....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalalu kembali
Pukul 14.00. Hari berikutnya.
Sinar matahari Eastbridge menembus celah gedung Fakultas Ekonomi. Daun maple berguguran di halaman, membentuk karpet merah-oranye.
Cheyrin dan Lisa berjalan berdampingan menuju perpustakaan pusat. Di tangan Lisa ada tumpukan buku referensi, sementara Cheyrin hanya membawa laptop dan botol air.
"Jadi gimana shift malam pertamanya?" tanya Lisa sambil menyikut lengan Cheyrin pelan. "Masih hidup kan? Nggak langsung resign?"
Cheyrin mengangguk kecil. "Masih."
Lisa tertawa. "Keliatan kok. Kantung matanya lebih tebal dari lipstik gue."
Cheyrin baru saja mau menjawab, langkahnya terhenti.
Sekitar dua puluh meter di depan mereka, di bawah tiang lampu dekat Fakultas Hukum, ada sosok yang sangat ia kenal.
Jay. Bersandar santai pada tiang besi. Helm Ninja hitamnya diletakkan di atas jok motor. Jaket kulitnya masih sama seperti semalam.
Di hadapannya berdiri seorang gadis. rambut hitam panjang, dress putih, dan senyum lebar yang tidak pernah Cheyrin lihat sebelumnya. Gadis itu tertawa sambil menyentuh lengan Jay pelan. Jay membalasnya dengan senyum miring seperti biasa. Obrolan mereka terlihat ringan.
Cheyrin terpaku.
"Eh itu siapa?" Lisa ikut berhenti. Matanya mengikuti arah pandang Cheyrin. "Yang lagi ngobrol sama Jay itu siapa? Temen baru dia? Gue belum pernah liat cewek itu sebelumnya."
Cheyrin tidak menjawab. Dadanya terasa sesak sebentar. Bukan sakit. Hanya... aneh. Seperti ada yang mengganjal di tenggorokan.
Ia menatap dari kejauhan beberapa detik lagi. Jay tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan gadis itu. Rambutnya berantakan tertiup angin.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Cheyrin mengalihkan pandangannya. Ia merapikan tali tasnya, lalu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
"Chey?" Lisa menyusul, bingung. "Buru-buru amat"
"Cepatan Lisa," jawab Cheyrin pelan. Suaranya datar seperti biasa. "Kita terlambat kalau nggak segera ke perpus."
Dari kejauhan, Jay seperti merasakan sesuatu. Ia menoleh sekilas ke arah Cheyrin. Tapi Cheyrin sudah membalikkan badan dan masuk ke dalam gedung perpustakaan.
Pintu kaca tertutup di belakangnya.
Jay mengerutkan dahi, tidak mengerti. Gadis di depannya masih berceloteh, tapi senyum Jay perlahan memudar.
Pukul 17.00.
Area parkir kampus Eastbridge mulai ramai.
Cheyrin berjalan pelan keluar dari gedung Fakultas Ekonomi. Matanya menyapu barisan motor, mencari sosok yang selalu ada di tempat yang sama.
Ninja hitam. Jay. Bersandar pada motornya seperti sore-sore sebelumnya. Helm hitam di tangan kirinya. Angin sore mengacak rambutnya.
Langkah Cheyrin terhenti.
Dari arah berlawanan, gadis yang sama dari siang tadi muncul. Hoodie krem, map tebal di kedua tangannya. Gadis itu berhenti tepat di depan Jay. Bibirnya bergerak, seperti sedang bertanya sesuatu. Jarinya menunjuk ke salah satu map.
Jay menegakkan badan. Ia mengambil map itu, menunduk, lalu jarinya bergerak menunjuk ke arah yang gadis itu tanyakan. Ekspresinya serius untuk beberapa detik. Gadis itu mengangguk, bibirnya kembali bergerak.
Cheyrin berdiri beberapa meter di belakang mereka. Ia tidak mendekat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Dadanya terasa sesak, tapi ia memaksa wajahnya tetap datar.
Tangannya tanpa sadar meremas tali tasnya.
Tiba-tiba Jay diam. Kepalanya menoleh perlahan ke arah Cheyrin. Seolah ia merasakan kehadiran Cheyrin tanpa perlu menoleh lebih dulu.
Tatapan mereka bertemu.
Tanpa mengalihkan pandangan dari Cheyrin, Jay menutup map itu dan mengembalikannya kepada gadis tersebut. Gerakannya cepat. Ia memasang helm di kepalanya, lalu mengucapkan sesuatu singkat kepada gadis itu. Cheyrin tidak mendengar apa yang dikatakan. Ia hanya melihat bibir Jay bergerak sekali.
Gadis itu masih berdiri di tempat. Jay sudah berbalik.
Ia berjalan melewati gadis itu. Langkahnya langsung menuju Cheyrin. Tidak ada jeda. Tidak ada senyum miring seperti biasanya.
Berhenti tepat di hadapan Cheyrin. Jaraknya dekat. Aroma jaket kulit dan parfum yang sama seperti semalam memenuhi indra Cheyrin.
Helm hitam disodorkan ke arahnya. Gerakan Jay tetap hati-hati seperti biasa.
"Udah kelar kuliahnya, Putri Es?" tanyanya pelan. Nada bercandanya ada, tapi matanya menahan sesuatu. Seakan sedang menunggu jawaban yang tidak Cheyrin ucapkan.
Cheyrin menerima helm itu. Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil.
Jay menaiki motornya. "Udah ayok. Naik."
Cheyrin duduk di belakang. Hening. Tidak ada celoteh Jay yang biasa mengisi keheningan di lampu merah. Hanya suara mesin yang rendah dan stabil.
Di kaca spion, Cheyrin melihat gadis itu masih berdiri di tempat yang sama, menatap ke arah mereka yang menjauh.
Motor melaju keluar dari parkiran. Meninggalkan semua pertanyaan yang tidak berani Cheyrin ucapkan.
Angin sore Eastbridge menerpa wajah mereka. Suara mesin Ninja hitam menjadi satu-satunya suara di antara keheningan.
Cheyrin duduk di belakang Jayden seperti biasa. Tangannya memegang ujung jaket Jay, tapi kali ini tidak seerat sore kemarin. Dagunya sedikit menunduk. Matanya menatap punggung Jayden.
Sejak motor melaju keluar parkiran, dadanya terasa aneh. Sedikit sesak. Bukan sakit yang jelas, hanya seperti ada udara yang tertahan di tenggorokan.
Padahal ini bukan kali pertama Jayden berbicara dengan gadis lain. Di kampus, Jayden sering bercanda dengan teman sekelompoknya. Sering ditanya tugas oleh adik tingkat. Cheyrin melihatnya berkali-kali. Dulu ia hanya menatap datar, lalu melanjutkan langkahnya.
Tetapi kali ini berbeda.
Mungkin karena senyum lebarnya yang tidak Cheyrin kenal.
Entah. Cheyrin tidak mengerti. Yang ia tahu, gengsinya menahan lidahnya. Ia ingin bertanya. Tetapi ia memilih diam.
Jayden merasakan keheningan itu dari spion. Biasanya Cheyrin akan mencubit pinggangnya kalau ia banyak diem. Tapi kali ini tidak.
Di persimpangan lampu merah. Jayden menurunkan standar samping sebentar. Ia menoleh ke belakang. Visor helmnya terbuka sedikit.
"Chey," panggilnya pelan.
Cheyrin tidak menjawab. Hanya mengangkat wajahnya sedikit. Matanya masih menatap aspal.
Jayden menghela napas. Ia melepas satu tangan dari stang, mengetuk helm Cheyrin pelan.
"Yang tadi ya," ucap Jayden. Nada suaranya tidak bercanda. Lebih rendah dari biasanya. "Dia Dara. Mantan gue."
Dada Cheyrin bergetar halus. Ia tidak berekspresi. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Tapi di balik helm itu, bibirnya mengatup lebih kuat.
"Dia baru pindah kampus bulan ini," lanjut Jayden. Matanya lurus ke depan, tapi suaranya jelas sampai ke telinga Cheyrin. "Yang dia kenal di kampus ini cuma gue. Jadi dia nanya soal beberapa hal yang dia ga tau. Gue jelasin karena... ya gue nggak tega kalau dia nyasar."
Lampu berubah hijau. Jayden kembali memegang stang.
"Gue tau status kita belum jelas, Chey," kata Jayden pelan. "Lo nggak pernah bilang apa-apa. Gue juga nggak pernah maksa. Tapi gue nggak mau lo salah paham karena diem aja."
Ia jeda sebentar. Lalu nada bercandanya muncul tipis, seperti kebiasaannya menutup hal serius.
"Lagian kalau gue masih suka sama dia, gue nggak akan ninggalin dia di tengah jalan terus milih ngejar lo yang mukanya datar kayak patung," ujar Jayden sambil tersenyum kecil di balik helmnya.
Cheyrin tetap diam. Tapi genggamannya di jaket Jayden perlahan mengencang.
Ia tidak menjawab. Tidak "oh" atau "oke". Hanya itu. Tapi bagi Jayden, itu cukup.