"Ayo bercerai setelah anak ini lahir"
laki-laki itu hanya diam, tapi keterdiaman itu membuat semuanya semakin jelas kalau ia menginginkan hal yang sama
Belasan tahun hanya cintanya yang terus terpupuk, keajaiban yang ia harapkan suatu hari nanti tak kunjung terjadi. Pada akhirnya, berpisah adalah satu-satunya jalan atas takdir yang tak pernah menyatukan mereka dalam rasa yang sama.
"Selamat jalan Kalanza, aku harap kamu bahagia dengan pilihan hatimu"
Dari sahabat sampai jadi suami istri, Ishani terlalu berpikir positif akan ada keajaiban saat Kalanza tiba-tiba mengajaknya menikah, harapannya belasan tahun ternyata tak seindah kisah cinta dalam novel. Kalanza tetaplah Kalanza, si laki-laki keras kepala yang selalu mengatakan tak akan pernah bisa jatuh cinta padanya.
"Ishani, aku ingin melanggar janji itu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Pergi
Harusnya hari itu semuanya berjalan dengan lancar seperti agenda yang sudah dijadwalkan, saat langit sore mendung Ishani dan kedua orang tuanya berangkat dari rumah omnya untuk kembali pulang. Mereka menawarkan besok saja, tapi ayahnya bilang kalau ada rapat penting besok di perusahaan, apalagi Ishani juga sudah tidak masuk dua hari. Perkiraannya mereka akan sampai rumah nanti sekitar jam 10 malam karena tempatnya yang memang begitu jauh
"Apa tidak apa-apa kalau menyetir sendiri?" Omnya bertanya pada Ayah Arga karena mereka memang kesini hanya bertiga, niatnya sekalian liburan dan quality time bertiga
"Aman, aku masih kuat"
"Nanti kalau kelelahan di jalan istirahat ya, jangan paksakan diri" ayah hanya mengangguk saja, setelah berpamitan dengan semuanya, roda empat itu berjalan meninggalkan halaman rumah
Di tengah perjalanan, hujan deras turun mengguyur, perkiraan tinggal 1 jam lagi mereka akan sampai di rumah. Tapi karena hujan, bisa jadi lebih lama. Ishani menatap bulir-bulir hujan dari kaca mobil. Orang tuanya masih asik berbincang-bincang, Ishani merasa malam ini sedikit berbeda. Seperti akan ada hal besar yang terjadi, ia menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran buruk itu
"Dimana ayah bertemu dengan ibu?"
"Kami satu sekolah sejak SMA nak, ibu adalah orang yang cantik dan pintar"
"Ayah juga pintar dulu" ayah tertawa mendengar ibu melanjutkan kalimatnya "pintar memukul orang maksud ibu"
"Kisah yang rumit, beberapa kali sempat terjadi kesalahpahaman antara kami, terutama saat masa kuliah. Teman kita banyak, apalagi beda jurusan, kadang teman organisasi selalu dicurigai" ibunya ikut tertawa saat ayah menceritakan hal itu
"Aku juga ingin seperti ayah dan ibu" orang tuanya saling pandang dan tersenyum singkat
"Kelak Ishani akan punya jalan takdirnya sendiri, ibu selalu berdo'a kalau putri ibu yang cantik ini akan dapat laki-laki yang baik dan sangat menyayanginya"
"Seperti ayah?" Ibunya menatap suami yang duduk di sampingnya sambil tersenyum, laki-laki itu mengusap air disudut matanya, mungkinkah ia terharu dengan perkataan putrinya?
"Jauh lebih baik dari ayah nak. Kelak Ishani akan jauh lebih bahagia bersama pasangannya, itu do'a ayah dan ibu untukmu"
"Terima kasih sudah membawa Ishani ke dunia, tanpa kalian mungkin nasib Ishani nggak akan sebaik sekarang. Banyak anak-anak yang sering Ishani lihat nggak bisa makan, nggak bisa sekolah, nggak punya tempat tinggal. Ishani beruntung karena punya semuanya, terima kasih" Ishani merangkul kedua orang tuanya dari belakang, dingin karena hujan diluar sana tak terasa dalam mobil yang memberikan suasana hangat
"Terima kasih juga sudah hadir dalam hidup ayah dan ibu, tanpa Ishani dunia ayah dan ibu mungkin nggak akan seberwarna sekarang. Kami akan usahain yang terbaik untuk Ishani" percakapan yang begitu hangat, jarang sekali mereka bisa bicara seperti ini dirumah karena jadwal yang padat, sekedar makan bersama di meja makan saja kadang hanya bisa saat makan malam karena kegiatan yang terus dikejar waktu
"Dia sudah tidur?" Ayah Arga melihat putrinya terbaring di kursi belakang dari kaca depan mobil padahal belum sepuluh menit yang lalu anaknya masih mengoceh
"Dia sepertinya kelelahan, ia tak tidur siang tadi. Ini juga sudah jam tidur biasanya"
"Dia sudah besar Ibu, aku dulu takut melihat tubuh kecilnya saat baru belajar berjalan, tapi ia sama sepertiku yang keras dan tak mau menyerah"
"Sifat kerasnya memang darimu, tapi ia adalah anak yang baik dan tak bisa melihat orang lain terluka" ibu menatap Ishani dan suaminya bergantian dengan senyum
"Aku tau kalau itu menurun darimu, aku seperti melihat diriku versi perempuan tapi mata yang mirip sekali denganmu" ibu terkekeh mendengar ayah berkata demikian, tapi itu memang tak salah
"AYAH! DI DEPAN" sebuah truk melawan arus terlihat melaju kencang. Kondisi jalanan yang licin akibat hujan deras, membuat mobil itu kehilangan kendali. Untuk menghindari kecelakaan, ayah refleks membanting stir mobilnya ke pinggir
"ISHANI!" Ibu reflek melepas sabuk pengamannya untuk memeluk putrinya yang masih terlelap
"IBU JANGAN!" Mobil itu jatuh berguling ke jurang, belum sempat memeluk putrinya tubuh ibu terpental keluar akibat kaca yang pecah. Ishani terbentur ke depan, kaca mobil itu banyak mengenai tubuhnya, gadis itu linglung, ia merasakan sakit di semua bagian tubuhnya. Suara hujan deras terdengar jelas di telinganya, bau anyir mulai menusuk ke pendengarannya. Ia meneteskan air mata sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya
Beruntung mereka sudah masuk di jalan kota yang ramai, alhasil para tenaga medis dan kepolisian langsung menuju lokasi begitu kabar itu terdengar
.
Bau obat-obatan pekat langsung tercium begitu ia menginjakkan kaki di rumah sakit, di depan sana orang tuanya berjalan lebih dulu, ini sudah jam 2 dini hari, tapi orang tuanya tiba-tiba membangunkan mereka untuk ikut ke rumah sakit. Kalan dan adik-adiknya tak tau apa yang terjadi. Mereka hanya ikut saja saat sang ibu memakaikan mereka jaket karena udara luar yang begitu dingin
"Kenapa kita kesini kak?" Nichol menggandeng tangan kakaknya, namun Kalan menggeleng sebagai jawabannya. Ia benar-benar tak tau.
Tiba-tiba orang tuanya berhenti di depan sebuah ruangan, ia melihat disana Om Agra duduk sendiri di atas ranjang dengan kepala yang diperban
"Agra"
"Dion" sepertinya pertama kali Kalanza melihat Om Agra menangis seperti itu, laki-laki itu memeluk ayahnya erat
"Aku ingin bertemu dengan Ishani dan istriku. Aku ingin melihat kondisi mereka"
"Aku akan tanyakan ruangannya pada dokter" baru saja ibunya ingin beranjak keluar, dokter masuk ke dalam ruangan
"Bapak mengalami luka sobek di beberapa bagian kepala karena terkena pecahan kaca, kondisi bapak masih melemah dan kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, kami gagal menyelamatkan istri bapak" dokter itu mengatakannya dengan nada teramat lirih di akhir. Sulit sekali bagi mereka melihat nyawa manusia yang tiada di tempat ini, tapi bagaimana lagi kalau mereka sudah melakukan yang terbaik dan Tuhan berkata lain
"Dimana istriku? Dimana ruangan istriku?" Siapa yang tak kalut mendengarnya? Dengan kasar ia mencabut infus di tangannya dan berjalan keluar. Walau rasa sakit masih terasa di kepalanya, ia tak peduli
"Kondisi ibu sudah sangat parah saat dibawa kesini, beberapa tulangnya patah dan yang paling berat adalah cedera pada kepala dan tulang belakang. Benturan keras mengakibatkan pendarahan hebat pada otak yang berimbas pada pembengkakan jaringan otak dan menghambat aliran darah. Ibu mengalami pendarahan otak hebat saat dibawa kesini, lokasi medan yang terjal untuk penyelamatan juga memperlambat proses penanganan medis" laki-laki itu menangis, ia menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya pelan. Ia segera bangkit dan menatap dokter "Bagaimana dengan putriku dokter, apa yang terjadi pada Ishani? Tolong katakan putri kecilku baik-baik saja" Kalan turut menatap dokter itu, ia menanti jawaban yang akan diberikan. Ia bahkan tanpa sadar sudah menangis dari tadi, ia tak ingin kehilangan sahabat baiknya
bengkak ini mata kayanya🤣
masih mengandung bawang