengusik penciumannya.
Paul yang berdiri waspada di sudut ruangan melirik panci sup di atas meja kayu. "Kami baru saja menyelesaikan makan malam sederhana, Tuan. Jika Anda tidak keberatan dengan makanan rumahan rakyat jelata, maukah Anda mencicipinya?"
Aethan sempat terdiam. Egonya hendak menolak, namun wangi sup hangat itu memicu kerinduan mendalam yang telah lama terkubur di jiwanya. "Baiklah. Ambilkan sedikit saja."
Marry dengan cekatan menyajikan semangkuk sup ayam hangat. Saat menyendok kuah tersebut, sepasang mata perak Aethan mendadak berbinar senang. Sesuatu yang sangat hangat menjalar di hatinya; ia seolah sangat merindukan masakan rumahan yang tulus seperti ini, jauh berbeda dari makanan formal kastil yang hambar atau dari barak militer ala kadarnya selama ini.
"Enak!"
"Terima kasih, Tuan," jawab Paul.
"Bisa anda habiskan kalau Tuan berkenan. Ini ada kentang rebus dan juga roti untuk mengenyangkan perut," sambut Marry hangat menuangkan lagi sup ayam sampai habis tek bersisa dari panci.
"Baik."
Aethan kembali fokus makan dengan lahap. Paul, Marry dan Anna yang duduk menjauh di ruang tengah saling perpandangan dan hanya mengangguk singkat seolah mereka bertelepati mengirim pesan dengan maksud yang sama.
Setelah makan, ketegangan kembali berlanjut. Anna membawa turun satu persatu dari lima buntalan kain yang didalamnya berisi satu set seprai, sarung bantal dan selimut putih gading yang sudah terbungkus rapi. Ia membawa satu contoh sarung bantal menuju taman bunga samping rumah, diikuti oleh Aethan yang membawa aura mendominasi. Paul tetap berjaga di dalam, memberi ruang privasi atas perintah tersirat Anna.
"Ini contoh dari lima setel sarung bantal, seprai, dan selimut bulu angsa pesanan Anda, Tuan, dengan corak dan motif sulaman yang berbeda tiap set-nya," ujar Anna seraya meletakkan kain itu di atas tangan Aethan.
Aethan melepas jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit, ia ingin jari-jarinya menyentuh langsung permukaan kain putih gading tersebut. Begitu kontak fisik terjadi, mata Aethan menggelap. Berbeda dengan pandangan mata Anna yang melihat noda darahnya meresap hilang saat tertusuk jarum kemarin, di mata magis Aethan, noda darah merah segar milik Anna justru nampak jelas seperti halnya pada sapu tangan, darah itu menetap di salah satu kelopak mawar sulaman, memancarkan riakan sihir perlindungan yang luar biasa kuat. Aethan tertegun, namun ia memilih diam saja dan menyembunyikan fakta itu rapat-rapat.
Ia membalikkan tubuhnya, menatap lekat-lekat pada jemari Anna yang dibalut kain kasa kecil akibat bertubi-tubi tertusuk jarum selama proses menjahit.
Di bawah siraman perak rembulan yang kian meninggi, atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi kuat. Aethan maju selangkah, memangkas habis jarak hingga dada bidangnya menyentuh ujung gaun Anna. Dengan gerakan yang jauh lebih berani dari sebelumnya, tangan besar Aethan meraih jemari Anna yang terluka. Ia membiarkan kulit telapak tangannya yang kasar dan hangat bersentuhan langsung dengan kulit halus Anna. Desiran sihir dan gairah asing yang kuat menyengat keduanya saat Aethan membawa jemari Anna ke depan bibirnya, mengecup lembut ujung jari yang terbalut kasa itu dengan tatapan mata yang mengunci keduanya.
"Kau melukai jemarimu demi memenuhi kebutuhanku, Nona manis?" bisik Aethan parau. Sentuhan fisiknya kini kian berani; tangan kirinya merambat naik, melingkar posesif di pinggang ramping Anna, menarik tubuh mungil gadis itu hingga merapat sempurna pada tubuh kekarnya.
Anna terengah, tangannya yang bebas tertahan di dada bidang Aethan. Jantungnya tiba-tiba berdegup tak kalah liar, terpaku pada kedekatan yang memabukkan ini. "I-Itu hanya kecerobohan kecil, Tuan."
"Kecerobohan yang berulang?" Aethan dengan senyum miring yang berbahaya, jemarinya menyelip di antara helaian rambut merah anggur Anna, mengagumi kelembutannya yang magis. "Ingat janjiku seminggu lalu. Kain ini akan kubawa pulang, dan sisa pelunasan 100 koin emas lagi ada di dalam kantong di meja itu. Tapi, ada satu peringatan untukmu."
Aethan mendekatkan wajahnya, membiarkan bibirnya nyaris bersentuhan dengan daun telinga Anna. "Guild Borjuis sedang mengendus jejak investor di belakang merek Ruby Rose-mu. Tetaplah berada di bawah bayang-bayangku, karena aku tidak suka jika ada yang menyentuh 'milikku' dengan tangan kotor mereka."
Anna menahan napas, merasakan klaim kepemilikan yang begitu kuat dari sang Panglima sebelum Aethan perlahan melepaskan pelukannya. Pria itu masuk kedalam rumah dan menyambar lima buntalan kain putih gading, lalu melompat mundur ke dalam kegelapan malam dengan gerakan senyap, menghilang seperti embun pagi.
"Milikku?" lirih Anna.
Ia memegangi dadanya yang masih bergemuruh hebat, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah kembali ke teras depan untuk mengunci pintu. Namun, saat kakinya menginjak lantai kayu teras, matanya menangkap sebilah anak panah yang menancap paksa di tiang rumah.
Anak panah itu menembus sepucuk surat usang yang bersimbah darah ayam segar yang masih anyir, ditinggalkan oleh kaki tangan Guild Borjuis yang frustrasi karena jalur dagang mereka dipatahkan oleh anak kemarin sore.
Anna mencabutnya dengan tangan gemetar, membaca deretan tulisan kasar di dalamnya:
“Pilih nyawa keluargamu, atau serahkan resep rahasia kain Ruby Rose sebelum fajar tiba!”
lanjut yaaaaa