NovelToon NovelToon
Udin Jagoan Bapak

Udin Jagoan Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik Kelas / Misteri / TKP / Thriller
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.

.........

“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”

Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.

..........

Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.

Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?

'UDIN JAGOAN BAPAK'

So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAGAR BERBICARA

Pagi berikutnya, Sari terbangun karena ponselnya bergetar tanpa henti. Bukan alarm, tapi notifikasi. Ia meregangkan tubuhnya, lalu mengucek mata dan segera membuka layar.

Sari terbelalak dan langsung bangun terduduk. Layar ponselnya penuh. Tagar #keadilanuntukbudihartono naik ke urutan pertama.

Jari Sari menggulir cepat.

@rakyatbellajaRr —Sidang 3 jam langsung vonis 18 tahun? Berkas masuk jam 2 siang, putusan jam 5. Ini pengadilan atau drive thru? Usut lagi kasus pabrik MaJu Mundur! #keadilanuntukbudihartono—

@ibuKkita_bicara —Kami turut berduka untuk keluarga Budi Hartono. Semoga kebenaran tidak dimatikan dua kali. Tolong transparansi proses hukum.—

 @dallan9—Jangan-jangan seluruh kasus ini direkayasa. Siapa dalangnya? Apa salah Budi Hartono sampai harus mati?—

Komentar ribuan, ada yang bertanya polos tak mengerti konteks, ada yang marah, ada yang iba, ada yang menuntut pergantian hakim.

"Apa yang terjadi?" monolognya kemudian bergegas keluar untuk mencari Udin.

Di teras, Udin duduk di kursi rotan, menyeruput teh, seolah sedang menikmati udara dingin pagi itu.

"Dimana Pak Kardi?" tanya Sari langsung dengan suara yang masih serak. "Beneran sudah berangkat ke Tulungagung?"

Udin menoleh. "Ya. Ibu ke pasar dan Dina sudah berangkat sekolah. Tinggal kita berdua." Udin menepuk kursi di sebelahnya. "Dan kau harus duduk untuk mendengarkan dongengku."

Sari mengernyit, merasa ada yang aneh dari nada bicara Udin. Tenang, tapi ada yang seolah disembunyikan diam-diam. Sari duduk patuh. "Ada apa?" tanyanya gugup, bercampur curiga.

Udin tersenyum tipis, lalu merogoh ponsel dari saku, membuka galeri dan memutar layar ke arah Sari.

Video pertama diputar, menunjukkan suasana gelap, lalu terlihat jelas seorang pria muncul dengan ekspresi terkejut, seolah tak menyangka seseorang sedang berusaha mengambil gambar dirinya yang mengenakan seragam kepala pabrik yang usang dan kotor.

Sari terbelalak, menegakkan punggungnya karena terkejut. "Pak Kardi?! Bagaimana... bagaimana bisa?"

Udin tidak menoleh, ia menatap lurus ke halaman rumahnya. "Kau sudah mencurigainya, kan? Kenapa masih terkejut melihat bukti itu?" ledeknya pelan.

"Ya... tapi ini..." Sari terbata. Tangannya gemetar. "Aku... aku tidak pernah menyangka. Maksudku, dia... dia selama ini..."

"Begitulah kerasnya hidup," potong Udin. "Lihat juga video selanjutnya."

Sari menutup mulutnya, semakin terkejut. "Dia??" pekiknya saat melihat pria yang wajahnya tak asing, berada di samping ibunya Pak Kardi yang tengah berbaring sakit di rumah sakit. "Bagaimana kau bisa mendapatkan ini semua?"

Udin bangkit tanpa berniat menjelaskan. "Aku harus mandi dan bersiap," ucapnya. "Kau juga. Sepertinya hari ini kita akan sibuk."

"Jelaskan dulu ini semua!" pinta Sari seraya menahan lengan Udin. "Dan kau juga harus melihat apa yang kulihat di sosmed!"

Udin menatap tegas ke wajah Sari. Matanya tidak marah, ataupun sedih, itu tatapan lelah. "Mandi," katanya singkat. "Sarapan. Nanti kau akan melihatnya sendiri!"

Udin menepis tangan Sari dengan hati-hati, lalu masuk ke dalam rumah.

Sari merebahkan punggung di sandaran kursi, dengan ponselnya yang masih ramai notifikasi, dengan dua video yang memutar ulang di kepalanya.

"Pak Kardi... ternyata dia si hantu pabrik... kenapa ini jadi rumit sekali?" monolognya frustasi. "Lalu Coki... Siapa dia sebenarnya? Sejak kapan Udin tahu semua, tapi kenapa diam saja?!"

Sari membuka media sosial lagi. Tagar itu semakin naik. Ada yang men-tag akun kantor pusat PT Maju Mundur, ada yang men-tag akun Anto, tapi tak ada yang men-tag akun Udin. 'Ini ulah Udin?' batinnya. 'Atau bukan?'

........

20 menit kemudian, Sari sudah selesai bersiap, begitu juga dengan Udin. Kini keduanya duduk bersama di meja makan.

"Bagaimanapun aku berpikir, ini tak masuk akal. Kau sebenarnya siapa, dan rencana apa yang sudah kau susun sebenarnya?" tanya Sari tanpa basa-basi.

Udin berhenti menyendok. "Karena temperamenmu." Udin menjawab singkat.

"Memangnya kenapa dengan temperamenku?" tanya balik Sari disertai lirikan tajam dan wajah sewot.

"Kau mana bisa tetap polos di depan Pak Kardi? Sepertinya kau tak sadar diri kalau kau itu terlalu ceplas-ceplos!"

"Ah, apapun itu, jadi apa rencanamu sebenarnya?!" tuntut Sari mengalihkan pembicaraan.

Udin meneguk air putih dengan tenang. "Bukan rencanaku. Rencana orang yang lebih berkuasa dari Anto."

"Siapa?"

Udin tak segera menjawab, atau mungkin memang tidak akan pernah menjawab. Ia bangkit lalu meletakkan piringnya di wastafel. "Kutunggu di depan, kita berangkat sekarang."

"Kemana?!" tuntut Sari bergegas membereskan piringnya.

"Menangkap Lele!" seru Udin sambil berjalan cepat ke halaman.

........

Sementara itu, di lantai 38, PT. Maju Mundur, suasana memanas.

Anto melempar map ke lantai, tepat di depan Pak Kardi yang berlutut. "Tidak becus! Ini hanya laporan keuangan biasa! Di sini juga banyak salinannya!" bentaknya penuh amarah.

"Bersabarlah sedikit, Pak," kata Pak Kardi dengan suara tertahan. "Aku sedang mencari tahu dan memastikan tidak ada bukti lain. Tapi jelas bukan bocah itu yang mengunggah berita."

"Bocah itu?" Anto menendang meja kecil hingga terjungkal. "Udin? Kamu yakin?"

"Yakin, Pak. Anak itu polos. Saya mengawasinya 24 jam."

Anto menoleh cepat dengan tatapan tajam. "Kamu juga belum menemukan siapa pria yang mengendap-endap di pabrik Tulungagung, yang hampir kamu tangkap itu?"

Pak Kardi menunduk. "Namanya Coki. Mantan karyawan kantor pusat. Bagian pengendali mutu. Entah apa tujuannya, tapi dia sempat ada di sebelah rumah bocah itu."

Pak Kardi mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Anto. Tatapan permohonan. "Tapi saat aku melihat ke sana, hanya rumah kosong yang ditinggal pemiliknya. Tidak ada petunjuk apa pun."

Anto memicingkan mata. "Coki... Coki..." Ia berjalan ke jendela. "Nama itu terus muncul, dan aku benci hal yang tidak bisa kukendalikan."

Anto berbalik cepat, berdiri membelakangi dinding kaca. "Kamu dengar, Kardi. Dalam dua jam, kamu harus membawa orang itu ke hadapanku, hidup atau mati!"

"Pak...." lirih Pak Kardi panik.

"Ah, aku lupa kalau kamu pengecut yang takut membunuh! Tapi Darman sudah masuk penjara, tinggal kau seorang diri yang aku andalkan!" gertak Anto. "Atau kita hentikan saja biaya rumah sakit ibumu yang tak sedikit itu? Lalu bagaimana dengan kuliah anakmu diluar negri?"

Pak Kardi menelan ludah. 'Sial! Kapan mereka akan datang?' pikirnya panik.

Brak! Brak!

Pintu ruangan tiba-tiba didobrak.

Puluhan petugas berseragam lengkap bersenjata masuk. Rompi hitam bertuliskan POLISI memenuhi ruangan dalam hitungan detik. Di belakang mereka, lampu kamera media menyala silau. Mikrofon diulur-ulur. —Siaran langsung—

Waktu seakan berhenti selama satu detik.

Anto yang berdiri dekat dinding kaca, seketika menoleh. Matanya melebar, pupilnya mengecil. Rahangnya mengeras lalu jatuh. Map yang tadi ia lempar masih tergeletak di lantai.

"Kalian... apa-apaan ini?!" bentaknya. Suaranya pecah, tak setegas biasanya. Tangannya mengepal, lalu mengepal lagi, seakan mencari sesuatu untuk dipegang.

Pak Kardi yang masih berlutut, tersentak. Tubuhnya menegang seketika. Kepalanya mendongak. Matanya membelalak lebar, bola matanya bergetar. "Terkejut tapi tak punya pilihan. Lega, tapi pasrah."

Dua petugas langsung bergerak cepat. "Angkat tangan! Jangan bergerak!"

AKBP Raharja melangkah masuk lalu berdiri paling depan. Posturnya tegap, tatapannya dingin menyapu seluruh ruangan.

"Atas nama Undang-Undang Republik Indonesia," suaranya menggelegar memotong semua suara, "Saya perintahkan semua orang tetap di tempat!"

Kamera media langsung menyorot. Blitz menyala bertubi-tubi. Sorotan lampu membuat wajah Anto tampak lebih pucat.

AKBP Raharja menatap lurus ke Pak Kardi, lalu beralih ke Anto.

"Saudara Anto, Anda kami tahan atas dugaan manipulasi proses persidangan dan perintangan penyidikan perkara kematian Budi Hartono."

"Dan Anda, Pak Kardi," lanjutnya, menoleh. "Kami tahan atas dugaan perusakan bukti persidangan."

Dua petugas segera maju ke arah Anto. Borgol logam berkilat di tangan mereka.

Anto mundur satu langkah, ia mengangkat kedua tangannya, bukan menyerah, tapi menolak. "Tunggu! Tunggu dulu! Ini tidak mungkin! Kalian salah tangkap! Panggilkan pengacaraku! Sekarang juga!"

Suaranya melengking tinggi, tak ada lagi wibawa seorang Presdir, hanya ada kepanikan seorang pria yang dipojokkan lalu menoleh ke Arman yang berdiri kaku di sudut ruangan. "Arman! Telepon pengacara! Cepat!"

Arman gagap hingga ponselnya terjatuh ke lantai. "I-iya, Pak..."

Petugas tidak memberi celah. Salah satu dari mereka langsung memutar tangan Anto ke belakang. Borgol mengunci pergelangan tangannya, kencang.

Anto mengaduh pelan. Wajahnya memerah karena marah dan malu. Ia menggeleng keras. "Lepaskan! Saya Presdir perusahaan ini! Kalian tidak punya hak!"

Saat petugas mendekat, tubuh Pak Kardi melemas. Lututnya hampir tidak kuat menopang. Ia tidak melawan, hingga borgol pun mengunci pergelangan tangannya.

"Kalian bisa menjelaskannya di kantor kami!" tegas AKBP Raharjo.

Dua orang itupun digiring ke kantor polisi.

Di antara barisan petugas, berdiri seorang pria dengan rompi antipeluru bertuliskan 'TIM KHUSUS'. Wajahnya datar, tapi sorot matanya tajam dan tegas. Pak Kardi membeku, napasnya tertahan seolah sesuatu menusuk dadanya. 'Coki... siapa dia sebenarnya... sial!' gerutunya.

Coki tersenyum sekilas ke arah Pak Kardi, lalu berjalan melewatinya begitu saja, menuju meja kerja Anto, memimpin tim khusus untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Di luar ruangan, suara presenter terdengar jelas, "Pemirsa, kita saksikan langsung penangkapan Presdir PT Maju Mundur dan Kepala Gudangnya. Dugaan kuat, keduanya telah memanipulasi sidang...."

Di lobi utama, Udin berdiri menatap Anto yang digiring polisi. Disampingnya Sari tak henti menghela napas karena terkejut.

"Jangan khawatir, ini baru permulaan, Sari!" ujar Anto dingin.

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
menangkap
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dah puyeng tuh, bukti udah jelas 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pembohong 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yah tamat dong filmnya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
anggota tim
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kemudian membuka
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
agenda hari ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sebagai senior
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pelaku kejahatan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jawab kompak
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kalian berdua
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangaaaaaaat 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Nah kan, untunglah pak Budi punya catatan nya 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kemudian
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
meremas kemudi itu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih pk ngancam segala 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yg bener 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mungkin ada ruangan khusus yg tersembunyi 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berarti kemarin pura" kan 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!