Biyanca yang diadopsi oleh keluarga sederhana terpaksa harus menelan pil pahit karena dirinya akan di lelang dihadapan banyak orang kaya demi melunasi hutang ayah angkat dan keluarganya. Di hari pelelangan, seorang pria yang sedang terluka karena tertembak, datang dan nyelonong masuk ke dalam kamar Biyanca.
Tak disangka, pemenang lelang jatuh pada pria yang tadi sempat ditolong Biyanca. Pria tersebut membayar Biyanca dengan harga sangat mahal mengalahkan semua kaum borjuis yang ada di tempat pelelangan ini. Alhasil, Biyancapun harus dinikahkan dengan pria tersebut.
Siapakah Pria itu? Akankah pernikahan mereka bahagia, atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Byon, Pria Bule Misterius
Byon tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Dengan raut wajah dingin dan sedikit sedih, pria bule misterius itu membantu Biyanca mengemas semua barang dan pakaiannya. Tak lupa Byon juga membantu Biyanca mencuci piring dan pergi mandi. Biyanca sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dibalik sifat angkuhnya, Byon punya sisi manis juga.
Di sisi lain, Biyanca masih belum bisa menerima pernikahan ini terlebih lagi ia tidak tahu siapakah Byon Pyordova. Apakah pria itu baik atau tidak, Biyanca meragukan identitas Byon. Dan yang bikin Biyanca risih, bule tampan itu terus saja memintanya untuk mengingat hubungan keduanya di masa lalu padahal jelas Biyanca merasa belum pernah bertemu dengan pria misterius ini.
Bagaimana bisa ingat kalau ketemu saja belum pernah. Bukankah itu hal yang tidak masuk akal dan Byon terus saja membicarakan hubungan keduanya seolah mereka berdua sudah lama dekat.
Mata Biyanca mendelik ketika Byon keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk dan rambutnya basah kuyub. Jujur, gadis itu jadi gugup sampai ingin rasanya berlari keluar. Tubuh seksi Byon seakan menghipnotis Biyanca untuk tetap tinggal dan menikmati tubuh atletisnya secara gratis.
“Tidak! Jangan tergoda Yanca, pria itu bukanlah pria baik. Pasti dia salah satu penjahat kelas kakap. Jika tidak, mana mungkin dia dikejar-kejar polisi dan orang-orang jahat,” gumam Biyanca menenangkan dirinya sendiri agar imronnya tetap kuat.
“Kau tidak mandi?” tanya Byon yang tiba-tiba saja berdiri di samping Biyanca. Sontak gadis cantik menjauh agar tidak bersentuhan dengan Byon.
“Aku sudah mandi tadi. Cepat pakai pakaianmu. Jangan telanjang dada begitu,” pinta Biyanca dengan memalingkan wajahnya dan tidak berani menatap Byon.
Byon tersenyum melihat wajah merah merona istrinya dan keranjingan ingin menggodanya. “LIhat aku, Bii ….” Pinta Byon sambil terus mendekat ke arah Biyanca.
Gadis cantik itu melihat kaki suaminya berjalan mendekat kearahnya dan seketika ia mundur ke belakang. Bii benar-benar gemetar sekarang. Namun ia tetap tak berani melihat tubuh kekar dan seksi Byon.
“Menjauhlah dariku!” sengal Biyanca sambil terus mundur selangkah dan Byon maju terus pantang mundur.
“Kau mau kumandikan? Dulu kau sering memandikanku, sekarang bagaimana kalau giliranku memandikanmu,” goda Byon dan tersenyum licik melihat Biyanca gemetaran.
“Berhentilah bicara omong kosong Tuan Byon. Aku sama sekali tidak pernah melihatmu ataupun mengenalmu. Jangan gunakan trik rendahan ini hanya untuk mendapatkan simpatiku karena aku sama sekali tak tertarik padamu!” cetus Biyanca kesal dan tanpa sadar berani menatap wajah Byon lekat-lekat.
“Oh iya? Kalau kau tidak tertarik padaku, harusnya kau pergi dan bukannya malah tetap di sini untuk menikmati tubuh seksiku.”
"Aku memang sudah mau pergi. Kau saja yang menghalangi jalanku." Biyanca hendak pergi tapi Byon menghadang langkahnya.
Seketika mata Biyanca melotot ketika wajahnya tepat berhadapan dengan dada bidang Byon. Tubuh suaminya lebih tinggi darinya. Jika Biyanca menunduk sudah pasti yang terlihat jelas adalah dada bidang suaminya sangat menggoda iman.
“Bilang saja kalau kau sudah mulai tertarik padaku, Bii. Aku sama sekali tidak keberatan. Mau kau ingat aku atau tidak, itu sudah tidak penting. Sebab, kau sudah jadi istriku sekarang. Perjalanan kita masih panjang Bii. Akan ada banyak badai yang menghantam kita sma seperti dulu. Tapi sekarang aku sudah jauh lebih kuat daris sebelumnya. Dulu aku lemah dan tidak berdaya, tapi kini aku punya segalanya.” Byon menyentuh dagu Bianca yang tertegun dalam diam lalu mendunkungnya mesra.
Mata Biyanca terbelalak saking shocknya ketika ciuman pertamanya direnggut paksa oleh Byon tanpa izin darinya pula. Begitu Byon selesai menciumnya, Biyanca langsung mendorong kasar tubuh suaminya.
“Apa yang kau lakukan! Dasar kurang ajar!” Biyanca menangis saking emosinya.
“Kenapa? Aku suamimu, wajar jika aku menciummu!” ujar Byon semakin senang melihat istrinya marah.
“Kau … kau benar-benar!” Biyanca ingin sekali mengumpat tapi kata itu tersumbat tenggorokannya. Ia tidak tahu harus berkata apa dan semakin bencilah Biyanca pada pria tak tahu sopan santun ini. Ia benar-benar menyesal telah menyelamatkan Byon beberapa waktu halu dari luka tembaknya.
“Jangan bilang kalau ini adalah ciuman pertamamu,” goda Byon lagi dan Biyanca semakin marah. “Ah ternyata benar. Dan akulah yang mendapatkan ciuman pertamamu. Hahaha …”
“Kau tertawa!” pekik Biyanca marah. “Bagimu ini lucu, ha? Apa kau sering mempermainkan wanita seperti yang kau lakukan padaku sekarang? Berapa banyak korbanmu? 100, 200? Tahu tak terhitung?” bentak Biyanca benar-benar marah pada Byon.
“tenanglah Bii …”
“Jangan panggil aku Bii!” sengal Biyanca tak terima.
“Namamu Biyanca, wajar kalau aku panggil kau dengan sebutan ‘Bii’. Lagipula, aku sudah terbiasa dengan nama “Bii’. Setiap malam hanya nama itulah yang aku pikirkan. Dana sal kau tahu Bii, aku bukan pecinta wanita seperti yang kau tuduhkan. Aku tdiak punya waktu untuk itu. Kau satusatunya wanita yang aku goda Bii dan ciumanmu ini buka ciuman pertama.”
Biyanca terdiam mendengar kalimat terakhir dari Byon. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung.
“Berapa kali harus ku bilang Bii. Kita saling kenal, tidak hanya itu. Kau … “ Byon berhenti bicara seolah menahan sesuatu. “Belum saatnya kau tahu Bii. Kuceritakan sekarang juga kau takkan pernah paham. Tunggu saja sampai kau jatuh cinta padaku. Jika saat itu tiba … akan aku ceritakan semuanya termasuk duka dan luka yang kau tinggalkan untukku.” Byon menjauh dari Biyanca yang semakin bingung dengan sikap suaminya ini.
Betapa misteriusnya seorang pria yang kini sedang sibuk memakai kemejanya. Sayangnya pria bule itu tampak seperti kebingungan saat hendak mengencangkan semua kemejanya. Berkali-kali Byon membongkar pasangan kancing kemejanya lkaren selalu saja salah lubang.
Biyanca yang melihat keanehan itu jadi tidak tahan untuk segera turun tangan. Gadis itu berdiri tepat dihadapan Byon dan mulai mengkancingkan satu persatu kancing kemeja Byon termasuk kancing yanga ada dipergelangan tangannya.
Inilah yang Byon suka dari Biyanca, selalu saja telaten saat merawatnya. Yang Biyanca lakukan sekarang dulu juga sering dilakukan Biyanca sat Byon hendak berangkat sekolah. Wajah Biyanca selalu aja serius jika sedang menerapkan sesuatu dan itu semakin menambah manis wajah cantiknya.
“Apa aku terlihat lezat dimatamu?” tanya Biyanca membiarkan lamun Byon.
“Iya … e … tidak. Kau cantik kalau serius begitu. Kau juga cantik kalau kau marah. Pokoknya dalam kondisi apapun kau tetap cantik.” Sepertinya Byon mulai mengeluarkan jurus rayuan maut ang entah ia pelajaran darimana.
“Terimakasih, tapi tidak ada uang receh untuk gombalanmu. Aku sudah selesai berkemas. Selanjutnya kita akan pergi ke mana?” tanya Biyanca yang sudah mulai pasrah akan hidupnya di tangan Byon.
“Pulang,” jawab Byon.
BERSAMBUNG
***
harapan dan keinginan di masa sudah tercapai