Pesan terakhir dari sang kakak membuatnya terpaksa menikahi mantan kakak iparnya yang tak lain adalah istri dari Almarhum sang kakak.
Tidak mudah memang untuk mengikhlaskan seseorang yang sudah lama bertahta di hatinya begitu juga halnya dengan menerima sebuah kenyataan baru dalam hidupnya menjadi istri dari adik iparnya sendiri.
Bagaimana mereka mampu bertahan dengan pernikahan yang dipaksakan ataukah mereka akan mencari jalan masing-masing dan mengabaikan pesan terakhir orang yang mereka sayangi.
Baca yuk cerita mereka 😉🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herfika Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Masa lalu
Rania yang merasa dunianya telah hancur hanya bisa memasrahkan diri pada sang pencipta bagaiman ia akan melanjutkan hidup setelah ini pun tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Apalagi ia di paksa harus mengikuti wasiat sang suami untuk menikahi adik iparnya sendiri.
Entah bagaimana kisah hidupnya setelah ini, apakah ia mampu untuk tersenyum kembali serta menata hati dan dirinya kembali.
Dia memang membutuhkan tempat bersandar tapi akan merasa canggung rasanya jika harus itu adalah adik iparnya.
Rania dan Ryan tidak saling akrab mereka hanya sesekali akan terlibat pembicaraan itu pun dahulunya saat ada Mas Rehan di tengah-tengah mereka.
Dulu Rania saat pertama kali menikah dengan Mas Rehan ia sempat tinggal beberapa bulan di kediaman orang tua Mas Rehan.
Karena Mas Rehan sudah menjabat menjadi seorang Manajer maka ia memutuskan untuk mengontrak di sebuah kontakan petakan yang tak jauh dari perusahan tempat Mas Rehan bekerja.
Tidak mau berdiam diri Rania juga menyokong perekonomian keluarga mereka dengan melakukan pekerjaan Freelance menerima berbagai macam desain dengan bayaran fantastis.
Sedikit demi sedikit mereka menabung uang hasil jerih payah mereka untuk membeli hunian untuk hari tua nanti. Benar saja, tidak sampai setahun tabungan mereka cukup untuk membeli sebidang tanah dan membagun rumah yang layak untuk mereka tempati.
Rumah itu adalah rumah yang kini ia tempati sejak satu tahun silam rumah ini tidak jauh dari rumah sang mertua karena Mas Rehan mengenal pemilik tanah dan alasan lainnya karena Mas Rehan tidak mau jauh dari keluarganya, Rania mendukung setiap keputusan suaminya karena ia juga menyayangi keluarga suaminya itu.
Rania yang sayang pada sang suami ia juga sayang terhadap keluarga suaminya terbukti selama hampir dua tahun ini Rania tidak pernah sekali pun tidak memberikan jatah bulanan kepada Bu Ana.
Bahkan jika dia sedang mendapatkan bayaran dari hasil desain ia akan selalu mengingat mertuanya itu dengan membelikan makanan kesukaan sang mertua.
Pak Rasid sebenarnya malu dan segan pada menantunya itu tapi apa daya ia juga tidak sanggup mencukupi kebutuhan keluarga mereka terlebih anak-anaknya membutuhkan biaya sekolah juga.
Selama ini semua biaya pendidikan adik-adik Rehan yang membayarkan adalah Rehan tentu saja uang itu sebagian dari hasil jerih payah Rania. Rania tidak pernah perhitungan akan hal itu ia menganggap keluarga suaminya sudah menjadi keluarganya sendiri.
Tok...Tok...Tok...
"Rania...Rania" Teriakan Bu Ana membuyarkan lamunan Rania kepada kenangan masa lalu yang sudah ia lewati bersama sang suami.
Rania bergegas membuka pintu kamarnya, setelah membereskan mukena dan sajadah yang ia pergunakan untuk sholat Zuhur tadi.
"Iya bu, ada apa"
"Ini loh di kulkas tidak ada bahan makan ini sudah siang ibu belum sempat masak"
"Ibu mau makan apa Rania pesankan saja ya bu"
"Ya sudah, Bu kepengen ayam bakar madu yang dulu kamu bawakan untuk ibu itu loh Rania"
"Baiklah ibu tunggu ya Rania pesankan"
"Ya sudah ibu kembali ke kamar kalau begitu"
Sepeninggalan Bu Ana Rania tampak menghembuskan nafas kasarnya. Ia benar-benar harus bersabar menghadapi mertuanya itu.
"Mas masih ada keluarga mu yang akan jadi sandaran bukan kenapa harus Ryan Mas" Ucapnya lirih.
Setelahnya Rania bersiap turun ke lantai dasar mungkin sebentar lagi kurir makanan yang ia pesan akan datang.