NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

Setengah melompat Amara menghampiri Abimanyu yang jatuh terguling, ia melupakan rasa sakit yang yang berdenyut dibagian inti tubuhnya.

"Om!" Amara menyentuh tubuh Abimanyu yang ambruk di lantai, muka pria itu terlihat pucat bahkan suhu tubuhnya kembali panas.

"Kuat bangun enggak?" Amara perlahan berdiri dengan kaki yang dirapatkan. "Lagian... Sudah tahu lagi enggak enak badan, masih saja macam-macam." Gerutunya namun tak urung tangannya memapah tubuh tegap Abimanyu kemudian membantunya duduk di tepi ranjang.

Abimanyu mendengus, "siapa bilang macam-macam? Orang cuma satu macam kok." Desisnya pelan sembari meringis, sekuat tenaga tangannya menekan kepalanya sendiri.

"Kepalanya sakit lagi?" tanya Amara khawatir. Tangannya berulang kali menyentuh kening dan dada Abimanyu bergantian. "Om belum mandi! mana mandi wajib pula." Amara merengut kesal, tidak habis pikir pada laki-laki di hadapannya itu. Bisa-bisanya mengambil jatah di saat tubuhnya tengah demam.

"Kamu yang menggodaku." Jawab Abimanyu dengan mata terpejam menahan rasa pusing yang menghantam kepalanya.

"Mana ada! Orang tidur juga." Amara beranjak, ia meninggalkan Abimanyu yang bersandar pada tumpukan bantal.

Menyadari kepergian Amara, Abimanyu seketika membuka mata melihat punggung istrinya. "Mau kemana?"

"Mau ambil sarapan, diam disitu jangan banyak gerak! Nanti jatuh lagi, sudah tua juga enggak sadar umur! Ngeyel." Amara memicingkan matanya sembari mengangkat telunjuk ke arah tempat tidur.

Bak anak balita yang sedang kena omel ibunya, tubuh Abimanyu seketika memaku. Pria itu merapatkan bibirnya yang pucat, hanya netranya yang bergerak mengikuti langkah Amara yang keluar dari kamar

-

Abimanyu menatap mangkuk berisi bubur yang masih hangat, kemudian beralih pada Amara. "Kapan masak bubur?"

Amara mendengus sembari meletakkan nampan di meja samping ranjang, ia merasa pertanyaan Abimanyu tengah meledeknya. "Mana bisa aku masak bubur beginian, ini di beliin mama."

"Di beliin mama?" Abimanyu membeo.

"Iya, mama yang pesenin bubur sama beberapa makanan buat sarapan sama makan siang."

"Oh..."

"Buka mulutnya!" Titah Amara, ia duduk sembari memegangi mangkuk bubur kemudian menyodorkan sendok ke depan mulut Abimanyu.

Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Abimanyu pun menurut. Pria empat puluh tahun itu berubah menjadi anak manis yang penurut pada ibunya.

"Nyuapin yang ikhlas, jangan sambil marah-marah." Ucapnya pelan hampir tak terdengar, namun telinga Amara terlalu tajam untuk tidak bisa menangkap ucapannya.

"Bukan enggak ikhlas, tap-"

"Tapi galak." Potong Abimanyu cepat. Pria itu mengangkat tangan meminta Amara berhenti. "Sudah, aku sudah kenyang."

"Baru tiga suap, masa sudah kenyang?" Cercanya penuh selidik.

"Abimanyu menggerakkan tangannya. "Beneran, bukan kenyang tapi mual."

"Itu paling lambung. Makanya jadi manusia jangan suka Pundungan, sendirinya yang salah sendirinya yang pundung sampai enggak sarapan. Sekarang siapa yang rasain? Sudah tua juga masih suka merajuk." Gerutu Amara, ia meletakkan mangkuk kemudian mengambil gelas yang berisi air hangat lalu memberikannya pada Abimanyu tanpa benar-benar melepasnya.

"Makasih." Ucap Abimanyu lirih, lalu kembali menyandarkan kepalanya.

Amara terdiam, ia menatap pria yang baru saja di suapinya itu. Di tengah kekhawatiran yang ia tutupi dengan omelan-omelan, ada rasa hangat yang menyusup ke hatinya. Ucapan terimakasih Abimanyu terdengar begitu tulus, padahal merawat pria itu sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.

Amara menarik napas kemudian ia kembali bersuara. "Om..." Panggilnya dengan suara yang lebih lembut. "Sebaiknya kita ke dokter saja, aku pesan taksi dulu ya."

Abimanyu membuka mata, tak lama kemudian pria itu menggelengkan kepalanya. "Enggak perlu, aku cuma kecapean sama..." Ucapnya terjeda diakhiri helaan napas penuh penyesalan. "Mungkin telat makan kemarin sama kecapean." Dustanya, padahal bukan telat melainkan perutnya sama sekali tidak mendapatkan asupan saat pagi dan siang sebagai mana biasanya.

Amara memicingkan mata. "Terus mau sampai kapan kayak gini, emang nyaman melihara penyakit?" Suaranya yang tadi melembut kini kembali ketus.

"Siapa yang sakit? Ini cuma kecapean, nanti juga setelah tidur pasti sembuh." Ucap Abimanyu meyakinkan. "Tolong ambilkan Paracetamol saja, kotak obatnya di laci bawah TV."

Amara membuang napas kasar, namun tak urung ia bangkit melangkah keluar kamar menuju ruang tengah hendak mengambil obat yang diminta suaminya.

Tak berselang lama Amara kembali masuk, tangannya membawa obat penurun panas yang diminta Abimanyu. Tanpa berucap ia segera mengeluarkan obat dari kemasannya dan memberikannya pada Abimanyu. "Ini pegang dulu, aku mau ngambil air hangatnya." Amara bangkit.

"Mara..."

Baru juga hendak melangkah suara Abimanyu menghentikannya. Amara menoleh, "hem..?" Jawabnya dengan deheman sembari menautkan kedua alisnya. Namun Abimanyu lebih dulu pura-pura memejamkan mata.

"Om mau apa? Apa om berubah pikiran, mau ke dokter?" Tanya Amara menyelidik.

"Makasih..." Gumam Abimanyu.

Amara menggigit bibir bawahnya menahan senyum, namun segera ia berdehem menormalkan rautnya. "Iya sama-sama." Jawabnya pelan, tanpa menunggu suaminya kembali bersuara lagi, gadis itu segera melangkah sembari membawa gelas kosong hendak mengisinya dengan air hangat.

-

-

Amara mengerjapkan mata saat samar-samar mendengar suara ponselnya yang berdering. Bukannya langsung bangun, ia memutar leher menatap ke arah tempat tidur kemudian melihat jam. "Hampir jam satu, pantesan agak gerah." Gumamnya seraya bangkit hendak mencari ponselnya namun terlebih dahulu ia menghampiri tempat tidur, menyentuh kening Abimanyu.

Amara membuang napas lega, "Alhamdulillah sudah turun." Gumamnya kemudian berpindah menyentuh leher dan dada Abimanyu, memastikan kalau suaminya itu sudah benar-benar tidak demam.

"Om, bangun. Makan siang dulu, habis itu baru tidur lagi."

"Engh.." Abimanyu mengerjap, ia menyipitkan matanya menatap Amara. "Jam berapa ini?" tanya nya pelan hampir tak terdengar karena serak.

"Hampir jam satu, waktunya makan. Om kuat bangun enggak? Aku mau manasin bubur dulu." Amara menatap Abimanyu penuh kelegaan.

"Hem..." Abimanyu bangkit kemudian duduk bersila. Setelah memastikan Abimanyu duduk, Amara bergegas keluar dari kamar. Ia menyambar ponselnya yang tengah di-isi daya kemudian membawanya ke dapur.

"Mama." Gumam Amara saat melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari mertuanya. Sembari menuangkan bubur ke dalam panci tangan kirinya menekan tombol panggil di nomor mertuanya, tak butuh waktu lama suara bu Halimah langsung terdengar.

"Assalamualaikum ma... Maaf tadi aku ketiduran." Ucapnya sedikit berbohong, sebab saat bangun pun ponselnya masih berbunyi namun ia abaikan.

[Waalaikumsalam, enggak apa-apa. Syukurlah kalau kamu bisa tidur siang juga, pokoknya kalau suamimu tidur harus ikut tidur juga. Gimana Abi sekarang?]

"Alhamdulillah ma, demamnya sudah turun. Tapi mukanya masih pucat." Amara menarik napas, karena jujur saja meskipun Abimanyu sudah tak lagi demam tetapi pikirannya belum benar-benar tenang sebab suaminya itu seperti tak berdarah alias pucat.

[Gini saja, amit-amit ya! Kalau nanti malam meriang dan demam lagi sebaiknya ke dokter saja. Nanti ada sopir sama mbok Zah kesana, mama paling bisa kesana juga lusa soalnya papa lagi sibuk]

"Eh ma, enggak apa-apa enggak usah repot-repot. Dan itu, nanti sopir tidurnya dimana?" Tanya Amara bingung, sebab tempat tinggalnya kini hanya apartemen dan kamarnya cuma ada tiga sama kamar buat art di atas ruang laundry.

[Kan di sebelah kamar art ada ruangan kosong, biar tidur di situ saja. Bantal dan selimut sudah bawa dari sini, alasnya sementara ada karpet tebal. Enggak apa-apa mang pak Karyo juga enggak keberatan, beliau tahu kok kondisi disana.]

"Oh, iya... Em, itu ma mereka berangkat kapan?"

"Sudah berangkat dari satu jam yang lalu, paling kalau ramai dua jam lagi sampai. Kalau sepi satu setengah jam-an lagi."

"Mara..."

"Ma, maaf sudah dulu ya! Om Abi kayaknya manggil." Tanpa memutus sambungan teleponnya, Amara meletakkan ponsel di meja makan kemudian melongokkan kepala. "Iya om, bentar!"

"Ma, sudah dulu... Assalamualaikum."

[Waalaikumsalam..]

Amara mematikan kompor, ia bergegas memasuki kamar. Baru setengah badan yang masuk, ia langsung melihat Abimanyu yang sudah berdiri di samping ranjang. "Om, mau kemana? Awas entar kepalanya pusing lagi terus jatuh." Seru nya sambil mempercepat langkah.

"Mau buang air kecil, bisa tolong bantu pegangin enggak. Kepala pusing banget."

"Hah, pegangin!" Amara tersedak, ia seketika terbatuk dengan mata yang membeliak menatap Abimanyu tak percaya, kemudian mundur satu langkah.

Melihat kekagetan Amara yang bercampur takut, Abimanyu menghela napas sambil memijat keningnya. "Maksudnya pegangin tanganku Mara!" Desis Abimanyu hampir berbisik, menekan kesal dan gemas pada istri bocahnya yang berpikiran liar.

"Ooh... Kirain." Amara memalingkan muka, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Bocah, tapi pikirannya liar!" Abimanyu melengos, tangannya merangkul pundak Amara. Andai saja ia sehat sudah dipastikan Amara akan habis saat itu juga.

"Diam enggak! nanti aku lepasin dan jatuh, baru tahu!"

1
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaaa itu kan sebelum Abi menikah, kalau sekarang setelah menikah ngapain juga menggilai perempuan lain, lebih baik tergila-gila sama istri sendiri.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Sekarang udah punya guling hidup, yang bikin nyaman, hangat, membuat tidur makin nyenyak😅
Emily
modus x ni om Abi
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Kalau udah punya kegiatan favorit pasti lupa segalanya nihh mantan bujang lapuk😅
Iper: wkwkwk
total 1 replies
M⃟3💋AisyahRendra
gasabar update lagiiii euyy.. makin gemas sm duo A ini 🥰🥰🥰🥰❤️❤️
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
M⃟3💋AisyahRendra: kan up untuk besok lagi teh 🥰🤣🤣
skrg bobo dluuu
total 2 replies
M⃟3💋AisyahRendra
bergetar hati bergetaaarr.. 🤣❤️❤️
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
M⃟3💋AisyahRendra: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 2 replies
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
istri kecilmu udh sukses bikin kamu makin kesengsem kn Biii🤣😅🏃🏃
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
banyak surprise 😕
Iper: mau juga di surprise in?
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hahhhhhhhhh
siapaaaa ini dateng sekeluarga.

ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
Iper: udah up noh😭
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
pelan pelan ommmmm

nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hehhhh...
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Keyyeeeennnnn om tua,
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Eaaa
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
M⃟3💋AisyahRendra
Tya....
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
M⃟3💋AisyahRendra
loh loh lohhhh 🙄🙄🙄
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️
M⃟3💋AisyahRendra: assseeeeeeekkkkkk❤️❤️❤️❤️❤️❤️
total 8 replies
Mimi Yoh
kenapa langsung wus garam ma kecapnya, nggak dicicip dulu rasanya...lagian kemaren masak sop sama tumis brokoli, rasa kayak apa ya 😁😁
Iper: Kalau masak sop sama brokoli sudah terlatih dia sama mama mertuanya meskipun rasanya entah seperti apa🤣
total 1 replies
Mimi Yoh
itu kan dulu...sekarang mah ada mara yg bisa membuat abi senyam senyum 😄😄
Mimi Yoh
dengerin tuh...malu nggak...
Mimi Yoh
ini nih temen yg ngejerumusin temen..bukannya ngingetin malah jadi setannya..
Iper: Jinnn Dasim dia😭
total 1 replies
Mimi Yoh
lalu..apa urusannya dgn abi...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!