Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
"Hallo, iya selamat sore bu" Viviane menjawab telepon yang ternyata dari pihak sekolah Lia.
Sebenarnya kepalanya masih sedikit pening meski sudah dari kemarin dia meminum obat dari klinik. Bahkan hari ini dia tidak masuk kerja.
"Iya, maaf mengganggu Bu Ane. Apa kondisi ibu sudah lebih baik?" tanya Bu guru memastikan kesehatan Ane.
"Sudah lebih baik, bu. Terimakasih atas perhatian dan juga bantuan dari pihak sekolah" jawab Ane.
"Sama-sama bu. Ehm, bisakah besok pagi bu Ane datang ke sekolah? Karena ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan ibu" kata bu guru.
"Kira-kira ada keperluan apa, bu? Sepertinya besok pagi saya bisa datang, karena kebetulan besok jadwal saya masuk siang" jawab Ane, kebetulan para guru di sekolah Lia mengetahui kalau Ane bekerja sebagai seorang BA. Bahkan para pengajar disana sering membeli produk kosmetik melalui Ane.
"Hanya masalah sekolah Lia saja kok bu. Kalau ibu ada waktu, dimohon kedatangannya besok pagi jam delapan ya bu" kata bu guru.
"Baik, bu" jawab Ane.
Setelahnya, Ane memilih untuk kembali beristirahat agar kondisinya bisa lekas pulih. Sedangkan Lia, seperti biasanya gadis itu selalu bersama dengan Gita.
"Mama mau ikut ke sekolah Lia?" tanya Lia yang melihat mamanya tampil rapi.
"Iya, kemarin bu guru meminta mama untuk datang ke sekolah kamu, sayang" jawab Ane yang sudah siap dan pasti selalu terlihat cantik.
"Oh, memangnya mama sudah sehat?" tanya Lia yang juga sudah rapi, kini tengah sibuk mengunyah roti bakarnya.
"Sudah kok. Mama sudah sangat sehat. Ayo, cepat habiskan sarapanmu dan kita segera berangkat" perintah Ane karena jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
"Ayo ma" jawab Lia setelah meminum segelas susunya, dan memilih memakan rotinya di perjalanan.
"Dasar kamu ini, kebiasaan" kata Ane sambil mengacak rambut Lia yang sudah disisir rapi.
"Mama, kan jadi berantakan lagi" kata Lia yang sudah cemberut.
"Sudahlah, lagipula kan mau pakai helm. Nanti mama sisirkan yang rapi kalau sudah sampai di sekolah ya" kata Ane yang sudah siap diatas motornya, tak lupa juga sudah mengunci pintu dan memastikan semuanya aman.
Sampai di parkiran sekolah, rupanya bersamaan dengan Vicky yang juga baru tiba di sekolah untuk mengantarkan Johan.
Tentu Johan sangat senang karena akhir-akhir ini papanya sering mengantar atau menjemputnya.
Tapi kedua pria berbeda usia itu masih betah berdiam di dalam mobil setelah sampai di parkiran untuk melihat sekelilingnya. Sebenarnya Vicky masih belum berani keluar saat tadi melihat Viviane yang juga sedang berada di parkiran motor.
Dari dalam mobilnya, Vicky bisa melihat Viviane yang sedang menyisir rambut Lia, membuat perasaan Vicky berbunga-bunga.
Rasanya dia ingin berlari menghampiri wanita itu dan memeluknya erat. Tapi tentu dia masih belum berani melakukannya. Apalagi ada Johan disini.
"Apa papa mau ikut turun?" tanya Johan yang juga memandang ke arah Lia dan mamanya.
"Tidak, papa antar kamu sampai disini saja" kata Vicky tanpa melepas pandangannya dari Ane.
"Lia memang cantik ya, pa. Apalagi mamanya, sangat berbeda dengan mama Ruby. Mama Lia sangat mempesona" puji Johan yang ikut memandangi Lia.
"Memangnya kenapa mamamu?" tanya Vicky heran, dia sampai menaikkan satu alisnya.
"Johan kadang malu kalau mama Ruby berpakaian terlalu seksi, pa. Tapi lihatlah mamanya Lia, dia sangat cantik, pakaiannya rapi, dan dia selalu tersenyum" lagi, Johan malah memuji Ane.
"Dasar anak kecil. Tahu apa kamu dengan wanita cantik. Sudah sana kamu masuk" kata Vicky sambil menggelengkan kepalanya.
Johan sangat berbeda dengannya. Kenapa pria kecil itu seperti seorang playboy? Mudah sekali dia mengutarakan isi hatinya.
Sedangkan Vicky masih saja betah menyaksikan kedekatan Ane dan Lia. Hatinya menghangat melihat itu semua. Seandainya dia ada di tengah mereka, pasti dia sangat bahagia.
Menjelang pukul delapan, dengan mengendap mencari jalan yang berbeda dari tempat Ane, Vicky segera menemui guru disana.
"Selamat pagi Pak Vicky. Silahkan duduk" kata Kepala sekolah saat melihat kedatangan Vicky.
"Terimakasih, pak" jawab Vicky yang sudah duduk tenang.
"Tolong siapkan tempat untuk saya agar bisa berbicara empat mata dengan bu Viviane" pinta Vicky.
"Kalau boleh tahu, apakah pembicaraan ini ada hubungannya dengan masalah sekolah, pak?" tanya kepala sekolah sedikit keberatan.
"Tentu. Dan saya hanya ingin membahasnya secara langsung dengan yang bersangkutan" kata Vicky dengan penuh wibawa.
"Jika masalah ini bersifat serius, biarkan pihak sekolah saja yang menyelesaikannya, pak. Karena saya tahu kalau waktu bapak sangat terbatas" kata kepala sekolah. Beliau merasa tidak enak kalau harus melibatkan donatur terbesar semacam Vicky untuk menyelesaikan masalah yang dikiranya tentang sekolah Lia.
"Tidak perlu. Biarkan saya sendiri yang menanganinya. Saya hanya minta tempat di sekolah ini untuk bisa berbicara dengan Bu Viviane" pinta Vicky sekali lagi.
"Baiklah pak" kata kepala sekolah yang kini berusaha menghubungi seseorang.
Tok.. Tok.. Tok..
suara ketukan pintu terdengar tak lama setelah kepala sekolah menutup teleponnya.
"Maaf pak. Pak Vicky sudah ditunggu bu Ane di ruang seni" ucap guru yang kemarin menelepon Ane.
"Terimakasih, bu. Silahkan pak Vicky, biar bu Anita yang mengantar pak Vicky bertemu dengan Bu Ane" kata Kepala sekolah.
Vicky hanya mengangguk dan beranjak mengikuti guru wanita itu. Dan dia kini sudah berada di depan sebuah ruangan tertutup yang di dalamnya sudah ada Viviane yang menunggu.
"Selamat pagi, bu Viviane" sapa Vicky saat mendapati Ane tengah sibuk dengan ponselnya.
"Selamat pagi, pak" ujar Ane yang sangat terkejut saat melihat orang yang menyapanya, seketika senyumnya hilang setelah melihat wajah Vicky.
"Kamu?" gumaman Ane seolah tertelan sendiri olehnya, dia masih melotot melihat wajah yang selama ini dia rindukan sekaligus dia benci.
"Vi, aku sangat merindukanmu" kata Vicky yang berusaha menggapai Ane dalam pelukannya.
"Jauhi saya, tuan. Asalkan tuan tahu, saya adalah Ane. Dan Vivi sudah mati sejak tujuh tahun yang lalu, saat dia dengan malangnya ditendang oleh kekasihnya, dan diusir oleh keluarganya" kata Ane tegas, dengan tangan menunjuk wajah Vicky seolah sedang menantangnya.
"Saya adalah Ane, wanita terbuang yang sudah tak memiliki siapapun di dunia ini. Jadi saya mohon, jauhi saya. Biarkan saya hidup seperti biasanya. Jangan lagi muncul di hadapan saya. Permisi" kata Ane yang terlihat sangat marah sambil terus memperingatkan Vicky agar tak mendekat.
Kemarahannya sangat terlihat jelas karena wajahnya yang memerah tanpa berair mata.
Tanpa banyak kata, Ane memilih keluar dari ruangan itu dan segera berlari menuju parkiran agar bisa pulang.
Sedangkan Vicky masih membatu, dia tak menyangka akan mendapat perlakuan setegas itu dari Viviane yang dulu lembut.
Beruntung selama hampir tujuh tahun menjadi seorang BA, memberikan Ane banyak pengalaman dalam menghadapi banyaknya karakter manusia dan juga pengalaman dalam bersikap dan menghadapi orang lain di waktu mendadak seperti saat ini.
Sebenarnya Ane sangat gemetar sejak tadi. Bahkan dia seperti terserang Tremor, tapi dia masih berusaha kuat untuk bisa segera pergi dari sekolah itu dengan tetap mengendarai motornya.
Dan setelah merasa aman, Ane memilih untuk sejenak berhenti di sebuah taman untuk menenangkan diri.
Berjalan sendirian setelah memarkirkan motornya, Ane menelusuri sebuah taman pagi ini. Dan duduk di sebuah bangku kosong sambil memandangi sekitarnya.
"Mereka nampak bahagia" gumamnya saat melihat beberapa orang tengah jogging bersama.
Seketika air matanya turun, mengingat perjumpaannya dengan Vicky barusan yang menurutnya terlalu mendadak.
"Bagaimana dia bisa ada disini juga?" gumam Ane.
"Setelah bertahun-tahun lamanya, kenapa dia muncul lagi? Kenapa dia bisa menemukanku?" tanya Ane dalam tangisnya.
"Ya Tuhan, selama ini aku mengikuti takdirmu tanpa banyak mengeluh. Karena kesalahanku, aku rela pergi demi menjaga kehormatan keluargaku. Karena kesalahanku, aku rela hidup dan berjuang sendiri hanya bersama Lia" masih dalam hati Ane berkata, diiringi isak tangisnya.
"Karena kesalahanku, aku rela berbohong agar hati Lia tak pernah bersedih karena ayahnya yang tak menginginkannya".
"Tapi kenapa kau kembali mempertemukan aku dengannya, Ya Tuhan? Disaat aku sudah sangat nyaman tanpanya, nyaman hanya berdua dengan putriku. Hatiku sangat sakit melihat wajahnya, Tuhan ..." rintih Ane dalam tangisnya, sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Cantik, kenapa nangis disini? Sendirian lagi" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang ikut duduk di samping Ane.
"Aldo, ngapain disini?" tanya Ane sedikit heran, tapi sepertinya teman prianya ini sedang olahraga.
"Menurut lo? Ngapain gue disini?" tanya Aldo sambil meminum airnya.
"Nih" kata Aldo sambil mengulurkan sebotol minuman dingin lainnya untuk Ane.
"Makasih" jawab Ane sambil menyeka air matanya, dan meminum air dingin pemberian Aldo.
"Jadi, lo lagi ngapain?" tanya Aldo setelah Ane sedikit tenang, tak sesenggukan lagi seperti tadi.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?