Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkenang ciuman.
Nyatanya rencana Demian untuk fokus pada pekerjaannya siang ini tidak bisa dia wujudkan karena bayangan Sarah yang selalu melintas di dalam kepalanya. Dia juga memandang cincin yang tersemat di jari manisnya. Ah ... mengapa dia tidak melepasnya seperti yang dilakukan Sarah? Bukankah akan memancing perhatian jika orang-orang melihatnya?
Demian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, lalu memejamkan kedua matanya. Dia menenangkan pikirannya dari semua pekerjaan yang membuat otaknya panas. Entah kenapa sekelebat ingatannya kembali ke kejadian kemarin pagi. Saat dia harus mencium Sarah demi membuat gadis itu bertekuk lutut dan mengikuti kemauannya.
Demian berhasil mereka ulang kejadian itu di dalam otaknya, detik demi detik, tidak ada yang terlewatkan. Setiap raut wajah, setiap nada suara kesal, setiap sentuhan, kecupan, ciuman. Aneh, Demian bergidik lagi, jantungnya berdebar lagi, darahnya berdesir lagi. Itu hanya sebatas ingatan, namun Demian masih bisa merasakan sensasinya persis seperti saat kejadian itu berlangsung.
Bibir Sarah yang dia cium itu, entah kenapa rasanya begitu segar. Sangat lembut. Hanya mengingatnya saja membuat Demian seperti dimabuk kepayang lagi. Apakah selama ini Grasian juga merasakannya? Kalau iya, maka Grasian adalah pria yang beruntung.
Demian memijit pelipisnya, masih dengan mata yang terpejam. Lagi, dia mengingat acara pemberkatan mereka yang begitu sakral. Dia mengingat Sarah yang menangis sepanjang acara berlangsung. Bahkan dia tidak bisa menunjukkan amarahnya saat pemasangan cincin. Tak sekali pun gadis itu menatapnya. Seakan tidak perduli dengan orang tua mereka yang duduk di kursi jemaat.
Namun Demian memakluminya. Dia sendiri pun tidak akan mau menikah dengan keadaan terpaksa begitu. Bahkan dia juga belum memberitahu Amber perihal ini. Tapi karena satu alasan kuat mengapa dia harus menikahi Sarah seakan membutakan dirinya. Tidak peduli Sarah akan membencinya. Toh Demian tidak bermaksud mengajak Sarah untuk membangun sebuah rumah tangga yang sebenarnya. Dia hanya ingin melindungi gadis itu dari Grasian dengan cepat-cepat mengikatnya dengan namanya dan menjadi suami gadis itu secara sah di mata hukum.
"Pak Demian?" suara gadis yang sedari tadi ada dalam kepalanya tahu-tahu terdengar dan membuat kelopak matanya terbuka. Sejak kapan Sarah masuk ke dalam ruangannya??
"Oh hei. Kapan masuknya, Sar? Sudah selesai meeting ?" Demian memperbaiki posisi duduknya dan menyentuh asal mouse-nya agar screen saver laptopnya aktif kembali.
"Maaf saya langsung masuk, Pak. Tadi saya sudah ketuk berkali-kali tidak ada sahutan. Meeting -nya sudah selesai dan saya sudah mau pulang. Pak Demian sepertinya kelelahan, ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Demian hampir saja terpesona dengan perhatian Sarah. Namun dia lagi-lagi tersadar, seperti jawaban Sarah tadi siang, dia hanya sedang menjalankan kewajibannya sebagai seorang sekretaris. Grasian tidak bisa berharap banyak. Gadis itu pasti masih sangat membencinya.
"Oh, bagaimana meeting-nya? Lancar?" tidak apa-apa kan aku bertanya sebentar? Semoga saja dia tidak mengira aku sengaja ingin mengulur waktunya. Batin Demian.
"Lancar, Pak. Laporan divisi keuangan sudah di revisi dan tidak ada kesalahan lagi. Tadi juga sudah langsung saya email ke Bapak. Sementara untuk konsultan kita, tadi juga sudah ada keputusan kalau setelah kita kembali dari Surabaya, kita akan lakukan pertemuan dengan pihak Gottardo Group perihal desain dan materialnya, Pak," lanjut Sarah dengan lengkap dan terperinci. Demian semakin yakin jika Sarah sangat tidak ingin berlama-lama berada di dekatnya.
"Oke, baiklah. Kerja yang bagus. Kau sudah mau pulang? Hati-hati di jalan, jangan ngebut," ujar Grasian mengakhiri pembicaraan mereka.
"Baik, Pak. Bapak mau saya buatkan kopi dulu atau apa, Pak?" Sarah masih bersikap formal, menawarkan diri untuk membuat minuman kepada bosnya. Karena memang itu adalah kewajibannya.
"Tidak, nanti aku hubungi Diana saja kalau perlu. Lagian sepertinya sebentar lagi aku juga pulang," jawab Demian lembut. Sama sekali tidak ingin menahan Sarah berlama-lama di dekatnya. Karena entah kenapa jantungnya berdebar begitu kencang sekarang. Apalagi setiap melihat bibir Sarah yang bergerak-gerak saat dia menjelaskan pekerjaanya, membuat ingatan Demian kembali ke adegan memabukkan mereka kemarin pagi.
"Baik, Pak. Saya permisi. Selamat malam," Sarah tersenyum seraya membungkukkan sedikit badan juga kepalanya. Beberapa detik kemudian dia sudah menghilang di balik pintu.
Demian mengeluh pelan. Dia meraba dadanya. Begitu terasa kalau jantungnya memukul sangat kencang.
Apa-apaan ini? Mengapa jantungku mendadak menggila saat ada Sarah di dekatku? Perasaan selama empat tahun ini biasa saja. Ini gila!
*****
Sarah keluar dari lift yang menghantarnya ke parkiran mobil yang ada di basement. Pikirannya entah kenapa masih tertuju pada Demian yang barusan ditinggalkannya di lantai dua puluh itu.
Ada apa dengannya? Biasanya tidak pernah meminta orang lain membuatkan minuman. Aku kan sudah menawarkan? Kenapa justru ditolak? Awas saja jika dia menilaiku tidak becus jadi sekretaris!
Bunyi pertanda pintu mobil terbuka terdengar saat Sarah menekan remote di tangannya. Dia pun masuk dan meletakkan tasnya di kursi yang ada di sebelah pengemudi. Setelah itu dia memasang sabuk pengaman sebelum dia kelupaan. Beberapa saat kemudian mobilnya sudah bergerak keluar dari area parkir perusahaan konstruksi tersebut.
Di perjalanan menuju rumah, Sarah mengingat Grasian. Sejak kemarin dia tidak menghubungi laki-laki itu. Lebih tepatnya belum sempat menghubungi karena urusannya dengan Demian. Sarah sangat ingin mencari tahu apa yang sedang ditutupi orangtuanya tentang kekasihnya itu.
Masih jam setengah enam. Grasian sepertinya masih di kantor, kata Sarah dalam hati.
Gadis itu pun mengarahkan mobilnya ke jalan dimana kantor Grasian berada. Dia tidak akan menghubungi pria itu karena dia tahu Grasian tidak akan mengangkatnya. Tidak apa-apa kan memberi sedikit surprise ?
Sesampainya di kantor Grasian, Sarah bertanya keberadaan pria itu kepada resepsionis. Namun jawabannya adalah Grasian belum kembali dari tadi siang. Sarah pun memilih untuk menunggu di lounge kafe kantor, namun tetap mengawasi pintu masuk.
Sarah menunggu sambil memesan minuman ke pegawai kafe. Iced lemon tea, kesukaannya. Segarnya perasan lemon dipadu seduhan gula dan es batu diharapkan bisa menyegarkan otaknya yang panas karena mengikuti dua meeting sekaligus.
Ditengah keasyikannya bermain ponsel sambil menikmati minuman, ekor mata Sarah menangkap sosok laki-laki yang sedang dia tunggu. Dia sudah sangat senang, karena akhirnya dia bisa melihat wajah kekasihnya itu setelah pertemuan terakhir mereka tiga hari yang lalu.
Namun belum sempat dia memanggil pria itu, suaranya tercekat saat menyadari Grasian tidak sendiri. Dia datang bersama perempuan lain yang menggamit lengannya dengan mesra. Senyum di wajah keduanya tidak berhenti dan Grasian sesekali mencubit pipi gadis itu. Sarah terpaku sebentar. Menimbang antara menghampiri Grasian atau membiarkannya saja.
Namun langkah Grasian dan wanita itu terhenti saat resepsionis memanggil mereka. Dalam hitungan detik, Grasian menoleh ke arah lounge dan wajahnya tiba-tiba memucat. Wanita yang sedang menggandengnya pun secara spontan melepaskan pegangannya dari Grasian. Saat ini Sarah bisa melihat keduanya sedang terkejut dengan kehadirannya di kantor itu.
Entah apa yang dikatakan Grasian pada wanita itu sebelum mereka akhirnya mendatangi meja Sarah.
"Sayang? Tumben ke kantorku? Kenapa nggak menghubungiku dulu?" Grasian seakan mencoba untuk bersikap biasa saja saat dia memeluk dan mencium pipi Sarah. Gadis yang mengekor di belakangnya hanya memperhatikan dalam diam.
"Oh itu, aku pulang cepat, jadi mampir. Lagian kalau kutelepon kamu ngangkat? Biasanya enggak," jawab Sarah seraya tersenyum.
"Maafkan aku, aku sibuk sekali. Oh iya, kenalin, ini Desty, sekretaris baruku," Grasian memperkenalkan gadis yang menurut Sarah cukup cantik itu. Keduanya saling menebar senyum dan berjabat tangan.
"Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu, bisa kan, Sayang? Mumpung aku di sini," tanya Sarah tanpa beban, meskipun hati kecilnya sudah menangkap ada yang tidak beres di sini.
"Boleh banget, Sayang. Ayo ke ruanganku. Des, hasil kunjungan tadi tolong kamu email saja ya, saya mau kencan sebentar," Grasian menepuk pundak Desty sebentar, lalu merangkul Sarah dan menuntunnya menuju lift terdekat. Sarah melempar senyum kepada Desty sebelum mereka berlalu meninggalkan sekretaris cantik itu sendirian.
"Tumben jam segini kau sudah beres? Demian tidak merepotkanmu?" Grasian mencoba memulai obrolan. Berusaha tenang dalam nada bicaranya meskipun sebenarnya beberapa saat yang lalu jantungnya seakan melayang mendapati Sarah tiba-tiba ada di kantornya.
"Iya, dia bahkan menolak kubuatkan minuman, lebih memilih dibuatkan office girl. Sepertinya sebentar lagi aku akan punya banyak waktu luang untuk menemanimu di kantor," jawab Sarah sambil bergelanyut manja di lengan Grasian. Dia sempat merasakan wangi parfum Desty di kemeja Grasian.
"Hahaha ... apa kau ada membuat masalah di kantor?"
"Aku bahkan tidak pernah melakukan kesalahan, Gras. Kau tahu setting-an ku sebagai sekretaris terkenal sempurna" ujar Sarah sambil membulatkan matanya, menunjukkan kekesalannya pada Demiana. Grasian memang tahu, Sarah sangat profesional.
"Mungkin dia sedang dalam mood yang kurang baik. Kau harus bersabar, Sayang," Grasian mencolek hidung Sarah dengan gemas. Bersamaan dengan itu suara denting terdengar pertanda mereka sudah sampai di lantai ruangan Grasian. Pria itu menekan tombol untuk membuka pintu.
"Oh ya, bagaimana kelanjutan kasus korupsi karyawanmu, Sayang?" Sarah bertanya lagi sambil menggandeng pinggang Grasian yang sudah membawanya masuk ke dalam ruangan kebesarannya.
"Tadi aku dan Desty juga baru kunjungan ke kantor-kantor cabang untuk mencari data. Masih belum ada hasil yang berarti, Sar. Minum?"
"Tidak usah, tadi aku baru minum air es di bawah," tolak Sarah saat Grasian menawarkan minuman dari lemari pendingin, "terus? Apa rencana kalian selanjutnya?" Sarah duduk di sofa setelah Grasian duduk terlebih dahulu.
"Tim audit masih memeriksa semua laporan keuangan perusahaan. Sedang menganalisa apa ada kejanggalan yang kami lewatkan."
"Kau butuh bantuan? Siapa tahu aku bisa meringankan sedikit bebanmu," Sarah menawarkan diri dengan lembut. Dia cukup prihatin dengan permasalahan yang sedang dihadapi Grasian saat ini. Sedikit banyak dia jadi memaklumi jika waktu Grasian harus tersita darinya. Karena seperti yang pria itu katakan, gaji karyawan adalah taruhannya.
"Terimakasih, Sayang. Kau sangat baik. Jika aku sudah ingin menyerah, aku akan meminta pertolonganmu," Grasian mengelus pipi Sarah lembut. Dia mendekat secara perlahan. Kedua tangan Sarah yang menggantung bebas ditariknya sehingga merangkul pinggangnya.
"Maafkan aku ya, kalau akhir-akhir ini komunikasi kita kurang baik," ujar Grasian pelan, masih sambil mengelus-elus pipi Sarah.
"Iya sayang, aku mengerti. Tidak apa-apa. Kau harus semangat menyelesaikan tanggungjawabmu."
Satu kecupan lembut mendarat di bibir Sarah. Grasian menciumnya. Awalnya pelan dan lembut, namun lama-lama sedikit memanas dan melibatkan lidah mereka.
Sarah mencoba menandingi aksi Grasian. Kedua badan mereka sudah menempel sempurna. Saliva yang tertukar juga entah sudah berapa banyak. Namun kenapa Sarah tidak merasakan apa-apa?? Kenapa yang melintas di benaknya saat ini justru Demian dan ciuman lembutnya kemarin?
Sarah memejamkan matanya. Semakin ia ingin mengenyahkan Demian dari kepalanya, semakin terasa sensasi ciuman pria itu. Ciuman yang membuat darahnya memanas dan naik sampai ke ubun-ubunnya. Ciuman yang sempat membuatnya mabuk sampai tanpa sadar memegang pinggang pria itu. Ciuman yang membuatnya luluh dan mau masuk dalam rencana gila pria itu.
Sadar Sarah! Bukannya selama ini kau merindukan ciuman Grasian??
*****
Pukul sembilan malam Sarah tiba di rumah. Baik Martin maupun Yola masih belum tidur. Kedua orangtuanya itu masih berada di ruang keluarga dengan aktivitasnya masing-masing. Papanya dengan ipad di tangannya, sedangkan mamanya dengan remote televisi.
"Kamu sudah pulang, Sar?" sapa Yola sambil tersenyum kecil. Sarah menghampiri lalu mencium pipi mamanya.
"Iya, Ma. Aku langsung ke kamar ya, Ma, Pa."
"Kamu dan Demian nggak tinggal bareng saja, Nak? Kalian kan sudah menikah?"
Sarah yang sudah susah payah membuat mood-nya baik, tiba-tiba kesal lagi mendengar kalimat mamanya. Bukannya semua orang juga sudah tahu kalau mereka menikah hanya demi status?
"Aku dan Pak Demian sudah sepakat untuk tetap tinggal di rumah masing-masing, Ma. Itu syarat yang aku ajukan sebelum setuju menikah dengannya," jawab Sarah malas sambil bergerak ke arah tangga menuju lantai dua.
"Iya, mama tahu, Demian juga sudah bilang. Kamu juga minta supaya pernikahan kalian dirahasiakan. Tapi pernikahan kalian itu sah di mata Tuhan dan hukum loh, Sar. Jangan main-main."
"Kenapa sekarang aku juga harus dipaksa menganggap pernikahan ini sungguhan? Belum cukup aku dipaksa menikah saja?" Sarah lagi-lagi merasa terintimidasi. Suasana hatinya kembali memburuk. Rasanya sudah tidak ada lagi yang berada di pihaknya. Semuanya sudah termakan kharisma Demian. Kebaikan Demian. Sarah semakin membenci pria itu.
Sarah berlari cepat ke kamarnya meninggalkan papa dan mamanya di ruang keluarga. Suara hempasan pintu kamar diharapkannya bisa membuat orangtuanya tahu jika dia sangat marah sekarang.
*****