NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Siakan

Istri Yang Kau Siakan

Status: tamat
Genre:Cerai / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Siapa yang ingin rumah tangganya hancur? Siapa yang ingin menikah lebih dari satu kali? Semua orang pastilah berharap menikah satu kali untuk seumur hidup.

Begitu pun denganku. Meski pernikahan yang kujalani terjadi secara paksaan, tapi aku bisa menerimanya. Menjalani peran sebagai istri dengan sebaik mungkin, berbakti kepada dia yang bergelar suami.

Namun, bakti dan pengabdianku rasanya tidak cukup untuk membina rumah tangga dadakan yang kami jalani. Dia kembali kepada kekasihnya setelah aku mengandung. Kesempatan demi kesempatan aku berikan, tapi tak digunakannya dengan baik.

Bercerai? Rasanya tidak semudah itu. Aku ingin merebut kembali apa yang menjadi milikku. Termasuk modal usaha yang aku berikan dulu kepadanya. Inilah kisahku, Shanum Haniyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 6

"Maaf, ya. Aku jadi nggak enak sama kamu," ucapku selepas keluar dari ruangan Mamah. Wanita itu bahkan melarangku untuk mengantar Benny pergi keluar. Apa dia pikir kami memiliki hubungan?

Benny tersenyum, tapi senyum itu berubah sinis tatkala menatap pintu ruangan Mamah.

"Nggak apa-apa. Aku cuma kaget aja tadi, nggak nyangka kalo yang tadi itu mertua kamu bukan mamah kamu. Aku kira mamah kamu yang dirawat di sini. Enak, ya, jadi Raka. Punya istri baik dan perhatian, nggak perlu ngurusin orang tua lagi. Malah enak-enak sama perempuan itu." Panjang kali lebar aku mendengar penuturan Benny.

Entah di mana mereka sekarang berada. Apakah masih berada di rumah sakit, tapi aku sudah mengirimi Raka pesan untuk menjaga Mamah di ruangan. Kuhela napas setelah mendengar penuturan Benny.

"Mungkin dia belum tahu kalo mamah sakit," jawabku sekenanya. Ya, bisa jadi karena Mamah bilang Raka tidak diizinkan untuk pulang sebelum menemukan aku.

"Ya udah, Sha. Kamu sabar, ya, tapi kalo nggak sabar aku selalu ada buat dengerin curhatan kamu. Datang aja, jangan sungkan."

Aku mengerutkan dahi mendengar ungkapannya. Tak mengerti, tapi ya sudahlah. Mungkin saja dia berniat baik dan bersedia menerima keluh kesahku, tapi aku enggan bercerita pada orang lain selain Lia. Apalagi orang itu adalah laki-laki.

Sekilas aku melihat senyum yang berbeda darinya. Senyuman penuh makna dan penuh dengan ketulusan. Bodohkah Shila sampai menyia-nyiakan laki-laki baik seperti Benny?

"Makasih, ya. Hati-hati! Salam buat ibu kamu semoga lekas sembuh." Aku tersenyum seadanya, kami dua insan yang sama-sama tersakiti. Menyimpan luka dan kesakitan yang tak boleh terlihat orang lain. Biarlah orang lain hanya melihat senyuman kami, tak perlu luka hati kami.

Benny melangkah pergi setelah berpamitan padaku. Terus berjalan sampai akhirnya berbelok ke kiri. Mungkin di sanalah ibunya dirawat. Aku menghela napas sambil menatap pintu ruangan di mana wanita kedua yang menjadi ibuku dirawat.

Kulangkahkan kaki seraya membuka pintu ruangan dan menutupnya perlahan. Mamah masih bergeming di sana, tanpa berkedip dia menatapku curiga. Lagi-lagi kutarik udara untuk menghilangkan rasa gelisah di hati. Duduk di kursi samping ranjang, menemaninya.

"Mamah beneran nggak suka kamu deket-deket sama dia, Sha. Kamu itu masih berstatus istri Raka, nggak seharusnya jalan berdua sama laki-laki."

Meski sedikit parau, tapi tetap terdengar sengit di telingaku. Ia pikir aku Raka, yang begitu mudah kembali kepada mantannya. Jika aku ingin, maka bukan Benny pilihanku.

"Benny itu cuma teman Shanum, Mah. Nggak lebih. Lagipula Shanum nggak lupa kalo Shanum ini masih istri Raka. Jangan berlebihan, Mah." Dengan lembut kuungkapkan ketidaksukaanku atas ucapan Mamah yang sembarangan.

Mungkin saat ini aku memang masih berstatus istri Raka, tapi aku tidak tahu untuk ke depannya. Semakin ke sini ... semakin aku larang, Raka justru semakin menjadi. Apa yang harus aku lakukan? Bercerai? Mungkin itu jalan yang akan aku tempuh bila tak ada lagi kemufakatan dalam rumah tangga kami.

"Mamah nggak berlebihan, Shanum. Perempuan sama laki-laki kalo sering sama-sama itu pasti nanti ada apa-apanya. Apalagi kalo Mamah perhatiin dia kayaknya itu suka sama kamu. Apa dia nggak tahu kalo kamu itu menantu Mamah." Bersungut-sungut Mamah mengatakannya. Oh, apakah memang seperti ini sifat mertuaku yang sebenarnya?

Apa diucapkan Mamah justru yang terjadi pada anaknya. Tak akan mungkin terjadi perselingkuhan bila mereka tak sering bertemu seperti yang diucapkan Mamah barusan. Itu artinya Raka dan Shila sering bersama-sama, apalagi saat aku pergi kemarin.

Ya Allah! Membayangkannya saja hatiku perih. Bukannya bermuhasabah diri, mereka malah semakin menjadi. Memang tidak tahu diri, dua-duanya sama saja tak punya hati.

"Pokoknya Mamah nggak suka kamu dekat-dekat sama laki-laki mana juga." Mamah semakin bersungut-sungut dan menjadi.

Kuhela napas, tak ingin menanggapi. Apa Mamah juga bersikap demikian kepada anak laki-lakinya?

"Kamu denger nggak?" Mamah berpaling dengan mata yang melotot lebar. Mengancamku untuk mendengar apa yang dia ucapkan tadi.

Mungkin karena efek sakit, makanya Mamah bersikap seperti sekarang ini. Aku menghela napas, mencoba untuk bersabar menghadapi sikap Mamah.

"Iya, Mah. Shanum denger, kok. Sekarang, Mamah lebih baik tidur. Harus banyak istirahat biar cepat sehat," ucapku sambil menarik selimut menyelimuti tubuhnya.

"Kamu pasti udah nggak mau ngerawat Mamah lagi, 'kan? Mamah tahu, Mamah bukanlah ibu kandung kamu. Cuma mertua," ketusnya merajuk.

Astaghfirullah al-'adhiim. Apa memang seperti ini orang tua sakit? Tidak, Mamah di rumah sana tidak pernah begini jika sakit. Dia bahkan tidak pernah berkata kasar kepadaku sekalipun dalam keadaan kesal.

"Bukan begitu, Mah. Emang Mamah mau terus di sini? Lagian Shanum, 'kan, punya kerjaan. Raka masih nggak bisa dihubungi," sahutku tetap sabar.

Mamah mendengus, memiringkan tubuhnya berpaling dariku. Ah, biarlah. Aku tidak akan bisa terus menunggui Mamah. Ada rencana yang harus aku jalankan. Kutatap sejenak punggung mertuaku sebelum beranjak tempat duduk ke sofa. Merebahkan diri sejenak melepas penat, aku sangat membutuhkan itu sekarang.

Kutatap langit-langit ruangan, membayangkan rencana-rencana yang telah aku susun. Ada banyak hal yang perlu aku lakukan sebelum keputusan final aku ambil. Lihat! Bahkan, dalam keadaan seperti ini senyum ejekan dari Shila melintas bagai sebuah gada berduri yang meremukkan tulang di tubuhku.

Aku tersentak ketika gawai bergetar menandakan adanya panggilan. Siapa? Apakah Raka? Kurogoh dari dalam tas yang aku letakkan di atas meja. Dahiku mengernyit melihat nama Irwan terpampang di layar.

Irwan? Ada apa dia telpon? Apa barang-barang udah datang?

Hatiku bergumam sambil menimbang benda pipih di tangan.

"Kenapa nggak diangkat? Pasti dari laki-laki tadi," sambar Mamah dengan ketus.

Astaghfirullah al-'adhiim! Kusapu dada meluaskan kesabaran.

"Bukan, Mah. Ini Irwan, karyawan di toko." Aku menjawab seadanya.

"Ya udah, kalo gitu kenapa nggak diangkat?" Masih dengan nada yang ketus Mamah berujar.

Lagi dan lagi kuhembuskan napas panjang untuk terus menambah stok kesabaran. Kugeser tombol hijau mengangkat panggilan.

"Sha!"

Suara Irwan langsung menyambar dengan cepat dan panik. Kudengar keributan-keributan di sekitarnya. Bahkan, suara Doni yang berdebat ikut memenuhi indera pendengaran. Ada apa?

"Kenapa, Ir?" Kulirik Mamah yang fokus memperhatikan. Astaghfirullah, dia masih saja curiga.

"Gawat, Sha. Kamu harus cepat ke sini, kami nggak tahu harus apa, Sha. Pokoknya kamu harus cepat-cepat ke sini!" pinta Irwan dengan nada panik yang tak ditutup-tutupi.

"Iya, Ir. Emang ada masalah apa? Kamu kayaknya panik banget," tanyaku seraya merapikan diri bersiap untuk pergi.

"Udah. Pokoknya kamu cepat datang ke sini. Ini gawat, Sha!"

Sebenarnya apa yang terjadi? Akhirnya aku menutup sambungan setelah menyanggupi. Mamah masih menatapku dengan tatapan yang sama. Curiga. Biarlah.

"Mah, Shanum harus pergi ke toko. Ada yang terjadi di sana," pamitku bersiap pergi.

"Ke toko apa ketemu sama laki-laki tadi?"

Astaghfirullah al-'adhiim. Tak aku pedulikan, kuayunkan langkah mendekati pintu dan keluar. Semakin lama mendengar ocehan Mamah, semakin membuatku muak.

1
Misaza Sumiati
dasar bodoh Raka , tinggal ceraikan shila
Misaza Sumiati
blokir no hp nya raka
Misaza Sumiati
tidak senang karakter shanum lemah
Nana Colen
mamam tah matak g tong maen jodojodoan
Nana Colen
nah gitu lah kesalahan sendiri disembunyikan tp kesalahan orang lain dicari cari 🤣🤣🤣🤣🤣
Nana Colen
dasar teu boga k era boga mitoha teh.... iiih amit-amit
Nana Colen
gak adil dong mah..... harusnya satu sama biar impas gitu 😂😂😂
Nana Colen
gak adil dong mah..... harusnya satu sama biar impas gitu 😂😂😂
Violet
👏🏻👏🏻👏🏻 Shanum Kereeen... WAJIB hukumnya utk kumpulin bukti2 yg valid biar gak ada celah diserang difitnah balik.
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Heni Setianingsih
Luar biasa
R_3DHE 💪('ω'💪)
emang dasar munafik.
ngomong disana beda disini beda ckckc
Neneng Tejaningsih
Luar biasa
Dwi Setyaningrum
nah bener kan kalau pingsannya mamanya Raka hanya akting dia hanya ga trima sumber keuangannya hilang🤪🤪🤪
Dwi Setyaningrum
mama mertua pingsan Krn sumber keuangannya sdh hilang🤭😁
Endang Werdiningsih
ga mau kehilangan sumber mata uang yg pasti'a kan mama rakha
Luchi Chipoedanz Sihite
Luar biasa
Priskha
sdh salah sombong lg
Priskha
astaga jd laki bodoh amat, apa msh krg bukti rekaman itu pingin aq tonjok aja tuch mukamu Raka smp bonyok
Priskha
lha bknnya si Benny mau tanggungjawab ya, bilang aja klau pingin menghancurkan rmh tangga org
Priskha
ambil aja tuch Raka yg aslinya kere aq pingin lihat apakah kmu msh cinta sm Raka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!