Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
"Kau pikir aku tidak tahu tipu muslihatmu?! Wanita haus kekuasaan sepertimu—berpura-pura bercerai dengan raja, hanya untuk menghancurkan keluargaku yang kau anggap ancaman bagi tahta rajamu!” suara Duke Elliot bergemuruh, dipenuhi amarah.
Ia menghunus belatinya, kilatan baja dingin itu langsung menempel di leher Davira. Perempuan itu tersentak, mencoba mundur, tapi Elliot bergerak cepat, mengurungnya rapat, hingga punggungnya menabrak dinding.
"Aku tidak berpura-pura! "Aku benar-benar bercerai dengan raja." Davira membalas dengan suara yang berusaha tegar, meski dadanya bergemuruh. Walaupun dalam hati, rasa takut merayap, jika Duke Elliot benar-benar kehilangan kendali malam ini, maka dirinya, akan mati kedua kali.
"Tidak akan pernah kubiarkan kau masuk ke dalam kastilku, lebih baik aku membunuhmu, daripada kau menghancurkan seluruh keluargaku lebih dulu!" desis Elliot, matanya menyala bagai bara.
Davira menelan ludahnya, ujung dingin belati itu makin menekan kulit lehernya hingga memunculkan setitik darah segar. Napasnya kian tercekat, tapi ia paksa bibirnya untuk tetap bicara.
"Aku tidak ada niat untuk menghancurkanmu, Duke Elliot!" ucapnya tegas, matanya berkilat tajam, menatap lurus ke mata sang Duke.
"Kalau aku berniat jahat, aku bisa memilih jalan yang lebih mudah daripada harus menanggalkan mahkotaku!" lanjutnya.
Elliot mendengus, belatinya bergeser sedikit, nyaris menggores. "Hentikan sandiwara memuakkan ini. Kau pikir aku sebodoh Liam yang mudah kau tipu dan manipulasi!?"
Davira menarik napas dalam, berusaha menahan rasa takutnya. "Aku rela meninggalkan posisiku sebagai Ratu... karena aku memilihmu Duke Elliot." Suara Davira bergetar, tapi bukan lagi karena takut. Ada kejujuran di sana, ketegasan yang membuat Elliot tak bisa langsung mengabaikannya.
Tatapan Elliot goyah sesaat, tangannya masih menggenggam belati, namun sorot matanya mulai menurun dari bara menjadi tanda tanya.
Elliot mundur dan menyimpan belatinya kembali. Davira segera mengambil napas lega dan memegangi lehernya yang sedikit terluka. Elliot terus menatapnya, wajahnya penuh kebingungan.
"Bisa saja aku menebasnya dengan mudah, sesuai perintah ayah. Tapi kenapa wajah wanita ini, bukan sedang sandiwara." benak Elliot.
Sang Duke tak bisa menyingkirkan ingatan tentang sorot mata Davira terhadap Liam saat di aula pertemuan—bukan pura-pura, melainkan itu sebuah kebencian nyata. Kenangan itu membuatnya sedikit percaya pada perkataan Davira malam ini.
"Duke Elliot, terimalah aku sebagai istrimu. Kuanggap ini janji, kubuat wilayah selatan tak lagi lapar sebelum akhir tahun. Aku tahu caranya, aku bisa bantu memperbaiki pangan dan menciptakan cadangan sebelum seluruh wilayah Utara tertutup salju tebal."
Elliot mendengar itu lalu tertawa — bukan tawa kagum, melainkan tawa sinis. Ia mengira Davira bergurau. Tanah Utara tak pernah subur, panen sering gagal, ternak jarang yang selamat melewati musim dingin yang kejam.
Itulah alasan keluarga Duke Orion tetap tunduk pada Liam, demi mendapatkan kesediaan pangan saat musim dingin dan keselamatan rakyat selatan, karena hanya dia yang mampu menjaga garis pertahanan dari ancaman suku Avarian.
"Panen meningkat di utara?" ia mengulang kata-kata Davira dengan nada penuh cemooh. "Kau pasti tidak tahu apa-apa soal tanah tandus itu. Setiap tahun, rakyatku hanya bisa berharap hujan turun lebih lama, tapi yang datang justru musim dingin yang ganas. Gandum membusuk, kentang membeku, dan ternak mati satu per satu."
Ia melangkah mendekat, sorot matanya menajam, penuh sinis. "Jangan sok mulia di hadapanku, Davira. Ratu manja dan egois dari istana, mana mungkin paham penderitaan wilayah utara. Bahkan aku, yang lahir dan besar di tanah itu, tak bisa menjanjikan apa-apa selain kelaparan setiap akhir tahun."
Elliot menggeleng, tawanya merendahkan. "Kalau itu leluconmu untuk meluluhkan hati, sayang sekali—aku tidak mudah terpikat oleh dongeng manis."
Davira menatap lurus ke mata Elliot, kepalanya terus berpikir keras, jangan sampai apa yang telah ia rencanakan hingga menanggalkan mahkotanya berujung gagal.
"Kalau begitu aku akan ambil risiko. Apapun yang akan terjadi, dia harus mempercayaiku." batin Davira, ingin meyakinkan Elliot.
"Beri aku waktu tiga bulan!"
Duke Elliot langsung melotot kearahnya.
"Jika panen di wilayah utara tidak meningkat dalam waktu tiga bulan—aku rela menerima hukumanmu. Kalau kau mau, Duke Elliot, silahkan potong kepalaku di alun-alun kota Orion. Biarkan rakyatmu melihat kematianku."
Keheningan jatuh seketika—kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke kolam, memecah permukaan hingga gelombang menggulung.
Berbeda saat Elliot memandangnya lama, kepalanya sedang menimbang-nimbang, apa yang ditawarkan Davira sungguh menggiurkan, jika benar berhasil, maka wilayah utara tak perlu terus tunduk pada Liam.
"Konyol. Kau berani mempertaruhkan nyawamu untuk ladang yang tandus?" suaranya penuh cemooh, tapi di ujung nadanya ada rasa penasaran.
"Kau akan lihat hasilnya nanti, berikan aku kesempatan. Aku butuh kebebasan bergerak di wilayah selatan, akses ke lumbung, biji-bijian, dan orang-orang yang paham tanah ini. Dan aku butuh pasokan—minimal dua kereta gandum dari cadangan istana untuk memulai cadangan musim tanam berikutnya."
Elliot menahan napas, menimbang. Tuntutan Davira—bukan tuntutan yang suka-suka, melainkan rencana berbiaya nyata.
"Dan jika aku setuju memberimu semua akses itu, kau tidak boleh protes. Dan kau akan bekerja di bawah pengawasanku—orang kepercayaanku akan melaporkan progresmu setiap dua hari sekali."
Davira mengangguk. "Setuju."
Beberapa detik Elliot hanya menatapnya, seakan menimbang apakah ia sedang berurusan dengan wanita gila atau jenius yang nekat. Akhirnya ia menghela napas panjang, seolah menahan badai yang ingin pecah.
"Sampai bertemu di altar... besok."
Dengan satu kibasan jubah hitamnya, Elliot berbalik dan meninggalkan kamar Davira.
Blam!
Begitu pintu tertutup, lutut Davira melemas. Nafasnya tersengal, baru saja ia lolos dari maut. Ia jatuh terduduk di lantai dingin, tangannya meraba kulit leher yang masih perih, namun di wajahnya tersungging senyum—Senyum kemenangan.
*****
Keesokan paginya, Kerajaan Nether digemparkan oleh kabar besar: penobatan ratu baru. Idette Zelmira Felix kini resmi menyandang gelar Idette Zelmira Osta, Ratu Kerajaan Nether.
Para bangsawan pendukung Count Felix tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan pujian, sementara pihak yang sebelumnya setia pada sang ratu terdahulu hanya bisa terdiam, menelan kenyataan pahit yang tak terbantahkan.
Siang harinya, istana kembali berguncang oleh sebuah perayaan lain, pernikahan Duke Elliot Lamont Orion dengan Davira Bellova Osta.
Pendeta Agung berdiri di antara mereka, suaranya menggema di aula besar istana.
“Duke Elliot Lamont Orion, Duchess Davira Bellova Osta… di hadapan para bangsawan dan rakyat Nether, ucapkanlah janji suci kalian.”
Elliot menatap Davira, sorot matanya tajam, seolah setiap kata adalah peringatan.
“Aku, Elliot Lamont Orion, berjanji menjadikanmu istriku. Aku akan melindungimu sebagaimana aku melindungi wilayah utara.”
Davira menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan tenang.
“Saya, Davira Bellova Osta, berjanji menjadi istri dan pendampingmu. Saya telah rela meninggalkan tahtaku, meninggalkan gelar ratu, demi berdiri di sisimu. Aku akan berjuang bersamamu tuanku… bahkan bila kematian adalah jalannya.”
Kini Davira resmi menyandang gelar baru sebagai Duchess Orion—Davira Bellova Orion. Janji mereka bukan sekadar ikatan suci—tapi juga deklarasi perang tersembunyi yang hanya mereka berdua pahami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️