SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 KECURIGAAN YANG MUNCUL
Setelah kejadian naas yang menimpa Dita sore itu...
Mau tak mau, Pak Diki dan Bu Fitri pun kembali harus menunjukkan simpatinya kepada keluarga Dita. Mereka berdua pun harus hadir selama 7 malam berturut-turut untuk mengikuti acara tahlilan di rumah keluarga Dita. Dan tak lupa juga, mereka berdua kembali memberikan uang santunan sebesar 20.000.000,- rupiah kepada keluarga Dita. Jumlah yang sama dengan yang diberikan kepada keluarga Toto setahun lalu.
Akan tetapi...
Untuk kejadian yang ketiga kalinya ini, sudah muncul kecurigaan warga sekitar rumah keluarga Gendis. Mereka mencoba mengaitkan dengan kejadian sebelumnya, yaitu tewasnya Toto dengan cara yang hampir sama yaitu kecelakaan. Juga mulai mengaitkan kematian Toto dan Dita itu, dengan kemajuan usaha warung makan mereka.
.....
.....
.....
Seperti yang terjadi saat pagi hari ini, beberapa ibu-ibu tetangga keluarga Gendis terlihat sedang belanja sayuran di gerobak keliling tukang sayur yang sudah menjadi langganan mereka...
"Eh, ngomong-ngomong, kalian masih suka beli makanan di warungnya Bu Fitri gak sih?" tanya Bu Marsinah sambil memilih-milih sayuran di atas gerobak keliling itu.
"Iya, masih sering sih Bu..." jawab Bu Fatma.
"Iya, saya juga masih suka beli kok..." Jawab Bu Tuti juga.
"Kalo saya sih, gak terlalu sering. Kadang-kadang aja ke warung makan Bu Fitri, itu juga kalo saya lagi males buat masak di rumah." jawab Bu Restu juga.
"Emang kenapa Bu Marsinah?" tanya Bu Tuti, sambil ia memberikan sekantong cabai yang sudah ia pilih kepada tukang sayur.
"Ya gak apa-apa sih, tapi agak aneh aja..." jawab Bu Marsinah.
"Aneh gimana Bu?" tanya Bu Fatma.
"Ya aneh aja, kalian gak sadar sesuatu emang?" tanya balik Bu Marsinah, sambil memberikan tiga ikat kangkung pada tukang sayur.
"Sadar apaan sih Bu?" tanya Bu Fatma lagi. Sedangkan Bu Tuti dan Bu Restu semakin penasaran.
"Inget gak kejadian satu tahun lalu? Pas si Toto kecelakaan di depan pom bensin?" tanya Bu Marsinah dengan ekspresi mengghibah.
Dan Bu Fatma, Bu Tuti, Bu Restu, hanya mengangguk.
"Nah, setelah karyawan mereka, si Toto itu meninggal, malah makin rame kan warung makannya? Aneh gak sih kayak gitu tuh Ibu-ibu?" ucap Bu Marsinah.
"Kayaknya si Toto itu jadi tumbal buat usaha warung makannya Bu Fitri deh!" tambah Bu Marsinah.
"Ah, masa iya sih Bu? Jangan ngawur ah kalo ngomong Bu!" kata Bu Fatma.
"Loh, jaman sekarang, kayak gitu tuh masih banyak dipraktekkin sama orang yang punya usaha loh!" kata Bu Marsinah, sambil menepuk lengan Bu Fatma dengan sepapan tempe yang dipegang.
"Eh, iya juga ya... Bisa jadi tuh..." respon Bu Restu.
"Nah, iya kan? Masa iya... Setelah Toto itu meninggal, warung makan Bu Fitri bisa buka cabang baru?" kata Bu Marsinah lagi.
"Iya juga ya Bu... Aneh ya..." kata Bu Fatma.
"Kayaknya emang Bu Fitri sama suaminya itu melakukan pesugihan deh..." ucap Bu Marsinah lagi.
"Eeeh... Jangan sembarangan ah kalo ngomong Bu. Nanti malah jadi fitnah loh!" sanggah Bu Tuti, sambil memberikan sejumlah uang pada tukang sayur.
"Halaaah... Kamu tuh kalo dibilangin, kan bisa jadi emang bener kayak gitu loh mereka itu!" bantah lagi Bu Marsinah.
"Awas... Hati-hati kalo ngomongin orang..." si tukang sayur mencoba mengingatkan ibu-ibu yang sedang belanja itu.
"Gak baik kalo ngomongin orang kayak gitu tuh, apalagi belom ada bukti kuat..." tambah si tukang sayur.
"Idiiihhh... Si Abang, ikut campur aja obrolan emak-emak!" kata Bu Marsinah.
"Yeeeh... Saya kan cuma ngingetin aja Bu." kata si tukang sayur.
.....
.....
.....
Dan juga, obrolan tentang kecurigaan itu pun sampai merambah ke bapak-bapak yang menjadi tetangga keluarga Gendis...
Terlihat beberapa bapak-bapak sedang mengobrol santai di beranda sebuah masjid, setelah sholat Isya berjama'ah...
"Jon, kasian banget ya si Dita..." kata Parman.
"Iya ya Man, kasian banget ya... Padahal beberapa bulan lagi si Dita kan mau nikah dia..." jawab Joni.
"Eh, tapi kalian ngerasa aneh gak sih? Sama kematian si Dita itu?" tanya Rosyid.
"Iya juga sih..." jawab Joni.
"Masa iya anak Gadis itu meninggal dengan cara yang sama kayak si Toto setahun lalu?" kata Rosyid.
"Iya juga ya Syid..." respon Parman.
"Soalnya, pas si Toto itu meninggal, usaha Pak Diki malah makin maju kan? Kayaknya dia pake ilmu pesugihan deh..." kata Rosyid.
"Bisa jadi sih... Soalnya udah dua tahun ini, udah ada dua karyawannya yang meninggal, udah gitu caranya hampir sama lagi!" respon Parman.
"Nah itu dia... Saya juga curiga nya kayak gitu!" respon Joni.
.....
.....
.....
Dan hal itu juga bisa dirasakan oleh Gendis...
Banyak teman-temannya di sekolah yang berasal dari lingkungan rumah yang sama dengan Gendis, mulai sedikit-sedikit menyindir Gendis.
Mungkin karena mereka semua mulai diberi tahu, atau malah mulai terprovokasi oleh orang tua mereka semua di rumah.
Dan tentu hal itu membuat Gendis mulai tak nyaman belajar di sekolah...
Ditambah pula...
GENDIS MEMANG TAHU TENTANG PESUGIHAN KE DUA ORANG TUANYA ITU...
KARENA...
GENDIS LAH YANG MENJADI "WADAH" BAGI SOSOK MAKHLUK GHOIB PESUGIHAN ITU...
😆😆 lanjut kak👍👍👍