Cerita ini hanya kehaluan author.
Kehilangan suami dan harus menikah dengan adik iparnya harus Khairunnisa jalani.
Kebahagiaan yang baru Abian Maulana dan Khairunnisa rasakan harus terusik karena satu persatu misteri kematian Andreas Rafasya terungkap.
Maaf banyak typo bertebaran, tahap revisi 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang baru
"Nak siapa nama yang cocok buat cucu Mama yang tampan ini?" tanya Mama Mertua kepada Nisa.
"Bagusnya apa Ma?" balas Nisa balik.
"Dulu almarhum Mas Andre sering memanggilnya Raka Ma," kata Nisa sambil berfikir.
"Bagaimana kalau, Atthallah Raka Rafasya," sambung nisa lagi.
"Bagus nak nanti kita panggil Raka," jawab Mama antusias.
" Nisa mau ada nama Mas Andre, Mama tidak keberatan kan?" tanya Nisa dengan hati-hati takut Mama keberatan dengan usul Nisa.
"Iya nak Mama tidak apa-apa, Mama suka namanya," jawab Mama.
"Assalamualaikum Bu Nisa," sapa Dokter Aliyah masuk menuju ke arah Nisa.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"
"Silahkan masuk Dokter Aliyah," seru Mama.
Dokter Aliyah memeriksa kondisi Nisa dan memberi beberapa saran.
Seminggu berlalu.
Seminggu sudah Nisa berada di rumah sakit, hari ini Nisa dan bayi nya di perbolehkan pulang mengingat kondisinya dan bayi nya bagus tidak ada masalah apapun.
Setelah Mama mengurus semua, sedangkan Bik Mirna mengurus baju Nisa dan untuk biaya selama di RS di bayar oleh Bian dengan dalih semua ini demi keponakannya.
Nisa berjalan keluar rumah sakit dengan mengendong bayi tampan nya.
Bik Mirna mengikuti di belakang sedangkan Mama di samping Nisa.
Nisa masuk ke dalam mobil di bantu Bik Mirna sedangkan bayinya di gendong Mama.
Suasana hening di dalam mobil.
"Nak selama cucu mama masih bayi biarkan Mama menginap di sana membantu mu mengurus bayimu Nak," pinta Mama di angguki Nisa.
"Terimakasih Ma," jawab Nisa memeluk Mama.
Mobil yang kami tumpangi sampai di depan rumah setelah Pak Ujang membuka pagar rumah, mobil masuk ke dalam garasi.
Mama turun bersama cucunya langsung menuju kamar sedangkan aku memilih mandi.
Sore pun akhirnya tiba.
Nisa duduk di teras sambil mengendong anaknya, terdengar suara mobil masuk halaman rumah ternyata itu mobil Bian.
"Kenapa rasanya canggung sekali menyapa Bian," kata Nisa menghela nafas.
Bian turun dari mobil menghampiri Nisa.
"Assalamualaikum mbak Nisa," sapa Bian.
"Mbak Mama di mana?"tanya Bian.
"Mbak pamit mau ketemu Mama sebentar setelah itu pinjam kamar tamunya mbak, saya mau mandi," kata Bian terburu-buru.
"Apa Bian tidak mau melihat anakku," lirih Nisa.
"Mama ada di dalam, silahkan masuk kalau kamar ruang tamu minta saja kunci sama Bik Mirna," jelas Nisa.
Setelah itu bian bergegas masuk ke dalam untuk membersihkan tubuhnya,
Bian tidak mau bayi tersebut terkena virus dari luar sedangkan bian baru pulang dari luar kota.
Akhirnya nisa memutuskan berjalan di depan rumah mengendong Raka.
Ketika melihat Nisa tetangga sili berganti menyapanya, sekedar ingin menanyakan kabar Nisa dan bayi nya.
"Wah lucunya,"
"Ganteng ya Mbak Nisa,"
"Bagaimana kondisi Bu Nisa?," tanya Ibu Ida.
"Nama anaknya siapa Bu?," tanya Ibu Laras.
"Ibu-ibu bisa panggil anak saya RAKA," kata Nisa memberitahu.
Beberapa ibu-ibu mengelilingi Raka, Bayi gembul tidak terusik dari tidurnya.
Begitulah sapaan dari para tetangga komplek Nisa.
"Maaf ibu-ibu saya pamit mau masuk ke rumah hari sudah mulai gelap," kata Nisa ramah.
Nisa pun masuk ke dalam rumah, ketika berada di ruang tamu Nisa melihat Bian.
"Mbak boleh bian gendong Raka," tanyanya dengan ragu-ragu.
"Boleh, memang kamu bisa?" tanya Nisa balik.
"Pengen tau rasanya gendong Raka," katanya sambil nyengir.
Setelah nisa memberikan Raka kepada Abian, Nisa berjalan ke belakang untuk membuat kopi buat Bian.
Nisa berjalan menuju ruang tamu dilihatnya pemandangan yang sangat menyentuh hatinya,
"Andai itu mas Andre," batin Nisa.
Nisa berjalan menuju arah Bian.
"Ini kopi buat kamu di minum ya," kata Nisa.
" Terimakasih Mbak Nisa, lucu ya raka" kata Bian.
"Iya," Jawab Nisa sendu.
Melihat anaknya tertidur Nisa memilih mengambil Raka dan membawanya ke kamar sedangkan Bian menikmati kopi buatan Nisa.
" Kopi buatan mbak Nisa enak, pantas saja Kak Fasya sering memuji Mbak," lirih Bian dengan suara pelan agar tidak di dengar Nisa.
Malam menjelang.
Nisa memilih berdiam di kamarnya sedangkan di luar bian mengobrol bersama mamanya.
"Ma, Bian pamit mau pulang sudah karena sudah malam tolong bilang sama Mbak Nisa kalau Bian pulang Ma," pinta Bian mencium tangan sang mama dan menitipkan salam buat Nisa karena merasa tidak enak menganggu Nisa.
Bian berjalan menuju halaman garasi mengambil mobilnya, setelah itu Bian melambaikan tangan ke pada sang Mama.
"Nak semoga nisa menerima lamaran kamu nanti," lirih Mama Rini.
Setelah itu Mama Rini masuk dan menutup pintu rumah, berjalan menuju kamar Nisa.
Tok tok tok di ketuk pintu kamar.
" Assalamualaikum Nisa Mama boleh masuk?" pinta Mama Rini.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu, silahkan masuk ma," jawab Nisa.
Setelah masuk mama Rini mendekati sang menantu atau lebih tepat nya mantan menantu, di usapnya pucuk kepala yang terbungkus hijab tersebut.
" Raka rewel tidak," tanya Mama Rini.
" Alhamdulillah tidak Ma, dari tadi tidur anteng," kata Nisa.
"Syukurlah, mama takut Raka rewel," kata sang mama menjada ucapannya.
"Nak tadi Bian pamit pulang karena sudah malam, tolong pertimbangkan lamarannya nak demi Raka dan nama baikmu nak," Kata Mama Rini sambil berlalu menuju pintu keluar.
"Nisa sudah memikirkannya Ma," kata Nisa.
"Insyaallah satu bulan lagi Nisa bilang sama Bian," terang Nisa lagi.
Mama menghentikan langkahnya berbalik menatap Nisa.
"Alhamdulillah semoga keputusan terbaik yang nak nisa ambil," kata mama menutup pintu.
Nisa memang sudah mempunyai jawaban lamaran tersebut tinggal menunggu waktu yang tepat.
Nisa beruntung meskipun tidak memiliki keluarga karena umi dan abi Nisa meninggal tetapi Nisa memiliki mertua yang baik meskipun sang suami telah tiada.
Sementara di depan pintu kamar.
Mama Rini memandang sendu pintu kamar Nisa
"Nak meskipun kamu hanya menantu tetapi Mama sangat menyayangi mu Nisa dan bagi Mama tidak ada mantan Mertua, Mama juga ingin kamu menjadi menantu Mama selamanya," lirih mama Rini
"Fasya semoga kamu bahagia di sana, mama akan menjaga anak dan istrimu,".
Sedangkan di kamar berbeda dan tempat yang berbeda.
Abian berada di kamar kakaknya memandang foto Kakanya dan Kakak Iparnya.
Foto Andreas Rafasya dan Khairunnisa saat acara lamaran, keduanya tersenyum bahagia.
kamar sang kakak sebelum menikah masih tetap terawat dan barang-barang masih tertata rapi.
Bian sering mendengar cerita sang Kakak tentang Nisa, bagaimana bahagianya sang kakak menceritakan kehidupan yang bahagia saat menikah dengan Nisa (tetapi bukan masalah yang bersifat pribadi)
Bian membuka pesan terakhir di hp nya yang di kirim sang kakak pagi sebelum berangkat keluar kota.
"Dek kakak mau pergi tolong jaga Nisa dan anak dalam kandungan nya."
Bian yang menerima pesan tersebut binggung, karena bian sedang berada di Kalimantan untuk mengurus perusahaan anak cabang di sana.
"Kak semoga aku bisa menjaga amanah mu," kata bian sambil mengusap air matanya.
Kehilangan orang yang kita sayangi dalam waktu yang cepat tanpa kita duga membuat kita terpukul.
Mungkin bukan Nisa saja tetapi bian dan mama Rini juga sedih tetapi mereka berusaha tegar demi Raka.
"kak anak mu tampan mirip dirimu," Kata bian mengusap foto sang kakak.
"Namanya Atthallah Raka Rafasya, ya mbak Nisa sengaja menambahkan namamu di belakang nama bayi tampan itu." Bian berbicara memandang foto Kakanya.
" Sanggupkah aku mengantikan posisimu kak ," lirih Bian sendu.
Bian tau begitu besarnya cinta keduanya, sungguh dulu saat pertama kali bertemu Nisa bian sudah menyukai nya namun bian sadar Nisa adalah Kakak Iparnya, pembawaan Nisa yang lembut dan selalu ceria menjadikan daya tarik tersendiri belum lagi wajahnya yang cantik dan ramah.
Dulu bian berencana ingin mencari pendamping hidup seperti kakak iparnya.
"Kita tidak tau masa depan apa yang kita akan jalani tetapi kita harus ikhlas, tersenyum meskipun itu pahit karena takdir kita sudah ada yang menentukan tinggal kita yang memilih jalan yang mana."
Bersambung
PADAHAL TEMANNYA SAMA, YAITU JEFRI
KLO HENDRI MLEPASKN TASYA, DN MNRIMA CALISTA, BETAPA HNCURNYA TASYA, YG SDH MO DRI BIAN, GAGAL PULA DGN HENDRI YG TLH BRJUANG UNTUK DPTKN TASYA
TRNYATA BAHAYA MSH BLM SIRNA DARI RMH TGG NISA & BIAN,, DN ERICK JUGA JGN DIREMEHKN..
SEMOGA REYHAN DIHUKUM BERAT, KRN DALANG PEMBUNUHAN DN PENCULIKAN