Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.
Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku
Melihat Rana yang hanya terdiam dan asik dengan pikirannya sendiri, Rangga kembali menegaskan,
"Mas tanya sekali lagi, apa kamu bukan putrinya? Mamamu bisa dengan mudahnya memohon kebahagiaan Rania meski dengan cara mengambil kebahagiaanmu! Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan kebahagiaanmu sendiri?”
Ya, Rana tahu benar kasih sayang mamanya memang selalu timpang sebelah dan selalu condong kepada Rania. Tapi tetap saja dia mamanya, wanita yang telah melahirkannya. Dan Rana akan menjadi anak yang durhaka kalau sampai menyakiti hati mamanya itu.
Sejak dulu, satu-satunya hal yang tidak ingin Rana lakukan adalah menyakiti hati mamanya. Ia sangat menyayangi orangtuanya, terutama wanita yang telah melahirkannya itu. Jadi, meski tahu akan merasakan sakit di hatinya lagi, Rana tetap akan menuruti apapun keinginan mama Tian, apapun,
“Mas, ini hanya untuk sementara waktu saja. Tolong berpura-puralah menjadi suaminya dan menganggap Rania sebagai aku. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu, Mas. Jadi tolong kabulkan permintaanku kali ini saja.”
“Ya, kamu memang tidak pernah meminta apapun dariku, tapi sekalinya kamu meminta sesuatu, kamu meminta yang besar sekaligus, yang bahkan bisa membahayakan rumah tangga kita!”
“Apanya yang dapat membahayakan rumah tangga kita, Mas? Mas hanya harus berpura-pura menjadi suami Rania saja, apa susahnya dengan itu?”
“Apa itu berarti Rania akan tidur di kamar kita bersama dengan Mas, sementara kamu tidur di kamar tamu sendirian?”
"Kenapa bisa begitu?"
"Mas harus menjadi suami adikmu itu kan? Bagaimana bisa suami istri tidur terpisah?"
Deg!
Tadi Rana tidak berpikir sampai sejauh itu. Ia hanya fokus pada apa yang menjadi permintaan mamanya saja, juga pada Rania yang kembali berulah dengan menjadi Rana. Tapi ia sama sekali tidak memikirkan dampak dari sandiwara itu.
Melihat Rana yang mulai merasa ragu, Rangga memanfaatkannya dengan menambahkan,
“Bagaimana kalau Rania mengajak Mas untuk melakukan hubungan suami istri? Sampai kapan Mas akan terus menolaknya, dan bagaimana kalau dia curiga tiap kali Mas menolaknya? Mas harus bagaimana saat itu? Apa Mas juga harus mengabulkan permintaannya itu juga? Apa kamu rela kalau Mas melakukannya dengan adikmu itu?” Rangga memberondong Rana dengan pertanyaan demi pertanyaan, dan berhasil membuat wajah istrinya itu memucat pasi.
Ya Tuhan … Rana tidak memikirkannya sampai sejauh itu, ia hanya mementingkan kesehatan mental Rania tanpa memikirkan lagi dampak dari keputusannya untuk merelakan Rangga yang akan berpura-pura menjadi suami adiknya itu.
Betapa cerobohnya Rana. Rangga benar bagaimana kalau ternyata Rania memintanya untuk melakukan hubungan suami istri? Apa Rana akan merelakannya begitu saja? Tidak, Rangga adalah suaminya, dan hanya akan menjadi miliknya. Ia tidak akan berbagi suaminya itu dengan wanita lain meski wanita itu adalah adiknya sendiri yang sedang sakit.
Sambil beruraian air mata, Rana memeluk Rangga dengan erat, ia tidak mau membagi suaminya itu, Rangga adalah miliknya dana hanya akan menjadi miliknya,
“Tidak, aku tidak akan membiarkannya, Mas! Membayangkannya saja sudah membuat hatiku hancur. Aku tidak akan sanggup membagimu dengan wanita yang lain even itu adik aku sendiri,” isaknya dengan penuh sesal.
Ya, Rana menyesal karena sempat menyarankan hal segila itu pada suaminya tanpa memikirkan lagi dampak baik dan juga buruknya dari keputusannya itu. Untunglah Rana memiliki suami yang bijak seperti Rangga, dan ia teramat sangat mencintai suaminya itu.
Sambil menghela napas lega, Rangga membalas pelukan Rana dan mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih. Hal yang terlihat ringan namun dampaknya mampu membuat dada Rana membuncah dengan kebahagiaan atas kelembutan Rangga padanya.
“Lain kali, tolong pikirkan masak-masak apapun yang menyangkut rumah tangga kita. Jangan asal menyenangkan Mama dan adikmu itu sampai kamu mengorbankan kebahagiaan kamu sendiri, mempertaruhkan rumah tangga kamu sendiri, rumah tangga kita,” ujarnya dengan lembut.
Rangga selalu dapat menenangkan Rana dalam hal apapun, dalam kondisi seberat apapun. Juga dapat meluruskan Rana tiap kali ia membuat keputusan yang salah. Rana sangat bersyukur mendapatkan Rangga sebagai imamnya.
“Iya Mas, maafkan aku,” ucap Rana dengan lirih.
“Mas sudah memaafkan kamu bahkan sebelum kamu memintanya, Sayang. Jadi … Kamu sudah memutuskan untuk membatalkan rencana gila dan tidak masuk akal kamu itu kan?”
“Ya, aku akan membatalkannya, Mas. Aku tidak akan menuruti permintaan Mama yang satu ini. Kita akan mencari jalan keluar lainnya, kita pasti akan menemukan cara lain untuk membahagiakan Rania kan, Mas?"
Rangga tahu kalau saat ini Rana sedang membutuhkan kepastian untuk menenangkan dirinya atas keputusan yang akan Rana ambil itu. Dan Rangga bukan Tuhan yang dapat menentukan segalanya. Namun Rangga dapat sedikit menenangkan kegundahan hati istrinya itu,
"Kita banyak-banyak berdoa saja Sayang, semoga seiring dengan berjalannya waktu ingatan Rania akan segera pulih kembali seperti sedia kala. Memang beban yang sedang adik kamu pikul saat ini amatlah berat, namun Tuhan tidak menguji hambanya di luar batas kemampuan hambanya itu sendiri.”
"Ya, itulah yang menjadi harapan terbesar aku saat ini, Rania kembali mendapatkan ingatannya lagi. Tapi ... Rania pasti akan merasa terpukul sekali saat dia tahu kalau suami dan juga anaknya telah tiada."
"Rania wanita yang kuat. Mas yakin itu. Jadi, kamu jangan terlalu mengkhawatirkannya lagi, ok?"
Rana baru akan merespon Rangga ketika terdengar teriakan histeris mama Tian dari dalam ruang rawat Rania,
“Rania!”
Sontak saja teriakan mama Tian itu membuat Rangga dan Rana saling melepaskan pelukan mereka dan bergegas masuk. Apa yang Rana lihat di dalamnya membuatnya kembali bersedih. Adik satu-satunya itu duduk di lantai sambil memukuli kedua kakinya, dengan isakan tangisnya yang terdengar begitu memilukan hati Rana.
Entah bagaimana caranya hingga adik satu-satunya itu bisa terjatuh ke lantai.
“Aku lumpuh! Kenapa aku jadi tidak bisa jalan!” teriaknya histeris dengan suaranya yang terdengar serak.
Sementara mama Tian turut terisak sedih di samping Rania, tangan tuanya membelai lembut rambut Rania dan terus membelainya sambil membisikkan kata-kata yang dapat menenangkan Rania.
Tidak dapat berdiam diri begitu saja melihat mama Tian dan Rania terlihat sedih hingga seperti itu, Rana pun ikut duduk di samping mereka, “Kenapa Rania bisa duduk di lantai, Ma?” tanyanya sambil menepuk lembut punggung Rania untuk menenangkannya.
“Tadi Rania tersadar lalu menanyakan Samu dan Jingga. Mama tidak tahu harus jawab apa, tapi sepertinya Rania teringat kalau suami dan putrinya itu telah meninggal, jadi Rania langsung turun dari tempat tidur dan terjatuh,” jawab mama Tian di sela isakannya.
Rana menghela napas lega karena ternyata Rania telah kembali menjadi dirinya sendiri lagi. Jadi, Rana tidak akan merasa bersalah karena tidak dapat meminjamkan Rangga untuk membantu proses penyembuhan adiknya itu.