Aqila tidak pernah menyangka hubunganya dengan Alden harus berakhir di tangan sahabatnya sendiri.
Gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri Alden berhubungan dengan Viona sahabatnya di kamar hotel.
Tidak kuasa menahan sesak di dada, Aqila memilih pergi dari kehidupan Alden.
Namun, apa yang dilihat Aqila tidak sepenuhnya benar. Alden tidak sepenuhnya mengkhianati Aqila, tapi apa daya gadis itu telah pergi dengan membawa kesalahpahaman.
Akankah Alden dapat menyakinkan Aqila? Dan melurusku kesalahpaham yang terjadi?
Novel ini collab bareng SUSANTI 31
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Kelicikan Viona
Alden tersenyum melihat foto Aqila. Dia yakin akan menemukan wanita itu. Alden akan mengerjakan semua berkas di kantor besok pagi, setelah itu dia akan menyusul kekasihnya. Pria itu sudah membayangkan akan bertemu dengan kekasihnya dan membujuk Aqila untuk kembali.
Jauh di negeri ginseng, Aqila juga sedang melihat foto kebersamaannya dengan Alden. Sekian tahun berpacaran, tidak pernah sekalipun pria itu melakukan kesalahan. Apa lagi menduakan dirinya. Al selalu melakukan hal yang membuat dirinya bahagia.
Memandangi langit, Aqila teringat saat mereka dulu bersama ke puncak. Di sana Al sangat memanjakan dirinya. Al selalu menjadikan dia ratu.
Hati wanita mana yang tidak hancur, kekasih yang sangat dicintai dan dipercaya ternyata sama saja dengan pria lainnya. Menduakan dirinya. Yang lebih menyakitkan dia bercinta dengan sahabatnya sendiri.
"Suatu hari kamu akan mengingatku dan menyadari betapa aku mencintaimu, maka kamu akan membenci diri sendiri karena membiarkan aku pergi. Aku berkorban untuk dirimu, dan kamu berkorban untuk dirinya. Walau menyakitkan, aku anggap saja itu adil. Rasanya sakit untuk melepaskan, tetapi kadang-kadang lebih menyakitkan untuk bertahan.Terkadang aku perlu melarikan diri hanya untuk melihat siapa yang akan mengejarku." Aqila bicara pada dirinya sendiri.
Dikediamannya Alden, Viona masih saja memikirkan cara bagaimana agar pria itu tidak menyusul Aqila. Viona telah mengorbankan harga dirinya untuk berada di rumah ini. Dia harus bisa membuat Alden berpaling dari Aqila.
"Jika aku berdandan, teman-teman mengatakan jika aku juga cantik, tidak kalah dari Aqila. Kelebihan wanita itu hanya menggunakan barang bermerek," gumam Viona pada dirinya sendiri.
Viona yang sengaja berendam dengan air es agar dirinya demam tidak ingin melepaskan begitu saja Alden. Dia sengaja mengabaikan obat demam yang pria itu berikan agar suhu tubuhnya tetap hangat dan bisa terus berada di rumah Alden.
Pagi harinya Alden yang ingin segera ke kantor lupa jika di rumah ada Viona. Pria itu pergi tanpa melihat keadaan wanita sahabat Aqila itu.
Viona yang telah bangun dan yakin Alden akan ke kamar melihat keadaan dirinya, sengaja menutup tubuhnya dengan selimut tebal agar pria itu percaya dirinya sakit yang cukup parah.
Hingga jam di dinding menunjukan pukul sembilan, Alden tidak jua kelihatan batang hidungnya membuat Viona bertanya dalam hati, kemana pria itu. Biasanya dia sangat perhatian jika melihat orang sakit. Saat Aqila sakit dulu, Alden yang paling repot menjaganya.
Viona bangun, ternyata badannya terasa lemas karena tidak minum obat dan makan. Viona berjalan ke dapur. Melihat ada pelayan, Viona bertanya di mana keberadaan Alden.
"Bi, di mana Alden?" tanya Viona dengan nada sedikit tinggi. Dirinya sangat kesal karena Alden belum melihat keadaan dirinya.
"Maaf, Non. Pak Alden telah pergi dari pagi-pagi sekali," ucap Bibi.
Mendengar Alden telah pergi membuat Viona kaget dan kuatir. Dia takut jika Alden pergi menyusul Qila ke Seoul. Viona tidak rela jika memang pria itu pergi menyusul Aqila.
"Kemana?" tanya Viona dengan nada sedikit tinggi.
Viona melampiaskan kekesalannya pada pelayan Itu. Dia tidak akan rela jika pria itu telah pergi menyusul Aqila.
"Kenapa kamu tidak membangunkan saya saat Alden pergi?" Viona masih bicara dengan nada tinggi.
"Maaf, Non. Saya tidak tahu kemana perginya Pak Alden. Saya juga tidak tahu jika nona ada perlu dengan Pak Alden, sehingga saya tidak membangunkan nona."
"Kamu tahu saya ada di rumah ini. Seharusnya membangunkan saya saat Alden pergi!" ucap Viona makin emosi.
"Maaf, Nona," ucap Bibi ketakutan.
Viona yang marah dan kesal membuang sesuatu yang ada di meja membuat pelayan itu ketakutan. Bibi memang mengenal Viona karena sering datang bersama dengan Aqila. Namun, Aqila tidak pernah kasar dengan pelayan di rumah Alden, sehingga seluruh pelayan menyukai wanita itu.
Viona mencoba menghubungi Alden, namun ponsel pria itu tidak aktif. Hingga sore hari, Viona masih menghubungi tetap tidak ada jawaban. Viona lalu mencari tiket yang akan membawa dirinya ke negeri ginseng itu.
Sementara itu di kantor, Alden memang sengaja mematikan ponsel agar bisa konsentrasi mengerjakan semua berkas. Hingga jam tujuh malam semua file penting telah selesai dia kerjakan. Dia bisa memberikan kuasa pada asistennya untuk memimpin perusahaan sementara waktu saat dia menyusul Aqila. Karena Alden juga tidak tahu berapa lama dia di sana.
Alden mengendarai mobilnya dengan hati bahagia karena membayangkan besok telah bisa berangkat ke Korea menemui sang kekasih. Sampai di rumah, Alden langsung masuk. Dia bahkan lupa jika ada Viona di rumahnya.
Langkah kaki Alden terhenti saat Viona memeluk tubuhnya. Barulah pria itu ingat, jika ada Viona do. rumahnya.
"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku," ucap Viona memeluk tubuh Alden.
...****************...