NovelToon NovelToon
AYO BERCERAI, MAS!

AYO BERCERAI, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Romansa / Drama / Rumah Tangga
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

"Ayo bercerai, Mas!"

kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.

Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.

Anna hanya...lelah.

Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.

Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.

Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.

Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?

Temukan jawabannya di novel ini👋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 24, Berpisah

Fajar telah lama berlalu ketika cahaya matahari mulai memenuhi sudut-sudut apartemen dengan warna keemasan yang lembut. Langit Jakarta tampak bersih setelah semalam di guyur hujan, meninggalkan udara yang lebih sejuk daripada biasanya. Namun, kesejukan pagi itu tak mampu meredakan sesak yang memenuhi setiap ruang di dalam hunian yang selama lima tahun terakhir menjadi saksi perjalanan dua insan dengan segala tawa, pertengkaran, diam, dan kasih sayang yang perlahan tumbuh tanpa pernah banyak diucapkan.

Jam dinding menunjukkan pukul jam sembilan tepat.

Sementara itu, di kantor, Abimanyu baru saja menerima pesan singkat dari Jeevan.

From Jeevan:

{Maaf, Bim. Hari ini aku izin mendadak. Ada urusan keluarga yang harus aku selesaikan}

Hanya itu.

Tak ada pertanyaan lain.

Sebagai sahabat, Abimanyu mengenal Jeevan terlalu baik. Jika laki-laki itu sampai meminta cuti mendadak, berarti ada sesuatu yang benar-benar tidak mampu ia tanggung seorang diri.

Di apartemen, suasana begitu sunyi hingga bunyi roda koper yang bergesekan dengan lantai terdengar seperti gema yang memantul ke seluruh ruangan.

Anna berdiri di dekat pintu.

Sebuah koper berukuran sedang berada di samping kakinya. Seluruh pakaian, beberapa buku kesayangannya, laptop yang dahulu menjadi teman setia saat menulis skenario, serta barang-barang pribadi telah tersusun rapi di dalamnya. Anehnya, barang-barang itu terasa jauh lebih ringan daripada beban yang sedang ia bawa di dalam dada.

Ia mengangkat pandangan

Rumah itu tampak sama seperti kemarin. Sofa abu-abu tempat mereka biasa menikmati kebersamaan sambil menonton film.

Meja makan dan kursi makan minimalis yang sering di pakai untuk sarapan pagi dan makan malam bersama sambil bercerita tentang kejadian yang sudah mereka lewati.

Lalu rak buku yang sebagian besar berisi koleksi novel dirinya, bercampur dengan buku-buku teknologi kepunyaan Jeevan.

Tanaman lidah mertua di sudut balkon yang selalu di siram Jeevan setiap akhir pekan di pagi hari.

Tidak ada yang berubah.

Yang berubah hanyalah kenyataan bahwa mulai hari ini, tempat itu tak lagi menjadi rumah untuknya.

Jeevan berdiri beberapa langkah di belakang Anna. Ia mengenakan kaus polos berwarna gelap dan celana panjang sederhana. Wajahnya tampak lebih pucat dibanding biasanya. Lingkar samar di bawah matanya menjadi bukti bahwa semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.

Tak satu pun dari mereka berusaha memecah keheningan. Karena mereka sama-sama tahu, semakin banyak kata di ucapkan, semakin sulit pula langkah perpisahan dilakukan.

Anna mengembuskan napas perlahan.

"Mas..."

Jeevan mengangkat wajah.

Perempuan itu berusaha tersenyum, meski senyum tersebut rapuh seperti ranting kering yang siap patah di terpa angin.

"Semoga Mas sehat selalu." Katanya sederhana.

Meskipun kalimat itu amat sangat sederhana, namun terasa seperti doa terakhir dari seseorang yang masih menyimpan cinta, tetapi memilih melepaskannya.

Jeevan menatap Anna cukup lama. Tatapan itu dipenuhi dengan ribuan kalimat yang gagal menemukan jalan menuju bibirnya.

 Akhirnya ia berkata pelan, "Padahal kamu tidak perlu buru-buru pergi, Na."

Anna diam.

Jeevan melanjutkan. "Kamu masih bisa tinggal di apartemen ini sampai proses perceraian selesai."

Ia berhenti sejenak, seolah sedang menelan sesuatu yang terasa pahit. "Aku yang akan pindah."

Anna mengernyit mendengar pernyataan Jeevan barusan.

"Aku akan tinggal sementara di rumah Ayah Ibuku." Katanya.

Ruangan kembali sunyi.

Usulan itu bukan lahir dari belas kasihan. melainkan sisa-sisa naluri seorang suami yang masih ingin memastikan istrinya memiliki tempat tinggal yang nyaman, meski sebentar lagi status mereka akan berubah.

Anna perlahan menggeleng.

"Terima kasih, Mas." Suaranya begitu lembut. "Tapi aku sudah memikirkan semuanya,"

Jeevan tampak menunggu.

"Aku akan tinggal sementara di apartemen Sherly sebelum semuanya selesai. Jika sudah selesai, aku akan pulang ke kampung halamanku." Katanya.

Nama Sherly membuat Jeevan terdiam.

Sherly memang sahabat Anna dan Jeevan tahu itu. Ia tahu perempuan itu pasti akan menjaga Anna sebaik mungkin. Meski demikian, ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap Anna mengubah keputusan.

Sayangnya, harapan itu hanya tinggal harapan.

"Kalau itu memang yang kamu inginkan..." suara Jeevan terdengar nyaris berbisik. "...aku tidak akan melarang."

Anna mengangguk pelan. Matanya mulai terasa hangat, ia segera mengalihkan pandangan sebelum air mata yang susah payah di tahan benar-benar jatuh.

Tangannya meraih gagang koper.

"Mas..." panggilnya.

"Iya?" Jawab Jeevan pendek.

"Jangan antar aku," pintanya.

Jeevan menatapnya lama.

"Aku bisa pergi sendiri." Katanya lagi.

Pria itu ingin berkata tidak, ia ingin mengatakan kalau dirinya ingin mengantarkannya dan menggenggam jemarinya lebih lama.

Ia ingin memastikan Anna benar-benar tiba di apartemen Sherly dengan selamat. Bahkan, ada bagian dalam dirinya yang ingin menarik koper itu kembali ke dalam rumah dan berkata bahwa semua ini tidak perlu terjadi.

Namun ia mengingat satu hal, ia sudah berjanji akan menghormati setiap keputusan Anna.

Maka, dengan berat hati, ia mengangguk. "Baik."

Anna membuka pintu, sebelum keluar ia menoleh sebentar dan berkata dengan lirih.

"Terima kasih untuk semuanya...Mas. Semoga semuanya akan baik-baik saja di antara kita. Aku pamit." Katanya pelan.

Angin dari lorong apartemen langsung menyapa wajahnya. Tanpa ragu, Anna melangkah keluar dan menutup kembali pintu apartemen tersebut.

Klik...

Bayangan perempuan itu menghilang sedikit demi sedikit hingga akhirnya lenyap seutuhnya.

Dari dalam, terdengar bunyi ding lift terdengar pelan. Lalu kembali sunyi.

Sunyi yang kali ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran mana pun. Menyisakan Jeevan yang masih berdiri memandangi pintu apartemen yang telah tertutup rapat.

Entah berapa lama ia berdiri di depan pintu. Tubuhnya seakan kehilangan tenaga untuk bergerak.

Beberapa menit kemudian, ia akhirnya berbalik dan berjalan pelan menuju sofa abu-abu tempat biasanya mereka duduk bersama.

Ia memilih duduk dan menyalakan televisi, membiarkan televisi itu menyiarkan ulang pertandingan bola antara Manchester united dan Chelsea. Sorak sorai penonton di stadion menggema di apartemen itu, Jeevan duduk tegak menatap televisi. Namun gairahnya tidak lagi seperti biasa jika grup kesayangannya menang.

Jeevan mematikan televisi dan ia masih tetap duduk di sofa, lalu perlahan ia menoleh ke arah dapur. Bayangan Anna yang mengenakan daster dengan rambut panjang di ikat jedai terlihat di sana. Bagaimana perempuan itu membuka kulkas, mencari bahan apa yang akan di masak.

Jeevan tersenyum getir, ia menoleh ke arah pintu kamar mandi. Ia dapat melihat bayangan Anna yang keluar dari kamar mandi itu, mengenakan handuk untuk mengeringkan rambut setelah keramas. Lalu berjalan terburu-buru karena dingin.

Wajah Jeevan terlihat datar, lalu ia menoleh ke arah sisinya. Dulu, saat pertama kali mereka menikah. Dirinya dan Anna duduk bersisian sambil menonton bola, perempuan itu akan sangat ramai jika tahu grup bola mereka mencetak gol.

Lagi-lagi Jeevan menghela napas berat, ia memutuskan untuk berdiri dan melangkahkan kakinya yang berat menuju kamar utama--mungkin lebih baik tidur untuk melupakan semua kenangan itu.

Saat ia sampai di kamar, kenangan itu kembali tergambar jelas. Anna yang berbaring di ranjang kasurnya, tersenyum manis setiap kali menyambut dirinya jika akan tidur. Lalu ia juga mengingat bagaimana ciuman pertama mereka di kamar ini.

Jeevan tertunduk sebentar, lalu melanjutkan langkahnya dan memilih duduk menyandar ke ranjang kasur, pandangannya menatap ke arah jendela besar yang di tutupi gorden tipis. Sesekali gorden itu bergerak karena tertiup angin yang masuk.

Cahaya matahari menyusup melewati kain tipis itu, menciptakan bayangan lembut di lantai.

Untuk beberapa saat Jeevan masih berusaha bertahan. Ia berusaha menelan sesak, lalu menarik napas agar dadanya tidak terasa berat.

Namun lama kelamaan, benteng itu akhirnya runtuh juga. Ia menunduk, bahu lebarnya perlahan bergetar ketika setetes dua tetes air mata mulai berjatuhan membasahi punggung tangannya.

Kemudian semuanya pecah. Jeevan membungkukkan tubuhnya. kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang kini basah oleh tangisan.

Isak yang sejak kemarin ia tahan akhirnya keluar tanpa mampu di bendungan lagi. Suara tangisannya memenuhi kamar yang mendadak terasa begitu asing. Tangisan seorang lelaki yang selama ini selalu tampak kuat, tetapi ternyata menyimpan rapuh yang tak pernah diperlihatkan oleh siapa pun.

Di sela-sela isaknya, bibirnya bergetar pelan.

"Bagaimana ini...?"

Kalimat itu terdengar nyaris putus. Ia menggeleng berkali-kali, seolah berharap kenyataan di hadapannya hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir ketika ia membuka mata.

Namun tidak, semuanya nyata. Anna benar-benar telah pergi.

Dengan suara serak yang dipenuhi kerinduan bahkan sebelum perpisahan itu benar-benar usai, ia berbisik kepada dirinya sendiri.

"Bagaimana ini...?...aku sudah merindukannya...."

Tangisnya kembali pecah, menggema di kamar utama yang sepi. Hingga suaranya terdengar ke ruang tengah tempat mereka melepas duduk bersama.

...💞💞💞...

Apakah keputusan Anna benar-benar sudah benar untuk berpisah dengan Jeevan? Gimana kelanjutan setelah mereka tidak tinggal bersama lagi? Tunggu jawabannya di bab selanjutnya.

Jangan lupa komen, like, vote, subscribe, bintang lima, dan follow akun Yehppee 🫶

...BERSAMBUNG...

1
💞Putri Chania💞
ayo ana..lepaskan semuanya..semangat sembuh
Fatma Yulia
pleeasee jgn pisah ya thor, karna cinta mereka dalammmm bgt
💞Putri Chania💞
duuh ..sama" mencintai d dalam hati...sama" terluka...jd sad..tapi kesendirian juga bisa menyembuhkan luka..
Uthie
Mampir 👍
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
bagus ceritanya thor, kakak aku aja sering ngeluh sama kelakuan keluarga suaminya 👍
Gemuruh riuh
jleb banget
Gemuruh riuh
ucapan senjata para suami cuek
💞Putri Chania💞
Oalah...ternyata yg nyelamatin Anna adalah pria yg mencintainya dalam diam....spertinya makin serru nih tambah pemeran baru Thor..
💞Putri Chania💞
apakah pria itu Abimanyu..?
💞Putri Chania💞
cerita yg bagus dan banyak terjadi pada kaum hawa..yg merasa baik" saja ...pada hal..
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih, semoga betah bacanya sampe tamat☺️
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut thor
Mymy Zizan
apa yg mau di lompatin thor... 7 bab aja masih krng, pngen lebih
💞Putri Chania💞
cerita nya bgus Thor...tidak sedikit yg mengalami kasus sperti Anna...
🍀 YEHPPEE 🍀: hai makasih udah mampir lagi 😁🙏
total 1 replies
Gemuruh riuh
elu sendiri yang bikin stres ibuuuu
Gemuruh riuh
pertanyaan horor ibu mertua 😲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!