NovelToon NovelToon
Villain & Villainess

Villain & Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.

Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.

Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.

Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05: Sudden Gift

Udara di dalam ruang dansa istana terasa sejuk namun penuh dengan aroma bunga-bunga eksotis dan lilin beraroma yang berjejer rapi di setiap sudut. Langit-langit tinggi yang biasanya polos kini tertutup kain sutra berwarna merah menyala dan oranye keemasan, warna-warna favorit sang tuan rumah pesta, Putri Elarise. Ribuan lampu kristal memancarkan cahaya hangat yang memantul mengkilap di lantai marmer yang dipoles hingga berkilau seperti cermin. Di sepanjang dinding, gantungan bunga dan hiasan emas menghiasi setiap jengkal ruang, menandakan betapa besarnya biaya yang dikeluarkan untuk perayaan ulang tahun yang ke tujuh belas ini. Para pelayan masih berlalu-lalang dengan sigap, mengatur meja prasmanan dan menata kembali deretan kursi, sementara Raja Julius dan Ratu Mirelle sesekali lewat untuk memastikan semuanya sempurna bagi putri kesayangan mereka.

Di sisi lain sayap istana, suasana di kamar Amorette sangat kontras dengan hiruk-pikuk persiapan di bawah sana. Ruangan itu tenang, hanya diisi oleh suara lembut sapuan kuas dan percakapan pelan yang hangat. Amorette duduk tegak di depan meja rias besar dari kayu mahoni, wajahnya menghadap cermin namun matanya sama sekali tidak menatap pantulan dirinya. Tangannya memegang buku tebal bersampul kulit yang kemarin ia pinjam dari perpustakaan, matanya bergerak lincah menyerap baris demi baris tulisan, seolah-olah pesta besar di bawah sana sama sekali tidak ada artinya baginya.

Esther berdiri di belakangnya, jari-jarinya yang cekatan sedang menyusun rambut pirang keemasan itu menjadi tatanan yang anggun namun sederhana, sementara Lily sibuk mengoleskan sedikit pewarna bibir dan pemerah pipi dengan hati-hati.

"Buku yang kemarin sudah selesai dibaca ya, Tuan Putri?" tanya Lily dengan nada ceria dan bersemangat, matanya berbinar-binar melihat tuannya yang kini terlihat begitu damai dan cantik.

Amorette menutup bukunya perlahan, lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum tulus ke arah kedua pelayan setianya itu. Senyum yang tidak lagi dibuat-buat, senyum yang mulai muncul dengan sendirinya saat ia bersama mereka. Hubungannya dengan Esther dan Lily kian hari kian menghangat, jauh berbeda dengan hubungan dingin dan penuh ketakutan saat Amorette yang asli masih mendiami tubuh ini. Kini, keduanya bukan lagi sekadar pelayan, melainkan teman satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.

"Sudah selesai, Lily. Isinya sangat berguna dan menarik," jawab Amorette lembut. Ia melirik ke arah jendela yang terbuka sedikit, mendengar samar-samar suara musik latar yang mulai mengalun pelan dari lantai bawah. "Sepertinya, nanti setelah aku memberikan hadiah kepada Putri Elarise, aku akan menyusup keluar dari ruang dansa dan pergi ke perpustakaan. Suasana di sana pasti jauh lebih tenang. Kalian bisa menemaniku jika mau."

Mata Lily berbinar semakin terang, ia mengangguk cepat semangat. "Tentu saja, Yang Mulia! Ke mana pun Tuan Putri pergi, saya ikut."

Sementara itu, Esther tertawa pelan sambil mengikat pita hijau zamrud di ujung rambut Amorette. "Kalau saya, maafkan saya Yang Mulia. Usia saya sudah tidak muda lagi, mata saya sudah mulai rabun. Belajar buku tebal begitu rasanya sudah tidak sanggup."

Amorette tertawa renyah, suara tawa yang jernih dan indah. Ia berbalik memutar kursi riasnya hingga berhadapan dengan Esther.

"Kalau begitu, Nyonya Esther, aku akan mengajarimu cara memanggang kue yang enak. Aku mendapat beberapa ide resep unik dari buku tanaman obat dan rempah yang aku baca kemarin. Ada kue yang wanginya bisa menenangkan saraf, ada juga yang rasanya manis tapi tidak bikin sakit gigi," ujarnya antusias, berbagi pengetahuan yang ia dapatkan dari pengalaman masa lalunya sebagai ahli botani.

Wanita paruh baya itu tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. "Baiklah Tuan Putri, apa pun perintah Baginda, saya akan ikut saja. Mulai besok, saya akan belajar membuat kue bersama Putri."

Suasana hangat itu terputus sesaat saat langkah kaki berat terdengar berhenti tepat di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu.

Cornelius Elowen berdiri diam di sana, tangannya menggenggam sebuah kotak berisi gaun-gaun yang kemarin ditolak mentah-mentah oleh Amorette. Awalnya, ia berniat datang untuk mengembalikan atau membujuk adiknya agar mau mengenakan salah satu dari gaun serupa milik Elarise itu, sekaligus memastikan gadis itu tidak membuat masalah. Namun, niatnya terhenti total saat ia mendengar canda tawa yang begitu jernih dan bahagia keluar dari kamar itu.

Ia mengintip sedikit dari celah pintu, dan pemandangan itu membuatnya tertegun. Amorette duduk di sana, bergaun indah berwarna hijau zamrud yang berkilau lembut, berbicara dengan kedua pelayannya seolah mereka adalah sahabat akrab. Wajahnya bersinar, matanya berbinar tulus, dan tidak ada sedikit pun jejak kemarahan, iri hati, atau kelesuan yang biasa ia lihat.

Dia sudah bersiap sepagi ini? batin Cornelius bingung. Selama ini, Amorette selalu bangun terlambat, mengeluh saat bersiap-siap, dan selalu dalam suasana hati buruk. Kenapa hari ini berbeda? Kenapa dia terlihat... begitu bahagia tanpa perlu meminta perhatian siapa pun?

Ada rasa ganjil yang mengganjal di dadanya, campuran antara rasa bingung, curiga, dan sesuatu yang tidak bisa ia namakan. Cornelius tidak masuk, tidak pula menyapa. Ia hanya meletakkan kotak gaun itu di depan pintu dengan kasar, lalu berbalik dan pergi dengan langkah yang berat dan penuh tanya.

Dua jam berlalu dengan cepat. Jam besar di aula utama berdentang tepat pukul delapan pagi. Pesta perayaan ulang tahun Elarise secara resmi telah dimulai.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, ruang dansa yang luas itu sudah mulai dipenuhi oleh tamu-tamu undangan. Para bangsawan dari berbagai tingkatan hadir: keluarga Duke dan Duchess yang mengenakan perhiasan paling berkilau, keluarga Count dan Countess yang berbicara lantang mengenai bisnis dan tanah, hingga keluarga Viscount dan Viscountess yang sibuk mengedarkan pandangan mencari kenalan baru. Semuanya tampak bersemangat, tersenyum, dan berusaha tampil terbaik, sebagian besar memang ingin bersenang-senang, namun sebagian lagi memiliki misi utama: memperluas koneksi sosial dan politik di kerajaan Elowen yang sangat kaya raya ini.

Sementara di tengah keramaian itu, Raja Julius, Ratu Mirelle, Elarise, dan Cornelius berdiri berbaris di dekat panggung kehormatan, tersenyum menyambut setiap tamu yang datang. Namun, pandangan Raja Julius sesekali melirik ke arah pintu masuk utama, alisnya sedikit berkerut.

"Di mana Amorette? Sudah pagi begini, kenapa dia belum muncul?" gumam Raja Julius pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Di sampingnya, Cornelius mengangguk pelan. "Aku tadi lewat kamarnya, Ayah. Dia sudah bangun dan sudah bersiap. Dia... terlihat berbeda hari ini. Tapi entah kenapa, dia belum turun juga."

"Biarkan saja," sela Ratu Mirelle dengan nada manis namun dingin. "Mungkin dia sedang sibuk bersolek berlebihan seperti biasa. Biarkan saja orang-orang menunggunya. Itu lebih baik, supaya dia sadar posisinya."

Elarise hanya tersenyum malu-malu sambil menunduk, namun di dalam hatinya ia sangat berharap Amorette tidak datang sama sekali.

Di lantai atas, di dalam kamarnya yang masih hening, Amorette masih duduk santai di sofa empuknya, membalik halaman buku terakhir yang sedang ia baca. Ia sama sekali tidak bergegas.

Aku akan keluar ketika keadaan sudah sangat amat ramai, batinnya tenang, matanya berkilat penuh perhitungan. Aku malas sekali harus berdiri berjam-jam menyapa keluarga-keluarga bangsawan itu berdampingan dengan Ayah, Ibu Tiri, Kakak, dan Elarise. Aku tidak mau terlihat seperti bagian dari kelompok kecil mereka yang palsu itu.

Ia menutup bukunya dan berdiri perlahan, berjalan menuju cermin besar untuk memeriksa penampilannya sekali lagi. Gaun zamrudnya pas sempurna, rambutnya ditata rapi, dan wajahnya tenang tanpa beban.

Biarlah nanti muncul rumor-rumor baru. Biarlah mereka bergosip bahwa Putri Amorette selalu menyendiri, tidak diakui, dan ditinggalkan oleh keluarganya. Itu justru yang aku inginkan, pikirnya sambil tersenyum tipis. Aku akan memasang citra sebagai putri yang terasingkan, yang tidak dicintai keluarganya. Nanti, ketika aku mulai bergerak membangun kekuasaanku sendiri, semua orang akan mengerti bahwa aku harus lepas dari keluarga ini karena aku memang tidak diterima di sini. Itu akan menjadi alasan sempurna di masa depan.

Di bawah sana, keramaian semakin memuncak. Suara pengawal berseru lantang di depan pintu masuk utama.

"Keluarga Kerajaan Remington! Adipati Agung Kerajaan Utara beserta rombongan!"

Seluruh ruangan hening seketika. Semua kepala berbalik serentak menatap ke arah pintu. Keluarga Remington adalah keluarga bangsawan tertinggi dari Kerajaan Utara, sekutu terkuat Elowen, dan terkenal di seluruh benua karena kehebatan strategi militer serta kekuatan magis yang diwariskan turun-temurun. Di antara rombongan itu, berjalan dua sosok muda yang paling ditunggu: Pangeran Theodore Sullivan Remington, dan Pangeran Algernon Leandor Remington.

Raja Julius dan Cornelius segera berjalan mendekat dengan langkah hormat namun tegap, disusul oleh Ratu Mirelle dan Elarise yang tersenyum manis. Mereka membungkukkan badan dalam penghormatan yang sopan namun tidak berlebihan—karena posisi mereka setara, sama-sama pemimpin kerajaan.

"Selamat datang, sahabat lama kami," ucap Raja Julius dengan nada gembira yang tulus. Kerajaan Elowen memang sangat bergantung pada kerja sama ini; Elowen kaya sumber daya alam dan tambang, subur dan makmur, sementara Remington menjaga keamanan dan keseimbangan kekuatan militer.

"Terima kasih, Raja Julius. Pesta yang sangat indah," jawab Raja August Remington dengan ramah.

Raja Julius dan Ratu Mirelle segera memerintahkan pelayan untuk membawa hadiah yang telah disiapkan. Dua peti besar kayu jati dibuka lebar. Satu berisi kumpulan berlian paling jernih dan langka yang ditambang langsung dari pegunungan Elowen, dan satu lagi berisi batu ruby yang sudah dimurnikan hingga warnanya merah menyala seperti darah. Hadiah yang nilainya tak terhitung jumlahnya, menunjukkan betapa kayanya kerajaan ini.

Keluarga Remington membalas dengan sopan, menyerahkan bingkisan-bingkisan berisi senjata berukir magis, jubah pelindung sihir, dan buku-buku kuno strategi perang—barang-barang yang menjadi keahlian mereka. Namun, perhatian semua orang segera teralihkan pada tumpukan kado yang khusus diserahkan kepada sang putri berulang tahun.

Elarise tersenyum bahagia saat kado demi kado diterimanya. Terutama dari tangan Theodore. Pangeran kedua itu menyerahkan sebuah kotak beludru merah berisi kalung bunga mawar putih yang berkilauan, konon memiliki kekuatan pelindung.

"Untukmu, Putri Elarise. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," ucap Theodore lembut.

Namun, di saat itulah, di tengah kebisuan penasaran para tamu, Theodore mengeluarkan satu bungkisan lagi. Bungkisan yang tidak berwarna merah atau oranye, melainkan berbalut kertas hijau tua sederhana. Ia menyerahkannya kepada pelayan terdekat dengan suara lantang agar terdengar jelas.

"Dan ini... untuk Putri Amorette Ysandre Elowen. Sebagai tanda hormat saya," ucapnya tenang.

Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

"Hadiah untuk Amorette?"

"Pangeran Theodore memberikan kado juga untuk Putri Amorette?"

"Bukankah mereka selalu bertengkar? Bukankah Pangeran lebih memilih Elarise?"

Wajah Elarise memucat seketika, senyum manisnya hampir hilang tak berbekas. Di sampingnya, Ratu Mirelle menatap tajam ke arah bungkisan hijau itu dengan pandangan tidak suka. Raja Julius dan Cornelius pun saling bertatapan bingung. Tidak ada yang menyangka—bahkan tidak ada yang mengira—bahwa Theodore masih menganggap keberadaan Amorette hingga memberinya hadiah, apalagi di hari spesial Elarise.

Di sudut ruangan yang agak gelap dekat tangga, pintu besar perlahan terbuka.

Amorette berdiri di sana, siluet tubuhnya tegap dan anggun, mengenakan gaun zamrud yang berkilauan seperti permata hidup. Ia melangkah masuk perlahan, tidak terburu-buru, namun setiap langkahnya seolah membelah keramaian. Matanya menangkap pemandangan itu: wajah Elarise yang kaget dan kesal, wajah keluarganya yang bingung, dan sosok Theodore yang sedang menatap lurus ke arahnya dengan senyum aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Hadiah untukku? batin Amorette terkejut namun tetap tenang, bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum penuh makna.

"Maafkan keterlambatanku," ucapnya lantang, suaranya jernih dan indah menggema di seluruh ruangan. "Aku baru saja mendengar ada yang memberiku kado. Bagaimana mungkin aku melewatkan momen indah itu?"

Dan di saat itu, semua mata tertuju bukan lagi pada Elarise sang tuan rumah, melainkan pada sosok Putri Amorette yang tiba-tiba tampak jauh lebih bersinar, lebih berwibawa, dan jauh lebih misterius dari sebelumnya.

1
Agus Hidayat
rambutnya Amorette sebenarnya warna pirang apa hitam kok selalu berubah?
cynth: Kayaknya lupa kuubah deh. Seharusnya itu pirang (walau rencana awalnya hitam biar senada sama warna matanya). Terima kasih ralatnya ya, Kak (^-^)/
total 1 replies
kitty ❤
seru thor, lanjutkan 😍🔥
cynth: Thank you Kak (*^^*)
total 1 replies
MayAyunda
keren👍👍
cynth: Terima kasih udah mampir <3!
total 1 replies
cila_aa
baguss banget kak next nunggu chapter selanjutnyaa
cynth: Makasih udah mampir, Kak <3
total 1 replies
Sahabat Oleng
Keren 👍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
lidiaaa
semangat Kaa, ceritanya seru
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
Davina Aurora
menarik ceritanya😍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
4revenge
hanssssss
4revenge
ini ni 😍
4revenge
seru padahal baru baca awal awal.
NonaMudaDesi
Kayaknya bagus nih cerita, konspenya kuereennn, tetep semangat kakk, aku mau nabung episode duku
cynth: Hai! Makasih banyak udah mampir <3
total 1 replies
Cattygril
semangat thor
Cattygril: sama-sama👌☺
total 2 replies
T28J
anggur sianida
T28J
kutu kupret juga si hans nih /Angry/
T28J
main catur saja biar akur kak 😂
MayAyunda
keren 👍👍
cynth: Terima kasih <3
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!