Kisah perjalanan cinta gadis tomboy yang di jodohkan dengan seorang pria yang ternyata seorang ketua mafia bernama Leonathan Nugroho. Dia adalah putra pertama dari pasangan Shandy Nugroho dan Merlin Syafira. Nathan itu terkenal dengan kekejamannya di dunia hitam. Bahkan dia juga sering di juluki dengan sebutan king dragon.
Gadis tomboy itu bernama Seinara horison dia adalah anak kedua dari Ardi horison dan Adelia Rasya. Seinara mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Abraham horison. Abraham lebih memilih untuk membangun bisnisnya sendiri di luar negeri. Sehingga dia jarang punya waktu untuk keluarganya, namun dia sangat menyayangi adik semata wayangnya yaitu Seinara. Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan sang adik, sepeti saat mendengar Seinara akan di jodohkan. Abraham adalah orang pertama yang menentang keras rencana tersebut. Namun apalah dayanya, dia tidak bisa mengubah keputusan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan
Sebulan kemudian....
Sesuai kesepakatan dua keluarga, pernikahan Seinara dan Nathan akan di langsungkan bulan ini. Pada malam hari sebelum resepsi, Abraham mendatangi kamar sang adik, dia ingin memastikan bahwa adiknya benar-benar menerima perjodohan itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Dek apa kamu ada di dalam?!" Seru Abraham setelah mengetuk pintu.
"Masuk aja kak! Aku ada di dalam kok!" Jawab Seinara yang baru selesai sholat isya.
Abraham pun memasuki kamar adiknya setelah mendapatkan izin. Abraham menatap wajah adiknya dengan sendu, dia merasa menjadi orang yang tidak berguna saat ini. Bahkan dia tidak bisa menolong adiknya untuk lepas dari perjodohan.
"Dek apa kamu yakin ingin menikah sama pria itu?" Tanya Abraham dengan wajah serius.
"Yakin atau tidak aku nggak punya pilihan lain kak, aku nggak bisa membatalkan pernikahan ini. Karena itu menyangkut dengan nyawa seseorang" jawab Seinara frustasi.
"Kalau kamu memang nggak ingin menikah, kakak bisa kok ajak kamu pergi malam ini. Kita kabur ke luar negeri, dan kakak nggak akan biarin mereka menemukan kita" tegas Abraham.
"Nggak bisa kak, itu sama aja kakak mempermalukan kedua orang tua kita. Walau bagaimanapun juga, mama sama papa itu orang tua kandung kita" tegas Seinara.
Abraham pun terdiam, dia juga bingung harus bagaimana caranya menolong sang adik. Saat ini dia benar-benar tak punya cara untuk menolong adiknya.
"Terus kita harus bagaimana dong dek? Apa kamu harus menerima pernikahan ini?" Tanya Abraham sambil menahan kekesalannya.
"Iya kak, aku akan menerima pernikahan ini. Semua ini aku lakukan untuk kebaikan mama sama papa. Aku nggak mau mereka di anggap ingkar janji sama om Sandy. Jadi ini adalah jalan satu-satunya kak, semoga kakak bisa mengerti keputusan aku ini" jawab Seniara sambil menghela nafasnya
"Baiklah... Jika itu memang keputusan kamu, kakak akan selalu mendukungmu dek. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan setelah menikah nanti" pasrah Abraham.
Abraham kembali memeluk adik kesayangannya itu. Seinara pun membalas pelukan hangat sang kakak, hanya kakaknya yang mengerti perasaannya saat ini.
Esok harinya, semua orang sudah berkumpul di rumah kedua orang tua Seinara. Hari ini adalah pernikahan Seinara dan Nathan. Semuanya sudah di persiapkan oleh kedua orang tua Seinara. Karena memang mereka yang menginginkan pernikahan tersebut. Bahkan Abraham pun memilih untuk terus berada di samping adiknya daripada membantu kedua orang tuanya.
"Kak, kenapa kakak belum siap-siap sih?" Tanya Seinara pada Abraham yang masih asyik tiduran sambil main handphone.
"Ngapain juga kakak siap-siap? Kan kamu yang akan menikah, bukan kakak!" Jawab Abraham malas.
"Tapi kan kakak udah janji sama aku semalam. Kalau kakak bakal temenin aku pas akad nikah!" Protes Seinara.
"Huft... Ngapain sih repot! Orang tinggal ganti baju doang kok!" Jawab Abraham cuek namun beranjak dari tempat tidur.
Kemudian dia berlalu menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Tak lama, Abraham kembali dengan pakaian formal. Dia terlihat lebih gagah setelah berganti pakaian, kemeja moka dan jas hitam terlihat begitu pas di badannya. Membuat Abraham terlihat seperti model papan atas, bahkan Seinara pun sedikit terpesona melihat penampilan sang kakak.
"Nggak usah bengong gitu juga kali lihatnya...!" Seru Abraham sambil menjitak kepala adiknya.
"Duh, sakit tau kak!" Protes Seinara sambil mengusap kepalanya yang habis di jitak sang kakak.
"Habis kamu bengong gitu lihat kakak! Kenapa? Apa kamu terpesona sama penampilan kakak?" Tanya Abraham sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda adiknya.
"Dih, apaan sih, narsis banget" jawab Seinara sambil mengedipkan bahunya merasa jijik.
"Hahahaha....! Ini yang bakal kakak kangen dari kamu dek!" Seru Abraham sambil ketawa ngakak.
"Udah nggak usah bercanda lagi kak, sebentar lagi pasti mama datang" ucap Seinara menasehati sang kakak.
Dan benar saja, Adelia pun memasuki kamar Seinara. Adelia datang untuk menjemput Seinara, karena mempelai pria dan keluarganya sudah datang.
"Sein, ayo kita turun sekarang. Nathan dan keluarganya sudah datang, sebentar lagi akad nikah akan segera di mulai!" Seru Adelia sambil memasuki kamar Seinara.
"Ngapain buru-buru sih ma?" Tanya Abraham segera.
PAAKK...
"Aww...! Sakit ma!" Seru Abraham mengadu kesakitan, karena mendapat pukulan sari sang mama.
"Habis kamu selalu saja bercanda, orang saat ini kita semua sedang serius semua! Jadi kamu juga harus menghormatinya!" Jawab Adelia tegas.
Seinara menahan tawanya melihat sang kakak yang menjadi bahan Omelan sang mama. Melihat sang adik yang menahan ketawa, Abraham pun semakin kesal pada adiknya.
"Benar-benar keterlaluan, bukannya nolongin malah ngetawain begitu. Kejam banget kamu dek" gerutu Abraham kesal.
"Udah... buruan kita keluar sekarang! Jangan bikin yang lain menunggu! " Tegas Adelia yang langsung menuntun Seinara untuk berjalan keluar dari kamarnya.
Seinara pun menurut, kali ini Seinara di apit oleh kakak dan juga mamanya. Mereka menuruni tangga untuk menuju ke tempat akad nikah. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian seluruh keluarga besar. Karena memang mereka tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga besar dari dua belah pihak.
"Ternyata cantik juga setelah di makeup" lirih Nathan yang sedikit terpesona melihat kecantikan Seinara.
Menjafi pusat perhatian semua orang saat ini membuat Seinara semakin gugup. Bahkan kedua telapak tangannya pun sangat dingin.
"Kenapa mereka semua menatap aku begitu ya? Bikin aku tambah nervous aja nih, apalagi tatapan Nathan. Seperti melihat air di pada pasir, ya Tuhan... Ingin rasanya aku menghilang saat ini juga" lirih Seinara gugup.
"Nggak usah gugup begitu dek, kamu tenang aja, disini ada kakak yang akan selalu menemani kamu" lirih Abraham yang mengerti perasaan sang adik saat itu.
Seinara pun duduk di samping Nathan di depan pak penghulu yang akan menikahkan mereka. Sedangkan Abraham memilih untuk tetap berdiri di samping adiknya, walau sudah di suruh pergi sama sang mama , tapi Abraham tak perduli. Dia tetap tak bergeming, dia masih berdiri di samping adiknya itu. Dia ingin menjadi saksi dalam pernikahan tersebut.
Acara akad nikah pun berlangsung dengan hikmat. Setelah Nathan selesai mengucapkan ijab qobul, suara lantang Sah pun menggema di ruangan tersebut. Itu menandakan bahwa Seinara dan Nathan kini telah sah menjadi suami istri.
SAH...
SAH....
SAH...
"Alhamdulillah....!!" Seru kedua belah keluarga besar.
"Alhamdulillah... Sekarang kamu sudah sah menjadi seorang istri nak" ucap Mama sambil memeluk dan mencium Seinara yang masih duduk di depan penghulu.
Air mata Seinara pun terjatuh, entah itu air mata apa. Karena pernikahan itu bukan keinginannya. Namun Seinara mencoba untuk tetap tegar dan berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menangis.
"Selamat ya dek, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri" ucap Abraham sambil tersenyum, kemudian meraih sang adik kedalam pelukannya.
Pertahanan Seinara pun runtuh, dia menangis sesenggukan di pelukan sang kakak. Melihat itu Abraham semakin erat memeluk adiknya, ingin rasanya dia juga ikut menangis. Namun itu bukan tipenya, Abraham bukan pria lemah yang mudah menunjukkan air matanya. Abraham memeluk sang adik sambil sesekali mengusap punggung Seinara untuk menenangkan.
"Menangislah, jika dengan menangis gati kamu menjadi lega" lirih Abraham dengan penuh kasih sayang.
"Hiks... Hiks... Hiks... Maafin aku kak..." Lirih Seinara ditengah tangisannya.
Nathan melihat itu pun terkejut, namun dia mengulum senyum. Tak di sangka cewek yang terlihat kuat ternyata cengeng dan manja juga.
"Nggak nyangka, ternyata gadis ini cengeng dan manja. Aku pikir kemarin dia bukan tipe cewek manja, tapi sekarang dia menunjukkan sifat aslinya" lirih Nathan sambil terus menatap sang istri yang masih manangis di pelukan hangat sang kakak.
Merasa tidak enak pada menantunya, Adelia pun mengurai pelukan Seinara dan Abraham. Dia tidak mau kalau Narhsn sampai salah paham melihat mereka.
"Sein, Abraham, udah dong pelukannya...! Ini bukan waktunya buat kalian berpelukan seperti ini" protes Adelia sambil melepaskan Seinara dari pelukan Abraham.
Dengan terpaksa Abraham pun melepaskan pelukannya. Kemudian Adelia menarik Seinara untuk berjalan mendekat pada Nathan sang suami.
"Sein, sekarang Nathan adalah suami kamu, jadi ayo Salim sama suami kamu nak. Tunjukkan bakti kamu pada suami, karena mulai sekarang kamu adalah tanggung jawab Nathan seutuhnya" ucap Adelia menasehati sang anak.
Seinara hanya menjawab dengan anggukan kepala, dia pun menatap Nathan. Lalu Nathan mengulurkan tangannya untuk disalim oleh Seinara. Dengan tangan sedikit gemetar, Seinara pun menyalimi suami yang baru beberapa menit lalu menikahinya. Nathan pun tersenyum melihat tingkah istrinya, kemudian Nathan mencium kening Seinara untuk yang pertama kalinya.
"Jangan menangis, aku bukan orang jahat yang akan menculik kamu kok" lirih Nathan mengibur sang istri.
Seinara pun tercengang mendengar candaan dari Nathan. Melihat istrinya yang terkejut karena perkataannya, Nathan pun mengusap sisa air mata yang masih ada di wajah Seinara. Mendapatkan perlakuan khusus dari suaminya, Seinara pun merasa malu dan bertambah gugup.
"Selamat ya Than, akhirnya impian mommy terwujud!" Seru Merlin sambil berjalan menghampiri pasangan pengantin baru.
"Terimakasih mom" jawab Nathan yang langsung menyambut sang mommy dengan pelukan.
"Kamu ini kebiasaan banget, main peluk-peluk aja!" Protes Merlin.
"Nggak apa-apa dong mom, kan sama mommy sendiri" jawab Nathan cuek.
Merlin pun melepaskan pelukan sang anak dari tubuhnya. Kini gantian Seinara yang di peluk okeh Merlin.
"Selamat ya nak, mulai sekarang kamu sudah menjadi istri anakku. Itu artinya kamu juga menjadi anakku" ucap Merlin pada Seinara sambil memeluknya.
"Terimakasih Tante" jawab Seinara.
"Loh, panggilnya kok masih Tante sih? Panggil mommy dong seperti Nathan" protes Merlin pada Seinara.
"I-iya mom" jawab Seinara kaku.
"Nah gitu dong, kan jadi enak di dengar" ucap Merlin.
Acara pun di lanjutkan dengan resepsi pernikahan, sepanjang resepsi pernikahan Seinara terlihat gelisah. Karena dia tak melihat sang kakak di tengah para tamu dan keluarga.
"Duh... Kakak kemana sih? Kok sejak selesai akad nikah dia nggak kelihatan ya?" Lirih Seinara dalam hati dengan gelisah.
"Ada apa, Kok kamu terlihat gelisah begitu?" Tanya Nathan setelah melihat kegelisahan sang istri.
"Itu kak, kakakku nggak kelihatan sejak selesai akad tadi" jawab Seinara gugup.
Nathan pun mengernyitkan dahinya mendengar panggilan dari Seinara untuk dirinya. Namun Nathan tidak mau ambil pusing dengan panggilan itu, dia mencoba menahan kekesalannya.
"Mungkin dia sedang istirahat di kamarnya" jawab Nathan sambil cemberut.
"Aku takut kak Abraham pergi" lirih Seinara.
"Kalau begitu, kita coba cari dia sekarang yuk. Mumpung acara sudah hampir selesai" usul Nathan.
Seinara pun mengangguk, mereka akhirnya pergi mencari keberadaan Abraham. Di tengah mencari Abraham, Nathan tiba-tiba Nathan menghentikan langkahnya dan juga Seinara.
"Tunggu!" Seru Nathan.
"Ada apa kak? Bukannya kamu tadi bilang akan menemani saya untuk mencari kakak saya?" Tanya Seinara segera pada Nathan.
"Iya saya memang bileng begitu, tapi setelah selesai resepsi kita pulang ke rumah ya" jawab Nathan.
"Pulang ke rumah? Lah ini kan di rumah kak?" Tanya Seinara bingung.
"Bukan, maksud saya pulang ke rumah kita sendiri!" Jawab Nathan.
"Rumah kita?" Tanya Seinara semakin bingung.
"Iya, emmmh... Maksud saya rumah pribadi saya. Karena sekarang kita sudah menikah jadi rumah itu milik kita berdua. Saya mau kita tinggal di rumah itu" jawab Nathan.
"Duh, baru nikah saja dia udah begini. Gimana seterusnya ya? Tapi... Ya udahlah nanti pas sampai rumahnya aku akan minta pisah kamar aja. Aku nggak mau tidur sekamar sama dia" lirih Seinara dalam hati.
"Baiklah... Setelah ini kita pulang" jawab Seinara mengalah.
Mereka pun melanjutkan pencariannya, ternyata Abraham sedang duduk sendiri di taman yang ada di kamar Seinara.
"Akhirnya kita menemukannya" lirih Nathan setelah melihat Abraham.
"Kak, kenapa kakak disini?" Tanya Seinara segera pada Abraham.
"Eh dek, kok kalian ada di sini? Bukannya kalian sedang menerima tamu di depan?" Tanya Abraham balik pada Seinara dan Nathan.
"Aku nyariin kakak, kenapa daritadi nggak kelihatan?" Jawab dan tanya Seinara.
"Kakak nggak suka acara begituan dek, jadi kakak kesini. Hanya disini kakak bisa merasa tenang dan nyaman" jawab Abraham sambil tersenyum.
"Aku juga nggak suka acara seperti itu kok kak, apa aku boleh gabung sama kakak disini?" Tanya Nathan mencoba mengakrabkan diri dengan kakak iparnya.
Abraham segera menatap Nathan dengan tatapan bingung.
"Bukannya kalian masih harus menyambut tamu?" Tanya Abraham.
"Nggak kok, resepsinya sudah selesai. Malah saya akan mengajak Sein untuk pulang" jawab Nathan sopan.
"Oh gitu, ya udah sini kalau mau duduk santai bareng" ucap Abraham.
Nathan dan Seinara pun ikut duduk bareng bersama Abraham. Satu jam kemudian, Nathan mengajak sang istri untuk segera pulang. Karena memang hari sudah mulai malam, jadi mereka harus segera pulang.
"Sein, kita pulang sekarang yuk" ajak Nathan sambil melihat jam tangannya.
"Bentar lagi dong, saya masih ingin ngobrol sama kak Abraham" jawab Seinara dengan wajah memelas.
"Nggak bisa Sein, jarak rumah saya dari sini lumayan jauh" tegas Nathan.
"Mending kamu pulang sekarang aja, takutnya kemalaman dijalan justru lebih bahaya" ucap Abraham mencoba menengahi.
"Kalian nggak asyik ah...!" Protes Seinara sambil berlalu meninggalkan tempat tersebut.
up nya jgn lamaa2 thor💪😄
lanjutt💪😄
jgn lama2 thor,sm lupa crita yg mana hrs ulang liat awal💪😄
lanjutttt💪😄