NovelToon NovelToon
Gadis Kecilku

Gadis Kecilku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: LilyFlow

Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.

Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'

Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.

Siapakah yang akan di pilih Ara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah paham

Farhan hampir gila saat itu. Gadis dalam pelukannya begitu memikat dan tak tertahankan. Segudang pikiran liar memenuhi benaknya.

Dia ingin membawanya pulang. Menekannya di ranjang empuk dan mencumbu seluruh tubuhnya. Pasti menyenangkan menyaksikan tubuh mungilnya menggeliat di bawah tubuhnya karena kenikmatan. Farhan tidak sabar ingin melihatnya memohon belas kasihnya dengan matanya yang seperti mata rusa betina itu. Jakunnya naik turun saat membayangkan hal-hal itu.

Ara membeku ditempat. Farhan memeluknya sangat erat, membuatnya sulit bergerak. Keningnya berkerut saat merasakan sesuatu yang keras menekan perut bawahnya. Apa orang ini mengantongi batu?

Untung saja Farhan tidak bisa membaca pikiran. Kalau tidak, dia pasti sudah mengamuk karena seseorang menyamakan kejantanannya dengan benda mati.

Miliknya jelas hidup dan bisa bergerak-gerak. Benda itu juga mampu menghasilkan makhluk-mahluk kecil yang menggemaskan.

Keduanya berpelukan selama beberapa saat. Cukup lama hingga seseorang perlu batuk untuk menyadarkannya.

Seseorang itu adalah Dinda, yang sejak tadi memperhatikan keduanya dengan perasaan campur aduk. Dia terkejut, iri, sekaligus kesal. Gadis itu menjerit dalam hati.

Apa-apaan ini! Bisa-bisanya mereka bermesraan ditempat umum dan di depan jomblo sejati sepertinya! Dimana perikemanusiaannya?

Farhan dan Ara buru-buru memisahkan diri. Mengusap tengkuknya, Farhan mengalihkan pandangannya ke langit-langit. Sementara Ara menundukkan kepala, menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Wajahnya semerah udang rebus.

Dinda mengerutkan alis, menyaksikan keduanya yang salah tingkah. Keingintahuannya meronta-ronta. Dia menggeser tubuhnya mendekati Ara dan berbisik di telinganya. "Siapa?"

Ara menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering sebelum menatap pria di hadapannya, yang namanya tidak dia ketahui, belum. "Kak--"

Farhan menyadari ketidaktahuannya. Dia segera menyebut namanya sendiri. "Farhan."

"Kak Farhan, ini temanku, Dinda." Ara berbalik menatap Dinda dan memperkenalkannya. "Dinda, ini Kak Farhan."

Dinda menyelipkan rambutnya ke belakang telinga sebelum mengulurkan tangan kanannya ke arah Farhan. "Hai, Kak Farhan."

Farhan menjabat tangannya dan menyapanya dengan wajah tersenyum. "Halo, Dinda."

Dinda dapat merasakan jantungnya yang berdebar-debar. Untungnya dia memiliki kulit sawo matang, sehingga orang lain tidak menyadari kedua pipinya yang merona.

Ya ampun, ini sih paket komplit. Udah ganteng, tinggi, ramah pula. Meleleh hati adek, Bang. Senyumnya itu lho, gula aja kalah.

"Masih mau lanjut belanja atau sudah mau pulang?" tanya Farhan pada dua remaja itu.

"Mau pulang, kita sudah selesai berbelanja," sahut Ara.

"Benar. Sudah sore, waktunya pulang," Dinda menimpali. Dia memperhatikan Farhan tidak membawa apapun dan bertanya, "Kalau Kak Farhan baru mau belanja, ya?"

"Ah tidak, ini mau pulang juga," bantah Farhan. "Lagipula aku datang kesini bukan untuk berbelanja," imbuhnya.

"Kalau begitu, apa Kak Farhan bekerja di sini?" tebak Ara, tepat sasaran.

Farhan mengangguk. "The Heaven, aku bekerja di sana."

Dinda menatap Farhan dengan tidak puas. Seseorang sepertinya, yang memiliki spek dewa, seharusnya menjadi model atau selebriti. Namun, pria ini justru memilih bekerja ditempat seperti itu. Benar-benar penyalahgunaan sumber daya manusia.

Berpaling darinya, Dinda kembali menatap Ara dan bertanya, "Aku ingat kamu sering ke kafe itu kan, Ra? pernah lihat Kak Farhan dong."

Ara mengangguk. "Pernah beberapa kali mampir ke sana, tapi aku jarang memperhatikan orang lain."

"Sayang sekali," kata Farhan dengan raut wajah seolah-olah sangat kecewa. Farhan memiringkan kepala dan sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengannya. Dengan senyum tipis Farhan berkata dengan nada lembut yang mampu menggetarkan hati setiap wanita. "Lain kali tolong perhatikan aku, Ara."

Siapapun akan tersipu jika ditatap dengan jarak sedekat itu. Terlebih pria itu setampan Farhan. Ara, yang telah bertemu dengan banyak pria tampan pun tak kuasa menahan debar jantungnya yang seperti drum. Dia menganggukkan kepala sebelum berpaling dengan wajah memerah.

Pintu lift terbuka dengan suara ding. Ketiganya keluar bersamaan dengan para pengunjung lain.

"Ara ... Kak Farhan ... Aku duluan ya," pamit Dinda.

"Kalian nggak pulang bareng?" Farhan bertanya sambil menatap keduanya bergantian.

Ara menggelengkan kepala. "Kita beda arah."

"Oh." Farhan mengangguk mengerti

"Kalau begitu aku pergi dulu." Dinda melambaikan tangan sambil berjalan menjauh.

Ara membalas lambaiannya dan baru berpaling darinya setelah Dinda tak lagi terlihat oleh jangkauan mata.

Saat itu Farhan bertanya, "Mau pulang bareng? Sepertinya kita searah."

Ara menggelengkan kepala. "Aku dijemput."

Jejak kekecewaan melintas di wajah Farhan. Dia menggerakkan kaki jenjangnya mengikuti Ara, yang berjalan pelan. Farhan menatap kepalanya yang ditutupi rambut panjang dan bergelombang sewarna madu. "Dijemput siapa? Pacar?"

Ara tersenyum dan menggelengkan kepala. "Bukan. Itu Kakakku. Aku tidak punya pacar."

Farhan tidak tahu mengapa, tapi dia merasa bahagia saat mendengarnya. Sudut mulutnya melengkung lebih tinggi.

"Kenapa?"

Ara mengerutkan kening. Dia menghentikan langkah dan mendongak untuk melihatnya. "Apanya?"

"Wanita secantik dirimu tidak mungkin tidak punya pacar"

Ara tersenyum sebelum memalingkan muka dan kembali melangkah. "Mengapa itu tidak mungkin? Apakah semua orang cantik harus punya pacar?"

Farhan kembali mengikutinya. "Tidak harus, tapi biasanya seperti itu."

"Kalau begitu, anggap saja aku tidak biasa."

Farhan mengangguk setuju. "Benar. Kamu memang tidak biasa." Dia cantik, lembut, dan wangi sekali.

Gadis seusianya bagaikan bunga mawar yang baru mekar, sedap dipandang dan aromanya menyegarkan. Namun, sedikit berbahaya. Jika dia memetiknya dengan tidak benar atau menggenggamnya terlalu erat, maka durinya akan menyakitinya.

"Ngomong-ngomong, apakah kakakmu sudah datang?"

"Tunggu sebentar, aku belum mengeceknya." Ara mengeluarkan ponsel lipat dari sakunya. Begitu membukanya, dia melihat dua panggilan tak terjawab serta satu pesan dari Samsul. Wajahnya berubah cemberut setelah membaca pesan tersebut.

Dia mengingkari janjinya lagi.

"Ada apa?" tanya Farhan.

"Tidak ada apa-apa." Ara menjawab dengan lemah. Dia membuang nafas kasar, lalu menatapnya dengan wajah tersenyum. "Aku pulang naik bus, bagaimana dengan Kak Farhan?"

"Bukankah kamu dijemput?"

"Kakakku masih ada urusan, dia tidak jadi menjemputku."

"Kalau begitu ikut denganku saja, aku bawa motor."

Farhan segera meraih tangannya dan langsung menyeretnya ke parkiran. Dia tak memberinya kesempatan untuk menolak.

Kakinya tak sepanjang milik Farhan. Ara setengah berlari agar bisa mengimbangi pria itu. Ketika hendak menyebrang jalan, Ara bertanya dengan bingung. "Kita mau kemana, Kak Farhan?"

"Parkiran."

"Bukankah parkirannya ada di sana?" Ara menoleh ke belakang, menatap area parkir mall.

"Aku memarkirkannya di tempat lain." Farhan menunjuk tanah lapang di seberang jalan, yang di jadikan area parkir khusus sepeda motor. "Motorku ada di sana."

"Bukankah parkir di luar tidak aman?"

Farhan menggeleng. "Di situ juga aman. Selain itu tarifnya jauh lebih murah."

"Tunggu di sini sebentar, aku ambil motor dulu," ucap Farhan seraya melepas tangannya.

Ara memperhatikan Farhan memasuki lahan parkir yang dikelilingi pagar beton setinggi satu meter. Tempat itu tidak memiliki atap.

Farhan menunggangi sepeda motornya dan sudah mengenakan helm saat kembali. Dia memberi isyarat padanya agar naik. Ara mengikuti instruksinya tanpa berkata apa-apa.

Farhan tidak tahu di mana tepatnya gadis itu tinggal. Oleh karena itu dia bertanya, "Rumahmu di mana?"

"Di jalan gaharu tiga." Ara memiringkan kepala dan meninggikan suaranya agar dapat di dengar Farhan. "Kak Farhan tahu klinik Citra Medika?"

Farhan mengangguk. "Tahu."

"Rumahku tidak jauh dari sana."

"Baiklah, aku mengerti sekarang." Farhan berbelok ke kiri, menyusuri jalan gaharu tiga dengan kecepatan sedang.

Tak lama setelah melewati klinik Citra Medika, Ara menepuk bahunya. "Berhenti di sini, Kak Farhan."

Farhan memandang rumah mewah bergaya classic eropa itu sekilas, sebelum kembali menatapnya. "Kamu tinggal di rumah ini?"

Ara mengangguk. "Ya."

"Orang tuamu sudah lama bekerja di sini?" Farhan menatap Ara yang berdiri di sebelahnya.

"Disini?" Ara mengerutkan kening. "Di mana yang Kak Farhan maksud?" imbuhnya.

Farhan menunjuk rumah dua lantai itu dengan dagunya. "Di rumah itu."

Ara tampak berpikir sebelum menganggukkan kepalanya. "Ya."

Ibunya seorang ibu rumah tangga dan ayahnya seringkali membawa pekerjaannya ke rumah. Jadi tidak salah jika dia mengatakan kalau kedua orangtuanya bekerja rumah.

Ara tidak tahu bahwa jawabannya akan menimbulkan kesalahpahaman bagi orang lain.

Farhan masih mengira Ara berasal dari keluarga sederhana. Namun, karena kecerdasannya, majikan dari orangtuanya mungkin berbaik hati memasukkannya ke sekolah elit agar bisa berkembang dan dapat meraih kesuksesan dimasa mendatang.

"Ara..." Farhan memanggilnya.

"Ya," Ara menjawab dengan lembut.

"Bolehkah aku meminta nomormu?"

Ara tidak terbiasa membagikan nomor pribadinya kepada orang lain, tapi kali ini dia mengabulkan permintaan Farhan.

Sementara Ara menyebutkan angka-angka itu, Farhan mengulangnya sambil mengetik di ponselnya.

Keduanya masih mengobrol dengan kepala berdekatan ketika terdengar klakson serta sorot lampu dari belakang.

Ara sangat terkejut begitu menoleh ke belakang dan mendapati Samsul sedang menatapnya dengan tajam dari dalam mobil.

Dia kembali menatap Farhan dan memberi isyarat padanya agar segera pergi.

"Aku harus masuk sekarang."

Farhan tidak menyadari kegelisahan Ara dan betapa berbahayanya situasi saat itu. Dia justru mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya penuh kasih sayang. Dengan tenang dia berkata, "Aku akan menghubungimu, nanti."

Saat itu Ara merasa seperti tersambar petir. Apakah Farhan dikirim dari neraka untuk menghukumnya? Kali ini dia benar-benar tamat.

1
nadia noviana02_
up dOng....
Choirul Anna Soenarso
up terus Thor
Dayana
wah ara pingsan.. lnjut thor.
Lily Flow
iya kak
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya
Dayana
kok lama bngt up thor..
Lily Flow
ok
Choirul Anna Soenarso
Thor ditunggu bersatunya Farhan Ama Ara
Choirul Anna Soenarso
Thor,satukan Ara dg Farhan donk
Choirul Anna Soenarso
sebenarnya cerita ini bagus,,sy lebih suka dg cerita cinta sederhana,,laki2 dari keluarga sederhana dan cewek nya dari keluarga kaya,
Choirul Anna Soenarso
Alhamdulillah akhirnya up juga,, lanjut
Choirul Anna Soenarso
kpn punya, ditunggu juga sampe lumutan
NR
Aaaaahhhhkkkk tidak 😱, Ara hanya milik Farhan. Dion biar sama aku aja😁
Kaina AR-RAHMA: kpn nih up y
total 1 replies
NR
aku meleleh... plis mas Han sama aku aja😁
Lily Flow: jangan
Mas Han punya Ara 😄
total 1 replies
Choirul Anna Soenarso
bagus
NR
Definisi gak pacaran tapi saling cemburu-cemburuan🤣. Makanya Ara buruan minta kejelasan sama Mas Farhan
Choirul Anna Soenarso
yaahh knp sih Ama fira segala,,ibunya juga pake jodoh2in segala
Choirul Anna Soenarso
sy suka cerita nya,, ditunggu kemesraan mereka
Choirul Anna Soenarso: teman tapi mesra
total 2 replies
Choirul Anna Soenarso
bagus banget
Zulfakarimafitri
lanjut dong
Lily Flow: di tunggu ya kak
total 1 replies
NR
laki kaya Mas Farhan ada dijual dishopee gak sih, aku mau beli😅🤣🤣
Lily Flow: coba di cek spa tau ada di kranjang kuning 😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!