NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Lampu pendar di ruang OSIS berkedip-kedip sebelum mengeluarkan bunyi dengung halus. Bayangan Bima terpantul panjang di atas lantai keramik, membiaskan raut wajahnya yang tak lagi mengenakan topeng anak emas sekolah.

"Rahasia besar?" Arka terkekeh pelan. Langkah kakinya maju, menggeser Kirei perlahan ke belakang punggungnya. Tangannya melesak ke saku celana, memamerkan ketenangan dingin yang merayap intimidatif. "Gue penasaran, rahasia omong kosong apa yang lo punya, Bim?"

Bima tak bergeming. Meraih ponsel pintar dari saku jas OSIS-nya, ia mengusap layar beberapa kali sebelum mengarahkannya lurus ke mata Kirei dan Arka.

Di balik kaca layar yang silau, sebuah dokumen digital terpampang nyata. Surat Perjanjian Pernikahan Kontrak. Dua tanda tangan tergores jelas di sana—milik Kirei dan Arka—di bawah tinta merah mencolok dan stempel basah Notaris Keluarga Wijaya.

Darah Kirei rasanya berhenti mengalir seketika. Ujung jemarinya mendadak mendingin. Bagaimana bisa Bima memegang salinan berkas keramat itu?

"Kaget?" Bima tersenyum penuh kemenangan, matanya berkilat liar di balik kaca kacamata. "Waktu lo pingsan kelelahan di ruang OSIS dua minggu lalu, gue yang ambil tas lo buat cari obat. Gue buka amplop cokelat tanpa nama itu. Dan tebak apa yang gue temukan? Ketua OSIS kita yang sok suci ini ternyata udah dijual keluarganya sendiri ke anak bad boy ini."

Cengkeraman Kirei di bahu Arka mengencang, napasnya memburu pendek-pendek. "Bima... lo enggak bisa nyebarin itu. Itu urusan pribadi keluarga gue!"

"Urusan pribadi?" Bima tertawa hambar, mengambil satu langkah maju. "Ini manipulasi, Kirei! Sekolah ini punya aturan ketat soal pernikahan di bawah umur. Kalau dokumen ini sampai ke meja Pak Hartawan dan dinas besok pagi, bukan cuma reputasi lo yang hancur... lo bakal ditendang secara tidak hormat. Masa depan lo, beasiswa olimpiade lo, melayang semuanya!"

Arka menyipitkan mata. Kilat amarah membakar iris cokelat gelapnya. Rahagnya mengeras kaku, urat-urat di leher menegang tajam.

"Gue hitung sampai tiga," kata Arka dengan suara amat rendah dan berat, menyebarkan aura tengkuk merinding. "Hapus file itu sekarang."

"Atau apa?" tantang Bima, membusungkan dada. "Lo mau mukul gue? Hantam aja, Arka! Biar alasan Pak Hartawan nendang lo dari sekolah makin bulat!"

Sebelum tinju Arka melayang melintasi udara, Kirei buru-buru menahan dada tegap cowok itu dengan kedua telapak tangannya. "Arka, tahan! Jangan!"

Kirei memutar tubuh, menatap Bima lurus-lurus. Ditekan habis-habisan rasa takut yang bergolak di dada. Sebagai Ketua OSIS, ia menolak hancur di hadapan kepalsuan ini.

"Apa mau lo, Bima?" cecar Kirei dengan intonasi dingin menusuk. "Lo yang menempel foto di papan pengumuman, menjebak kita, dan sekarang mengancam pakai berkas ini. Sebenarnya apa yang lo mau?"

Bima mengulas sunggingan miring, merasa sudah memegang kendali penuh atas situasi. Ia menyelipkan ponselnya kembali ke dalam saku.

"Sederhana," cetus Bima ringan. "Besok pagi di depan Kepala Sekolah, lo harus umumkan kalau Arka yang sengaja meneror lo dan memalsukan tumpangan itu. Lo harus mundur dari posisi Ketua OSIS dan serahkan ke gue. Dan yang paling penting... batalkan kontrak gila lo sama Arka, lalu jauhi dia selamanya."

"Lo sudah gila," bisik Kirei tak percaya.

"Gue melakukan ini demi lo, Kirei!" seru Bima dengan nada obsesif yang menyengat. "Cowok kayak Arka cuma bakal merusak hidup lo! Dia enggak pantes ada di dekat lo!"

"Yang enggak pantes ada di sini itu lo, Bangsat!"

Arka bergerak melampaui refleks. Sebelum Bima sempat menghindar, tangan Arka sudah mencengkeram erat kerah kemejanya, menariknya kasar lalu menghempaskan tubuh cowok itu ke dinding besi lemari arsip.

Brak!

Benturan keras bergema di ruangan. Kacamata Bima mencelat, jatuh berderai dan retak di lantai.

"Arka!" jerit Kirei tertahan sewaktu melihat kepalan tangan kanan Arka sudah melayang mengunci tepat di depan hidung Bima.

Napas Arka memburu memecah malam. Matanya merah menahan ledakan amarah. Namun Bima justru terkekeh kecil di balik cengkeraman Arka, walau sudut bibirnya ketahuan gemetar ketakutan.

"Pukul, Arka... pukul," bisik Bima provokatif. "Biar CCTV koridor makin jelas merekamnya."

Arka menatap Bima dengan pandangan merendahkan. Perlahan, jemarinya merenggang dari kerah Bima. Ia menepuk-nepuk bahu kemeja Bima yang kusut dengan gestur santai yang mengejek.

"Gue enggak sudi mengotori tangan buat cowok pengecut kayak lo," bisik Arka pelan, tapi tiap katanya syarat ancaman mematikan.

Arka berbalik, menyambar pergelangan tangan Kirei dan menggenggamnya erat. Sentuhan jemari Arka hangat dan kokoh, menghadirkan rasa aman tak terduga di tengah kepungan badai.

"Ayo balik, Rei," ajak Arka tanpa sudi melirik Bima lagi.

"Kirei! Pikirkan penawaran gue!" teriak Bima dari belakang, suaranya memenuhi ruang OSIS yang remang. "Besok jam delapan pagi di ruang Kepala Sekolah! Kalau lo enggak nurut, berkas itu bakal tersebar di seluruh grup WhatsApp sekolah!"

Kirei tak menoleh. Ia membiarkan Arka menuntun langkahnya keluar, melintasi koridor sekolah yang kian pekat diselimuti malam.

Pukul 21.00 WIB.

Rumah minimalis itu terendam sepi. Hanya rintik gerimis yang mengetuk kaca jendela kamar, menjadi satu-satunya bunyi yang memecah hening.

Kirei duduk meringkuk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya rapat-rapat. Pikirannya liar membayangkan esok hari. Reputasi akademisnya, harapan Kakek yang masih terbaring koma, dan masa depannya... semuanya bergantung di ujung tanduk.

Pintu kamar berdecit pelan.

Arka masuk membawa cangkir chamomile hangat yang mengepulkan uap. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja nakas, lalu melantai begitu saja, menyandarkan punggungnya ke tepi kasur Kirei.

"Minum dulu," bisik Arka lirih.

Kirei menunduk, memandangi punggung tegap Arka di bawahnya. "Arka... gimana kalau besok Bima beneran menyebarkan dokumen itu?"

Arka menghela napas panjang. Ia memutar tubuhnya, mendongak menatap Kirei. Di bawah pendar remang lampu kamar, raut wajah Arka kelihatan sangat serius—topeng bad boy yang acuh tak acuh itu sirna tanpa sisa.

"Gue enggak bakal biarkan itu terjadi, Kirei," ucap Arka mantap.

"Tapi dia pegang salinannya!" suara Kirei bergetar, air mata yang ia tahan seharian mulai menggenang di pelupuk. "Gue takut... gue takut Kakek kecewa kalau sampai masalah ini bikin gue dikeluarkan dari sekolah."

Arka mengulurkan tangan, meraih jemari Kirei yang mendingin. Menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan yang perlahan mengurai simpul ketakutan di dada Kirei.

"Dengar gue, Bu Ketua," bisik Arka, mengunci pandangannya lurus ke iris mata Kirei. "File di ponsel Bima itu cuma salinan digital. Dia enggak punya berkas fisiknya. Dan malam ini... gue bakal pastikan dia enggak punya kesempatan buat menekan tombol send."

Kirei berkerut dahi, bingung. "Maksud lo apa? Lo mau nekat ke rumah Bima?"

Arka mengulas senyum miring—ciri khas penuh percaya diri yang selalu sukses bikin jantung Kirei berdesir aneh.

"Permainan Bima terlalu amatir," cetus Arka pelan. "Dia lupa kalau yang dia lawan bukan cuma cewek pinter Ketua OSIS... tapi juga suaminya yang biasa hidup di jalanan."

Arka bangkit, membenahi posisi jaket hitamnya, lalu menunduk sebentar mengusap lembut puncak kepala Kirei. Sentuhan asing yang terasa begitu hangat dan protektif.

"Tidur sekarang. Biar urusan besok pagi... jadi bagian gue," tuntas Arka sebelum berbalik menuju pintu.

Kirei menyentuh bekas usapan Arka di kepalanya, menatap punggung cowok itu yang perlahan lenyap di balik pintu. Di dalam hatinya yang tadi bergemuruh, rasa takut akan ancaman Bima mendadak terkikis... berganti menjadi desakan penasaran tentang rencana gila apa yang sedang disiapkan Arka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!