“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : Tidak kalah menyejukkan.
Mobil yang dikendarai Elvano memasuki parkiran sebuah taman. Sejauh mata memandang di depan sana sudah bisa terlihat sebuah tempat yang dipenuhi pohon pinus yang tinggi menjulang. Disebelah kirinya ada danau kecil yang indah.
Tak menunggu perintah Isyana langsung keluar dari mobil. Isyana merentangkan tangan nya untuk merasakan hembusan udara yang sejuk di kulitnya.
“Ini indah sekali....”
“Sepertinya kamu suka sekali dengan tempat ini?” tanya Elvano yang baru saja keluar dari mobil.
Elvano tersenyum menatap Isyana yang terlihat sangat bahagia.
Sambil membawa tas milik Isyana yang tertinggal di mobil. Elvano lalu memberikan kepada yang punya.
“Makasih,” ucap Isyana tersenyum.
“Sama-sama...”
Mereka pun mulai berjalan mengelilingi tempat itu. Sambil membicarakan hal mengenai persiapan acaranya. Mengobrol dengan Elvano terasa begitu nyaman dirasakan Isyana. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa sudah jam 12 siang.
Isyana melihat ada sebuah batang pohon yang sudah tumbang. Ia pun segera berlari kearah batang pohon tersebut.
Elvano menyipitkan matanya menatap heran Isyana yang berlari ke arah batang pohon tersebut.
“Mau apa dia?” ucapnya dalam hati.
Elvano menarik sedikit ujung bibir nya tersenyum, melihat Isyana yang mulai menaiki batang pohon tersebut. Dengan tangan yang terentang dan badan yang bergoyang tak seimbang. Perlahan dia berjalan mendekatinya.
Disamping Isyana, Elvano mengikuti langkah kakinya. Isyana yang tengah berjalan diatas sebuah batang pohon tadi. Terkadang tubuhnya yang bergoyang tak seimbang. Membuat rasa ingin membantu dalam diri Elvano keluar. Sampai saat Isyana benar-benar kehilangan keseimbangan.
“Aahhh,” teriak Isyana pelan saat merasakan tubuhnya akan terjatuh.
Namun dengan secepat kilat sebuah tangan memegangi lengan Isyana. Menahan agar tubuh rampingnya tidak terjatuh. Isyana menatap kesebelah, wajah mereka saling berdekatan. Isyana terdiam sejenak merasakan deruan nafas Elvano disebelahnya yang beraroma mint. Berhasil membuat degup jantungnya seperti sebuah drum yang dimainkan.
“Maaf,” ucap Elvano yang tersadar lebih dulu karena sudah berani menatap perempuan di sebelahnya.
“Tidak apa-apa, salahku yang sudah berjalan diatas sini...”
“Jika kamu gak keberatan, pegang saja tanganku,” tawar Elvano seraya tersenyum.
Isyana terlihat ragu dan menimbang-nimbang sesuatu. Dan beberapa saat kemudian dia mengangguk setuju. Perlahan dia menaruh telapak tangan nya diatas telapak tangan Elvano yang sudah menunggu dari tadi.
Kedua telapak tangan itu menyatu, dan jari-jemarinya saling bertautan dengan hangat. Isyana tersenyum bahagia melewati batang pohon itu sampai keujung. Dengan tangan yang digenggam oleh Elvano.
“Terima kasih, El,” ucap Isyana.
“No problem,” jawab Elvano seraya memasukan kembali tangan nya kedalam saku.
Tidak lama setelah itu tiba-tiba saja hujan turun. Tanpa ada tanda-tanda sama sekali. Hari yang cerah itu seketika menjadi basah dan lembab, karena hujan yang begitu derasnya.
“Ah hujan, “ teriak Isyana sambil menutupi kepala nya dengan tangan.
“Ayo pergi dari sini,” ajak Elvano.
Elvano langsung meraih salah satu tangan Isyana. Kemudian menggenggamnya dengan erat. Menarik nya berlari ditengah guyuran hujan yang semakin deras- semakin deras.
Isyana merasakan dadanya kembali berdegup sangat cepat. Pipinya yang merona bahkan tidak terlihat karena wajahnya yang sudah basah di terpa air hujan. Dia hanya bisa diam mengikuti langkah laki-laki dengan punggung tegap, yang kini menggandengnya ditengah hujan.
Elvano melihat ada sebuah kedai kopi di depan sana. Ia pun menarik Isyana berteduh dikedai kopi itu. Kedai kopi bertema klasik itu terlihat sangat ramai di dalam nya. Karena keadaan mereka yang setengah basah. Elvano menarik kursi untuk perempuan yang sedari tadi tangan nya Ia genggam tanpa henti.
“Disini boleh juga,” ucap Isyana tersenyum. Tangan nya menyilang di dada seolah sedang memeluk diri sendiri. Hembusan angin yang kencang membuatnya sedikit menggigil.
“Baiklah, kamu tunggu sebentar aku akan segera kembali,” ucap Elvano yang segera berlalu masuk kedalam kedai kopi itu.
Isyana menghembuskan nafas nya yang hangat ke telapak tangan nya yang memucat. Sambil menatapi rintikan air hujan yang tanpa henti. Sampai akhirnya ada dua orang sejoli juga baru saja sampai dikedai kopi itu. Terlihat mereka juga sedang menghindari hujan. Mereka sempat menatap Isyana yang juga duduk di salah satu kursi didepan kedai tersebut.
Tidak lama setelah itu. Elvano pun keluar dari dalam kedai kopi itu sambil membawa dua gelas putih dengan asap yang mengepul di atas gelas tersebut. Kemudian ia memberikan salah satu gelas itu kepada Isyana yang menyambutnya dengan senyuman manis.
Isyana menatap nya seakan menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Elvano.
“Aku membelikan mu susu hangat...bukan kopi.”
“Benarkah-”
Belum sempat Isyana melanjutkan kata-katanya. Elvano dengan cepat memotong.
“Maaf, bukan nya lancang...hanya saja menurutku wanita tidak baik meminum kopi,” katanya.
Isyana dengan wajah sendunya itu terpaku dan tak sadar sudah menatap intens Elvano didepan nya. Dia begitu perhatian dan tidak ada celah keburukan dalam dirinya. Lagi-lagi kata pujian terus terucap dalam hati Isyana untuk Elvano.
“Terima kasih, El...aku juga tidak suka minum kopi.”
Elvano bernafas lega, saat pilihan nya tidak salah dan tidak membuat Isyana ilfil padanya. Karena sudah lancang mengatur apa yang dia minum, padahal mereka baru saja saling kenal.
Pria itu pun menarik kursi dan ikut duduk bersebelahan dengan Isyana. Sambil menikmati minuman hangat itu, mereka tidak bosan menatap derasnya air hujan yang tidak kunjung redah.
Sesekali Elvano mencuri pandang kearah Isyana yang memegangi gelas dengan kedua tangan. Dia tahu jika itu untuk menghangatkan kedua tangan nya yang kedinginan. Akan tetapi sikap itu memacu sebuah senyuman tipis di bibir Elvano. Kemudian dia kembali beralih menatap arah depan.
“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gitu?” tanya Isyana yang tidak sengaja melihat Elvano tersenyum sendiri.
“Hah? Hahah, aku tidak apa-apa kok,” ucap Elvano sembari menahan tawanya menatap Isyana.
Keadaan setengah basah itu membuat sinar diwajah Isyana semakin terlihat. Dengan rambut sedikit acak-acakan karena basah, membuatnya sangat cantik. Tangan Elvano pun tidak sadar tergerak sendirinya, meraih beberapa helai rambut Isyana yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
Isyana terdiam mematung. Sentuhan lembut tangan Elvano yang juga mengenai kulit wajahnya. Seakan membuat tubuhnya meremang. Rasa dingin di wajahnya kini berganti jadi rasa hangat disekitar pipinya.
Beberapa detik kemudian Elvano tersadar dan langsung gelagapan. Dia gugup ditatap intens perempuan yang rambutnya dia sentuh tanpa izin. Apalagi disaat perempuan itu tak kunjung berkata sesuatu dan hanya diam mematung. Menambah rasa gugup dihati Elvano.
“Oh, honeey are you okay?” Suara perempuan paruh baya tiba-tiba terdengar.
Kedua nya pun tersadar dan menoleh bersamaan kearah suara perempuan tersebut. Terdengar jelas bahwa perempuan paruh baya itu tidak sendirian. Ternyata benar. Sekarang dihadapan mereka berdua ada sepasang suami istri paruh baya. Yang sedang berjalan ditengah hujan deras dengan satu payung yang melindungi mereka dari kebasahan.
Meskipun sudah tua mereka nampak begitu romantis. Tangan yang saling bergandengan dan bercanda ria di tengah hujan. Sungguh pemandangan yang menyejukan mata.
Elvano menoleh ke arah Isyana. Perempuan itu ternyata sedang menikmati pemandangan menyejukan itu. Dengan wajah berseri dan senyuman yang tergambar jelas diwajahnya. Sungguh itu adalah pemandangan yang tak kalah menyejukan di mata Elvano.
Namun pandangan Elvano tertuju pada jemari Isyana yang bergetar. Bibir merah nya yang tersenyum juga ikut bergetar. Menandakan jelas bahwa dia sedang menggigil kedinginan. Elvano pun membuka jaketnya lalu menyelimuti tubuh Isyana menggunakan itu.
Isyana terkejut dia langsung menoleh kearah Elvano. Laki-laki itu tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya.
“Jangan dilepas, aku tau kamu lagi kedinginan kan,” ucap Elvano. Sembari menahan tangan Isyana yang hendak membuka jaket itu.
“hmm sekali lagi makasih ya,” jawab Isyana.
Melihat Elvano yang kembali menatap kedepan membuat Isyana kembali mengikuti arah pandangan nya. Dia sedang menatap kedua sejoli yang romantis tadi, sejoli itu kini tengah bertatapan dan salah satu nya mencium kening pasangan nya.
“Mereka sangat romantis,” tutur Elvano.
“Ya, aku sangat iri diusia mereka yang sudah lanjut ... tapi hubungan mereka sangat romantis,” imbuh Isyana kemudian.
Membuat Elvano menoleh menatap wajah Isyana. Begitu pun Isyana yang juga menoleh ke arah Elvano. Keduanya terlibat saling menatap begitu intens. Bergejolak dengan batin masing-masing.
“Entah kenapa hatiku terasa tenang, hanya dengan menatap wajahmu,” batin Elvano.
“Rasa nyaman ini semakin besar, padahal kita baru saja bertemu, apakah aku salah merasakan hal ini?” batin Isyana.
To be continued....