Bagaimana jadinya jika kita sebagai ibu susu pengganti dari anak mantan kekasih yang dulu. Casandra tidak pernah tahu siapa orang tua dari bayi mungil yang di asuhnya selama ini. Sepenuh hati dia merawat dan memberinya asi.
Bayi mungil itu sudah di anggapnya seperti anak sendiri karena anaknya telah lama pergi. Sejak kejadian kecelakaan waktu itu, hidupnya berubah drastis.
Dengan susah payah dia menyambung hidup, mencari pekerjaan kesana kemari hasilnya nihil. suami yang dulu menyayanginya, kini menyia-nyiakannya. Akankah Sandra bisa bertahan? Bagaimana perasaannya setelah tahu ayah dari anak yang dia asuhnya ternyata laki-laki di masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mas Bri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Iya, memangnya apa lagi?"
Mata Sandra nampak gelisah. "Maksud Tuan saya tidur di sini? Hari ini?"
"Bukankah kamu sudah membaca perjanjiannya?" Niko memasang wajah cueknya mencoba menirukan gaya sang majikan.
"Ta-tapi itu tidak tertulis di sana, kemarin."
Niko mengeluarkan sebuah map yang berisi perjanjian Sandra kemarin. "Baca ulang." Titah Niko sambil melemparnya.
Sandra terlonjak kaget. Dia baca seluruh isi perjanjian itu dengan seksama. Matanya memicing kala ada tulisan yang menerangkan bahwa dia harus tinggal di tempat sampai kontrak habis.
"Ini, ini tidak ada kemarin," ucap Sandra bernada tinggi.
Niko tersenyum samar. Dalam hatinya dia sangat bangga memiliki bos yang sangat licik. "Sepertinya kamu tidak membacanya dengan jeli. Oh ... aku lupa. Menurut dokter kamu terkena gangguan mental, mungkin itu yang membuatmu tidak fokus dengan isi perjanjian kemarin."
Sandra memikirkan hal itu. "Apa mungkin karena itu? Tapi beneran sudah aku baca semua. Nggak mungkin ada yang terlewatkan," batin Sandra terus bertanya.
Akhirnya dengan terpaksa dirinya mau menyetujui syarat untuk tinggal di rumah Aditama. "Biarkan aku pulang hari ini. Aku belum mengemas semua barang-barangku," ujar Sandra.
"Semua akan tiba dalam tiga puluh menit. Kamu hanya perlu duduk manis dan menjaga Tuan Muda saja di sini."
Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu sedikit bingung dengan ucapan Niko baru saja. Dia pun akhirnya hanya diam menuruti perintah atasannya.
.
.
.
Jauh sebelum ini, Niko sempat kebingungan mencari ibu susu untuk bosnya yang super sempurna. Sudah puluhan orang yang mendaftar tapi tidak ada satu pun yang sesuai dengan keinginannya.
Niko semakin di buat frustasi karena Haris mengajukan persyaratan baru lagi yang menurutnya tidak masuk akal. Hal itu akan membuatnya semakin kesulitan mencari ibu susu pengganti.
Selain di larang mendekati atau merayu bosnya, ibu pengganti tidak di perbolehkan menyentuh bayinya. Ibu susu itu hanya boleh memompa ASInya dan memberikannya melalui botol bayi.
Dia sempat berdebat dengan Haris hingga akhirnya Niko menyerah sendiri. "Mana ada orang menyusui modelan nya kayak gitu! Belum apa-apa sudah banyak aturan! Cari aja sendiri," gerutu Niko setelah keluar ruangan Haris.
Sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Sandra hari itu dan tanpa di duga, dia menyusui sang bayi langsung tanpa menggunakan botol. Haris pun melihatnya dan hanya diam saja. Meski sedikit bingung, Niko sedikit lega Haris tidak menerapkan persyaratannya yang harus menyusu dari botol dan tidak boleh menyentuh bayinya.
.
.
.
Sandra di buat kaget dengan semua barang miliknya yang kini sudah tertata rapi di dalam kamar yang berukuran lebih besar dari tempat kosnya. "Ini terlalu berlebihan," gumamnya.
"Kamu istirahat saja, jika Tuan Muda menangis kamu bisa langsung ke kamarnya," ucap Niko meninggalkan Sandra sendiri.
"Ini bukan menjadi ibu susu, lebih tepatnya menjadi pengasuh!" sarkas Sandra setelah kepergian Niko. Tetapi dia masih bisa mendengarnya dengan jelas. Niko hanya tersenyum setelahnya
Sambil menunggu bayi mungil itu terbangun, Sandra pergi membersihkan diri agar terlihat lebih segar. Seperti biasa, dia selalu lupa untuk membawa baju ganti setiap kali mandi. Tapi tidak masalah, ini kan kamar dia sendiri. Tidak ada orang lain selain dirinya di sini. Kamarnya pun terhubung langsung dengan kamar bayi kecil itu agar saat dia menangis, Sandra bisa langsung menggendongnya.
Sandra keluar hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh bagian atas saja. Rambut panjangnya dia gerai nan indah. Lekukan tubuh yang menggoda meski dia pernah melahirkan. Dia oleskan lotion agar kulitnya tetap lembab, tak lupa dia semprotkan parfum dengan aroma soft yang membuat siapa saja bisa terpikat hanya dengan menciumnya saja, meski jarak jauh.
"Pakai baju tidur saja kalau gitu, hari juga sudah mulai gelap. Kebetulan perutku tidak terlalu lapar, jadi nggak perlu keluar lagi," ujar Sandra sambil mengenakan lingerie warna hitam yang hanya menutupi benda sintal atas bawah saja dan di lapisi peignoir berenda dengan warna senada.
Kesan seksi dan menggoda begitu melekat pada dirinya. Selain tubuh yang padat berisi, kulit putih mulus dan rambut dengan warna coklat mampu membuat semua laki-laki yang melihatnya pasti akan gila. Baju ini dulu pernah dia pakai saat awal menikah. Tapi itu hanya sekali saja dan setelahnya dia lebih banyak menggunakan piyama panjang untuk menutupi lukanya.
Beruntung dia bisa mengobati bekas luka itu dengan obat yang dia beli di apotik. Meski harganya cukup mahal, Sandra tidak mau melihat sekujur tubuhnya penuh luka lebam dan sayatan. Otaknya masih terus memikirkan perjanjian yang mengahruskan nya tinggal di sini. "Sepertinya kemarin tidak tertulis di sana. Apa iya aku yang kurang teliti membacanya?" gumam Sandra.
"Ah ... rasanya sungguh melelahkan berdebat dengan sekertaris licik itu," gerutu Sandra sambil membaringkan tubuhnya di ranjang yang cukup besar.
Saat matanya akan terlelap, dia paksa lagi untuk terbuka mengingat bayi mungil itu hanya sendiri di dalam box. Dengan gerakan cepat Sandra berjalan ke sebelah kamarnya menuju ruangan bayi kecil.
Pelan-pelan dia membuka pintu agar bayi mungil itu tidak sampai terbangun. "Dia masih tertidur," lirih Sandra menutup pintunya pelan.
"Lihatlah, Nak. Betapa lucunya bayi kecil ini. Kemana ibu kamu, hem? Sayang sekali kamu harus mendapatkan ASI dari orang lain," ujar Sandra sambil tangannya mengusap pucuk kepala sang bayi.
"Oh ya ... siapa nama kamu? Sampai saat ini aku tidak mengetahui nama kamu, hanya sebutan tuan muda saja yang sering aku dengar. Kamu beruntung bisa lahir dengan selamat dan berada di lingkungan keluarga kaya. Kelak kamu tidak akan sampai kekurangan apa pun termasuk kasih sayang dari orang tuamu." Sandra menyandarkan tubuhnya pada sofa kecil yang ada di samping box bayi dengan kepala yang condong ke depan agar dia bisa dengan mudah melihat wajah sang bayi mungil.
Ke dua tangannya dia lipat di atas pembatas box hingga matanya tertutup rapat. Tanpa dia sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dengan seulas senyum di wajahnya. Hei ... itu adalah senyum indah yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun, bahkan kepada wanita yang pernah melahirkan anaknya sekalipun.
Perlahan-lahan kakinya melangkah mendekati wanita cantik dengan aroma yang menggoda imannya. Mengulurkan tangannya mengusap rambut indah yang tergerai begitu saja. Indra penciumannya semakin mendekat di leher jenjang Sandra hingga membuatnya mabuk kepayang. "Wangi ini tetap sama," lirihnya dengan senyum yang tak hilang sejak tadi.
Tanpa sengaja manik matanya menangkap sebuah luka yang ada di bahu kanannya. Meski sudah mulai memudar, bekas luka itu masih terlihat jelas. Peignoir yang menerawang membuatnya semakin jelas nampak seperti sebuah benjolan.
"Apakah ini sakit?" lirihnya sambil mengusap bekas luka itu. Di kecupnya luka itu penuh kelembutan dengan mata terpejam.
Kecupan itu membuat sang empunya mulai tak nyaman. Tubuh padat berisi itu mulai menggeliat, tetapi matanya tetap terpejam. "Huuaamm ... punggungku sakit sekali," ucapnya masih terpejam, lalu dia kembali tidur lagi sambil membaringkan tubuhnya di sofa kecil.
(peignoir : sejenis pakaian luar wanita yang terbuat dari kain tipis atau bahan tembus pandang)