Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19: Sebuah Mimpi yang Terasa Nyata
“Sudahlah Pak, jangan labil lagi,” tegas Noval saat menasehati atasannya di kantin.
Azka telah memberitahukan tentang apa yang baru saja terjadi dengan Sesilia. “Jadi lebih baik, saya menghindar ya?”
“Apa tidak masalah?” lanjutnya lagi.
Noval menggelengkan kepala perlahan, lalu mengulangi ucapannya sekali lagi, berharap pikiran Azka bisa mengerti apa yang barusan dikatakan. Namun justru sebaliknya, Azka memancarkan kebingungan bahkan terlihat nyaris frustasi.
Ia menatap Azka dengan sorot mata tak percaya, bibir tertarik membentuk senyum miris. Baginya, Azka terlalu cerdas untuk jadi bodoh, tapi juga naif mengenali perasaan sendiri. Itu membuat semua terasa lebih rumit dari yang seharusnya.
“Sekarang saya balik tanya, Pak. Apa masalahnya kalau kamu menghindari Sesilia?” Noval gemas.
Azka mengerutkan alis, “Saya tidak enak saja sama dia.”
“Tidak enak kenapa?” cecar Noval. “Harusnya kamu merasa tidak enak sama istrimu, Pak.”
Pernyataan itu membuat Azka diam. Tapi ia terlihat masih berpikir, mencari jawaban yang mungkin bisa diberikan menentang Noval. Tapi sayangnya ia tidak bisa menemukan jawaban apapun.
“Nah kan? Tidak bisa jawab,” ujar Noval.
Ia kemudian memberikan nasehat panjang kepada Azka agar bisa lebih rasional. Tidak perlu membohongi perasaan. Noval meminta agar Azka jujur, mengakui kalau ia memang menyukai Sesilia lebih dari sekedar teman atau rekan kerja.
“Kamu ingin memilikinya, kan?” kata Noval mengakhiir rangkaian nasehat.
Seketika saja Azka salah tingkah. Ia berusaha menutupinya dengan meneguk minuman yang sebenarnya dari tadi tidak ia sentuh.
“Kamu ini bicara apa, Val?” dalih Azka masih tidak mau mengakui.
Ia kemudian mengajak Noval untuk kembali bekerja. Mereka pun meninggalkan kantin menuju kantor.
Setelah berpisah dengan Noval, kini Azka berada di dalam ruangannya, sendirian. Ia masih memikirkan tentang ucapan Noval.
Terutama kalimat terakhir yang mempertanyakan, apakah kadar ketertarikannya terhadap Sesilia berada di tahap ingin memiliki atau tidak.
Semakin ia menyangkal, makin besar pula Azka merasa kalau dirinya telah berbohong. Azka kembali teringat ucapan Noval agar ia jujur pada hatinya.
Hingga kemudian, ia membuat keputusan mengikuti nasehat Noval dengan menghindari Sesilia, terutama untuk sementara ini.
***
Waktu berlalu tanpa disadari. Hari berganti malam telah larut ketika Azka dan Visha berada di kamar mereka. Tempat paling sunyi dari hiruk pikuk dunia luar.
Cahaya kamar sudah diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sisi ranjang. Azka tengah duduk bersandar di sudut ranjang, sementara Visha berada di sebelah, membenarkan selimut, merapikan bantal. Keduanya bersiap untuk tidur, namun situasi di antara mereka tak benar-benar tenang.
Ada sesuatu dalam sikap Azka malam itu, gelagatnya lebih diam, pikiran kosong, meskipun ia berusaha terlihat biasa, tapi tetap ketahuan. Visha yang mengenalnya lebih dari siapa pun, merasakan sejak tadi.
“Kamu kenapa sih? Sejak tadi sore, kamu banyak diam. Kalau ada masalah, coba ceritakan ke aku. Walau mungkin aku tidak bisa membantu, paling tidak aku bisa meringankan bebanmu, meski sedikit,” ujar Visha.
Tak ingin melihat istrinya terus tenggelam dalam keresahan, Azka perlahan meraih tangan Visha, menggenggamnya erat. Ia menatap wajah wanita yang telah menemani sejauh ini, lalu berbicara dengan nada lembut.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan masalah pekerjaan saja. Lumayan menumpuk, deadlinenya berdekatan,” dalih Azka berbohong.
Azka kemudian mengajak Visha segera tidur.
***
Tiba-tiba saja Azka sudah berada di sebuah tempat yang semuanya berwarna putih. Ia berdiri penuh kebingungan, mendengar suara perempuan menangis.
Setelah didengarkan seksama, Azka meyakini kalau tangisan itu mirip sekali dengan suara Visha.
Ia berusaha berteriak memanggil nama istrinya. Tapi tidak ada respon. Suara rintihan justru terdengar semakin histeris.
“Visha!”
Azka menjadi panik, lalu berlari ke sana kemari, mencari jalan keluar. Dengan deru tangisan masih terdengar, Azka terus berusaha pergi dari ruangan berwarna putih tersebut.
Perasaannya kini mencapai titik terendah. Dunia seakan memudar dalam cahaya putih yang mendadak berubah menjadi gelap.
Nafasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipis dan jantung berdegup seperti baru saja berlari jauh dari sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ruangan tampak sama seperti sebelumnya, gelap tanpa berubah sedikit pun.
Sejenak ia terdiam, mencoba memisahkan antara apa yang sedang terjadi saat ini dengan kehidupan di luar. Ia pun teringat sebelumnya ingin tidur bersama Visha. Ia langsung bisa menduga, bahwa ini hanyalah khayalan. Seketika itu juga, ia terbangun dari mimpinya.
Ternyata peristiwa barusan hanya sebatas bunga tidur. Matanya melotot, mengamati sekitar seraya nafas terengah. Keringat membasahi sekujur tubuh. Ia kemudian menyadari masih berada di dalam kamar. Azka melihat Visha sedang tertidur. Wajahnya teduh dengan mulut yang sedikit terbuka.
Ia melihat jam, menunjukkan pukul empat dini hari. Entah kenapa, ia mendadak kepikiran untuk melaksanakan ibadah shalat subuh.
***
Dalam perjalanan menuju kantor, Azka tidak berhenti memikirkan makna dibalik mimpinya. Ia menduga kalau ini merupakan pertanda buruk.
Sekarang, ia membulatkan tekad untuk menghindari Sesilia. Ia tidak mau mendapat masalah di kemudian hari karena masih berhubungan dengan kepala divisi quality control itu.
Sesampainya di kantor, Azka langsung masuk ke dalam ruangan. Ia duduk kursi, melamun, masih mempertimbangkan apa yang akan dilakukan olehnya saat bertemu Sesilia.
Namun tak butuh waktu lama. Wanita yang sedang ia pikirkan tiba-tiba datang membawa segelas kopi.
“Pagi Pak, sudah siap menjalani hari ini?” ucap Sesilia bernada semangat yang mengejutkan Azka karena ia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ia masuk ke dalam ruangan, meletakkan kopi dari tangannya ke atas meja. Oleh karena ia sudah menduga Sesilia akan datang, Azka langsung melancarkan rencananya.
“Terima kasih ya, tapi lain kali saya minta kalau kamu ingin masuk ke ruangan saya, ketuk pintu dulu ya,” tegurnya.
Mendengar teguran Azka, tiba-tiba saja Sesilia mengambil gelas kopi yang ada di meja. Ia berjalan menuju pintu, keluar dari ruangan.
Azka terkejut bukan main.
Ia berpikir apakah sikapnya kelewatan. Jantung berdegup kencang. Seketika ia menyesal karena membayangkan Sesilia tersinggung.
Pintu tertutup, Sesilia sepenuhnya sudah keluar dari ruangan. Tapi kemudian, terdengar suara ketukan pintu, “Tok tok.”
Azka mempersilakan masuk.
“Selamat pagi Pak, sudah siap untuk menjalani hari ini?” kata Sesilia persis dengan nada sebelumnya.
Sontak saja, Azka refleks tertawa kecil karena tingkah wanita yang berhasil mencuri perhatiannya. Tak sesuai rencana awal, Azka bingung harus bagaimana karena terlanjur menertawakan Sesilia.
“Nah, gitu dong, Pak. Jangan cemberut terus. Nanti gantengnya hilang lho,” ujar Sesilia kembali meletakkan segelas kopi di atas meja.
“Minum dulu kopinya, biar makin santai pikiran Bapak,” sambung Sesilia.
Menyadari bahwa agenda tak berjalan seperti yang diharapkan, Azka hanya bisa membatalkan. Tak ada kemarahan, juga penyesalan berlebihan.
Ia tahu batas yang ingin ia ciptakan tidak akan mungkin berdiri tegak di antara perasaan masih belum selesai. Terkadang, membiarkan sesuatu tetap abu-abu bisa jadi satu-satunya cara untuk menjaga agar segalanya tak runtuh sekaligus.
“Kamu ini, selalu ada saja gebrakan baru,” jawab Azka mengambil kopi lalu meminumnya. “Lho, rasanya beda?”
Azka mempertanyakan rasa kopi yang tidak seperti biasa.
“Iya, aku request supaya ada tambahan rasa manisnya sedikit,” kata Sesilia. “Coba tebak, apa yang ditambahkan ke kopi itu?”
Tanpa pikir panjang, ia menjawabnya dengan mudah, “Gula aren?”
Sesilia menatap tajam. Azka mendadak juga tegang karena melihat mata Sesilia yang menurutnya justru semakin indah ketika sedang serius.
“Kenapa? Salah ya?” tanya Azka.
“Benar sih, tapi jadi tidak asik, masa iya mudah sekali jawabnya.”
Perubahan mood yang mendadak ini merupakan ciri khas dari karakter Sesilia. Sikap yang selalu membuat Azka terkejut. Yang menjadikan sosok Sesilia unik tak terduga.
Berusaha mencairkan suasana yang sempat terasa canggung, Azka mengangkat cangkir di tangan, menyeruput kopi itu perlahan. Hangatnya menyusup ke tenggorokan, disusul rasa manis khas tidak terlalu mencolok.
“Tapi saya suka rasanya. Perpaduan antara pahit kopi dan manis gula aren,” ujarnya.
Sesilia kembali menatap sejenak, lalu tersenyum samar, merasa lega karena Azka menyukai kopi racikan barunya.
“Iya kan? Filosofinya jadi seperti kehidupan. Ada pahit, ada juga manis. Tergantung kita mau merasakan dari sisi yang mana. Mau pahit bisa, manis juga bisa,” ucap Sesilia.
Azka ikut menambahkan, “Tapi kita juga bisa melihat dari dua sisinya sekaligus, pahit dan manis bersamaan.”
“Setuju! Misalnya pada saat kita suka sama orang yang sebenarnya sudah tahu, kita tidak mungkin memilikinya,” canda Sesilia yang membuat Azka tersedak.
“Uhuk-uhuk.”
“Pelan-pelan minumnya Pak,” ujar Sesilia sedikit panik.