NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020: Kalung Zamrud

Jakarta datang ke ulang tahun Bu Agung Hartono dengan pakaian terbaiknya.

Ballroom hotel itu menyala seperti kotak perhiasan. Ratusan tamu memenuhi ruangan: bankir, pengacara senior, pemilik perusahaan properti, anggota asosiasi bisnis, kerabat jauh yang selama ini hanya muncul ketika kamera ada, dan beberapa wajah baru yang tidak biasa hadir di acara keluarga Hartono.

Di sudut kiri, perwakilan PT Suryadinata Group duduk bersama dua asistennya.

Arga Pratama melihat mereka sebelum mereka melihatnya.

Ia datang bersama Kiara. Kemejanya hitam, jasnya sederhana, tanpa jam mahal atau pin. Kiara mengenakan gaun biru tua yang membuat beberapa tamu menoleh dua kali. Malam itu ia terlihat mulai nyaman berdiri di tubuhnya sendiri.

"Kamu gugup?" tanya Arga.

"Untuk Eyang? Tidak."

"Untuk hadiahku?"

Kiara meliriknya. "Jadi kamu tahu aku penasaran."

"Aku punya mata."

"Sayang kamu jarang pakai untuk menjelaskan."

Arga hampir tersenyum. "Nanti."

Kiara menghela napas. "Aku mulai benci kata itu."

Sebelum Arga menjawab, Ratna datang dengan wajah sibuk.

"Kiara, tamu dari bank sudah datang. Jangan berdiri terus dengan Arga. Sambut mereka."

Kiara tidak melepaskan lengan Arga. "Kami akan ke sana."

Ratna menahan komentar. Di depan tamu, ia tidak bisa terlalu tajam. Apalagi sejak video helikopter, beberapa orang mulai menatap Arga dengan rasa ingin tahu yang melampaui hinaan lama.

Itu membuat Ratna tidak nyaman.

Di panggung utama, Bu Agung duduk di kursi kehormatan. Usianya delapan puluh, tetapi punggungnya masih lurus. Satu per satu tamu naik memberi salam dan hadiah. Jam antik. Lukisan kaligrafi. Set perhiasan keluarga. Surat komitmen kerja sama. Bahkan Galang menyerahkan miniatur proyek revitalisasi dalam kotak kaca besar, seolah hadiah ulang tahun harus terlihat seperti tender.

"Untuk Eyang," kata Galang keras, memastikan semua orang mendengar, "simbol masa depan Hartono yang akan terus berkembang."

Beberapa tamu bertepuk tangan.

Bu Agung mengangguk puas.

Ratna berbisik kepada Bimo, "Setidaknya Galang tahu membawa sesuatu yang pantas."

Bimo melirik Arga.

Arga berdiri tenang di sisi Kiara.

Hendra mendekat dengan senyum kecil. "Mas Arga, hadiahmu apa? Jangan bilang doa saja. Doa bagus, tapi di acara seperti ini orang biasanya membawa bentuknya juga."

Bambang tertawa.

Galang, yang baru turun dari panggung, ikut menambahkan, "Atau mungkin tanda tangan Cakra lagi? Helikopter masuk ballroom susah, ya."

Beberapa kerabat tertawa halus.

Kiara hendak menjawab, tetapi Arga menyentuh ringan punggung tangannya.

"Tidak apa-apa."

"Mereka sengaja."

"Aku tahu."

Itu lagi. Tenang yang membuat orang lain merasa menang terlalu cepat.

Pembawa acara akhirnya memanggil nama keluarga inti.

"Selanjutnya, ucapan dan hadiah dari Kiara Hartono dan Pak Arga Pratama."

Ruangan bergerak pelan.

Pak Arga.

Sebutan itu sendiri sudah cukup membuat beberapa kerabat saling pandang. Dulu, pembawa acara keluarga mungkin hanya akan berkata "suami Kiara". Kali ini, setelah tim protokol menerima daftar dari Kiara sendiri, nama Arga disebut lengkap.

Kiara naik lebih dulu, membawa buket bunga dan kartu pribadi. Ia mencium tangan Bu Agung.

"Selamat ulang tahun, Eyang."

Bu Agung menatap cucunya. "Terima kasih."

Arga naik setelahnya.

Ia tidak membawa kotak besar. Tidak membawa rangkaian bunga. Hanya sebuah kotak beludru hijau gelap yang ukurannya bisa disembunyikan di satu telapak tangan.

Galang tertawa pelan dari bawah panggung.

"Kecil sekali."

Ratna mendengar dan tidak menegurnya.

Arga membuka kotak itu.

Lampu ballroom jatuh ke dalamnya.

Untuk sesaat, warna hijau di dalam kotak tampak seperti air dalam yang menyimpan cahaya.

Sebuah kalung zamrud.

Rantai platina tipis. Batu utama berbentuk tetesan air, dikelilingi potongan berlian kecil yang tidak berteriak, tetapi memaksa mata berhenti. Desainnya klasik dan jauh dari model toko baru yang mengejar sorotan. Justru karena itu, beberapa perempuan tua di barisan depan langsung duduk lebih tegak.

Mereka tahu perhiasan lama.

Mereka tahu kualitas yang tidak butuh teriakan.

Arga menyerahkan kotak itu kepada Bu Agung.

"Selamat ulang tahun, Bu Agung."

Bu Agung menerimanya.

Tangannya berhenti sepersekian detik.

Ia mungkin belum tahu nilainya, tetapi insting puluhan tahun hidup di antara barang mahal memberitahunya: ini bukan perhiasan sembarangan.

Galang tetap mencoba tertawa.

"Zamrud imitasi sekarang bagus-bagus, ya."

Beberapa orang ikut terkekeh.

Hendra berkata, "Jangan begitu. Mungkin Mas Arga beli di butik vintage."

Kiara menatap Arga.

Arga hanya berdiri.

Tidak membela diri.

Tidak menjelaskan.

Pembawa acara, yang mulai merasakan sesuatu, berkata hati-hati, "Kebetulan malam ini ada Pak Wiratama, kurator dan penilai perhiasan yang juga sahabat lama keluarga Hartono. Mungkin bisa memberi sedikit komentar?"

Seorang pria berusia enam puluhan dengan kacamata tipis maju dari meja depan. Ia awalnya tersenyum santai, mungkin mengira ini bagian kecil dari acara. Namun begitu melihat kalung itu dari dekat, senyumnya hilang.

"Boleh saya pegang?"

Bu Agung menyerahkan kotak itu.

Pria itu mengeluarkan sarung tangan putih dari saku jas. Gerakan itu saja membuat tawa Galang berhenti.

Ia memeriksa batu utama dengan loupe kecil. Memiringkannya ke cahaya. Melihat potongan berlian. Membuka sertifikat yang terselip di bawah lapisan beludru.

Ruangan menunggu.

Ratna mulai tidak nyaman.

"Pak?" tanya pembawa acara.

Kurator itu tidak langsung menjawab. Ia membaca sertifikat sekali lagi, lalu menatap Arga.

"Bapak mendapatkan ini dari mana?"

Arga menjawab ringan, "Lelang privat."

"Di Singapura?"

"Jenewa."

Kata itu jatuh seperti gelas kristal di lantai.

Kurator itu menarik napas. "Ini zamrud Kolombia lama. Treatment minimal. Sertifikat lengkap, provenance jelas. Desain platina art deco, kemungkinan koleksi pribadi Eropa sebelum masuk lelang."

Galang memaksakan suara. "Nilainya berapa?"

Kurator itu menatap Bu Agung, seolah meminta izin untuk menyebut angka.

Bu Agung mengangguk.

Di bawah panggung, beberapa tamu mulai membuka ponsel dan mengirim pesan ke orang yang dianggap perlu tahu. Di kalangan seperti ini, kabar tidak perlu pengeras suara. Satu angka besar cukup untuk berlari lebih cepat daripada musik ballroom.

Seorang bankir senior berbisik kepada istrinya, "Kalau sertifikatnya benar, itu bukan barang yang bisa dibeli orang sembarangan."

"Mungkin pinjaman?"

"Tidak ada rumah lelang Jenewa yang menyerahkan barang seperti itu tanpa dana bersih."

Di meja lain, seorang pengacara yang pernah mengejek Arga sebagai menantu tanpa prospek mulai menunduk, pura-pura membaca menu. Ia tiba-tiba ingat bahwa dua bulan lalu ia pernah tertawa terlalu keras ketika Galang menyebut Arga beban keluarga.

Orang-orang besar bisa sangat cepat lupa tertawa ketika mencium uang yang lebih besar.

"Dengan kondisi, ukuran batu, dan provenance seperti ini..." Ia berhenti sebentar. "Estimasi konservatifnya sekitar Rp 130 miliar."

Ruang makan tetap sunyi, tanpa tepuk tangan atau tawa.

Hanya sunyi yang jatuh penuh ke lantai ballroom.

Rp 130 miliar.

Angka itu terlalu besar untuk disebut hadiah kecil. Terlalu besar untuk dianggap kebetulan. Terlalu besar untuk ditempel pada laki-laki yang selama dua tahun dipanggil benalu.

Ratna memucat.

Bimo membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Galang menatap kotak beludru itu seperti ingin menuduh, tetapi tidak menemukan kata yang cukup berani.

Hendra dan Bambang saling pandang.

Bu Agung menggenggam kalung itu.

Untuk pertama kalinya, tangan perempuan tua itu bergetar di depan begitu banyak orang.

Namun Bu Agung bukan perempuan yang bertahan delapan puluh tahun hanya dengan perasaan. Getaran itu hilang hampir secepat muncul. Ia menutup kotak beludru dengan hati-hati, lalu meletakkannya di pangkuan, dua telapak tangan menutupinya seperti menjaga kontrak bernilai besar.

"Masukkan ke ruang pengamanan setelah acara," katanya kepada pelayan senior di belakangnya.

Suaranya terdengar stabil.

Justru kestabilan itu membuat keluarga inti semakin tegang.

Karena semua orang tahu Bu Agung sudah menerima hadiah itu sebagai sesuatu yang nyata.

Kalau Bu Agung menerimanya, maka keluarga Hartono tidak bisa lagi menertawakan Arga tanpa terlihat bodoh di depan tamu-tamu mereka sendiri.

Ia menatap Arga lebih lama dari sebelumnya.

Label menantu numpang dan gangguan keluarga perlahan lepas dari wajah pria itu.

Yang tersisa di hadapannya adalah seseorang yang bisa menyerahkan Rp 130 miliar dalam kotak kecil tanpa merasa perlu menaikkan suara.

"Kamu..." Bu Agung berhenti.

Arga menunduk sopan. "Semoga cocok."

Kalimat itu hampir tidak masuk akal setelah angka tadi.

Semoga cocok.

Seolah ia baru menyerahkan selendang, padahal barang itu bisa membeli gedung kecil.

Di bawah panggung, Kiara berdiri diam.

Jantungnya terlambat satu ketukan.

Ia sudah melihat video bank. Helikopter. Cakra. Laporan terkunci. Street robbery. Namun semua itu masih bisa dipaksa masuk ke kotak penjelasan yang berbeda-beda.

Ini tidak.

Hadiah ini adalah angka.

Angka tidak bisa berpura-pura.

Arga turun dari panggung dan berdiri di sampingnya.

Kiara berbisik, "Kamu bilang nanti."

"Sekarang kamu tahu hadiahnya."

"Bukan itu yang kumaksud."

Arga melihat ke depan. "Aku tahu."

Di sudut ballroom, perwakilan PT Suryadinata Group menunduk ke arah asistennya.

"Menantu ini..." suaranya rendah, tetapi matanya tajam. "Perlu diselidiki."

Asistennya mengangguk.

Sebelum meninggalkan meja, perwakilan itu memandang Arga sekali lagi.

Arga tidak menoleh.

Tetapi ia tahu tatapan itu ada.

Di panggung, Bu Agung masih memegang kalung zamrud, dan seluruh Jakarta di dalam ruangan itu belajar satu hal dengan terlambat:

ada orang yang diam bukan karena kosong.

Ada orang yang diam karena nilainya terlalu mahal untuk dijelaskan kepada orang yang salah.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!